NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali, Aku Tidak Akan Bodoh Lagi

Terlahir Kembali, Aku Tidak Akan Bodoh Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Kebangkitan pecundang / Kelahiran kembali menjadi kuat / Putri asli/palsu / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:15.9k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Dulu Salma Tanudjaja hidup dalam kebodohan bernama kepercayaan. Kini, ia kembali dengan ingatan utuh dan tekad mutlak. Terlahir Kembali, Aku Tidak Akan Bodoh Lagi adalah kisah kesempatan kedua, kecerdasan yang bangkit, dan balas dendam tanpa cela. Kali ini, Salma tak akan jatuh di lubang yang sama, ia yang akan menggali lubang itu untuk orang lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Ini Panggungnya Milikmu

Pak Rahmat mengangguk samar melihat keteguhan di mata Salma.

Keputusannya menerima murid-murid ini memang tidak salah.

Di sebelahnya, Naya mengerucutkan bibir, berhenti mengeluh, dan kembali memasang kuda-kuda dengan serius.

Salma tentu saja lelah.

Seluruh ototnya menjerit minta istirahat.

Tapi jika dibandingkan dengan rahasia kelam masa depan dan bahaya yang mengintai nyawa keluarganya, rasa pegal ini hanya remah-remah tak berarti.

Hanya mereka yang hidup yang bisa memikul beban.

Jika dia tidak kuat, dia hancur.

Demi melindungi orang-orang yang dicintainya agar tidak berakhir tragis seperti kehidupan sebelumnya, Salma rela membayar harga berapa pun.

Tidak ada yang boleh menghalanginya.

Tidak ada yang boleh menyakiti keluarganya lagi!

Naya yang berdiri di samping Salma tiba-tiba merinding.

Ia merasakan hawa dingin yang menusuk, seolah ada aura membunuh yang pekat.

Naya refleks menoleh kaget, tapi yang ia lihat hanyalah wajah Salma yang tenang dengan sorot mata setajam pedang.

Perasaanku saja kali ya? batin Naya heran.

Hari ulang tahun Farel Barata tiba.

Pagi-pagi buta, Manda sudah mengetuk pintu kamar Salma, memintanya membantu memilih gaun untuk pesta nanti malam.

Salma menatap isi walk-in closet Manda dengan tatapan datar.

Lemari itu penuh sesak dengan pakaian branded.

Koleksi terbaru musim ini tergantung rapi, label harganya pun masih menempel.

Perlakuan istimewa Keluarga Tanudjaja pada anak angkat mereka benar-benar luar biasa.

"Menurutmu yang ini gimana?" Manda menempelkan sebuah mini dress merah muda ke tubuhnya.

Potongannya klasik dan elegan, sangat pas dengan citra Manda yang lembut bak putri dongeng.

"Bagus. Cocok banget sama Kak Manda," jawab Salma jujur.

"Benarkah? Aku juga naksir yang ini," Manda tersenyum manis, lalu menatap Salma dengan mata berbinar penuh harap.

"Salma, mumpung kamu sudah bangun, bisa tolong dandanin aku nggak?"

Salma meliriknya malas.

"Kakak kan jago dandan? Kenapa minta tolong aku? Panggil Kak Andy saja, dia kan profesional."

Andy adalah stylist dan konsultan citra langganan keluarga mereka.

Biasanya Andy yang mengurus segala penampilan untuk acara penting.

"Aku kalau gugup suka gemetaran tangannya. Jadi... Salma, tolongin aku sekali ini ya?"

Hari ini hari spesial banget buatku, aku mau tampil beda, nggak mau sentuhan Kak Andy.

Manda menggenggam tangan Salma, memohon dengan wajah memelas.

Salma menahan hasrat untuk menepis tangan itu.

Rasa jijik merambat di kulitnya.

Tapi, sandiwara harus tetap jalan.

"Ya ampun, iya deh. Tapi asal tahu aja ya, skill makeup-ku pas-pasan banget.

Jangan ngarep ketinggian."

Wajah Manda langsung cerah.

"Nggak apa-apa, aku percaya kamu."

Salma melirik deretan kosmetik di meja rias Manda.

Dalam hati ia tersenyum sinis.

Kosmetik ini pasti sudah diutak-atik.

Kalau nanti wajahnya kenapa-napa, pasti aku yang disalahkan.

Dia mau cari simpati Ayah dan Ibu lagi? Basi.

"Duh, Kak, aku jadi insecure nih. Kalau nanti muka Kakak berantakan gara-gara tanganku gimana?"

