Berawal dari selembar struk pembayaran sebuah tas branded yang harganya mahal, Kirana mencurigai Rafka sudah berselingkuh di belakangnya. Dia pun mulai memantau suaminya secara diam-diam.
Sampai suatu hari Kirana sadar Rafka lebih mengutamakan Kinanti dan putrinya, Ara, dibandingkan dengan dirinya dan Gita, putri kandungnya sendiri.
"Bukannya Mas sudah janji sama Gita, lalu kenapa Mas malah pergi ke wahana bermain sama Ara? Sungguh, Mas tega menyakiti perasaan anak sendiri dan membahagiakan anak orang lain!" ucap Kirana dengan berderai air mata.
"Ma, Papa sudah tidak sayang lagi sama aku, ya?" tanya Gita lirih, menahan isak tangis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Kirana duduk di tepi ranjang sejak beberapa menit lalu setelah selesai makan malam. Ia sendiri tak tahu. Waktu seperti berhenti ketika matanya terus kembali pada selembar kertas kecil di tangannya. Struk belanja.
Kertas itu telah lecek karena terlalu sering diremas, lalu dirapikan lagi. Ia membacanya berulang-ulang, seperti orang bodoh yang berharap angka bisa berubah hanya karena ditatap lebih lama.
Nama toko itu terlalu jelas. Tanggal pembelian terlalu dekat. Dan harga tas itu terlalu besar untuk sekadar “tidak sengaja”.
Kirana menelan ludah. Dadanya terasa sesak, bukan karena sakit, tetapi karena ada sesuatu yang mulai berdenyut di kepalanya. Sebuah pertanyaan yang belum berani ia ucapkan.
Langkah kaki terdengar dari luar. Pintu kamar terbuka perlahan. Rafka masuk dengan langkah ragu, seolah tubuhnya sendiri menolak mendekat.
Tadi, Kirana mengatakan ingin membicarakan sesuatu. Dia yakin pembicaraan kali ini serius. Pemandangan Kirana yang duduk di tepi tempat tidur membuat napas Rafka tertahan.
Padahal Kirana tidak melakukan apa-apa. Ia hanya duduk. Diam. Punggungnya tegak, wajahnya kosong. Tangannya menggenggam sesuatu.
“Sayang,” panggil Rafka pelan, nyaris berbisik.
Kirana menoleh. Tidak ada air mata atau wajah memerah karena marah.
Justru ketenangan itulah yang membuat jantung Rafka berdegup tidak karuan. Ia lebih takut pada istri yang diam daripada istri yang berteriak.
“Mas,” suara Kirana terdengar tenang, terlalu terkontrol untuk disebut wajar. “Ini apa?”
Tangan Kirana terangkat. Struk itu terbuka di udara, kecil, tetapi terasa seperti palu godam.
Dunia Rafka runtuh dalam satu detik. Darahnya seolah mengalir turun ke telapak kaki. Kepalanya berdengung, dipenuhi suara-suara yang saling bertabrakan. Ia mencoba berpikir, tetapi pikirannya kosong. Tidak ada skenario yang aman. Tidak ada kebohongan yang terasa cukup rapi.
“Itu ....” Rafka berdeham, tenggorokannya kering. “Itu bukan punyaku.”
Kirana mengerjap sekali. “Lalu punya siapa?” tanyanya pelan.
Satu kalimat itu membuat Rafka panik. Ia tahu, jika ia berhenti terlalu lama, semuanya akan hancur.
“Punya bos,” jawab Rafka cepat, nyaris tanpa jeda. “Bos nitip. Dia beli tas buat istrinya. Mungkin, lupa dibuang.”
Kirana menatapnya. Lama. Terlalu lama. Tatapan itu bukan tatapan perempuan bodoh yang langsung menelan alasan. Itu tatapan seseorang yang sedang menimbang, antara percaya atau berpura-pura percaya.
“Bos yang mana?” tanya Kirana akhirnya.
Rafka menarik napas pendek. “Pemilik pabrik,” jawabnya. “Yang sering ke kantor.”
