Kesempurnaan adalah ilusi.
Dan Tasya Andarini hidup dari ilusi itu.
Sebagai mahasiswi teladan dengan masa depan yang sudah tersusun rapi, Tasya percaya bahwa disiplin dan kendali adalah segalanya. Sampai dosen pembimbing memaksanya berpasangan dengan Dimas Ramadhan—playboy kampus dengan reputasi buruk, kecerdasan tersembunyi, dan masa lalu yang tak pernah benar-benar ia tinggalkan—untuk mengerjakan skripsi eksperimental yang menentukan kelulusan mereka.
Sejak awal, mereka saling membenci.
Tasya muak dengan sikap Dimas yang sembrono, tatapan tajam yang terlalu berani, dan cara bicaranya yang selalu menguji batas.
Dimas, sebaliknya, terganggu oleh sikap Tasya yang dingin dan perfeksionis—namun tak bisa mengabaikan ketegangan yang muncul setiap kali ia berdiri terlalu dekat.
Di antara deadline, aturan, dan hasrat yang tak lagi bisa disangkal, Tasya harus memilih: mempertahankan kesempurnaan yang rapuh, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta tanpa izin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khang Adhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Hati Yang Mulai Peka
“Sya… sikut lo,” suara Dimas serak. Lengannya bergerak perlahan, mencoba menggeser tekanan di ulu hatinya yang membuat napasnya tersendat.
Tasya langsung menjauh. Ia berdiri terlalu cepat, hampir kehilangan keseimbangan. Pipinya memanas—merah yang sulit disembunyikan. Ruangan terasa lebih sunyi dari sebelumnya. Tak ada Nina. Tak ada pelarian.
Dimas bangkit menyusul, menarik napas panjang. Batuk kecil lolos dari bibirnya. Telapak tangannya sempat menekan perut, menahan mual yang tertinggal.
“Kalau lo mau ancurin hidup gue,” Tasya bersuara, kaku dan terlalu tegas, “lo boleh pergi sekarang.”
Kalimat itu meluncur tanpa menatap. Seperti perisai.
Dimas menatapnya sekilas—cukup lama untuk membaca kegelisahan di balik sikap keras itu. Ia menghela napas, menelan egonya, lalu kembali mendekat. Dari tasnya, ia mengeluarkan lembaran revisi dan meletakkannya di atas meja, sejajar dengan laptop.
Catatan Pak Sasongko tertulis rapi: kebutuhan dua puluh sampel dari dua desa berbeda agar akurasi lebih kuat.
“Dasar bandot tua,” gumam Tasya sambil membaca. Alisnya berkerut. “Udah sejauh ini, masih aja minta pembanding.”
“Lo bisa olah yang ada dulu Sya,” kata Dimas, menunjuk satu poin yang ada di ujung kertas. “Kalau kurang, di sini beliau bolehin pakai literatur lain buat perbandingan.”
Tasya mengangguk singkat. Ia berbalik ke kamar, kembali dengan laptopnya, lalu duduk tanpa banyak suara. Jari-jarinya bergerak cepat, menyusun ulang tabel yang sudah Dimas siapkan.
Waktu meluruh tanpa terasa. Cahaya di luar jendela menguning, merambat pelan ke senja. Beberapa data rampung, tapi ketimpangan masih terlihat.
“Kita butuh dua atau tiga literatur lagi,” kata Tasya, menunjuk satu tabel. “Bagian ini bisa masuk Bab I. Tapi kalau datanya masih setengah begini, lo bakal mandek.”
“Ada tesis kakak kelas gue,” jawab Dimas. “Judulnya mirip. Besok pagi gue coba pinjem.”
Tasya menyandarkan punggung, mengangkat kedua tangan sekilas—gerakannya refleks yang tak ia sadari. Dimas menoleh, lalu cepat-cepat memalingkan pandangan. Ada jeda yang tak diisi siapa pun.
“Kayaknya beliau bener,” Tasya bergumam. “Kita perlu satu desa lagi.”
Dimas meraih ponselnya, segera melirik kalender di dalam ponselnya agar tidak terlihat gugup. “Gue balik dulu, Sya. Besok gue cari desa yang cocok. Semoga deadline-nya nggak mepet.” lalu Ia menutup laptop dan mencabut hard disk dari port dengan hati-hati.
