Aruna Pramesti mencintai dalam diam, ia menerima perjodohan dengan Revan Maheswara dengan tulus.
Menikah bukan berarti dicintai.
Aruna menjadi istri yang diabaikan, disisihkan oleh ambisi, gengsi, dan bayang-bayang perempuan lain. Hingga saat Revan mendapatkan warisan yang ia kejar, Aruna diceraikan tanpa ragu.
Aruna memilih pergi dan membangun kembali hidupnya.
Sementara Revan justru terjerumus dalam kegagalan. Pernikahan keduanya berakhir dengan pengkhianatan, menyisakan luka, kehampaan, dan penyesalan yang datang terlambat.
Takdir mempertemukan mereka kembali. Revan ingin menebus kesalahan, tapi Aruna terlalu lelah untuk berharap.
Namun sebuah amanah dari ibunya Revan, perempuan yang paling Aruna hormati, memaksanya kembali. Bukan karena cinta, melainkan karena janji yang tidak sanggup ia abaikan.
Ketika Revan baru belajar mencintai dengan sungguh-sungguh, Aruna justru berada di persimpangan. Bertahan demi amanah atau memilih dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamak3Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan Perempuan Lain
Rutinitas Aruna perlahan menemukan bentuknya sendiri, meski kata rumah masih terasa asing baginya. Setiap pagi, dari Senin sampai Jumat, ia bangun lebih awal dari Revan. Bukan karena ia rajin, melainkan karena ia memilih menghindari kebersamaan yang terasa canggung
Di dapur, ia menyiapkan kopi dengan gerakan senyap. “Aruna,” suara Revan terdengar dari arah ruang tengah, singkat.
“Iya?” jawab Aruna tanpa menoleh.
“Kamu mau berangkat?” tanya Revan. Tidak ada tambahan kata, tidak ada perhatian.
Aruna hanya mengangguk, ia meletakkan cangkir kopinya di meja makan. Kemudian berangkat, tidak ada adegan mencium tangan sebagai tanda pamitan layaknya suami istri pada umumnya.
Aruna bekerja di perusahaan pelayaran asing yang berkantor di pusat kota. Jam kerjanya panjang, tuntutannya tinggi, tetapi justru di sanalah ia merasa berguna. Di balik layar komputer dan tumpukan laporan logistik, Aruna bisa bernapas. Tidak ada yang menuntutnya menjadi istri. Tidak ada yang mengingatkannya bahwa ia pulang ke rumah yang tidak pernah benar-benar menerimanya.
“Sore nanti lembur lagi, Run?” tanya salah satu rekan kerjanya.
“Sepertinya iya,” jawab Aruna sambil tersenyum tipis.
“Suamimu tidak keberatan?”
Aruna terdiam sepersekian detik. “Dia sibuk juga.”
Revan biasanya sudah berangkat lebih dulu atau justru belum pulang ketika Aruna meninggalkan rumah. Mereka jarang bertemu di pagi hari. Dan jika pun bertemu, hanya anggukan singkat yang menjadi salam.
Kadang, saat berpapasan di depan pintu, Revan hanya berkata, “Hati-hati di jalan.”
“Kamu juga,” jawab Aruna singkat.
Di mata orang luar, rumah itu rapi dan tenang. Tidak ada suara pertengkaran. Tidak ada pintu dibanting. Tidak ada drama. Tetapi justru di sanalah masalahnya. Segalanya terlalu senyap. Terlalu datar. Seperti dua orang yang sepakat hidup berdampingan tanpa saling menyentuh dunia satu sama lain.
Aruna tidak menuntut. Tidak juga berharap. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk menjaga jarak. Ia mencintai Revan, tetapi cinta itu kini ia simpan seperti benda rapuh tidak lagi ditawarkan, tidak lagi diharapkan balasannya.
Suatu malam, Revan pulang hampir tengah malam. “Kamu belum tidur?” tanyanya datar.
“Belum,” jawab Aruna sambil menutup buku yang sedang dibaca.
“Oh.” Percakapan itu selesai di sana.
Namun, bayangan itu mulai muncul. Awalnya kecil, nyaris tidak terasa. Revan sering membawa ponselnya ke mana pun. Aruna tidak pernah bertanya. Ia tidak ingin terdengar seperti istri yang mencurigai.
Suatu sore, saat ponsel itu berdering dan Revan berdiri menjauh ke balkon, Aruna hanya berkata pelan,
“Makan malam sudah siap.”
“Nanti saja,” jawab Revan singkat, menutup pintu balkon.
Lalu ada perubahan kecil dalam jadwalnya. Revan lebih sering pulang larut. Kadang beralasan rapat klien, kadang urusan kantor yang mendadak. Aruna mengangguk setiap kali mendengar alasannya.
“Rapatnya lama?” tanya Aruna.
“Iya.” Jawab Revan singkat.
Hanya itu, ia tidak pernah mengecek. Tidak pernah meminta bukti. Selama Revan tidak membawa siapa pun ke rumah itu, Aruna memilih diam.
Karena ia tahu, jika ia mulai bertanya, maka hatinya sendirilah yang akan hancur lebih dulu.
Suatu siang, Aruna pulang lebih cepat dari biasanya. Ia sedang tidak enak badan dan ijin pulang setengah hari. Saat masuk ke rumah, ia mendapati Revan sudah ada di ruang tamu. Sesuatu yang jarang terjadi.
