NovelToon NovelToon
Diam-diam Hamil Anak Mantan

Diam-diam Hamil Anak Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Hamil di luar nikah / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Mantan / Romansa / Cintapertama
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Puji170

Karena cinta tak direstui orang tuanya, Sonya merelakan keperawanannya untuk Yudha, lelaki yang sangat ia cintai. Namun hubungan itu harus berakhir karena Sonya akan segera dijodohkan dengan Reza.

Setelah malam panas itu, Sonya justru diusir dari rumah dan berakhir hamil anak Yudha. Ia ingin kembali pada Yudha, tetapi lelaki itu sudah pergi ke luar negeri.

Saat Sonya bertekad membesarkan anak itu seorang diri, takdir kembali mempermainkannya. Anak tersebut menderita kanker darah dan membutuhkan donor sumsum tulang belakang dari ayah kandungnya.

Apa yang akan dilakukan Sonya. Kembali pada Yudha demi kesembuhan sang anak, atau pergi ketika Yudha kembali ke Indonesia dengan seorang anak laki laki dan calon istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Di ruang kerja yang sunyi, Yudha bersandar pada meja kerjanya, matanya tajam mengamati Sonya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Sorot matanya penuh penilaian, seolah menimbang-nimbang sesuatu. Keheningan yang menekan akhirnya dipecahkan oleh suara dingin Yudha.

"Jangan berpikir, hanya karena Arya menyukai masakanmu, itu berarti kamu bisa mendekat padanya."

Sonya mengerutkan kening, tidak memahami maksud dari ucapan itu. "Maksudnya apa?" tanyanya hati-hati, suaranya terdengar bingung tapi berusaha tetap tenang.

Yudha menatapnya dengan senyum sinis, sudut bibirnya tertarik ke atas, namun tanpa kehangatan sama sekali. "Maksudku, jangan terlalu percaya diri," ucapnya tajam, nada suaranya seperti bilah pisau yang menusuk tanpa ragu. "Arya hanya anak kecil, dia tidak tahu apa-apa. Jangan berpikir kamu bisa memanfaatkan itu."

Sonya terdiam, kata-kata Yudha menghantamnya seperti angin dingin yang menyesakkan dada. Ia menunduk, mencoba menata emosi yang mulai bergejolak. "Saya tidak pernah berniat seperti itu," balasnya pelan, suaranya nyaris bergetar.

Yudha tertawa kecil, tapi tidak ada humor dalam tawanya. "Semua orang bilang begitu, sampai akhirnya mereka menunjukkan wajah aslinya," katanya sambil melipat tangannya di dada. "Aku hanya memperingatkan. Jangan coba-coba, Sonya."

Sonya mengangkat wajahnya, menatap Yudha dengan mata yang memerah. "Saya hanya ingin melakukan pekerjaan saya dengan baik, tidak lebih," ucapnya tegas, meskipun hatinya terasa berat oleh perasaan yang bercampur aduk.

"Melakukan pekerjaan dengan baik? Aku rasa bukan!" sahut Yudha, nadanya sinis, seperti api kecil yang siap menyulut ledakan.

Sonya menarik napas panjang, berusaha menahan emosi yang kian memuncak. "Yudha, aku tahu kamu masih menyimpan dendam padaku dan ingin menyulitkan aku, tapi tuduhan seperti ini sama sekali tidak berdasar," katanya dengan nada yang sedikit bergetar, menahan marah dan sakit hati.

Akhirnya, Yudha tersenyum tipis, penuh ejekan. "Akhirnya kamu mengerti maksudku?" balasnya cepat, matanya menyipit seperti sedang menantang.

Sonya mendesah, kesabarannya mulai terkikis. "Aku tegaskan, aku tidak mengerti, dan aku tidak peduli dengan permainan ini. Sejak awal, aku sudah suportif, bahkan dalam persaingan dengan katering lain. Tapi apa yang kamu lakukan? Kamu justru menjatuhkan namaku, dan sekarang, saat aku mencoba melakukan yang terbaik, kamu malah menuduhku punya niat tersembunyi?"

