Tak pernah mendapatkan cinta dari siapapun termasuk ibu kandungnya, Cinderella Anesya seorang gadis yang biasa di sapa Ella itu berharap ada setitik cinta dari tunangannya.
Sayangnya pria yang menjadi tunangannya itu tak pernah menganggapnya ada dan lebih cenderung pada adik tirinya yang selama ini selalu di sayang oleh keluarganya.
Merasa ketulusannya di khianati, Ella akhirnya menerima pinangan pria yang selama ini diam-diam mencintainya..
Akankah hidupnya berubah setelah bersama pria itu? Atau justru sebaliknya??
•••••
"Berjanjilah untuk selalu mencintaiku.." Cinderella Anesya
"Aku akan selalu mencintaimu, Baik sekarang, Nanti dan selamanya.." Davin Anggara Sanjaya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Viena2106, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Amran Sembuh
"Nak, Kamu mau pulang sepagi ini?" Tanya Nenek Cahya. Ella tersenyum.
"Iya Nek.. Nenek tahu sendiri kan kalau Tante Bina dan Araka gak suka lihat Ella ada disini." Nenek Cahya menghela nafas panjang, Ibu dan anak itu memang sangat keterlaluan.
"Ya udah, Kalau kamu memang ingin pulang, Pulanglah.. Nenek akan minta supir buat antar kamu.." Ella mengangguk, Nenek Cahya memang baik padanya. Tidak seperti yang lainnya yang hanya bisa memandang Ella sebelah mata saja.
"Kalau gitu Ella mau pamit sama Tante dan Om dulu Nek...
"Gak perlu.. Kamu bisa langsung pulang saja. Jam segini Bina pasti masih tidur, Yang ada kamu akan kena marah nanti.." Ucap Nenek Cahya melarang Ella untuk pamit pada Bina dan Riski putranya. Mungkin kalau Riski masih bisa bersikap dengan baik, Entah Bina. Wanita itu pasti akan marah-marah tidak jelas nantinya.
"Baiklah.. Ella pamit pulang dulu ya..
"Ayo Nenek antar ke depan.." Ella mengangguk, Wanita cantik itu keluar dari kamar Nenek Cahya di ikuti oleh Nenek Cahya dari belakang.
Sampai di ruang tamu, Ella berpapasan dengan Riski, Papa Araka. Sepertinya pria itu baru pulang dari masjid.
"Loh? Ella mau kemana? Ini masih pagi pagi buta loh?" Riski bertanya, Sebenarnya dia sudah tahu mau kemana calon istri putranya ini.
"Ella mau pulang dulu ya, Om..
"Tapi ini masih pagi Nak.. Kamu gak nunggu sarapan dulu.." Ella menggelengkan kepalanya seraya menampilkan senyum manis.
"Gapapa Om.. Ella pulang sekarang aja. Ella masih ada kesibukan soalnya.. " Kata Ella. Ini masih pagi memang, Justru karena masih pagi Ella lebih memilih untuk pulang. Dia seolah trauma dengan sikap Bina yang bermulut pedas itu. Memang ada yang membelanya, Tapi tetap saja Ella tidak ingin mendengar kata menyakitkan itu lagi.
"Ya sudah kalau kamu mau pulang.. Hati-hati ya..," Ella meraih tangan pria paruh baya itu lalu mencium punggung tangannya.
"Ella pulang dulu Om, Nek... Assalamualaikum...
"Waalaikum salam.." Ella pun melangkah keluar dari rumah besar itu. Seperti janji Nenek Cahya, Ella pulang dengan di antar supir.
Sayangnya Ella tidak pulang ke rumah melainkan ke apartemen Davin.
Sebenarnya Ella salah karena akhir-akhir ini jarang pulang ke rumah. Namun semua itu Ella lalukan demi Ella sendiri. Dia harus menjaga mentalnya agar lebih baik. Tahu sendiri kan di rumahnya Ella tidak ada benarnya sama sekali.
"Sudah sampai Nona..
"Terima kasih..
"Sama-sama Nona.." Ella segera turun dari kendaraan roda empat itu. Setelah ini dia harus siap-siap ke kantor. Tak peduli seperti apa reaksi Araka melihat dia yang pulang lebih awal.
...****************...
Di belahan bumi yang lain, Setelah beberapa kali di lalukan kontrol serta punya semangat yang membara. Akhirnya, Amran mulai bisa dikit sedikit berjalan.
Di halaman taman depan, Senyum Maureen mengembang. Akhirnya setelah bertahun-tahun dia kembali bisa melihat Amran berjalan lagi. Meski masih terbata-bata setidaknya ini adalah sebuah kemajuan.
Kedua tangan Maureen menggenggam erat tangan sang suami. Wanita itu mundur pelan-pelan seiring langkah Amran yang maju.
Keringat pria itu mulai menetes dari pelipisnya. Setiap langkah begitu berat Amran rasakan. Namun semangatnya itu tak membuatnya tumbang. Amran tak ingin menyerah begitu saja, Dia harus bisa berhasil dan berjalan kembali seperti semula.