“Pakai aja dulu,” kata Tasya cepat. Tangannya terangkat, menahan. Ujung jarinya menyentuh punggung tangan Dimas—ringan, nyaris tak sengaja.
Sentuhan itu berhenti di sana. Terlalu singkat untuk disebut apa-apa, terlalu jelas untuk diabaikan.
Dimas membeku. Ia menatap tangan mereka, lalu ke wajah Tasya. Ada sesuatu yang mencoba masuk—pelan, ragu—dan untuk pertama kalinya, ia tak segera menyingkirkannya.
Ia mengangguk pelan. Tak ada janji. Tak ada kata tambahan.
Hanya jarak yang kini terasa berbeda saat ia melangkah pergi.
Tasya tak ingin momen itu putus begitu saja. Ia meraih blazer dari kamar, menyampirkannya cepat, lalu menyusul Dimas dari belakang.
“Gu—gue mau sekalian cari makan ke kantin,” katanya ketika Dimas menoleh. Alasan yang terdengar tipis, tapi cukup untuk meyakinkan Dimas jika Tasya punya alasan lain.
Pintu lift terbuka. Mereka pun masuk bersamaan.
Sunyi mengisi ruang sempit itu. Tak ada debat, tak ada sindiran seperti hari-hari sebelumnya. Hanya dengung mesin lift dan pantulan dua orang yang sama-sama menghindari tatap mata.
“Besok lo ke kampus Sya?” Dimas akhirnya bersuara, seperti melempar batu kecil ke permukaan air yang terlalu tenang.
“Gue ada janji sama Donna,” jawab Tasya. “Sekalian ke perpus. Data kita masih kurang.”
Ia menatap pantulan Dimas di dinding lift—sekilas, lalu mengalihkan pandangan.
Lift pun berhenti.
“Nah,” suara Nina menyergap begitu pintu terbuka, “kalian udah mulai nyaman sekarang?”
Tasya tersentak. “Gue mau ke—ke kantin,” katanya, terlalu cepat.
“Sejak kapan permaisuri turun ke kantin?” Nina menggaruk dagunya, menatap Tasya penuh selidik.
“Gak usah cari masalah,” desis Tasya. Ia menarik lengan Nina, menerobos pintu lift yang hampir menutup, lalu menyeretnya ke lorong menuju kolam renang.
Dimas berjalan beberapa langkah di belakang. Motor yang biasa di tungganginya, diparkir tak jauh dari sana.
“Jadi,” bisik Nina sambil melirik ke belakang, memastikan jarak mereka aman, “tadi kalian ngapain aja?”
“Ngolah data!” jawab Tasya singkat. Jemarinya mencubit kecil sisi perutnya sendiri—kebiasaan saat dirinya gugup.
“Boong,” Nina berbisik balik. “Gue liat bekas lipstik lo di kerah baju Dimas.”
Dada Tasya mencelos. Ia langsung berbalik, melangkah mendekati Dimas, pura-pura bertanya soal hard disk sambil mengamati kerah kemejanya.
Bersih.
Dari kejauhan, Nina mengayunkan telunjuknya, senyum puas tersungging di wajahnya.
“Brengsek,” gumam Tasya, sadar ternyata ia baru saja dijebak.
“Na, gue turun dulu ya,” suara Dimas terdengar. “Gue duluan, Sya.”
Ia menatap Tasya—sekilas, cukup lama untuk meninggalkan sesuatu yang menggantung.
“Lo gak mau ngopi dulu, Dim?” Nina menyambar. “Siapa tahu butuh selir baru yang bisa bikin lo happy.”
Dimas terkekeh kecil. Pandangannya beralih ke arah kantin yang sudah gelap dan tertutup. Senyum itu singkat, tapi cukup menyuratkan maksud Tasya.
Sekarang ia paham. Tasya hanya beralasan.
Tanpa ingin mempermalukannya, Dimas memilih menuruni tangga menuju basement lebih dulu—meninggalkan Tasya dengan perasaan yang terlambat ia sadari.
Sesampainya di kostan, Dimas langsung membuka laptop. Lampu meja menyala temaram, menyinari layar yang menampilkan data hasil olahan mereka siang tadi. Satu per satu file ia cek ulang, memastikan tak ada angka yang terlewat.
