NovelToon NovelToon
Cadar Sang Pendosa

Cadar Sang Pendosa

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / Romantis / Cintamanis / Balas Dendam / PSK / Konflik etika
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nadiaa Azarine

Dalam semalam, video scandal yang tersebar membuat kehidupan sempurna Adara hancur. Karirnya, nama baiknya, bahkan tunangannya—semuanya dihancurkan dalam sekejap.

“Gila! Dia bercadar tapi pelacur?”

“Dia juga pelakor, tuh. Gundik suami orang.”

“Jangan lupa… dia juga tidur sama cowok lain meskipun sudah punya tunangan se-perfect Gus Rafka.”

“Murahan banget, ya! Sana sini mau!”

“Namanya juga pelacur!”

Cacian dan makian terus dilontarkan kepada Adara. Dalam sekejap citranya sebagai influencer muslimah bercadar, dengan karya-karya tulisnya yang menginspirasi itu menghilang.

Nama panggilannya berubah menjadi “Pelacur Bercadar”. Publik mengecamnya habis-habisan bahkan beberapa orang ingin memukulinya.

Namun di tengah semua kekacauan yang terjadi, seorang pria mengulurkan tangannya kepada Adara.

“Menikahlah denganku, Adara. Aku akan membantumu untuk memperbaiki nama baikmu. Setelah semuanya membaik—kamu bisa pergi meninggalkanku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadiaa Azarine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Masa Lalu Junia

|Surabaya, 2007|

Suasana rumah itu berbeda dari biasanya. Tidak terdengar gelak tawa atau percakapan hangat yang biasa memenuhi ruang tamu setiap keluarga berkumpul. Hari itu semua orang mengenakan pakaian berwarna gelap, sebagian besar hitam. Udara dipenuhi aroma bunga krisan yang ditata di beberapa sudut ruangan, bercampur wangi kayu manis dari lilin yang menyala pelan.

Di tengah ruangan, peti kayu cokelat tua terletak dengan rapi. Tutupnya dibiarkan terbuka, memperlihatkan wajah jenazah yang sudah dirias, tampak tenang seolah sedang beristirahat setelah perjalanan panjang.

Beberapa orang datang bergantian untuk memberikan penghormatan terakhir, menyentuh pelan tangan jenazah, atau sekadar membungkuk sambil berdoa dalam hati. Pendeta berdiri di sisi peti, sesekali membuka Alkitab dan membaca ayat-ayat penghiburan bagi keluarga yang ditinggalkan.

Gadis kecil berusia 7 tahun tampak duduk meringkuk di sudut ruangan. Ia tidak mengerti bagaimana seseorang bisa tidur begitu lama. Ia hanya tahu bahwa neneknya dihias lalu dimasukkan ke dalam peti.

Sementara di sebelahnya—Raja Simagar duduk sambil menatap nanar peti di hadapannya, matanya sembab, tapi ia tak mengeluarkan air mata lagi. Usianya sudah sepuh, tapi tetap terlihat tegar, seolah masih menahan sisa-sisa kewibawaan yang selama ini menempel padanya. Hari ini istrinya—Tenti Karlina pergi meninggalkannya untuk selamanya setelah 53 tahun menjalin rumah tangga bersamanya.

Pria tua itu mengusap puncak kepala Junia—cucu kesayangannya. Sejak kecil, Junia sangat dekat dengan neneknya. Raja sempat khawatir jika Junia akan menangis histeris.

Namun Junia tidak menangis saat itu. Mungkin karena usianya masih terlalu kecil untuk memahami bahwa kehilangan berarti tidak akan kembali.

Seminggu setelah pemakaman, suasana rumah kembali ramai. Johan Simagar—putra kedua Raja datang kembali bersama istri dan anak kembarnya yang selalu berlarian ke mana-mana.

Mereka datang bukan lagi untuk berkabung—melainkan untuk membicarakan harta warisan.

Pram Simagar—Ayah Junia duduk berdampingan dengan Raja di ruang tengah. Raja membuka map cokelat berisi dokumen-dokumen penting. Raut wajahnya tampak serius. Ia menjelaskan dengan suara tegas, meskipun suaranya beberapa kali bergetar.

“Ini semua sudah diatur sebelum ibu kalian jatuh sakit,” ujar kakek. “Biar tidak terjadi perselisihan.”

Johan duduk dengan sikap gelisah. Istrinya sesekali berbisik sesuatu ke telinga Johan, entah apa.

“Rumah dan Tanah ini saya berikan kepada keluarga Johan,” katanya. “Karena letaknya dekat dengan tokonya dan lebih mudah dijaga.”

Pram mengangguk, tidak menunjukkan penolakan.

“Untuk Pram,” lanjut kakek sambil menyerahkan map lain, “Ada sebidang tanah di pinggir kota, dan beberapa toko milik ibu kalian.”

“Baik, Pak.” Pram mengangguk paham.

Risma—istri paman tampak tidak puas, tetapi tidak berani mempertanyakan keputusan ayah mertuanya.

“Pak yakin bagiannya begitu?” Johan akhirnya membuka suara.

“Kau belum punya rumah, Johan. Makanya ibumu memberikan rumah ini padamu. Sementara tanah kosong itu untuk abangmu,” jelas Raja.

Pram memang lebih sukses dibandingkan dengan Johan. Sementara Johan hanya mengontrak di desa sebelah. Johan sendiri bekerja sebagai buruh pabrik, sedangkan Risma menjaga toko kelontong yang Tenti modalkan untuk putra bungsunya itu.

“Tapi semua bisnis ibu kenapa diberikan ke abang semua, Pak? Kasih satu toko untuk Johan urus!” pintanya.

