NovelToon NovelToon
Tekad Gadis Desa

Tekad Gadis Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Teen Angst
Popularitas:163
Nilai: 5
Nama Author:

Shelly Anindya, putri dari seorang petani yang bernama Andi atama dan Arisya ningshi sang ibunya. Gadis desa yang memiliki tekad yang bulat untuk menempuh pendidikan di kota demi mengubah nasib di keluarganya. Kehidupan keluarganya selalu menjadi hinaan orang-orang karena kemiskinan. Bagaimana perjalanan Shelly dalam merubah perekonomian keluarganya?, ikuti kisah perjalanannya dalam cerita ini…!

14. TGD.14

Bus antar kota itu berhenti dengan desisan mesin yang berat di simpang tiga desa. Pintu bus terbuka, dan Shelly melangkah turun dengan napas yang lebih panjang dari biasanya. Namun kali ini, ia tidak sendiri. Di belakangnya, dua rekan mahasiswanya—Dito yang ahli mekanisasi dan Aris yang jago sistem informasi—turun sambil menggotong beberapa kotak kayu berisi peralatan elektronik.

"Wah, Shel... ini beneran desamu? Udaranya beda banget sama Jakarta," ujar Dito sambil menghirup udara dalam-dalam, meskipun ia harus berjuang menyeimbangkan koper dan kotak peralatan.

Shelly tersenyum bangga. "Ini baru gerbangnya, Dit. Tunggu sampai kalian lihat sawah Bapak di belakang sana."

Belum sempat mereka melangkah jauh, suara motor tua yang khas terdengar mendekat. Itu Abang Shelly, yang sudah menunggu dengan gerobak motor yang biasa digunakan untuk mengangkut gabah.

"Shelly! Akhirnya sampai juga!" teriak Abangnya sambil melompat turun. Ia terpaku sejenak melihat dua teman Shelly dan barang-barang aneh yang mereka bawa. "Waduh, ini mau buka toko elektronik di desa atau gimana, Dik?"

"Bukan, Bang. Ini 'senjata' buat sawah Bapak. Kenalin, ini Dito sama Aris, teman kampus Shelly yang mau bantu proyek kita."

Setelah bersalaman dan menaikkan semua barang ke gerobak, mereka melaju menuju rumah kayu yang sangat Shelly rindukan. Sepanjang jalan, warga desa berhenti sejenak dari aktivitasnya. Kabar bahwa Shelly membawa "orang kota" dan "alat canggih" langsung menyebar seperti api di atas rumput kering.

---

Malam itu, suasana di ruang tengah rumah Shelly terasa sesak. Bukan hanya karena keberadaan tim dari kota, tapi karena beberapa tetua desa dan petani senior ikut berkumpul. Bapak duduk di tengah, mengenakan kemeja batik pemberian Shelly, wajahnya tampak antara bangga dan cemas.

"Jadi, Shelly..." Pak RT membuka percakapan sambil menyeruput teh hangatnya. "Bapak dengar kamu bawa alat yang bisa tahu kapan padi haus? Apa itu bener? Seumur-umur saya jadi petani, saya cuma butuh lihat warna daun sama pegang tanah buat tahu padi butuh air atau nggak."

Shelly tersenyum sopan. Ia tahu, ia tidak bisa melawan pengalaman puluhan tahun dengan bahasa teknis yang rumit.

"Enggeh, Pak RT. Pengalaman Bapak itu ilmu yang luar biasa. Shelly di sini bukan mau mengganti itu. Tapi, Shelly bawa alat ini supaya kita nggak perlu tebak-tebakan lagi. Kalau tanahnya masih cukup air tapi kita aliri terus, pupuknya malah hanyut, Pak. Sayang uangnya, sayang tenaganya."

Aris kemudian mengeluarkan sebuah benda berbentuk tongkat dengan layar kecil di ujungnya. "Ini namanya sensor kelembapan, Bapak-bapak. Cara kerjanya mirip kayak tensi darah di puskesmas. Kita tancap di tanah, nanti dia kasih tahu lewat HP kalau sawah butuh air."

Pak Kardi, petani paling senior yang dikenal kolot, mendengus. "HP buat ke sawah? HP itu buat telepon anak cucu di perantauan, Nak. Mana bisa tanah bicara sama HP?"

Gerrr... Ruangan itu meledak dalam tawa kecil. Shelly melirik Bapaknya. Bapak hanya diam, namun tangannya meremas pinggiran sarungnya. Shelly tahu Bapak sedang mempertaruhkan reputasinya di depan teman-temannya.

"Pak Kardi," Shelly mendekat, duduk bersila lebih dekat dengan para sesepuh. "Waktu Shelly di Jepang, mereka punya sawah yang luasnya sepuluh kali lipat sawah kita, tapi yang jaga cuma satu orang tua. Kenapa? Karena dia dibantu alat ini. Dia nggak perlu capek keliling sawah tiap subuh cuma buat cek air. Dia bisa pakai waktunya buat bikin pupuk organik sendiri. Shelly pengen Bapak sama Pak Kardi juga gitu. Pengen Bapak punya lebih banyak waktu buat istirahat di rumah sama Ibu."

