NovelToon NovelToon
Kontrak 10 Miliar Istri Rahasia Ceo

Kontrak 10 Miliar Istri Rahasia Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Nikahmuda / CEO / Teen School/College / Nikah Kontrak / Cintapertama
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mr. Awph

​"Aku membelimu seharga 10 miliar. Jadi, jangan harap bisa melarikan diri dariku, bahkan ke sekolah sekalipun."
​Gwen (18 tahun) hanyalah siswi SMA tingkat akhir yang bercita-cita kuliah seni. Namun, dunianya runtuh saat ayahnya kabur meninggalkan hutang judi sebesar 10 miliar kepada keluarga terkaya di kota itu.
​Xavier Aradhana (29 tahun), CEO dingin yang dijuluki 'Iblis Bertangan Dingin', memberikan penawaran gila: Hutang lunas, asalkan Gwen bersedia menjadi istri rahasianya.
​Bagi Xavier, Gwen hanyalah "alat" untuk memenuhi syarat warisan kakeknya. Namun bagi Gwen, ini adalah penjara berlapis emas. Ia harus menjalani kehidupan ganda: menjadi siswi lugu yang memakai seragam di pagi hari, dan menjadi istri dari pria paling berkuasa di malam hari.
​Sanggupkah Gwen menyembunyikan statusnya saat Xavier mulai menunjukkan obsesi yang tak masuk akal? Dan apa yang terjadi saat cinta mulai tumbuh di tengah kontrak yang dingin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Hukuman di Balik Pintu Tertutup

Hukuman di balik pintu tertutup dimulai ketika Xavier memutar kunci logam itu dengan suara klik yang sangat tajam dan sangat mematikan nyali. Gwenola merangkak mundur hingga punggungnya menabrak kepala tempat tidur yang terbuat dari kayu jati berukir sangat mewah dan sangat keras. Cahaya lampu kamar yang temaram menciptakan bayangan Xavier yang sangat panjang dan sangat mengintimidasi di atas permukaan lantai marmer.

"Tuan, kumohon jangan lakukan sesuatu yang akan kau sesali hanya karena sebuah kotak susu," rintih Gwenola dengan suara yang sangat bergetar.

Xavier tidak menyahut dan justru membuka laci meja kecil di samping tempat tidur untuk mengambil sebuah penggaris kayu panjang milik Gwenola. Ia menatap benda itu sejenak sebelum mengayunkannya di udara, menciptakan suara desiran angin yang sangat mengerikan bagi pendengaran gadis itu. Mata hitam sang pimpinan perusahaan nampak berkilat penuh dengan emosi yang sangat tidak stabil dan sangat berbahaya.

"Ulurkan tanganmu sekarang juga atau aku akan menambah durasi hukuman ini menjadi semalam suntuk," perintah Xavier dengan nada yang sangat mutlak.

Gwenola menggelengkan kepala dengan sangat kuat sambil menyembunyikan kedua tangannya di balik tubuhnya yang mungil dan sangat rapuh. Ia merasa diperlakukan seperti anak kecil yang sedang disidang oleh guru yang paling kejam di seluruh sekolah menengah atas. Namun, ia tahu bahwa melawan Xavier hanya akan membuat amarah pria itu semakin meledak dan semakin menghancurkan segalanya.

"Aku tidak melakukan kesalahan apa pun, dia yang memberikannya tanpa aku minta!" teriak Gwenola dengan air mata yang mulai jatuh bercucuran.

Xavier tiba-tiba bergerak dengan sangat cepat dan menangkap pergelangan tangan Gwenola, lalu menariknya dengan kekuatan yang sangat tidak sebanding. Ia memaksa gadis itu untuk duduk tegak di tepi tempat tidur sementara ia berdiri dengan angkuh di hadapannya. Aroma obat-obatan dari perban di bahu Xavier bercampur dengan aroma parfumnya, menciptakan suasana yang sangat menyesakkan bagi indra penciuman Gwenola.

"Kesalahanmu adalah membiarkan pria lain berpikir bahwa dia memiliki kesempatan untuk menyentuh hatimu dengan perhatian murahan," bisik Xavier dengan suara yang sangat parau.

Plak! Suara hantaman penggaris kayu itu mengenai telapak tangan Gwenola yang sangat halus hingga menciptakan bekas kemerahan yang sangat nyata. Gwenola memekik kesakitan dan segera menarik tangannya kembali sambil meniup telapak tangannya yang terasa sangat panas dan sangat perih. Ia menatap Xavier dengan pandangan yang penuh dengan rasa benci sekaligus rasa takut yang sangat mendalam dan sangat menyakitkan.