“Kau sudah punya toko kelontong, Han. Jangan maruk!” ujar Raja. Pria itu menatap putranya tanpa berkedip. “Ibumu sudah mengurus pembagian ini sebelum kondisinya memburuk. Tidak ada yang berubah. Kalian berdua dapat bagian sama besar, hanya bentuknya yang berbeda.”

Jawaban itu menutup diskusi. Tidak ada protes lagi, meskipun Junia menangkap rona kesal di wajah bibinya.

“Kalau rumah ini untuk kami berarti bapak tinggal sama kami?” tanya Johan.

“Bapak akan tinggal berpindah-pindah saja. Kadang di rumah Pram dan kadang di rumah Johan,” jelas Raja.

Pram dan Johan hanya mengangguk, sebagai jawaban bahwa mereka menyanggupi permintaan ayahnya itu.

Surabaya, 2012

Tahun-tahun berlalu sejak nenek meninggal. Kehidupan berjalan dengan baik dan kakek masih bolak-balik tinggal di rumah Pram dan Johan. Sampai suatu sore Johan berkunjung ke rumah tanpa istri dan anak-anaknya. Wajahnya tampak kusut dan sedikit pucat. Kedua bersaudara itu duduk di ruang tamu. Junia memilih duduk di sisi kakek, berpura-pura menonton televisi, padahal telinganya fokus ke arah percakapan orang dewasa itu.

“Tokoku sudah sepi,” ujar Johan. “Utang menumpuk. Aku nggak bisa membayarnya, Bang.”

Pram mendengarkan keluhan sang adik tanpa menyela.

“Kalau aku tutup tokonya sekarang, aku malah tambah rugi. Tapi kalau aku lanjut… aku juga nggak tahu sampai kapan aku bisa bertahan.”

Pram hanya mengangguk, memberi ruang bagi Johan untuk menyelesaikan kalimatnya.

“Sementara… aku juga masih harus menanggung biaya sekolah anak-anak, dan—” paman menunduk. “Dan aku juga nggak bisa ngurus Bapak lagi.”

Pram tidak menyahut. Ia hanya menyeruput kopinya, “Bapak bisa tinggal di sini. Aku bisa mengurus bapak dan itu bukan masalah.”

Johan mengangguk tanpa menatap siapapun. Helaan nafas berat keluar dari mulutnya disusul dengan kalimat lirih.

“Aku perlu bantuan, Bang.”

Pram menatap Johan. “Bantuan apa?”

Johan menarik napas dalam-dalam. “Seratus juta.”

Pram tidak langsung menjawab. Ia hanya menautkan jemarinya, seolah sedang menghitung sesuatu yang tidak terlihat.

“Kau masih berjudi? Masih mabuk?” tanya Pram. “Kau berutang pada siapa sebanyak itu, Han?”

“Aku janji, Bang. Setelah utang ini lunas—aku akan berhenti minum dan berjudi. Aku akan fokus dengan toko dan segera membuka cabang,” janji Johan.

Pram terdiam sesaat, lalu masuk ke kamar. Ia meraih sebuah amplop tebal di dalam lemari kamarnya lalu memberikannya kepada Johan. Mau bagaimanapun, Pram tidak bisa bersikap acuh pada adik satu-satunya itu.

Johan memegang amplop itu dengan tangan gemetar. “Terima kasih, Bang. Aku akan bayar secepat mungkin!” ucap Johan.

“Manfaatkan uang itu dengan baik, Han. Si kembar butuh ayah yang bertanggung jawab, bukan ayah penjudi dan pemabuk. Hilangkan kebiasaan burukmu itu!” Nasehat Pram.

“Aku akan mengolah uang ini sebaik mungkin, Bang. Demi masa depan yang baik untuk si kembar,” jawab Johan. “Nanti setelah ekonomiku membaik, aku akan menjemput bapak lagi untuk tinggal di rumahku.”

“Jangan pikirkan soal itu dulu. Fokus saja memperbaiki ekonomimu. Setelah semuanya membaik, barulah kita bahas kembali.” ujar Pram.

“Tapi aku takut bapak mengira aku menelantarkannya, Bang.” Johan menatap ayahnya. “Bagaimana caranya memberitahu bapak soal keadaan ini?” tanyanya.

Pram menarik napas panjang. “Bapak pasti akan mengerti jika kita menjelaskannya dengan baik-baik, Han. Bapak tidak akan berpikir seperti itu,” Jawab Pram.

“Oke, Bang. Aku akan berbicara dengan Bapak dan meminta pengertiannya. Aku tidak ingin bapak mengira ia ditelantarkan oleh anaknya!” ujar Johan.

Pram mengangguk. “Bicaralah pada bapak…” ujarnya.

Johan beranjak dari duduknya lalu bergegas menghampiri ayahnya untuk membicarakan hal ini.

***

Bersambung…

1
Suratmi
sepertinya ada musuh dalam selimut,, seperti nya rasa iri si Jun bakal buat Dara kena Fitnah,,semangat ya kak author..di tunggu upnya💪💪
@Resh@: sepertinya dia yg fitnah dara dia nyamar klo pake cadar dan jadi pelakor tapi dara yg dituduh awal mula kehancuran dara ini
total 1 replies
Suratmi
karya Author sangat bagus.. menginspirasi kita perempuan agar lebih berhati-hati dalam kehidupan
Lovita BM
ayok up lagi kakak ✊🏼
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Meliandriyani Sumardi
salam kenal kak
Sweet Girl
Bisa jadi ... mesti diselidiki.
Khan sudah ada clue, Tattoo Mawar.
Sweet Girl
Ijin baca Tor...
episode pertama bagus, bikin penasaran.
semoga selanjutnya makin bagus.
Sweet Girl
Kamu salah... Makai Cadar kok karena Adara...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!