"Lalu, jika bukan niat tersembunyi, apa? Ya, awalnya aku memang memilih kateringmu untuk menunjukkan bahwa kamu tidak bisa mengendalikan segalanya. Tapi aku lupa, kamu selalu punya cara memanfaatkan orang untuk mencapai tujuanmu," tuduh Yudha dengan nada penuh kepahitan.

Sonya menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan amarah yang hampir meledak. Tapi akhirnya, ia menyerah. "Terserah!" jawabnya dengan frustrasi, suaranya pecah.

Yudha tertawa kecil, senyum mengejeknya kembali terlihat. Ia ingat betul, ini adalah ciri khas Sonya selalu menyerah ketika didesak terlalu jauh. Dulu, setiap kali wanita itu berkata "terserah," ia akan membujuknya, menenangkannya dengan kata-kata lembut. Tapi kali ini, tidak. Kali ini, ia tidak akan mundur.

"Terserah? Berarti kamu mengakuinya?" tanya Yudha, nada suaranya dingin, hampir menyakitkan.

Sonya mengatupkan kedua tangannya dengan gemetar, mencoba menahan diri untuk tidak menangis. "Percaya apa yang kamu mau, Yudha. Aku sudah lelah," ucapnya pelan, sebelum memalingkan wajah dan melangkah keluar dari ruangan, meninggalkan Yudha yang masih berdiri di tempat dengan ekspresi sulit ditebak.

Namun, sebelum ia melangkah terlalu jauh, suara tegas Yudha menghentikannya. "Tunggu!"

Sonya berhenti, namun tidak berbalik. "Apa yang kamu inginkan sekarang?" tanyanya, suaranya terdengar seperti tantangan, meskipun ada kepedihan yang sulit disembunyikan.

Yudha mendekat beberapa langkah, tapi tetap menjaga jarak. "Aku tahu keluargamu punya banyak cara licik untuk menjatuhkan orang yang tidak mereka sukai, termasuk aku. Jadi, aku hanya ingin kamu tahu satu hal, aku bukan Yudha yang sama seperti lima tahun lalu."

Kata-kata itu menusuk hati Sonya. Ia memejamkan mata, membiarkan air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya mengalir. Dadanya terasa sesak, seperti dihimpit beban yang terlalu berat. Ia sadar sepenuhnya kesenjangan antara dirinya dan Yudha kini begitu jauh, sebuah jurang yang tidak mungkin ia seberangi.

Masih membelakangi Yudha, Sonya menjawab dengan suara serak. "Kamu benar. Karena itu, aku tidak berani menjangkaumu."

Tanpa menunggu balasan, Sonya melangkah pergi, meninggalkan ruangan itu dengan luka yang semakin dalam di hatinya. Setiap langkah terasa berat, tetapi ia tahu ia harus terus berjalan. Saat ini, hanya satu hal yang terlintas di pikirannya, pergi ke rumah sakit untuk memeluk buah hatinya, mencari pelipur di tengah kehancurannya.

Ketika Sonya akhirnya keluar dari gerbang rumah Yudha, sebuah mobil hitam berhenti di dekatnya. Kaca mobil perlahan diturunkan, memperlihatkan wajah Reza yang tampak cemas.

"Sonya," panggil Reza, suaranya lembut namun penuh perhatian.

Sonya menoleh, menatap Reza dengan senyum hangat yang ia paksakan. Ia tahu, jika sedikit saja ia menunjukkan kelemahannya, lelaki itu pasti akan berusaha membantunya. Namun, kali ini Sonya tidak ingin membebani Reza, terutama karena ia tahu hubungan Reza dan Yudha sebagai mitra bisnis cukup sensitif.

"Kamu kenapa di sini?" tanyanya sambil tersenyum manis, berusaha menyembunyikan kepedihan yang masih menghantui.

Reza tersenyum tipis, menatapnya dengan tatapan menggoda. "Kebetulan ada klien di daerah sini. Eh, aku lihat calon istriku baru saja keluar. Mobil ini, sepertinya, langsung berhenti sendiri," candanya ringan.