Flash disk milik Tasya ia colokkan.
Beberapa folder muncul. Di antaranya—enam folder dengan nama tanggal, tanpa keterangan lain.
Dimas mengerutkan kening.
Ia tahu itu bukan urusannya. Jemarinya bahkan sempat menjauh dari touchpad. Namun rasa penasaran datang diam-diam, menyelinap bersama bayangan Tasya yang akhir-akhir ini sulit ia abaikan.
Satu folder terbuka—tak sengaja, atau mungkin karena ia membiarkan dirinya tergelincir.
Foto-foto Tasya muncul di layar. Bukan Tasya yang ia kenal di kampus. Tanpa kacamata. Rambut terurai. Senyum kecil yang jarang ia lihat.
Dimas menutup laptopnya dengan cepat.
DING!!
Pesan masuk menyelamatkannya dari pikirannya sendiri.
Tasya: "Dim, besok sore kita ketemu di perpus ya. Gue kelar sama Donna sekitar jam 4-an. Kita beresin Bab 1, abis itu lanjut cari lokasi penelitian baru."
Dimas menghela napas sebentar, lalu membalas singkat.
Dimas : "Ok, Sya."
Laptop kembali dibuka. Folder-foto itu tak ia sentuh lagi—meski satu-dua potongan gambar terlanjur menetap di kepalanya.
Keesokan harinya, pukul empat sore, Dimas sudah berdiri di depan gedung perpustakaan. Laptop diselipkan di tas, buku catatan dijepit di lengan. Ia menunggu sambil sesekali melirik jam tangan.
“SORRY!” Suara Tasya menyapa dari kejauhan.
Blazer biru membalut tubuhnya, rok selutut membuat langkahnya terlihat terburu-buru. Ia melambaikan tangan sambil mempercepat langkah.
“Gue telat,” katanya, sedikit terengah.
“Kita cuma punya satu jam,” jawab Dimas sambil berbalik masuk ke gedung.
Di meja resepsionis, Dimas menyodorkan secarik kertas berisi dua judul tesis.
Petugas menggeleng. “Tesis disimpan di ruang khusus di basement. Kalau mau, kalianbisa cari sendiri.”
“Emang gak ada judul lain?” Tasya melirik Dimas.
“Ada,” Dimas menunjuk rak panjang di tengah lorong. “Tapi harus cek satu-satu di Bab Tiga. Mau?”
Tasya mendecak pelan. “Bisa seharian itu.”
Akhirnya mereka turun ke basement satu.
Ruangan itu sunyi. Lampu neon menyala redup, memantulkan bayangan rak-rak tinggi yang berdebu. Tak ada petugas. Hanya bau kertas lama dan udara dingin yang menempel di kulit.
“Empat puluh menit lagi tutup Sya,” gumam Dimas sambil melihat jam tangan yang melingkar di lengannya.
Mereka kemudian berpencar.
Rak demi rak ditelusuri. Dimas menemukan satu judul yang ia cari, sementara Tasya malah tenggelam membaca jurnal dosen favoritnya.
“Sya! Udah dapet belum?” suara Dimas menggema di lorong sempit.
“Oh—iya!” Tasya tersentak. “Sorry gue kebablasan baca jurnalnya Pak Darma.”
Ia buru-buru menyelipkan jurnal ke tas, lalu kembali mencari satu judul yang mereka butuhkan.
Lampu tiba-tiba mati.
Gelap.
“Aaa—!” jerit Tasya spontan.
“TASYA!” Dimas berteriak sambil meraba rak di depannya.
“DIM, LO DI MANA?” suara Tasya bergetar. Ponselnya terjatuh saat akan menyalakan senter, bunyinya tenggelam dalam gelap.
“DIMAS… GUE TAKUT!”
BRAK!!
Dimas menabrak lemari besi. Nyeri menjalar di dahinya.
“Lo tunggu di situ!” teriaknya. “Kasih tau lo di lorong berapa!”
“GUE GAK TAU!” suara Tasya hampir menangis. “Cepetan ke sini!”
BOOM!!
Ledakan kecil terdengar dari arah pintu, diikuti bau sesuatu yang terbakar.
Gelap. Sunyi. Terkunci.
Dan mereka masih terjebak di dalam.