siapa sangka tiga janda dari latar belakang berbeda seorang Bella damayanti 28(mantan polwan) ,Siska Paramita 30(mantan koki) , dan Maya Adinda 29(mantan guru TK) tanpa sengaja membentuk tim detektif amatir. Mereka awalnya hanya ingin menyelidiki siapa yang sering mencuri jemuran di lingkungan apartemen mereka.
Namun, penyelidikan itu malah membawa mereka ke jaringan mafia kelas teri yang dipimpin oleh seorang bos yang takut dengan istrinya. Dengan senjata sutil, semprotan merica, dan omelan maut, ketiga wanita ini membuktikan bahwa status janda bukanlah halangan untuk menjadi pahlawan (yang sangat berisik).
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Arsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Relaksasi di Rio dan Tragedi Masker Kunyit
Setelah hampir sebulan bertahan hidup di antara lumpur Amazon dan kejaran tentara bayaran bertopeng jaguar, The Justice Widows akhirnya mendarat di sebuah penthouse mewah di kawasan Pantai Copacabana, Rio de Janeiro. Ini bukan sekadar tempat persembunyian ini adalah "hadiah" dari agensi atas hancurnya fasilitas The Loom.
"Satu minggu. Tanpa misi. Tanpa radar. Tanpa daster antipeluru," ujar Bella Damayanti sambil melemparkan tas taktisnya ke sudut ruangan. Ia melepas sepatu bot beratnya dan menginjakkan kaki telanjang di atas lantai marmer yang dingin. "Gue cuma mau tidur sampai lupa nama sendiri."
Siska Paramita tidak membuang waktu. Ia langsung menuju dapur penthouse yang dilengkapi kompor induksi tercanggih dan oven profesional. Namun, alih-alih memasak bumbu ledak, ia mengeluarkan sekeranjang buah-buahan tropis segar. "Gue butuh asupan vitamin yang nggak ada rasa mesiu. Aku mau bikin Acai Bowl dengan taburan kacang Brazil yang aku sangrai pakai teknik slow-roasting."
Sementara itu, Maya Adinda adalah orang yang paling bahagia. Ia sudah memakai daster sutra tipis motif bunga kembang sepatu, memasang handuk di kepala, dan menyiapkan berbagai botol skincare di atas meja rias. "Akhirnya! Kulitku butuh hidrasi, hidrasi, dan hidrasi! Amazon bikin pori-poriku trauma, Bel!"
Pukul dua siang, matahari Rio bersinar terik di luar jendela besar yang menghadap langsung ke laut biru. Di dalam ruangan, suasana sangat tenang. Bella akhirnya menyerah pada rasa kantuknya dan tertidur di sofa panjang dengan masker mata bergambar panda.
Maya, yang sedang dalam misi pribadi "Pemulihan Wajah Janda", memutuskan untuk membuat masker alami menggunakan bahan-bahan di dapur Siska. "Sis, aku pinjam kunyit bubuk sama madu kamu ya? Katanya bagus buat brightening!"
"Ambil aja, May. Ada di rak bumbu nomor tiga, sebelah bubuk cabai," sahut Siska yang sedang asyik memijat adonan roti di dapur.
Maya mencampur bahan-bahan tersebut dengan semangat. Ia mengoleskan cairan kental berwarna kuning pekat itu ke seluruh wajahnya, lalu berbaring di kursi santai di balkon sambil mendengarkan musik Bossa Nova. "Ah... ini baru hidup. Keadilan bisa menunggu, tapi glowing harus sekarang."
Lima belas menit berlalu. Siska berjalan ke balkon untuk memetik daun mint di pot. Begitu melihat Maya, Siska menjerit kecil. "Maya! Kamu pakai kunyitnya berapa banyak?!"
Maya membuka mata sebelah. "Cuma dua sendok makan. Kenapa? Biar mantap!"
"May... kunyit itu kalau kebanyakan nggak cuma mencerahkan, tapi mewarnai! Kamu bakal jadi kayak karakter Minion seumur hidup!"
Maya panik. Ia segera lari ke kamar mandi dan membasuh wajahnya. Benar saja, saat handuk dibuka, wajah Maya tidak menjadi putih bersinar, melainkan kuning neon yang begitu mencolok sampai-sampai ia bisa menyala di kegelapan.
"BELLA! SISKA! TOLONG! MUKAKU JADI KUNYIT!" Maya histeris, suaranya membangunkan Bella yang langsung melompat dari sofa dengan posisi siap tempur, mengira ada serangan musuh.
"Mana musuhnya?! Mana?!" Bella celingukan sambil memegang guling seperti senjata. Begitu melihat wajah Maya, Bella terdiam. "May... lo... lo habis ikut audisi jadi bumbu dapur?"
"Ini nggak lucu, Bel! Gimana kalau ada agen ganteng lewat?!" rintih Maya sambil terus menggosok wajahnya dengan sabun cuci muka, tapi warna kuning itu tetap setia menempel.
Sore harinya, mereka bertiga duduk di pinggir kolam renang pribadi di atap penthouse. Maya terpaksa memakai kacamata hitam besar dan masker kain untuk menutupi wajah kuningnya.
