Tejerat Cinta Mafia Posesif
Pada malam itu di sebuah gang kecil seorang gadis cantik sedang berjalan dengan wajah yang lelah sambil memegang tas selempangnya, kakinya mulai melangkah pelan, akan tetapi di tengah-tengah gang ia mendengar suara rintihan seseorang yang tengah merasakan kesakitan.
Selena mulai menghentikan langkahnya wajahnya mulai menengok ke kanan dan kiri dari sanalah, matanya menangkap seorang pria bertubuh tinggi tegap, berdiri dengan kepala sedikit menunduk. Tangannya sibuk mengelap telapak yang berlumur cairan merah, menggunakan kain putih.
Di sini Selena langsung membekap mulutnya dengan kedua tangannya langkahnya perlahan mulai mundur. Namun baru satu langkah ia tarik ke belakang, kepala pria itu terangkat. Sepasang mata tajam menembus gelap, mengarah tepat padanya.
Selena menahan napas. Dunia terasa membeku seketika. 'Ah tidak... dia mengetahui... keberadaanku,' batin Selena dengan mata yang membulat sempurna.
Tatapan itu begitu menusuk, membuat bulu kuduk Selena meremang. Kakinya kaku, seperti terikat rantai tak kasatmata. Pria itu mulai melangkah mendekat, gerakannya tenang namun mengancam, seolah setiap langkah sudah diperhitungkan.
“Siapa kau?” suaranya dalam, serak, dan mengandung nada perintah.
Selena menelan ludah, mencoba berpikir jernih. “A… aku… hanya le... lewat,” jawabnya terbata, suaranya nyaris hilang bersama rasa takutnya.
Pria itu berhenti hanya beberapa langkah di depannya. Dalam pencahayaan yang temaram, Selena bisa melihat dengan jelas garis rahang tegas, tatapan dingin, dan kilatan samar yang entah karena cahaya atau memang matanya seperti itu. Di tangannya, kain putih yang ia gunakan untuk menghapus darah kini terlipat rapi, namun noda merahnya jelas masih terlihat.
“Melewatkan gang ini… di jam segini?” Nada suaranya lebih terdengar seperti tuduhan daripada pertanyaan.
Selena memeluk tas selempang di dadanya lebih erat, mencoba mundur lagi. Namun punggungnya justru membentur dinding gang yang lembap. Nafasnya mulai cepat.
"A... aku sudah terbiasa pulang kerja di...jam seperti ini," sahutnya mencoba untuk memberanikan diri di tengah-tengah rasa takutnya.
Pria itu mendekat satu langkah lagi, membuat jarak di antara mereka hanya tinggal sejengkal. “Kau tidak melihat apa-apa… mengerti?”
ucapannya itu lebih terdengar seperti ancaman dan peringatan yang ditujukan khusus untuk dirinya. Selena hanya bisa mengangguk, tak berani menatap terlalu lama ke arah pria yang memiliki tatapan elang itu.
Senyum tipis terbentuk di sudut bibir pria itu, entah itu tanda puas atau ancaman lanjutan. “Bagus. Karena jika kau lupa pada kata-kataku…” Ia menunduk sedikit, berbisik tepat di telinganya, “aku akan memastikan kau mengingatnya… dengan cara yang tidak kau sukai," bisiknya terdengar samar namun menusuk sampai ke dasar hati Selena.
Udara dingin malam mendadak terasa menyesakkan. Saat pria itu melangkah pergi, aroma parfum maskulin bercampur samar bau anyir darah itu masih tercium di indera penciumannya, Selena sadar, wajah itu akan menghantui pikirannya untuk waktu yang lama.
Selena segera melanjutkan kembali langkahnya dengan hati-hati apalagi di saat ia mulai melewati seorang pria tergeletak tak bernyawa dengan sekujur tubuh yang dilumuri oleh cairan merah kental itu.
Langkahnya cukup hati-hati namun pasti, ia meninggalkan tubuh itu dengan perasaan yang bergidik antara ngeri dan ketakutan, akan tetapi perlahan ia mulai berhasil meninggalkan gang tersebut dengan langkah yang bergetar dan juga rasa ketakutan yang teramat besar.
Perlahan langkah demi langkah Selena mulai sampai di depan kontrakan kecilnya, gadis itu mencoba untuk masuk dengan cepat dan mengunci rapat-rapat pintu kontrakannya.
"Hah ... hah ....," nafas Selena terengah, bukan karena habis berlari berkilo-kilo meter melainkan karena ketakutan, seumur-umur dia tidak pernah menyaksikan sendiri manusia di eksekusi dengan begitu kejamnya.
"Tuhan ... segera lupakan ingatanku dari kejadian ini, sungguh aku tidak mau mengingatnya kembali kejadian yang membuat hidupku susah bernafas seperti ini," ucapnya sambil mengontrol nafas yang susah beraturan.