Bapak berdehem, suaranya berat dan berwibawa. "Begini saja, Pak RT, Pak Kardi. Biar Shelly coba dulu di sawah sepetak saya. Kalau hasilnya bagus, kita ikuti. Kalau padinya mati... ya itu tanggung jawab saya sebagai bapaknya."

Keputusan telah dibuat. Malam itu ditutup dengan kesepakatan bahwa besok pagi, proyek "Sawah Digital" pertama di desa itu akan dimulai.

---

Matahari baru saja mengintip dari balik bukit saat Shelly, Dito, dan Aris mulai bekerja. Mereka menancapkan beberapa sensor di titik-titik strategis sawah Bapak. Dito sibuk memasang panel surya kecil di atas tiang bambu untuk sumber listriknya.

Bapak memperhatikan dari pinggir galengan dengan cangkul yang tetap ia bawa—seolah-olah ia belum sepenuhnya percaya pada benda-benda plastik dan kabel itu.

"Nduk," panggil Bapak pelan. "Apa kabel-kabel ini nggak bakal kesetrum kalau kena hujan?"

"Nggak, Pak. Ini sudah dilapisi karet khusus," jawab Shelly sambil mengonfigurasi aplikasi di ponsel Bapak. "Nah, sekarang Bapak lihat ini. Di layar HP Bapak ada gambar warna hijau. Itu artinya airnya cukup. Kalau nanti warnanya berubah jadi merah, HP Bapak bakal bunyi 'tit-tit-tit', itu tandanya Bapak harus buka pintu air."

"Ajaib banget ya, Shel," gumam Abangnya yang ikut membantu. "Tapi apa bener alat kecil ini bisa tahu kalau ada wereng?"

"Kalau itu, kita pakai kamera kecil ini, Bang," timpal Dito. "Dia bakal foto daun tiap jam, terus dikirim ke server di kampus. Kalau ada pola warna kuning yang nggak wajar, sistem bakal kasih peringatan dini."

Sambil bekerja, banyak petani lain yang lewat. Ada yang mencibir, ada yang hanya menonton sambil merokok lintingan.

"Halah, paling-paling cuma bertahan seminggu kena panas," celetuk seorang petani yang lewat.

Shelly hanya membalas dengan senyuman. Ia teringat pesan Tanaka-sensei: *Pertanian bukan soal siapa yang paling kuat mencangkul, tapi siapa yang paling sabar memahami alam.*

---

### Ujian dari Alam

Dua minggu berlalu. Keajaiban itu mulai terlihat. Di saat sawah-sawah tetangga mulai terlihat pecah-pecah karena debit air sungai yang menyusut, sawah Bapak tetap terlihat hijau segar. Mengapa? Karena sistem Shelly mengatur penggunaan air secara sangat efisien. Bapak hanya membuka pintu air tepat saat sensor meminta, sehingga air tidak terbuang percuma ke sawah bawah.

Namun, ujian sesungguhnya datang di minggu ketiga. Serangan hama wereng mulai melanda desa sebelah. Para petani mulai panik, mereka menyemprotkan pestisida kimia dalam jumlah besar secara membabi buta.

Suatu sore, ponsel Bapak berbunyi kencang. *Tit! Tit! Tit!*

"Shelly! Ini HP-nya teriak-teriak!" teriak Bapak dari teras rumah.

Shelly, Aris, dan Dito langsung berlari ke sawah. Mereka memeriksa data di laptop. "Pak, sistem mendeteksi ada populasi serangga yang meningkat di sudut timur. Tapi ini bukan wereng cokelat biasa, ini baru gejala awal," lapor Aris.

"Jangan pakai pestisida kimia dulu, Pak," cegah Shelly saat melihat Bapak sudah siap dengan tangki semprotnya. "Kita pakai ramuan organik yang Shelly pelajari di Jepang. Campuran bawang putih, jahe, sama tembakau."

"Mana mempan, Nduk? Wereng itu jahat, harus diracun keras!" bantah Bapak, mulai ragu.

"Pak, tolong percaya Shelly sekali lagi. Kalau kita pakai racun keras, musuh alami wereng juga mati. Nanti minggu depan mereka datang lagi lebih banyak. Pakai ramuan ini, kita cuma usir mereka tanpa merusak tanah."

Dengan berat hati, Bapak menuruti. Selama tiga hari, mereka menyemprotkan ramuan bau itu. Petani lain menertawakan mereka. "Walah, Bapaknya Shelly mau bikin sambal di sawah ya? Kok bau bawang putih semua!"

Namun, seminggu kemudian, tawa itu hilang. Sawah tetangga yang disemprot kimia mulai menguning dan mati (fuso) karena wereng justru menjadi kebal. Sementara sawah Bapak? Tetap tegak, hijau, dan butir-butir padinya mulai berisi dengan bernas.

---

### Momen Pembuktian: Panen Raya

Hari panen tiba. Pak RT dan hampir seluruh warga desa berkumpul di pinggir sawah Bapak. Mereka ingin melihat: apakah "padi digital" ini benar-benar menghasilkan?

