SEQUEL ISTRI MANDUL JADI IBU ANAK CEO!
Theodore Morelli, pria cerdas dan berkharisma yang melanjutkan perusahaan teknologi keluarga, hidup dengan prinsip bersih dan profesional. Sosok yang dikenal orang sebagai pria tak kenal ampun dan ditakuti karena kesempurnaannya, harus jungkir balik ketika dia berurusan dengan seorang office girl baru di perusahaannya.
Celina Lorenzo, yang menyamar sebagai Celina Dawson, office girl sederhana, masuk ke perusahaan itu sebagai mata-mata mafia keluarganya untuk menyelidiki sesuatu di perusahaan Theo.
Awalnya mereka hanya dua orang dari dunia berbeda.
Tapi semakin dalam Celina menyelidiki Morelli Corporation, semakin ia sadar:
Theo bukan musuh yang ia cari. Dan Theo yang ditakuti justru memiliki sisi paling lembut untuk Celina.
Lalu bagaimana jadinya jika Theo yang lembut itu tahu identitas asli dari Celina yang sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9. PREDATOR
Ruang kerja Theodore Morelli berada di lantai tertinggi gedung, sebuah ruang luas dengan dinding kaca yang menghadap kota Los Angeles. Dari sana, lalu lintas tampak seperti garis-garis cahaya yang terus bergerak, seakan dunia di bawah tak pernah benar-benar berhenti. Di dalam ruangan itu, waktu terasa berbeda, lebih lambat, lebih berat, seolah setiap detik menimbang keputusan-keputusan besar yang lahir di sana.
Celina Dawson semakin sering berada di ruang itu.
Awalnya hanya sesekali, ketika Theo membutuhkan bantuan kecil. Menyortir berkas, mengarsipkan dokumen lama, menyusun ulang laporan yang tercampur. Pekerjaan yang seharusnya bisa dilakukan siapa saja, namun entah bagaimana selalu jatuh ke tangan Celina. Dan Celina selalu melakukannya tanpa banyak bicara, dengan ketepatan yang nyaris membuat Theo lupa bahwa ia sedang berurusan dengan seorang office girl.
Siang itu, Celina duduk di meja kecil di sudut ruangan Theo. Di hadapannya terbuka beberapa map tebal, berisi kontrak dan laporan keuangan yang perlu disusun ulang.
Di balik mejanya, Theo tidak sepenuhnya fokus pada layar komputer.
Tatapannya beberapa kali terangkat, berhenti pada sosok Celina. Pada cara gadis itu duduk, punggung lurus, bahu tegak. Pada caranya memegang berkas, tidak tergesa, tidak ceroboh. Bahkan saat menunduk, ada ketenangan aneh dalam geraknya, seolah dunia luar tak mampu mengganggu pusat dirinya.
Theo menyadari satu hal.
Celina tidak pernah tampak gugup di ruang ini.
Banyak karyawan yang datang ke ruang CEO dengan tangan berkeringat dan napas tertahan. Celina tidak. Ia bekerja seolah ruang ini hanyalah ruang kerja biasa, bukan wilayah kekuasaan seorang pria yang bisa memecat orang hanya dengan satu kalimat.
"Celina?" panggil Theo.
Gadis itu mengangkat kepala. "Ya, Mr. Morelli?"
Nada suara gadis itu datar, sopan, tanpa nada berlebih. Selalu seperti itu bagi Theo.
"Setelah itu, susun ulang berdasarkan prioritas. Aku ingin tahu mana yang bisa ditunda dan mana yang harus diselesaikan minggu ini," perintah Theo.
Celina mengangguk. "Baik."
Celina kembali bekerja. Dan lagi-lagi, Theo memerhatikannya.
Bukan hanya pekerjaannya. Setiap gerak kecil gadis itu Theo lihat.
Cara Celina menghela napas ketika berpindah map. Cara alisnya sedikit berkerut ketika menemukan ketidaksesuaian data. Cara ia menggeser kursi dengan suara hampir tak terdengar. Tidak ada gerakan sia-sia. Tidak ada kebiasaan canggung yang biasa dimiliki orang-orang yang berada di posisi rendah namun bekerja di hadapan kekuasaan.
Theo menyandarkan tubuhnya di kursi. Matanya menyempit.
"Celina?" panggil Theo lagi.
"Ya?"
"Kau tinggal di mana?" tanya Theo.
Pertanyaan itu meluncur begitu saja, seolah spontan. Namun Theo telah lama menunggu momen yang tepat untuk mengucapkannya.
Celina berhenti sejenak. Hanya sepersekian detik. Namun bagi Theo, jeda itu terasa jelas.
"Di apartemen kecil," jawab Celina. "Tidak jauh dari gedung ini."
Theo mengangguk pelan. "Sendirian?"
Celina kembali berhenti sejenak. "Iya. Orang tua saya tinggal jauh."
Jawaban yang sederhana. Terlalu sederhana.
Theo berdiri.
Gerakan kursi yang ditarik ke belakang memecah keheningan ruangan. Celina merasakannya bahkan sebelum ia berani menoleh. Ada perubahan di udara, sesuatu yang membuat kulitnya meremang tipis.
Langkah Theo terdengar pelan namun mantap, mendekat. Celina mengangkat pandangan, mendapati pria itu kini berdiri tak jauh darinya. Terlalu dekat untuk sekadar percakapan formal.
Tatapan Theo berubah.
Bukan tatapan seorang atasan.
Melainkan tatapan seorang predator yang baru saja menemukan celah.
Celina bangkit dari duduknya, refleks tubuh yang lahir dari insting lama. Ia berdiri, memasang jarak satu langkah tanpa sadar.
Theo tersenyum melihat respon Celina.
Senyum itu tidak hangat.