Selama bertahun-tahun tinggal di kontrakan kecilnya, baru kali ini Selena melihat kejadian aneh yang mungkin akan menjeratnya seumur hidup, dengan pria yang dia temui di gang kecil tadi.
Setelah meredam ketakutannya Selena langsung menuangkan air putih ke dalam gelas, untuk membasahi tenggorokannya yang sudah kering akibat kejadian tadi.
"Glek ...glek ...." Air putih sudah membasahi tenggorokannya, rasa lelahnya sedikit berkurang akan tetapi tidak dengan rasa takutnya yang semakin membuncah.
"Tidak ... aku tidak boleh berdiam diri, aku harus cari cara agar bisa pergi dari tempat ini," ucapnya penuh tekad.
Namun di saat dirinya dilanda ketakutan seperti ini handphonenya mulai berdering, nama ibu terpampang di layar utamanya, Selena pun segera mengambil nafas sebelum mengangkat telepon seolah kondisinya saat ini tengah baik-baik saja.
"Halo Bu," sapanya mencoba untuk tenang.
"Nak, Minggu depan adikmu harus bayar SPP sekolah, Ibu harap kamu bisa membantu ya," ucap Ria yang memang sedang membutuhkan biaya untuk anak keduanya.
"Baiklah Bu, kalau begitu akan Selena usahakan," sahutnya dengan helaan nafas berat.
Telepon sudah di akhiri saat ini Selena mulai menghempaskan nafas dengan berat, bagaimana dia mau pindah dan cari kontrakan lain sementara di kampung sana ibunya terus-menerus mengandalkan dia untuk membiayai sekolah adiknya.
Gadis itu hanya bisa memejamkan matanya, mencoba untuk berpikir positif, kalau hari esok tidak akan terjadi apa-apa di dalam hidupnya.
"Ok Selen, mungkin untuk sementara ini kamu tidak bisa pindah dari kontrakan ini, tapi setelah urusan Adik selesai akan ku pastikan aku bisa pindah dari tempat ini," ucapnya sendiri agar situasi hatinya tenang.
☘️☘️☘️☘️
Sementara di dalam markas sana seorang pria terlihat menyeringai puas setelah berhasil mengeksekusi musuhnya yang sudah mencoba untuk menggagalkan bisnis ilegalnya.
Di ruangan yang dipenuhi dengan lampu temaram, pria yang memiliki nama panjang Adrian Valente Dirgantoro duduk di kursi kebesarannya dengan di dampingi para asisten dan orang-orang kepercayaannya yang sudah disumpah untuk tetap setia dan melindungi sang atasan.
"Setelah ini saya tidak ingin mendengar barang itu di tahan ... paham kan apa maksudku," ucapnya singkat tapi penuh intimidasi.
"Paham Don Valente," sahut asisten pribadinya yang bernama, Mateo.
Semua orang yang ada di ruangan ini menunduk, bergerak cepat untuk mengurus kendala yang sedikit menghambat, akan tetapi dari salah satu asistennya ada yang bertanya mengenai gadis yang tadi sempat mengetahui gerak-geriknya.
"Don ... bagaimana dengan gadis tadi yang sudah mengetahui gerak-gerik kita?" tanya Mateo.
Valen hanya tersenyum tipis seolah sudah tahu apa yang akan ia perbuat untuk gadis yang nantinya akan dia jerat karena sudah mengetahui semuanya.
"Kau awasi saja gerak-gerik gadis itu, jika ada yang mencurigakan segera laporkan padaku," perintah Valen dengan nada yang cukup pelan tapi tegas.
Valen mulai menatap ruangan sekitar dengan tatapan dingin dan seringai licik yang tersirat di dalam wajahnya.
"Gadis kecil, bisa-bisanya kau berurusan denganku," senyumnya tipis seolah ingin menjerat gadis kecil itu.
Bersambung ....
Halo kakak...
Aku datang lagi nih, kali ini genre sedikit berbeda ya semoga saja kalian suka.🥰🥰🥰🥰🙏🙏🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 23 Episodes
Comments
Amalia Putri
Ah seru ni ,thor kaya nya banyak adegan menegang kan lanjut thor semangat,met pagi met libur,selamat hari kemerdekaan ya thor moga banyak rejeki berkah sehat terus ya thor,doa yang sama juga buat para pembaca juga,/Ok//Ok//Ok//Rose//Rose//Rose/
2025-08-17
2
Lanjar Lestari
seru nih kl Mafia gini wl banyak tegang nya br awal sdh deg degan nih,aku kira Lanjutan Saga Alina Author. hehe
2025-08-19
1
partini
karya baru dari sinopsis seru
2025-08-17
1