Revan sedang berbicara di telepon. Nada suaranya rendah. Tidak dingin seperti biasanya. Ada jeda-jeda pendek, seolah ia mendengarkan dengan saksama. Aruna berhenti melangkah tanpa sadar, berdiri di balik dinding pembatas.
“Iya, aku tahu,” suara Revan terdengar jelas. “Aku cuma butuh waktu.”
Aruna menelan ludah. Ia tidak tahu siapa lawan bicara Revan. Ia juga tidak ingin tahu. Namun ada sesuatu dalam nada itu, sesuatu yang tidak pernah ia dengar keluar dari mulut Revan sejak mereka menikah.
Revan menoleh, menyadari kehadiran Aruna. Percakapan itu langsung terhenti.
“Iya,” katanya singkat ke ponsel. “Nanti aku hubungi lagi.” Panggilan berakhir.
“Tumben kamu pulang cepat?” tanya Revan datar.
“Lagi kurang enak badan.” Jawab Aruna dengan suara lemah.
“Oh.” Revan mejawab singkat. Tidak ada perhatian.
Aruna melangkah menuju kamar tanpa berkata apa pun. Dadanya terasa sesak, mengetahui suaminya sendiri tidak peduli padanya.
Malam itu, Aruna terbangun karena suara notifikasi dari kamar sebelah. Ia tahu itu ponsel Revan. Suaranya pelan, tapi cukup jelas di keheningan malam. Ia memejamkan mata, memaksa dirinya kembali tidur.
Hari-hari berikutnya berlalu dengan pola yang sama. Aruna bekerja, pulang, memasak seperlunya, lalu kembali ke kamar. Revan datang dan pergi seperti bayangan. Mereka hidup di satu rumah, tetapi dengan dunia yang terpisah.
Tidak ada pertengkaran, tidak ada tuntutan.
“Nanti kamu makan malam aja, gak usah tunggu aku,” ucap Revan suatu malam, sambil meraih kunci mobil.
“Iya,” jawab Aruna singkat, tanpa menoleh.
Percakapan itu cukup, selalu cukup untuk menutup hari.
Suatu sore, saat Aruna sedang melipat pakaian di ruang cuci, ponsel Revan yang tertinggal di meja makan bergetar. Nama di layar hanya terlihat sekilas sebelum layar kembali gelap. Tetapi Aruna sempat membaca satu huruf awal, V.
Jarinya berhenti bergerak. Ia tidak menyentuh ponsel itu. Tidak mencoba memastikan. Tetapi jantungnya berdebar lebih cepat, seolah tubuhnya mengenali ancaman sebelum pikirannya sempat menolaknya.
Langkah Revan terdengar dari arah kamar. Aruna buru-buru melanjutkan melipat pakaian, wajahnya kembali tenang saat Revan muncul.
“Kamu lihat ponselku?” tanya Revan datar.
“Di meja,” jawab Aruna, nada suaranya stabil.
Revan mengangguk, meraih ponselnya, lalu pergi.
Nama itu tidak pernah disebut, tetapi kehadirannya terasa seperti udara yang dingin, tidak terlihat, namun menusuk. Aruna menarik napas dalam-dalam, memaksa dirinya tetap tenang.
Ia sudah memilih diam. Ia sudah memilih untuk bertahan.
Namun malam itu, untuk pertama kalinya sejak menikah, Aruna bertanya dalam hati. “Sampai kapan aku bisa berpura-pura tidak melihat bayangan perempuan lain yang perlahan mengambil tempatku?”
Ponsel Revan berdering saat malam mulai turun. Ia mengangkatnya tanpa melihat layar, melangkah ke dalam kamar lalu menutup pintu.
“Kenapa lama?” suara Viona terdengar tajam di seberang sana. “Aku butuh kepastian, Revan.”
Revan mengusap tengkuknya. “Situasinya tidak semudah itu, Vio.”
“Lalu sampai kapan aku harus menunggu?” desak Viona.
Revan terdiam sejenak, lalu berkata pelan namun tegas, “Untuk saat ini, aku tidak bisa menceraikan Aruna.”
Keheningan sejenak, lalu tawa kecil Viona terdengar dingin. “Tidak bisa atau tidak mau?”
“Tidak bisa,” ulang Revan. “Kalau aku sampai menceraikan Aruna, maka aku akan kehilangan warisanku.”
“Kamu lebih milih harta daripada aku?” suara Viona mengeras.
“Tolong mengerti, Vio.” Suara Revan terdengar putus asa.
Di luar kamar, langkah Aruna terhenti. Ia baru saja melewati lorong menuju dapur ketika kalimat itu tidak sengaja terdengar di telinganya. Ia berdiri membeku, jari-jarinya mengepal. Jadi itu alasannya, karena warisan.
“Ok, aku akan menunggu tapi tidak selamanya,” kata Viona dingin sebelum sambungan terputus.
Aruna melangkah mundur perlahan, menahan napas. Dadanya sesak, tetapi wajahnya tetap tenang. Ia berbalik, kembali ke kamarnya dengan langkah ringan seolah tidak ada apa-apa.
Namun malam itu, untuk pertama kalinya, Aruna tahu. Ia bukan istri yang dipilih, hanya penghalang yang menunggu waktu yang tepat untuk disingkirkan.