Kirana mengangguk pelan.
“Oh.”
Hanya satu suku kata itu yang keluar dari bibirnya.
Rafka menunggu. Menunggu ledakan. Menunggu tudingan. Menunggu Kirana menyebut nama perempuan lain, menanyakan tas apa, warna apa, merek apa.
Namun, tidak ada apa-apa. Keheningan justru semakin mencekik.
“Aku percaya sama kamh, Mas,” ucap Kirana lirih setelah beberapa detik yang terasa seperti hukuman. “Cuma, harganya besar sekali.”
Kalimat itu jatuh perlahan, lembut, tetapi menghantam lebih keras daripada teriakan.
Rafka mengangguk cepat. “Iya, nanya juga Bos, pastinya orang kaya.”
Kirana melipat struk itu kembali dengan rapi. Gerakannya pelan, terkendali. Ia meletakkannya di atas meja, seperti sedang menaruh sesuatu yang rapuh atau sesuatu yang tidak ingin ia lihat lagi.
“Baiklah,” katanya. “Aku mau gosok gigi dulu.”
Kirana berdiri. Langkahnya biasa saja. Tidak tergesa. Tidak limbung. Tidak menunjukkan apa pun. Seolah percakapan barusan hanyalah obrolan kecil yang tidak berarti.
Namun, saat Kirana berjalan melewati Rafka, pria itu bisa merasakan jarak yang tiba-tiba terbentuk di antara mereka. Tipis, tak terlihat, tetapi terasa.
Rafka berdiri terpaku di kamar. Ia tahu kebohongan itu tidak sepenuhnya berhasil.
Kirana mungkin tidak berteriak. Tidak menangis. Tidak memaksa pengakuan. Namun, diamnya adalah awal dari sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari keraguan.
Ketika seorang istri mulai meragukan suaminya, tidak ada kebohongan yang benar-benar aman lagi.
Sementara itu, di tempat lain Kinanti tersenyum di depan cermin. Dia tidak tahu bahwa satu struk kecil telah membuka pintu menuju kehancuran yang ia inginkan.
Tas mahal itu kini tergantung manis di lemari. Namun kepuasan itu cepat pudar. Yang ia inginkan bukan sekadar barang. Ia menginginkan kepastian. Pengakuan. Kepemilikan.
Rafka.
Pikiran Kinanti sibuk. “Kalau aku terus seperti ini,” gumamnya dalam hati, “aku akan selalu jadi pilihan kedua.”
Kinnati menatap Ara. Ide itu datang perlahan, licin, dan terasa masuk akal. Ara adalah kunci.
“Ara,” panggil Kinanti lembut.
“Iya, Ma?”
“Kamu kangen Om Rafka?”
Ara tersenyum. “Kangen. Om Rafka suka beliin aku es krim.”
Kinanti tersenyum juga. “Kalau gitu, besok ikut Mama ke rumah Tante Kirana, ya?”
“Asyik!” Ara mengangguk antusias.
Kinanti tahu, Rafka tidak akan menolak kehadiran Ara. Pria itu terlalu baik. Terlalu mudah tersentuh oleh kepolosan anak-anak. Lalu, Kinanti akan selalu ada di sana dekat dengan kekasih rahasianya.
“Pasti acara menginap kali ini akan berbeda,” batin Kinanti.
***
Pagi itu Kirana mencuci baju seperti biasa. Ia memisahkan pakaian putih dan berwarna. Tangannya bergerak otomatis, merendam, mengucek, dan membilas, tanpa pikiran melayang ke mana-mana. Hingga matanya menangkap sesuatu yang membuat jantungnya berhenti berdetak sesaat.
Kemeja kerja Rafka. Di bagian kerah, tepat di sisi dalam yang sering bersentuhan dengan leher, ada noda samar berwarna merah muda. Tidak besar. Tidak mencolok. Namun, cukup jelas untuk dikenali oleh perempuan mana pun.