Salma menggosok tangannya, pura-pura ragu.

"Bentar, biar aman kita panggil bala bantuan."

Salma bergegas ke pintu dan berteriak ke lantai bawah, "Bi Surti! Tolong telpon Kak Andy suruh ke sini sekarang ya! Urgent!"

Senyum Manda membeku.

Dia terlambat mencegah.

"Kak Manda tunggu bentar ya. Biar Kak Andy yang mengawasi di sampingku, jadi aku lebih pede,"

Salma tersenyum polos tanpa dosa.

"Aku pasti bikin Kakak jadi cewek paling bersinar, biar Kak Farel langsung klepek-klepek!"

Manda menunduk, menyembunyikan kepalan tangannya di balik gaun.

Sialan, kenapa Salma nggak masuk perangkap sih?

Tak lama kemudian, Andy muncul dengan wajah bantal namun tetap stylish.

"Angin apa sih nyuruh Bi Surti gedor pintu saya pagi-pagi?

Awas ya kalau nggak penting!" omel Andy.

"Kak Andy, maaf yaaa," Salma langsung menggelayut manja.

"Ini gawat darurat. Kak Manda mau ke pesta ultah Kak Farel, tapi dia request aku yang dandanin.

Skill-ku kan ampas, jadi Kak Andy harus mengawasi. Takutnya nanti malah jadi badut kan nggak lucu."

Andy melirik Manda yang tersenyum canggung.

Sebagai orang yang lama berkecimpung di dunia fashion kelas atas, mata Andy tajam.

Dia tahu rumor tentang sifat asli Manda, dan dia jauh lebih menyukai Salma yang blak-blakan.

Sekali lihat, dia tahu Salma sedang menghindari jebakan.

"Oke deh," Andy tersenyum profesional.

Ia berjalan ke meja rias, mengambil beberapa produk kosmetik milik Manda, lalu mengernyit.

"Produk-produk ini kurang cocok buat remaja. Terlalu berat."

Andy membuka satu botol foundation, mencium aromanya, lalu menatap Manda tajam.

"Teksturnya aneh. Kayaknya sudah kedaluwarsa deh.

Hati-hati lho, kulitmu bisa rusak."

Wajah Manda memucat.

Kok dia bisa tahu secepat itu?

"Ya ampun! Bahaya banget dong! Ganti aja deh Kak!" Salma langsung menimpali dengan heboh.

"Untung ada Kak Andy!

Coba kalau aku yang pakein tadi, bisa-bisa aku dituduh ngerusakin muka Kakak."

Andy segera menelepon asistennya untuk mengirim satu set kosmetik baru.

"Manda, kamu masih muda, jangan main-main sama wajah sendiri," sindir Andy halus tapi menohok.

"Makasih Kak Andy sudah diingatkan. Saya ceroboh banget,"

Manda terpaksa menelan kekesalan itu bulat-bulat.

Hati Manda rasanya seperti ditampar bolak-balik.

Rencana yang disusun rapi hancur lebur, dan sekarang dia harus duduk diam sementara Salma dan Andy tertawa-tawa akrab di sampingnya.

Rasanya seperti menelan pil pahit tanpa air.

Setelah kosmetik baru datang, sesi penyiksaan—maksudnya, sesi makeup—dimulai.

Meskipun Salma jarang berdandan tebal, dia sebenarnya cukup mahir.

Tapi kali ini, tangan Salma mendadak jadi "ajaib".

"Aduh, Kak! Maaf, kecolok!" Salma memekik saat kuas eyeshadow-nya "tidak sengaja" menusuk kelopak mata Manda.

"Yah... maskaranya bleber ke pipi."

"Gawat, eyeliner-nya miring sebelah..."

Manda duduk kaku, menahan emosi setengah mati.

Wajahnya perih dan lelah.

Dia yakin Salma sengaja mengerjainya!

Tetapi setiap kali Manda mau meledak, Salma menatapnya dengan mata "polos" penuh penyesalan.

"Nggak apa-apa, Salma. Pelan-pelan aja," Andy ikut memanas-manasi dari samping.

"Saya dulu awal belajar juga gitu kok.

Manda kan baik hati, pasti maklum."

Kalimat Andy sukses mematikan protes Manda di tenggorokan.

"Maaf ya Kak, aku bakal berusaha lebih keras!" ucap Salma sungguh-sungguh, lalu tangannya kembali "tergelincir".

