Bagi Brixton, pernikahan ini bukanlah awal dari sebuah kebahagiaan, melainkan lonceng kematian bagi kebebasannya. Di bawah sumpah yang dipaksakan oleh ambisi keluarga, ia harus merelakan wanita yang ia cintai menjadi kenangan pahit, demi bersanding dengan seseorang yang dianggapnya sebagai kutukan hidup: dirimu. Brixton tidak pernah mencoba menyembunyikan kebenciannya. Baginya, setiap inci wajahmu adalah pengingat akan masa depan yang dirampas darinya. Di dalam rumah yang seharusnya menjadi surga, ia membangun tembok tinggi yang terbuat dari hinaan, penolakan, dan tatapan tajam yang menusuk. Puncaknya terjadi saat Brixton jatuh sakit dalam kesendiriannya. Di tengah demam yang membakar tubuh dan harga dirinya, ia tetap memilih untuk menderita daripada menerima uluran tanganmu. Baginya, sentuhanmu lebih panas dari demamnya, dan perhatianmu lebih menjijikkan daripada kematian itu sendiri. "Aku lebih baik merangkak menuju kematian daripada disentuh olehmu." Di antara benci yang mendarah daging dan luka yang tak kunjung kering, akankah sumpah di atas altar itu tetap menjadi penjara? Ataukah di balik rintihan sakitnya, tersimpan sebuah rahasia yang bahkan Brixton sendiri takut untuk mengakuinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peachy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sayang
Langit sore yang semburat jingga mengiringi perjalanan pulang Brixton dan Alana dari kediaman keluarga Hendrawan. Di dalam mobil, suasana terasa begitu damai. Alana yang sebelumnya sempat merasa pusing di acara syukuran, kini tampak jauh lebih baik meskipun wajahnya masih menyiratkan kelelahan yang manis. Brixton tak sedetik pun melepaskan jemari Alana dari genggamannya; seolah-olah jika ia melepaskannya barang sejengkal, wanita itu akan menguap seperti kabut.
Sesampainya mereka di pelataran mansion Vance yang megah, Brixton segera turun dan memutari mobil untuk membukakan pintu bagi Alana. Ia mengulurkan tangan dengan penuh wibawa namun lembut.
"Terima kasih, Brixton. Aku rasa aku bisa berjalan sendiri, pusingku sudah hilang," ucap Alana sambil mencoba turun perlahan, menyeimbangkan tubuhnya yang berat karena kandungan bulan kesembilan.
Brixton hanya tersenyum tipis—sebuah senyum yang mengandung rencana rahasia. Begitu Alana berdiri tegak di samping mobil, tanpa aba-aba, Brixton menyelipkan satu lengannya di bawah lutut Alana dan lengan lainnya di punggung istrinya. Dengan gerakan yang sangat tangkas dan penuh tenaga, ia mengangkat Alana dalam gendongan bridal style.
"Brixton! Apa yang kau lakukan? Aku berat!" Alana memekik kecil karena terkejut, secara otomatis melingkarkan lengannya di leher kokoh suaminya untuk mencari keseimbangan.
"Kau sama sekali tidak berat. Kau dan anak kita adalah beban paling indah yang pernah kupanggul," jawab Brixton dengan nada suara rendah yang menggetarkan dada.
Ia melangkah masuk ke dalam rumah dengan langkah tegap. Para pelayan yang melihat mereka hanya bisa menunduk sambil menyembunyikan senyum bahagia; mereka belum pernah melihat Tuan mereka selembut dan sebahagia ini. Alana mengira Brixton akan membawanya ke kamarnya sendiri untuk beristirahat, namun ketika Brixton melewati pintu kamarnya dan justru berbelok menuju sayap kanan—menuju kamar utama milik Brixton—Alana mulai bertanya-tanya.
"Brixton, kamarku lewat sana," tunjuk Alana pada koridor yang baru saja mereka lewati.
Brixton tidak menjawab. Ia terus berjalan hingga sampai di depan pintu kayu jati besar berukir. Dengan satu tendangan pelan pada daun pintu yang memang tidak terkunci, ia membawa Alana masuk ke dalam singgasana pribadinya. Kamar itu luas, maskulin, namun kini terasa lebih hangat karena aroma lilin terapi yang sengaja disiapkan.
Brixton merebahkan Alana dengan sangat hati-hati di tengah ranjang king size yang empuk. Ia tidak langsung menjauh, melainkan tetap bertumpu pada kedua tangannya, mengurung tubuh Alana di bawahnya dalam jarak yang sangat dekat.