"Reza," Sonya memanggil namanya dengan penekanan, memperingatkan lelaki itu untuk tidak melanjutkan leluconnya.

"Oke, oke, aku bercanda," sahut Reza sambil terkekeh kecil. "Tapi jangan-jangan kamu di sini ketemuan sama lelaki lain, ya?" godanya lagi, kali ini disertai anggukan kecil ke arah rumah besar yang baru saja ia lihat.

Sonya hanya melirik singkat ke arah rumah itu sebelum kembali memfokuskan pandangannya pada Reza. "Sama saja, hanya klien," jawabnya datar, meskipun dalam hati ia merasa lelah menjelaskan.

Reza mengangguk, tapi tatapannya tetap menyiratkan rasa ingin tahu. "Kalau begitu, kamu mau ke mana sekarang? Ayo, aku antar. Sopir khusus siap melayani tuan putri."

Sonya menoleh ke jalan, memastikan tidak ada taksi yang lewat, lalu kembali menatap Reza. Kali ini ia mengalah. "Aku mau ke rumah sakit," katanya, suaranya terdengar sedikit pelan.

Ekspresi Reza langsung berubah. Kekhawatiran tergambar jelas di wajahnya. "Apa terjadi sesuatu dengan Sasa?" tanyanya cepat, nadanya serius.

Sonya tersenyum tipis, berusaha menenangkan. "Tidak, semuanya baik-baik saja. Aku hanya ingin melihatnya. Kamu tahu, dia pasti menunggu aku."

Reza menghela napas lega, tapi tetap menatap Sonya dengan tatapan prihatin. "Kalau begitu, ayo aku antar. Kamu pasti capek kalau harus menunggu taksi di sini."

Sonya ragu sejenak sebelum akhirnya mengangguk pelan. Ia tahu Reza hanya ingin membantunya, dan ia terlalu lelah untuk menolak kebaikan itu kali ini.

Namun, tanpa Sonya sadari, dari balik kaca jendela rumah besar itu, Yudha memperhatikan setiap gerakannya. Matanya menyipit tajam, dan sebuah senyum sinis terukir di sudut bibirnya. "Dasar licik!" gumamnya dengan nada penuh kebencian.

Yudha memutar tubuhnya menjauh dari jendela, hatinya dipenuhi amarah yang ia sendiri sulit jelaskan. Dengan langkah tegas, ia kembali ke ruang kerja. Di sana, Bayu sudah menunggu, duduk dengan tenang di kursi seberang meja kerja.

"Ada yang mengganggumu?" tanya Bayu sambil menaikkan alis, meski nada suaranya terdengar santai.

Yudha duduk dengan gerakan kasar, menahan emosi yang hampir meluap. "Aku ingin Reza berinvestasi sebanyak mungkin... lalu jatuhkan dia," ucapnya dingin, tatapannya berapi-api.

Bayu mengangguk patuh, meski ada keraguan yang terbersit di wajahnya. Ia tahu Yudha tidak pernah berbicara tanpa maksud, tapi kali ini... rencana itu terdengar lebih dari sekadar ambisi bisnis. "Lalu, apa rencanamu untuk Sonya?" tanyanya hati-hati, mencoba membaca lebih jauh ke dalam pikiran Yudha.

Mata Yudha menyipit, rahangnya mengeras. Ia mengangkat wajah, menatap Bayu dengan sorot yang menusuk. "Aku ingin membuatnya berlutut dan hidup dalam kendaliku," ucapnya pelan namun penuh tekanan. "Agar Darwin tahu bagaimana rasanya melihat anaknya tenggelam dalam keputusasaan."

Namun, kobaran dendam yang menyelimuti ruangan itu tiba-tiba terhenti. Suara serak namun penuh kepanikan terdengar dari luar pintu.

"Kak Yudha! Arya, Kak!" panggil Serly, suaranya memecahkan keheningan seperti petir di langit gelap.

Yudha tersentak, tubuhnya menegang. Ia langsung berdiri, sorot matanya berubah tajam dengan campuran kecemasan dan ketakutan. Tanpa menunggu Bayu berkata apa-apa, ia melangkah cepat menuju pintu.

"Arya!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!