"Stop!" Manda akhirnya tidak tahan.

Dia melihat cermin, eyeliner-nya mencoreng sampai ke alis.

Wajahnya lebih mirip hantu opera sabun daripada putri pesta.

"Waktunya nggak bakal keburu. Biar aku sendiri saja!"

Manda merebut kuas, lalu mendorong Salma dan Andy keluar kamar.

"Kalian keluar dulu! Nanti kalau sudah selesai aku panggil!"

BLAM!

Pintu kamar terbanting.

Di lorong, Andy langsung terbahak-bahak sampai memegangi perutnya.

"Gila kamu, Sal! Jahat banget sumpah!

Manda bener-bener makan hati tuh!"

"Siapa suruh? Aku kan emang 'nggak bisa' dandan," Salma menyeringai nakal.

Andy mengacungkan jempol.

"Keren. Kamu emang harus begitu.

Masa Nona Muda Tanudjaja kalah sama anak angkat? Dulu aku khawatir kamu terlalu lembek, tapi sekarang aku tenang. Salma, kamu sudah dewasa!"

Salma tersenyum tipis.

"Dia makin ngelunjak, Kak.

Kalau nggak dikasih pelajaran dikit, dia bakal merasa jadi ratu di rumah ini."

"Pertahankan itu. Rebut kembali apa yang jadi hak kamu,"

Andy menepuk bahu Salma menyemangati.

Malam harinya, Manda turun dengan penampilan paripurna.

Gaun merah muda itu membalut tubuhnya sempurna, menonjolkan aura lembut dan elegan.

Harus diakui, dia memang cantik.

Tapi jika disandingkan dengan Salma yang tampil sederhana namun berkelas, kecantikan Manda terasa "kurang".

Wajah Salma memiliki fitur yang tajam dan memukau secara alami tanpa perlu usaha berlebih.

"Kakak cantik banget," puji Salma basa-basi.

Manda tersenyum tipis, terlihat gugup sekaligus percaya diri.

Dia yakin malam ini rencananya akan berhasil.

Farel akan menjadi miliknya.

Di sofa ruang tamu, Salma sibuk dengan ponselnya.

Aksa mengirim pesan.

Aksa: Salma, kamu beneran mau ke rumah Farel?

Salma: Iyalah, mau nonton drama gratis.

Katanya Manda mau ngejebak Farel pake obat itu.

Aksa: Semua hal yang menyangkut kamu, aku nggak pernah lengah sedikit pun.

Aku sudah pantau semuanya.

Hati Salma menghangat.

Tuhan memberinya hadiah kesempatan hidup kedua, dan bonus terindah bernama Aksa Abhimana.

Dilindungi seperti ini rasanya candu.

Salma: Terus kamu nggak datang buat ngelindungin aku?

Gimana kalau ada cowok ganjen yang godain aku?

Aksa: Aku ada di sana. Kamu milikku, nggak ada yang bisa rebut.

Tapi aku agak deg-degan, apa perlu aku datang sebagai Tuan Muda Abhimana?

Salma terkikik pelan.

Salma: Jangan dong, kasihan yang ulang tahun kalau sorotannya diambil kamu.

Aku mau jadi sutradara malam ini, biarkan aku yang beresin Manda, oke?

Hening.

Satu menit, dua menit... Aksa tidak membalas.

Salma mulai panik.

Apa dia marah karena aku menolak bantuannya?

Salma melempar ponselnya ke sofa dengan kesal.

Manda yang melihat itu tersenyum sinis.

Pasti berantem sama pacar miskinnya itu, pikir Manda senang.

"Aku ke mobil duluan ya," pamit Manda dengan langkah ringan.

Begitu Manda pergi, ponsel Salma bergetar beruntun.

Aksa: Oke!

Aksa: Aku baru saja telepon orang-orangku buat mundur.

Malam ini panggungnya milikmu.

Aksa: Salma, keinginanmu dan keselamatanmu adalah prioritas utamaku.

Silakan bermain.

Senyum Salma merekah lebar.

Ternyata Aksa tidak marah, dia hanya butuh waktu untuk membatalkan perintah demi menghargai permintaan Salma.

Salma: Makasih ya, Aksa sayang.

Perjalanan ke rumah Keluarga Barata memakan waktu dua puluh menit.

Salma dan Manda diantar oleh Surya dan Yoga, dua bodyguard muda kepercayaan Aksa yang menyamar.

Saat Salma keluar dari mobil, Surya terpanana sejenak.