Siska membawakan tiga gelas jus jeruk nipis dingin. "Minum ini. Jeruk nipis bagus buat netralisir racun... dan mungkin bisa netralisir stres kamu, May."
"Makasih, Sis," gumam Maya dari balik maskernya. "Cuma kalian yang ngerti kalau jadi pahlawan itu berat. Orang pikir kita cuma seru-seruan pakai daster canggih, padahal taruhannya kulit dan nyawa."
Bella menyesap jusnya, menatap garis cakrawala Rio. "Gue kepikiran soal Silvia. Dia nggak mungkin mati semudah itu di Amazon. Orang kayak dia punya rencana cadangan buat rencana cadangannya."
"Bel, please," sela Siska. "Satu hari aja jangan bahas Benang Hitam. Gue mau bahas soal... gimana kalau kita pensiun nanti? Buka restoran daster di Bali? Lo yang jaga pintu, Maya yang jadi model, gue yang masak."
Bella tersenyum tipis. "Pensiun? Janda kayak kita nggak bakal bisa duduk diam, Sis. Lagian, siapa yang bakal jaga dunia dari daster-daster aneh kalau bukan kita? Agensi aja isinya pengkhianat semua."
Tiba-tiba, suara dentuman musik Samba terdengar dari jalanan di bawah. Latihan karnaval sudah dimulai. Orang-orang menari dengan kostum warna-warni, merayakan hidup di bawah sinar matahari.
"Lihat mereka," Maya menunjuk ke bawah. "Mereka nggak tahu kalau dunia hampir kiamat gara-gara daster keabadian minggu lalu. Mereka cuma tahu hari ini mereka harus menari."
"Dan itulah kenapa kita melakukan apa yang kita lakukan," kata Bella serius. "Biar mereka tetep bisa menari tanpa harus takut diledakkan satelit."
Malam harinya, saat mereka sedang bersiap untuk makan malam tenang, bel pintu berbunyi.
"Pesan antar makanan!" suara seorang pria dari balik pintu.
Siska mengerutkan kening. "Perasaan gue nggak pesen apa-apa. Gue kan masak sendiri tadi."
Bella langsung waspada. Ia memberi kode agar Maya bersembunyi di balik sofa, sementara Siska mengambil sutil titaniumnya yang ia sembunyikan di bawah bantal kursi. Bella mendekati pintu, tangannya menyentuh gagang payung titanium di balik jubah mandinya.
Cklek.
Seorang pria dengan seragam hotel berdiri di sana, membawa nampan perak tertutup. Ia memiliki tato kecil berbentuk jarum jahit di lehernya tato yang sangat mereka kenal.
"Dari seseorang yang mengagumi 'jahitan' kalian di Amazon," ujar pria itu sambil meletakkan nampan di meja kecil koridor, lalu pergi dengan cepat sebelum Bella sempat menginterogasinya.
Bella membawa nampan itu masuk dengan hati-hati. Siska dan Maya mendekat dengan waspada. Bella membuka tutup perak tersebut.
Bukan bom. Di dalam nampan itu terdapat sebuah kue cokelat mewah berbentuk... daster macan. Dan di sampingnya, ada sebuah kartu kecil dengan tulisan tangan yang indah
"Kuning adalah warna yang bagus untukmu, Maya. Tapi merah akan lebih cocok untuk karnaval besok malam. Sampai jumpa di parade. – S"
Maya langsung meraba wajahnya yang masih kuning. "Dia tahu?! Silvia tahu aku jadi Minion?!"
Bella menatap kue itu dengan tatapan tajam. "Dia di sini. Di Rio. Dan dia baru saja menantang kita di tengah waktu istirahat kita."
Siska mengambil sepotong kecil kue cokelat itu menggunakan sutilnya, memeriksanya sebentar, lalu memakannya. "Cokelatnya kualitas tinggi. Tapi pesanannya jelas. Istirahat selesai, Janda-janda."
Maya mendesah berat, melepas masker kainnya yang kini sudah ikut menguning. "Oke. Kalau dia mau main-main di karnaval, dia bakal tahu kalau janda yang lagi bad mood gara-gara gagal skincare itu jauh lebih berbahaya daripada tentara bayaran mana pun!"
Bella mengangguk, mengeluarkan tabletnya yang tadi ia simpan. "Persiapkan kostum kalian. Kita nggak akan cuma menari di karnaval besok. Kita akan melakukan penangkapan terbesar dalam sejarah Rio."
Siska mematikan lampu dapur, menyisakan cahaya remang dari lampu kota. "Maya, besok pagi kita luluran pakai bubuk kopi dan lemon buat ilangin kuningnya. Kita harus tampil sempurna buat menghajar Silvia."
"Siap, Sis! Aku bakal dandan sampai Silvia minder!" seru Maya dengan semangat baru.
Istirahat singkat itu berakhir dengan sebuah janji pertempuran. Di bawah langit Rio de Janeiro, The Justice Widows kembali bersiap. Dan kali ini, mereka tidak akan membiarkan ada satu pun benang jahat yang lolos dari tangan mereka.
seru kocak... walau ga masuk akal 🤣🤣🤣