Saat Bapak mulai mengayunkan aritnya, semua orang terdiam. Bulir padi itu tampak lebih panjang dan lebih berat dari biasanya. Ketika ditimbang, hasilnya mengejutkan semua orang.

"Enam ton!" teriak petugas timbang. "Biasanya sawah ini cuma keluar empat ton. Ini rekor, Pak!"

Bapak menjatuhkan aritnya. Ia mengusap air mata dengan punggung tangannya yang kasar. Ia menoleh ke arah Shelly yang berdiri di samping teman-temannya. Shelly tampak lelah, kulitnya terbakar matahari, tapi matanya bersinar lebih terang dari bintang mana pun.

Pak Kardi, si petani kolot, berjalan mendekat. Ia memegang bulir padi itu, lalu menatap Shelly. "Nduk... maafkan kakek tua ini ya. Ternyata benar kata kamu. Ilmu itu bukan buat pamer, tapi buat nolong tanah kita." Ia kemudian berbalik ke arah warga. "Bapak-bapak! Kita harus belajar sama anak ini! Jangan sampai kita kalah sama zaman!"

---

Malam itu, Ibu memasak besar. Ayam jago yang dulu dijanjikan kini benar-benar disajikan, tapi kali ini suasananya berbeda. Balai desa penuh sesak karena warga ingin mendaftarkan sawah mereka untuk dipasang sensor serupa.

"Shelly," panggil Bapak saat mereka duduk berdua di bangku kayu depan rumah, sementara teman-teman Shelly sedang asyik mengobrol dengan pemuda desa tentang cara merakit panel surya.

"Iya, Pak?"

"Bapak minta maaf ya. Dulu waktu kamu minta kuliah, Bapak sempat mikir... buat apa perempuan sekolah tinggi-tinggi kalau ujungnya ke dapur juga. Bapak salah besar." Bapak menghela napas, menatap hamparan sawah yang gelap namun memberikan rasa tenang. "Ternyata, sekolahmu itu bukan buat ninggalin dapur, tapi buat ngasih makan lebih banyak orang."

Shelly menyandarkan kepalanya di bahu Bapak. "Shelly nggak akan bisa sampai Jepang kalau Bapak nggak kasih restu. Shelly cuma bawa ilmunya, tapi Bapak yang kasih tanahnya."

"Tadi Pak Bupati telepon lewat Pak RT," lanjut Bapak dengan suara bergetar. "Beliau mau datang ke sini minggu depan. Beliau dengar desa kita jadi 'Desa Digital'. Beliau mau kamu jadi pendamping buat desa-desa lain di kabupaten ini."

Shelly tertegun. Ia tidak pernah menyangka dampaknya akan sebesar ini.

"Tapi Shelly masih harus selesaikan kuliah, Pak. Masih banyak yang harus Shelly pelajari."

"Lakukanlah, Nduk. Bapak, Ibu, sama Abangmu bakal jaga sawah ini. Sekarang Bapak sudah nggak takut lagi kalau kamu pergi jauh. Karena Bapak tahu, sejauh mana pun kamu pergi, hatimu tertanam di lumpur sawah ini."

---

Keesokan harinya, saat Shelly harus kembali ke kota untuk memulai semester baru, ia tidak lagi diantar dengan rasa sedih. Kali ini, hampir separuh warga desa mengantarnya sampai ke simpang tiga.

Dito dan Aris sudah duduk di bus, melambai-lambai. Shelly memeluk Ibu erat-erat, mencium tangan Bapak, dan mengacak rambut adiknya yang kini bangga memakai sepatu baru untuk sekolah.

"Jangan lupa kirim catatan lagi lewat HP ya, Dik!" teriak Abangnya.

Saat bus mulai melaju, Shelly melihat dari jendela. Ia melihat pemandangan yang berbeda. Ia tidak lagi hanya melihat deretan pohon kelapa dan sawah yang sunyi. Ia melihat masa depan. Di beberapa titik sawah, ia melihat tiang-tiang bambu dengan panel surya kecil yang mulai dipasang oleh warga secara swadaya.

Desanya telah bangun dari tidur panjangnya.

Shelly menyandarkan punggungnya di kursi bus. Ia membuka laptopnya, mulai mengetik judul untuk skripsinya: *"Integrasi Teknologi Sensor Berbasis Kearifan Lokal untuk Kedaulatan Pangan Desa."*

Bus itu menderu, membelah jalanan aspal menuju arah selatan. Shelly kembali ke belantara beton, bukan untuk melarikan diri, tapi untuk mengambil lebih banyak "benih" ilmu. Ia tahu, suatu hari nanti, ia tidak hanya akan membawa perubahan bagi desanya, tapi bagi negerinya.

Akar yang kuat telah ia tanam. Sekarang, saatnya ia tumbuh setinggi langit, membiarkan dahan-dahannya menaungi siapa saja yang membutuhkan teduh di bawah pohon keberhasilannya.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!