Tangan Theo terangkat.
Celina menegang ketika ibu jari Theo menyentuh pipinya.
Sentuhan itu ringan, nyaris lembut. Namun justru itulah yang membuat pria itu terasa berbahaya.
Theo mengelus pipi Celina perlahan. Matanya menyipit, fokus pada wajah di hadapannya. Senyum di bibirnya melebar ketika ibu jarinya berhenti di satu titik.
Freckles sang gadis.
Atau lebih tepatnya ... bekas freckles.
Di bawah usapan itu, noda-noda kecil yang selama ini menghiasi wajah Celina menghilang, tersapu bersama lapisan tipis riasan.
Mata Theo melebar sedikit. "Menarik," gumamnya.
Celina menahan napas. Seluruh tubuhnya berada dalam kondisi siaga, otot-ototnya tegang, pikirannya berlari cepat mencari kemungkinan.
Theo menatapnya lurus.
"Sekarang katakan," ucap Theo pelan, namun setiap kata seperti bilah pisau. "Siapa kau sebenarnya?"
Celina gelagapan sekarang, matanya nanar melihat ke arah pintu keluar. Mundur secara insting.
Theo mendekat satu langkah. "Dan apa tujuanmu masuk ke Morelli Corporation?" tanyanya.
Mata Celina melebar. Ia mundur satu langkah lagi.
"Mr. Morelli-"
Celina tidak sempat menyelesaikan kalimatnya. Theo meraih pergelangan tangan sang gadis.
Gerakannya cepat dan kuat. Celina terkejut, refleks menarik diri, namun Theo menariknya mendekat dan mendorong tubuh gadis itu ke dinding. Suara benturan terdengar tertahan, cukup keras untuk membuat Celina terengah.
Tubuh Theo mengurungnya.
Satu tangan bertumpu di dinding di sisi kepala Celina, satu lagi menahan pergelangan tangan sang gadis. Jarak di antara mereka lenyap.
"Kau pikir aku tidak sadar?" suara Theo rendah, nyaris berbisik. "Bahwa kau mencurigakan sejak pertama kali aku melihatmu?"
Napas Celina memburu.
"Kau bukan gadis sembarangan." Tatapan Theo menusuk."Tidak ada office girl biasa yang berdiri setegak ini."
Celina sedikit bingung.
Tangan Theo berpindah ke pundak Celina, menekannya ringan namun pasti. Postur tubuh Celina tetap sempurna, bahu lurus, dagu sejajar.
"Ini bukan kebiasaan yang bisa dipelajari dalam semalam," lanjut Theo. "Ini pendidikan sejak kecil hingga jadi kebiasaan."
Celina menelan ludah. Celina membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
"Anda terlalu teliti," ucap Celina akhirnya, suara sedikit goyah.
Theo tertawa kecil. "Teliti adalah caraku bertahan hidup."
Celina menatap wajah Theo dengan dingin dan sulit ditebak.
Senyum Theo lenyap seketika. "Sekarang jawab pertanyaanku."
Theo melepas kacamata hitam yang sejak tadi bertengger di hidung Celina. Dengan tangan yang sama, ia mengusap wajah Celina, lalu mengangkat jarinya di depan mata gadis itu.
Sisa riasan terlihat jelas di jari-jari Theo yang ditunjukkan ke Celina.
"Masih mau menyangkal?"
Celina terdiam. Lalu ia bertanya pelan, nyaris putus asa. "Sejak kapan Anda tahu?"
Theo mengangkat alis.
"Apa sejak aku menulis ulang rumus coding di papan tulis?" lanjut Celina, suaranya bergetar.
Theo tertawa kecil. "Tidak," jawabnya seraya mendekatkan wajah ke Celina. "Sejak kau menumpahkan kopi ke jas ini," sambungnya.
Celina terkejut. "Itu sungguh kecelakaan."
Theo menggeleng. "Bukan soal insidennya, tapi soal sikapmu setelahnya. Predator selalu mengenali predator lainnya, Sweetie."
Tangannya kembali mengelus pipi Celina. "Tatapanmu. Gesturmu. Cara bicaramu di ruang rapat itu."
Celina semakin waspada.
Theo mencondongkan tubuh, suaranya menjadi bisikan dingin. "Tidak ada orang biasa yang tetap setenang itu di tengah kekacauan."
Celina menahan napas. Melirik ke arah pintu dan menghitung waktu untuk lari dari kunjungan Theo.
Theo tiba-tiba menghantam dinding di sisi kepala Celina dengan tinjunya.
BRAK!
"Katakan! Apa kau suruhan Helix Dynamic?!" seru Theo.
Celina tersentak. Ia menggeleng cepat. Spontan.
"Bukan!" jawab Celina langsung.
Theo menatap Celina lama, menilai gadis itu. Lalu tangannya kembali memegang wajah Celina, memaksanya menatap lurus ke mata Theo.
"Kalau begitu," ucap Theo pelan, suaranya kembali tenang namun jauh lebih berbahaya. "Katakan siapa kau sebenarnya."
Ia mencondongkan wajahnya lebih dekat. "Dan apa tujuanmu datang ke sini," lanjutnya.
Celina terdiam.
Detik itu terasa memanjang, menggantung di antara napas yang tertahan dan rahasia yang siap meledak.
Celina tahu kalau dia tidak bisa lari dari seorang Theodore Morelli.
semoga gak terlambat menyelamatkan twins
lo jual gw beli
maaf ye,bukan kita yg mulai, ini namanya mekanisme perlindungan diri.
kan..bukan aku yg mulai🤣🤣
mulut mu
tapi bener lah
dibully malah menikmati sensasi nya🫣
bagus
bagus
bagus
bagus thooorr...
q suka...q suka❤️❤️❤️❤️❤️