"Dengarkan aku baik-baik, Alana Clarissa," ucap Brixton, matanya menatap dalam ke netra hijau istrinya. "Mulai detik ini, tidak akan ada lagi kamar terpisah. Tidak akan ada lagi sekat di antara kita. Tempatmu adalah di sini, di sisiku, di bawah selimut yang sama denganku. Aku ingin setiap malam aku tertidur dengan mencium aromamu, dan setiap pagi aku terbangun dengan melihat wajahmu. Kau keberatan?"
Alana tertegun. Jantungnya berdebar sangat kencang. Ia melihat keseriusan dan kerinduan yang mendalam di mata Brixton. Hilang sudah sosok pria dingin yang dulu membuangnya ke kamar tamu.
"Tapi... perlengkapanku semua ada di sana," gumam Alana, mencoba menggoda suaminya.
"Besok semua barangmu akan dipindahkan oleh pelayan. Tapi malam ini, kau hanya butuh aku," sahut Brixton sebelum mendaratkan ciuman singkat namun penuh penekanan di bibir Alana.
Sore itu menjadi awal dari babak baru yang sangat berwarna. Alih-alih langsung beristirahat, suasana hati mereka mendadak menjadi sangat ceria. Brixton yang biasanya kaku, seolah berubah menjadi remaja yang baru jatuh cinta.
Mereka mulai bercanda di atas ranjang. Brixton mengeluarkan kotak berisi koleksi foto masa kecilnya yang memalukan untuk membuat Alana tertawa. Alana pun tidak mau kalah; ia mulai menjahili Brixton dengan menggelitik pinggang suaminya, sesuatu yang dulunya tidak akan pernah berani ia lakukan.
"Oh, jadi kau mau bermain perang, ya?" tantang Brixton saat Alana melemparkan bantal kecil tepat ke wajahnya.
"Siapa takut! Kau terlalu serius, Tuan Vance. Kau butuh sedikit 'latihan' sebelum bayinya lahir!" tawa Alana pecah, sebuah tawa yang sangat jernih dan lepas.
Terjadilah perang bantal ringan di atas tempat tidur mewah itu. Brixton sengaja mengalah, membiarkan dirinya "terpukul" oleh bantal-bantal empuk Alana, hanya agar ia bisa mendengar tawa istrinya. Sesekali ia menangkap tangan Alana, menariknya ke dalam pelukan, lalu menghujani wajahnya dengan ciuman hingga Alana memekik kegelian.
"Henti... hentikan, Brixton! Perutku... bayi ini ikut tertawa di dalam!" Alana terengah-engah di antara tawanya.
Brixton pun berhenti, ia merebahkan kepalanya di perut buncit Alana, mendengarkan pergerakan di sana. "Dia sangat kuat. Sepertinya dia tahu Ayahnya sedang memenangkan hati Ibunya."
Waktu seolah berhenti berputar di dalam kamar itu. Mereka mulai melakukan hal-hal sederhana namun bermakna. Brixton membantu Alana mengoleskan minyak anti-selulit di perutnya dengan gerakan yang sangat lembut, memijat kaki Alana yang bengkak sambil menceritakan rencana konyol tentang bagaimana ia akan membelikan bayi mereka sebuah tim sepak bola jika laki-laki.
Mereka bermain truth or dare versi mereka sendiri, berbagi rahasia kecil yang konyol, hingga bermain permainan papan yang dibawa Brixton dari ruang keluarga. Mereka benar-benar tenggelam dalam dunia mereka sendiri, melupakan status, melupakan masa lalu, dan melupakan dunia di luar pintu kamar mereka.
Sementara itu, di lantai bawah, suasana sedikit berbeda. Bibi Martha telah menyiapkan hidangan makan siang yang mewah sebagai kelanjutan dari syukuran tadi. Aroma ayam panggang bumbu rosemary dan sup krim jamur memenuhi udara.
Pukul satu siang, Bibi Martha naik ke lantai atas dan mengetuk pintu kamar Alana. Kosong. Ia mengerutkan dahi, lalu mencoba menuju kamar utama Tuan Brixton. Ia mendengar suara tawa riuh dari dalam.
Tok tok tok!
"Tuan, Nyonya, makan siang sudah siap," panggil Bibi Martha dengan suara cukup keras.