Kirana mendekatkan kain itu ke wajahnya. Itu bukan noda saus atau bekas makanan, tetapi itu bekas lipstik.
Tangan Kirana bergetar. Ember di depannya hampir terguling.
“Ini ....” Suara Kirana tercekat. “Ini apa?”
Kirana menatap noda itu lama sekali. Seolah berharap warnanya pudar jika dipandangi cukup lama, tetapi noda itu masih tetap ada.
Dada Kirana terasa sesak. Udara seolah tertahan di tenggorokan. Namun anehnya, air matanya tidak jatuh. Ia hanya duduk diam di lantai kamar mandi, memeluk kemeja itu seperti memeluk sesuatu yang telah mati.
Sorenya, Rafka pulang lebih awal. Dia memasuki rumah dengan wajah ceria.
“Mas,” panggil Kirana dari kamar, suaranya datar. “Bisa ke sini sebentar?”
Rafka masuk dengan langkah santai. Hingga matanya menangkap kemeja di tangan Kirana.
“Ini apa?” tanya Kirana pelan, mengangkat bagian kerah yang ternodai.
Rafka menatap noda berwarna merah itu dalam diam. Namun, detak jantungnya cepat berkali-kali lipat.
“Itu ....” Rafka menelan ludah. “Apa?”
“Mas tidak tahu apa ini?” Kirana tetap bicara dengan tenang. “Ini lipstik.”
Rafka tertawa kecil, dipaksakan. “Kamu terlalu berlebihan.”
“Aku perempuan, Mas. Aku tahu itu apa.”
Rafka menghela napas kasar. “Aku tidak tahu-menahu soal itu. Mungkin nempel di tempat umum atau di kantor. Siapa tahu.”
Kirana menatapnya lama dengan tatapan tajam. Namun, tidak ada amarah di sana, hanya kekecewaan yang dalam.
“Jadi, Mas mau bilang,” kata Kirana pelan, “ada perempuan lain yang bibirnya sampai menyentuh leher dan Mas tidak sadar?”
Rafka terdiam.
“Selama ini aku selalu percaya sama kamu, Mas,” lanjut Kirana. “Aku menahan curiga. Aku menelan banyak hal. Tapi, jangan bodohi aku.”
“Aku tidak berselingkuh!” suara Rafka meninggi. “Demi apa pun!”
Kirana menunduk. Menggenggam kemeja itu erat-erat. “Baiklah,” katanya akhirnya. “Kalau kamu bilang begitu.”
Tidak ada teriakan. Tidak ada tangisan. Justru itu yang membuat Rafka semakin gelisah.
Malam itu, Rafka keluar rumah dengan wajah tegang. Ia menelepon Kinanti berulang kali hingga akhirnya tersambung.
“Kamu gila, ya?” bentak Rafka pelan saat bertemu di tempat sepi. “Kenapa kamu ninggalin jejak kayak gitu?”
Kinanti terdiam sejenak. Lalu tersenyum tipis.
“Aku tidak sengaja,” kata Kinanti ringan.
“Tidak ada yang tidak sengaja!” Rafka menekan suara. “Kirana hampir tahu segalanya!”
Kinanti menyilangkan tangan. “Atau mungkin kamu memang ingin dia tahu?”
“Kamu melakukan itu sengaja, kan?!” Rafka menatapnya tajam. “Sebaiknya kita jangan bertemu dulu.”
“Apa?” Kinanti terbelalak.
“Aku butuh nenangin keadaan,” lanjut Rafka. “Kalau Kirana makin curiga, semua bisa hancur.”
Kinanti tertawa kecil, pahit. “Kamu pikir aku boneka yang bisa kamu simpan kapan saja?”
“Kalau kamu sayang sama aku, kamu turuti,” Rafka menekan.
Kinanti terdiam. Matanya mengeras. “Baik,” katanya akhirnya. Namun, di dalam hatinya, sesuatu telah berubah.
semoga kirana mendapat kebahagian kembali dgn pasangan hidup yg baru 😍 🙏