Selena Maheswari, adalah sosok gadis mandiri dan pekerja keras, dia tidak sengaja menyaksikan sendiri seseorang bertangan dingin yang dengan gampangnya mengeksekusi rekannya yang berkhianat, tanpa rasa bersalah ataupun menyesal.
Di dalam kejadian itu ternyata ada anak buah dari mafia tersebut yang mengintai Selena hingga pada akhirnya Selena terjerat ke dalam lingkaran sang Mafia.
Mampukah Selena keluar dari jerat sang Mafia atau malah sebaliknya?? Nantikan kisah selengkapnya hanya di Manga Toon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecurigaan Selena Akan Sang Ayah
Setelah kepergian anak buahnya tadi, Valen masih berdiri tegap menatap ke arah jendela, sesekali ia melirik ke arah Selena yang masih terlelap, hingga beberapa detik kemudian gadis itu mulai membuka mata sebelum akhirnya menggeliat panjang.
"Heeeeemh ...." suara Selena sambil menarik tangannya.
Valen segera menghampiri dengan senyum tipisnya. "Wah terlihat nyenyak sekali tidur anda Nona?" ucap Valen sedikit menyindir.
Selena menunduk sedikit malu. "I... iya .... makasih banyak untuk tadi malam," ucapnya tanpa berani menatap lawan bicaranya.
"Ya sudah kembali ke kamar, dan langsung bersihkan diri, tubuh buah kecut," celetuk Valen.
Seketika Selena melotot ke arah pria maskulin itu. "Apasih? Badanku gak sebau itu," sahut Selena dengan nada kesal.
"Kalau tidak percaya cium saja sendiri," ucap Valen dengan seringai tipis.
Selena mencoba untuk mengangkat lengannya lalu mencium ketiak dari sisi kanan dan kiri, setelah itu dia langsung menunduk. "Ah ... kok beneran bau," lirihnya dengan nada sedikit kesal dan malu.
"Gimana benar kan yang aku bilang." Valen menyunggingkan senyuman tipis.
Selena tak menggubris ia langsung melangkah dengan perasaan yang kesal dan kaki yang di hentak-hentakkan sedikit keras di lantai, ia bukan seperti seorang gadis dewasa melainkan sebagai seorang anak yang sedang merajuk kepada ayahnya dan hal itu disaksikan langsung oleh Valen.
"Dasar gadis bodoh ... sudah dewasa kelakuan masih seperti anak kecil," ucapnya dengan nada yang sulit untuk di jelaskan, senyum kecil itu mulai mengembang di bibirnya.
☘️☘️☘️☘️
Pintu kamar mandi terbuka, uap hangat masih mengepul tipis ketika Selena melangkah keluar. Tubuh mungilnya terbalut handuk kimono putih yang membuat kulit pucatnya semakin jelas. Dua maid sudah menanti dengan sikap sopan, sibuk mengatur beberapa pakaian di atas meja rias.
"Silakan, Nona," ucap salah satunya, nada suaranya datar namun penuh kehati-hatian.
Selena menelan ludah, pandangannya tertuju pada deretan gaun yang tampak mewah sesuatu yang asing baginya. Dengan sedikit ragu, tangannya menyentuh dress selutut berwarna krem, lembut di ujung jari, membalut pas di pinggang ketika akhirnya ia mengenakannya.
Di cermin, bayangan dirinya tampak seperti orang lain, begitu rapuh namun anggun, seolah memang dipersiapkan untuk menjadi bagian dari dunia yang tidak pernah ia inginkan.
"Nona ayo kita turun ke bawah Don sudah menunggu," ucap salah satu maid itu dengan sopan.
Selena tak bergeming, ia hanya menurut dimana dua maid itu mengawalnya dengan anggun layaknya ratu disebuah istana.
Sesampainya di ruang makan Selena langsung dihadapkan dengan berbagai macam hidangan, untuk kali ini tangan Selena langsung mengambil makanannya sendiri, tanpa disuruh ataupun dipaksa seperti kemarin, karena memang suasana hatinya saat ini sedang baik, meskipun masih menyimpan rasa takut dan ragu.
"Silakan menikmati hidangannya Nona," ucap seorang maid tubuh sedikit membungkuk.
"Sama-sama, Bu Maria, dan alangkah lebih baiknya Ibu ikut makan juga denganku di sini," ajak Selena yang merasa tidak enak lagian dia merasa di sini bukan ratu tapi hanya tawanan.
"Maaf Nona, kami di sini bekerja dan bukan bos rumah ini, jadi sudah sepantasnya kami melayani anda," tolak Maria dengan halus.