Salma hanya mengenakan gaun simpel dan makeup tipis, tapi auranya jauh lebih bersinar daripada Manda yang berdandan heboh.

"Neng cantik, mau jalan sama Abang nggak?" goda Yoga sambil bersiul.

"Kak Yoga, mau digebuk ya?" balas Salma datar.

Yoga hanya cengengesan membukakan pintu.

Pesta ulang tahun ke-18 Farel Barata digelar sangat mewah. Halaman rumah penuh dengan mobil mahal, dan karpet merah terbentang megah.

Farel berdiri di pintu masuk, sesekali menjulurkan leher mencari seseorang.

Dia terlihat gagah dengan setelan jas handmade.

"Tuh ada Kak Farel," tunjuk Salma.

Manda langsung deg-degan.

Jantungnya berpacu kencang melihat ketampanan Farel.

Dia semakin yakin Farel adalah tiket emasnya untuk keluar dari bayang-bayang Salma.

Saat itu, Farel melihat Salma.

Wajah datarnya langsung berubah cerah.

Dia setengah berlari menghampiri mereka.

"Aku kira kamu nggak datang," Farel berdiri tepat di depan Salma, menatapnya lekat, mengabaikan dunia di sekitarnya.

"Selamat ulang tahun," Salma menyerahkan kado dengan nada datar.

"Kamu datang aja aku udah seneng banget," Farel menerima kado itu dan menggenggamnya erat.

Manda merasa seperti tak kasat mata.

Dia berdeham pelan, maju selangkah, dan memberikan senyum terbaiknya.

"Kak Farel, selamat ulang tahun ya."

Senyum Farel memudar seketika.

"Makasih," jawabnya dingin.

Dia mengambil kado Manda dan langsung mengoperkannya ke pelayan di belakang tanpa dilihat sedikitpun.

Sementara kado dari Salma masih ia pegang erat.

Senyum Manda kaku.

Hatinya mencelos jatuh ke dasar jurang.

Perbedaan perlakuan ini terlalu brutal.

Siapa pun yang punya mata bisa melihat kalau Farel hanya peduli pada Salma.

Rasa malu dan marah bercampur aduk di dada Manda.

Dia merasa dipermalukan di depan umum.

Tapi Farel tidak peduli.

Dia kembali menatap Salma dengan lembut. "Ayo masuk, kamu istirahat di dalam dulu, di luar panas."

Farel hendak berbalik mengajak Salma masuk, seolah Manda tidak ada.

"Kak Farel, tunggu!" Salma tiba-tiba menahannya.

Senyum licik terbit di sudut bibir Salma.

Pertunjukan dimulai.

"Kak Manda ada yang mau diomongin tuh sama Kakak.

Penting banget katanya."

1
Erchapram
Bagus sekali
sahabat pena
aksa terlalu lambat.. sdh tau ada barang bukti bukan di serahkan ke kantor polisi atau di viral kan. jd di manfaat kan sama rival nya pak rahmat kan? untuk menjatuhkan pak rahmat
mom SRA
pagi thoor
INeeTha: Pagi kaksk🙏🙏🙏
total 1 replies
kriwil
harusnya manda yang kejebak sama laki laki lain atau sama riko sekalian biar hancur nya tambah seru
Kembae e Kucir
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Sribundanya Gifran
lanjut thor
kriwil
apa di sekolahan ini ga ada guru dan kepala sekolah ,sampai tentang soal ujian di bobol maling yang maju hanya sosok ketua osis 😄
mom SRA
pagi thor
kriwil
seno itu dapat anak pungut sezan dari mana ya😄
kriwil
awal mula seno mungut siluman ular itu knp ya
mom SRA
mpm thor
Sribundanya Gifran
lanjut thor
Diah Susanti
thor, buat tanudjaja, kalo si manda cuma anak pungut, biar dia merasakan dibully 1 sekolahan.
mom SRA
malem thor
Sribundanya Gifran
lanjut up lagi thor
Pawon Ana
ealah moduse kang Aksa, lancar kayak jalan tol bebas hambatan
penampilan cupu ternyata suhu 😂
Sribundanya Gifran
lanjut up lagi thor
Diah Susanti
ini apa hubungannya dengan rahasia manda? apa karena cucu orang hebat makanya mudah dapat info? 🤔🤔🤔🤔
Diah Susanti
padahal bolu pisang enak lho, aq suka tak bisa bikinnya/Grin//Grin//Grin/
mom SRA
seru critanya.... semangat thoor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!