Aira Wibisono, Baru Kehilangan Seluruh Keluarganya, Kisah tragisnya di mulai saat Kakaknya Arya meninggal karena kecelakaan, Ayahnya sangat terpukul dengan kepergian Arya, Arya merupaka ke banggan keluarga, Arya baik, pintar, dan tampan, Arya kuliah di FK UGM Orang tua Aira menaruh harapan yang besar kepada Arya, Cinta mereka sangat besar kepada Arya, Semenjak kepergian Arya Ayahnya Aira jadi sakit sakitan dan tak lama Ayah Aira meniggal, Setelah itu Ibu Aira mulai defresi dan meninggal satu tahun kemudian. Akhirnya Aira memutuskan tinggal di rumah Tante Mala sahabat ibunya, Tante Mala mempunyai anak Laki-laki bernama Damar, dia populer di sekolah, pintar, tampan mirip dengan kakaknya Aira di sana lah kisah Aira di mulai...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senyum Yang Terlalu Manis 2
Mobil hitam itu berhenti tepat di depan rumah Tante Mala.
Pintu terbuka.
Anne turun pertama, Di ikuti Lisa, Siska, dan Alice.
“Aira!”
Anne melambaikan tangan ceria.
Aira keluar rumah dengan langkah cepat, matanya berbinar.
“Anne!”
Anne menoleh ke belakang. “Lisa, Siska, Alice cepet!”
mereka menyusul sambil melambaikan tangan ke arah Aira.
Tiba-tiba Naya muncul dari balik pintu,
“Ini mobil jemput nonton atau antar tamu negara?”
Kata Naya, Anne tertawa kecil pura-pura tidak dengar
“Aira,” katanya sambil menggandeng tangan Aira,
“Rumah kamu cantik banget.”
“Ini rumah Tante Mala,” jawab Aira bangga.
“Mau masuk dulu? Tante lagi di dalam.”
Anne menegakkan badan.
“Tentu saja,” katanya cepat. “Aku harus pamit dong.”
Pamit atau pamer? pikir Naya.
Mereka masuk.
Begitu pintu terbuka
“Tanteee~”
Suara Anne terdengar manis berlebihan.
Tante Mala yang sedang duduk di ruang tamu menoleh.
“Oh?”
Tante Mala berdiri. “Iya?”
Anne langsung mendekat, menunduk sopan.
“Saya Anne, Tante. Temannya Aira.”
"Saya Lisa, tante," "Saya Siska," " Alice"
Mereka bergiliran bersalaman.
“Aduh,” lanjut Anne,
“Tante kelihatan muda banget. Kirain kakaknya Aira."
Tante Mala tersenyum tipis.
“Oh ya?
“Iya, kan teman-teman,” Anne mengangguk cepat.
"Iya, tante," Celetuk Lisa.
“Cantik, wibawa, elegan. Pantes Damar seperti itu ternyata turun dari tante,"
Naya menelan tawa, begitupun teman-teman Anne.
Aira ikut tersenyum polos.
“Tante keliatan baik banget,”
Tante Mala menatap Anne dari ujung rambut sampai sepatu.
“Terima kasih,” katanya sopan.
“Kamu mau nonton sama Aira?”
“Iya, Tante,” jawab Anne manis.
“Sekalian mau ajak Kak Damar juga tante.”
Kata Damar diucapkan dengan penekanan halus.
“Oh,” Tante Mala mengangguk.
“Damar lagi di kamar.”
Anne langsung mendongak.
“Oh ya? Aku boleh sapa Kak Damar?”
Anne sudah melangkah ke arah tangga.
“Tunggu,” kata Tante Mala tenang tapi tegas.
“Di sini saja.”
Anne berhenti.
“Oh, maaf Tante,” katanya cepat.
“Aku terlalu antusias.”
Tante Mala tersenyum kecil senyum yang tidak sampai ke mata.
“Tidak apa-apa,” katanya. “Tapi di rumah ini hanya kelaurga yang boleh masuk kamar Damar,"
Anne mengangguk cepat.
“Tentu, Tante Aku minta maaf,"
Tak lama tante Mala turun.
"Tunggu sebentar ya, Damar lagi siap-siap,"
Anne duduk, dia langsung membenarkan posisi duduknya saat melihat foto keluarga di rak.
“Itu Kak Damar ya?”
Anne menunjuk foto.
“Wah… dari kecil udah pintar kelihatannya.”
Tante Mala melirik foto itu sekilas.
“Dia anak biasa.”
“Oh jangan merendah, Tante,” kata Anne cepat.
“Juara umum, genius, sopan. Jarang loh cowok kayak gitu.”
Naya dan ketiga tannya Anne sudah begah melihat tinggak Anne.
Aduh.
Aira ikut melihat foto itu.
“Iya, Damar pintar.”
Anne tersenyum ke arah Aira, lalu kembali ke Tante Mala.
“Tante,” katanya lembut,
“Aku ini Kelas Akselerasi juga tapi aku di bawah kak Damar satu tahun,"
“Oh ya?”
Nada Tante Mala datar.
Aira terkejut mendengarnya,
"Jadi kamu tuh di bawa aku satu tahun,"
Tanya Aira masih kaget.
"Iya kan namanya juga Akselerasi," sambil mengangguk mantap.
”Tante kalau boleh, Anne mau belajar bareng sama kak Damar kalau di ijinkan,"
Hening sesaat.
Tante Mala meneguk tehnya pelan.
“Oh begitu,” katanya ringan.
“Kebetulan Damar lagi sibuk ngajarin Aira.”
Senyum Anne sedikit kaku
“Privat,” lanjut Tante Mala.
“Dan cukup melelahkan.”
Aira tersenyum kecil.
"Lagi pula kan Anne udah pintar, masak harus di ajarin Damar,"
Anne tertawa kecil, agak dipaksakan.
"Akh, tante bisa aja,"
Di tangga, langkah kaki terdengar.Damar turun.
sudah siap namun wajahnya tetap datar.
Anne langsung berdiri.
"Hi, Kak Damar!”
Damar berhenti sebentar.
“Oh, hi, ” jawab Damar singkat
Anne melangkah lebih dekat.
Damar mengernyit.
Tante Mala memperhatikan semuanya dengan wajah tenang tapi dalam hati:
Anak ini… capernya kebanyakan.
“Aira,” kata Tante Mala"
“jangan pulang terlalu malam.”
“Iya, Tante.”
Anne tersenyum lagi. “Tenang, Tante. Aku jagain.”
Tante Mala mengangguk pelan.
“Damar jaga Aira ya,”
"Iya mah,"