Selena mengerti, karena mereka di sini bukan hanya bekerja dan menaati peraturan namun mereka sudah dibawah sumpah dan janji setia.
"Saya makan dulu ya," ucap Selena dengan nada sopan.
Selesai dengan sarapannya gadis itu mulai kembali ke dalam kamarnya, Selena mulai membuka jendela merentangkan tangannya membiarkan udara masuk melalui ruang jendela.
Saat ini matanya mulai terpejam sambil tersenyum penuh lega, menikmati udara segar dari luar, namun ketika dia mulai menikmati kesendiriannya tiba-tiba saja handphone-nya berdering.
"Ibu ...," ucap Selena setelah melihat layar yang muncul di ponselnya.
Tanpa basa-basi ia langsung mengangkat telepon tersebut. "Halo Ibu, gimana kabarnya?" tanya Selena dengan nada kerinduannya.
"Fuji Tuhan Nak ... kabar Ibu baik, dan uang yang kau kirim cukup untuk bulan depan, makasih ya," ucap ibunya itu.
Selena hanya mengangguk, tanpa memberi tahu keadaan yang sebenarnya di sini, hanya saja ia ingin mengutarakan pertanyaannya mengenai sang ayah, namun rasa itu sulit untuk keluar gaya tertahan dibibir saja.
"Nak, kamu belum berangkat kerja?" Tiba-tiba saja suara sang Ibu membuyarkan lamunannya.
"Be ... belum Bu, oh ya gimana kabar Adik dan Ayah?" tanya Selena.
Sejenak ibunya sedikit terdiam dengan pertanyaan sang anak. "Begini Nak. Ayah ... dari semalam pergi katanya mau ke kota ke makamnya nenek," sahut Ria dengan hati-hati.
"Apa! Kok mendadak sekali Bu?!" tanya Selena dengan nada yang terkejut.
"Iya Nak, dia hanya pesan sama ibu untuk jaga diri baik-baik, dan jika ada seseorang yang datang dan menanyakan Ayah ibu cukup bilang tidak tahu, karena itu pesan ayahmu," sahut Ria.
Selena semakin cemas, rasa khawatir dan was-was akan ayahnya kini mulai merasuk ke hatinya.
"Nak, kenapa diam?" suara dari seberang sana.
"Enggak Bu ... ya sudah Ibu hati-hati ya, dan jaga Adik, Selen mau berangkat kerja dulu," ucap Selena beralasan.
Telepon di tutup, namun hati dan pikirannya saat ini mulai terbayang kepada ayahnya yang tiba-tiba pergi tepat orang-orang Robin tengah mengincarnya.
"Astaga ... apa benar yang dikatakan oleh Don Valen kalau ayahku sebenarnya ...," ucap Selena tergantung.
☘️☘️☘️☘️
Lorong bawah tanah markas Valen terasa dingin, cahaya lampu kuning redup hanya menerangi sebagian ruangan. Seorang anak buah Valen masuk dengan langkah tergesa, membawa map lusuh di tangannya.
“Don,” ucapnya sambil menunduk hormat. “Kami menemukan sesuatu... tentang Surya.”
Valen yang tengah menyalakan cerutunya hanya menoleh sekilas, alisnya terangkat tipis. “Bicara.”
Anak buah itu membuka map, mengeluarkan selembar foto lama yang warnanya mulai pudar. Foto itu memperlihatkan Surya muda berdiri bersebelahan dengan seorang bos mafia besar yang sudah lama terkenal di dunia bawah tanah.
“Ini diambil hampir dua puluh tahun lalu. Kami juga menemukan catatan transfer ke rekening asing atas nama Surya. Jumlahnya... terlalu besar untuk ukuran orang biasa.”
Valen terdiam sejenak, matanya meneliti foto itu dengan penuh arti. Lalu bibirnya melengkung samar.
“Jadi benar... Surya menyimpan lebih banyak rahasia daripada yang putrinya tahu.”
Anak buahnya menelan ludah, ragu. “Apa kita akan langsung memberitahu Selena, Don?”
Valen menyandarkan tubuh ke kursinya, menghembuskan asap perlahan. “Belum. Biarkan ia tetap percaya pada bayangan ayahnya. Akan lebih menghancurkan kalau kebenaran itu dia dengar... tepat saat Surya tak bisa lagi berbohong.”
Valen menyeringai, ia tahu sebentar lagi Selena tidak bisa lari dari kenyataan ini.
Bersambung ....
Pagi Kakak .... semoga suka ya!
my queen
queen mafia pantang mundur,dan satu tidak ada kata maaf