Di dalam kamar, Brixton dan Alana sedang asyik berebut remote televisi untuk memilih film yang akan ditonton. Suara tawa mereka menenggelamkan panggilan Bibi Martha.
"Tuan? Nyonya?" panggil Bibi Martha sekali lagi. Karena tidak ada sahutan, ia berasumsi mereka mungkin sedang sangat lelah dan tertidur. Ia pun turun kembali.
Dua jam berlalu. Jam menunjukkan pukul tiga sore. Bibi Martha kembali naik. "Tuan Brixton, makanan akan dingin jika tidak segera disantap."
Nol. Tidak ada jawaban. Di dalam sana, Brixton sedang membacakan sebuah cerita dongeng untuk perut Alana dengan suara yang dibuat-buat menjadi lucu, membuat Alana tertawa sampai mengeluarkan air mata. Mereka benar-benar tidak mendengar dunia luar.
Sore berganti malam. Pukul tujuh malam, Bibi Martha mulai khawatir. Ia sudah memanaskan makanan itu dua kali. Ia kembali naik, kali ini ia mengetuk lebih keras.
"Tuan! Nyonya Alana harus makan untuk nutrisi bayinya! Mohon turunlah sebentar untuk makan malam!"
Suara ketukan itu lagi-lagi terlupakan. Brixton dan Alana kini sedang duduk di balkon kamar yang tertutup kaca, menatap bintang sambil makan cokelat yang dibeli Brixton tempo hari. Mereka sedang mendiskusikan nama-nama bayi, saling berdebat dengan cara yang manis tentang arti dari setiap nama.
"Aku ingin namanya mengandung unsur 'cahaya', karena dia yang membawa cahaya kembali ke hidupku," ucap Brixton sambil membelai rambut merah jambu Alana.
"Dan aku ingin ada unsur 'kekuatan', seperti Ayahnya yang akhirnya berani menghadapi hatinya sendiri," balas Alana lembut.
Mereka begitu larut dalam kedekatan emosional itu. Bagi Brixton, setiap menit bersama Alana adalah penebusan. Dan bagi Alana, setiap detik perhatian Brixton adalah penyembuhan. Mereka benar-benar "lupa" bahwa mereka belum menyentuh nasi atau lauk sejak pagi. Perasaan cinta dan bahagia rupanya jauh lebih mengenyangkan daripada hidangan paling mewah sekalipun.
Bibi Martha akhirnya menyerah di pukul sembilan malam. Ia meninggalkan sepiring roti lapis dan susu di depan pintu kamar, berjaga-jaga jika mereka lapar di tengah malam. Ia turun dengan senyum lebar di wajahnya yang keriput. Biarlah, pikirnya, biarkan mereka saling memiliki malam ini tanpa gangguan siapa pun.
Di dalam kamar, lampu mulai diredupkan. Brixton membantu Alana mengganti pakaiannya dengan gaun tidur yang nyaman, lalu ia sendiri mengganti kemejanya. Mereka berbaring berdampingan di bawah selimut sutra yang dingin.
"Brixton?" panggil Alana pelan dalam kegelapan.
"Ya, Sayang?"
"Terima kasih sudah membawaku ke sini. Aku tidak pernah membayangkan kamar ini akan terasa sehangat ini."
Brixton menarik tubuh Alana mendekat, memeluknya dari belakang, menyatukan tubuh mereka dengan penuh proteksi. "Ini baru permulaan, Alana. Masih ada ribuan malam lagi yang akan kita habiskan bersama. Aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi."
Alana memejamkan matanya, merasakan detak jantung Brixton yang beradu dengan punggungnya. Rasa aman yang murni menyelimuti jiwanya. Perdebatan tentang makanan, panggilan Bibi Martha yang terabaikan, dan hiruk pikuk dunia luar tidak lagi penting. Di dalam kamar utama Vance ini, di atas ranjang yang dulunya dingin, sebuah sumpah baru telah terukir tanpa kata-kata—sumpah bahwa mereka akan selalu menjadi pelabuhan terakhir bagi satu sama lain.
Malam itu, mereka tertidur dengan senyuman. Bayi di dalam kandungan Alana pun tampaknya ikut tenang, seolah tahu bahwa kini Ayah dan Ibunya telah benar-benar bersatu dalam cinta yang tulus. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi kebencian, hanya ada dua jiwa yang akhirnya berlabuh di dermaga yang benar setelah badai yang begitu panjang.