"Ayo Mas..
"Huuuffft!!" Amran menghela nafas kasar. Matanya terpejam, Ingin rasanya ia berhenti melangkah namun tetap ia lakukan.
"Mas kalau capek, Istirahat aja dulu Mas.." Pria itu menggelengkan kepalanya.
"Enggak Maa, Aku harus bisa jalan Ma.. Mas capek terapi terus.. Kalau tidak belajar sendiri kapan Mas bisa jalannya.." Maureen menatap Iba sang suami. Andai kecelakaan itu tak terjadi, Mungkin saat ini Amran akan hidup bahagia bersama keluarga barunya serta bersama putrinya yang selama ini Amran rindukan yaitu Cinderella.
"Tolong lepaskan tangannya Ma..
"Mas..
"Ma... Aku juga ingin cepet bisa jalan Ma.. Lepas dulu tangan Papa.. Biar Papa belajar mandiri.." Dengan terpaksa Maureen melepas tangan Amran membiarkan Suaminya belajar berjalan meski sebenarnya Maureen ketar ketir takut saja Amran tiba-tiba terjatuh.
Amran menarik nafas sebelum ia mulai melangkahkan kakinya. Satu langkah saja rasa berat hingga mata Ayah kandung Ella itu melihat seseorang misterius di balik pagar membuatnya tak mampu menyeimbangkan tubuhnya dan..
Bruk!
"Mas!!!
Maureen segera mendekat dan membantu suaminya.
"Mas gapapa?
Tatapan mata Amran masih tertuju pada orang yang berpakaian serba hitam di balik pagar gerbang rumahnya.
"Hey! Kau siapa?" Pria misterius tersebut mulai menyadari kalau Amran melihatnya pun saat ini segera pergi.
"Hey! Jangan lari!" Maureen menoleh ke arah dimana sang suami melihat seseorang.
"Siapa kau!!" Dengan sisa tenaganya Amran bangkit dan tanpa pria itu sadari Amran berlari mengejar pria tadi.
"Maaaas!!! Mas... " Maureen menutup mulutnya, Telapak tangannya memegang dadanya yang berdegup kencang. Suaminya, Yang tadi jatuh ke tak mampu menyeimbangkan tubuhnya itu berdiri dan berlari.
"Kalian jangan diam aja, Kejar suami saya..." Pekik Maureen men titah penjaga di rumahnya. Sepertinya mereka juga terkejut dengan Tuannya yang tiba-tiba saja berlari begitu. Lagi pula siapa yang tidak kaget, Bertahun-tahun duduk tak berdaya di atas kursi roda tiba-tiba saja berlari.
Para penjaga tersebut mulai mengajar Amran dan disusul oleh Maureen juga.
Dengan sisa tenaga yang ada, Amran akhirnya bisa menangkap pria tadi.
"Siapa kamu! Saya lihat kamu terus saja memperhatikan saya dan istri saya.." Tanya Amran pada pria itu dengan tatapan tajam. Pria paruh baya itu ternyata belum sadar kalau sekarang dia mampu berdiri.
"Mas.. Mas.." Maureen berhasil menyusul Amran. Pria itu menoleh, Sang istri dan beberapa penjaga datang menyusul. Dan sejak saat itulah, Amran merasa ada yang aneh.
"Mas...
"Ma... Aku.. "
"Mas... " Maureen menangis memeluk suaminya. Siapa yang akan menyangka Amran yang lumpuh selama bertahun-tahun dan seakan tak punya semangat hidup itu kini telah bisa berdiri bahkan berlari.
Amran menunduk, Matanya juga ikut mengembun melihat kedua kakinya yang berdiri dengan tegak.
"Ma.. Papa bisa jalan..
" Iya Mas.. Mas bisa jalan. Mas bisa jalan.." Maureen mengangguk anggukan kepalanya.
"Iya, Mas udah bisa jalan.. Alhamdulillah Ya Allah..
Siapa yang menyangka kalau Amran akan bisa berjalan secepat itu. Pria yang katanya misterius tadi juga ikut senang. Tak sia-sia dia berusaha kabur, Dan benar firasatnya pria ini akan bisa berjalan.
Setelah menangis karena rasa bahagia. Amran kembali menatap pria misterius itu.
"Kamu! Siapa kamu..?" Pria itu langsung membuka topi, Kacamata hitam dan maskernya.
"Perkenalkan Tuan dan Nyonya, Nama saya Kaivan. Bisa kita bicara Tuan.. Ini mengenai putri Anda Cinderella Anesya.." Mendengar nama lengkap sang putri di sebut. Tentu saja Amran langsung bereaksi.
"Kamu? Kamu kenal putri saya?
" Saya ada disini atas perintah Bos saya Tuan.. Dan semua demi Nona Ella..."
"Ka.. Kamu tidak bohong kan?
"Saya jujur Tuan.. " Amran mengangguk cepat.
"Ayo.. Ayo masuk.. Kita harus bicara..
"Baik ...
•
•
•
TBC