"Satu kali untuk susu kotak itu, dan sekarang satu kali lagi karena kau berani membantah perintahku!" ucap Xavier dengan wajah yang sangat dingin.

Hukuman itu berlanjut selama beberapa menit yang terasa seperti ribuan tahun bagi Gwenola yang terus terisak di bawah pengawasan sang penguasa. Setiap kali penggaris itu mengenai kulitnya, ia merasa martabatnya sebagai seorang manusia sedang dihancurkan secara perlahan-lahan oleh pria itu. Xavier seolah sedang memahat rasa takut yang permanen ke dalam ingatan Gwenola agar gadis itu tidak pernah berani berpaling darinya lagi.

"Apakah sekarang kau sudah mengerti siapa pemilik tunggal atas setiap jengkal kulitmu ini?" tanya Xavier sambil membuang penggaris kayu itu ke lantai.

Gwenola tidak menjawab dan hanya bisa menenggelamkan wajahnya ke dalam bantal sutra yang sangat empuk namun kini terasa sangat menyedihkan. Ia merasa sangat lelah secara mental dan fisik karena harus menghadapi badai yang datang silih berganti di dalam kediaman mewah ini. Xavier kemudian duduk di sisi tempat tidur dan menyentuh rambut Gwenola dengan gerakan yang anehnya terasa sangat lembut namun tetap mengancam.

"Jangan pernah mengujiku lagi jika kau tidak ingin melihat Adrian menderita di dalam sel penjara yang sangat gelap," ancam Xavier sambil mengusap air mata Gwenola.

Gwenola tersentak mendengar nama teman sekolahnya disebut sebagai ancaman nyata yang bisa dilakukan oleh kekuasaan Xavier yang tidak terbatas. Ia menyadari bahwa pria di hadapannya ini benar-benar tidak mengenal batas dalam hal melindungi wilayah kekuasaannya yang ia anggap sebagai miliknya. Rasa sesak di dadanya semakin menjadi saat ia menyadari bahwa ia benar-benar telah terjual ke dalam tangan seorang monster yang sangat tampan.

"Pergilah dari kamarku, aku ingin sendiri dan aku sangat membencimu!" teriak Gwenola dari balik bantalnya yang mulai basah oleh air mata.

Xavier terdiam sejenak, menatap punggung Gwenola yang masih bergetar hebat akibat tangisan yang tidak kunjung berhenti sejak hukuman itu berakhir. Ia tidak menunjukkan penyesalan sedikit pun, namun ada sebuah kilatan aneh di matanya yang menunjukkan bahwa ia juga merasa sangat tertekan. Pria pimpinan perusahaan itu kemudian berdiri dan melangkah menuju pintu kamar tanpa mengucapkan sepatah kata pun untuk menenangkan istrinya.

Suasana kamar kembali menjadi sangat sunyi setelah suara pintu tertutup dan terkunci kembali dari arah luar oleh pengawal pribadi Xavier. Gwenola memeluk dirinya sendiri, mencoba mencari kehangatan di tengah dinginnya ruangan yang sangat luas dan sangat sunyi tersebut. Ia menatap telapak tangannya yang masih memerah, meratapi nasibnya yang harus berakhir menjadi tawanan di dalam istana yang terbuat dari emas dan darah.

"Ibu, kumohon jemput aku dari tempat yang sangat mengerikan ini," bisik Gwenola sambil terus terisak di tengah kegelapan malam.

Tanpa ia sadari, Xavier masih berdiri di balik pintu kamar tersebut sambil menyandarkan kepalanya pada dinding beton yang sangat tebal dan sangat dingin. Ia mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih, menahan gejolak perasaan yang sangat rumit yang sedang berkecamuk di dalam dadanya. Pimpinan perusahaan itu kemudian berjalan menjauh menuju ruang kerjanya karena sebuah panggilan darurat baru saja masuk melalui perangkat komunikasi pribadinya.

Laporan dari tim penyelidik menunjukkan bahwa serangan ke kediaman mewah tadi sore memiliki kaitan erat dengan masa lalu ayah Gwenola yang sangat kelam. Xavier membaca dokumen tersebut dengan sangat teliti, menyadari bahwa ada musuh yang jauh lebih besar sedang mengincar gadis kecil yang baru saja ia hukum. Tiba-tiba, sebuah foto jatuh dari dalam dokumen tersebut, menampilkan pemandangan yang membuat napas Xavier seketika berhenti karena rasa terkejut yang luar biasa.

Tangisan di balik bantal sutra.

 

1
Unnie
Ellehh, Xavier Xavier
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!