NovelToon NovelToon
Segitiga Tak Sama Sisi

Segitiga Tak Sama Sisi

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Teen / Romantis / Romansa / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:136
Nilai: 5
Nama Author: Layla Camellia

Ella adalah siswi teladan yang hidupnya berubah menjadi mimpi buruk saat rahasia cintanya kepada Rizki, sang ketua kelas populer, terbongkar secara memalukan di depan sekolah. Di tengah pengkhianatan dan kehancuran martabatnya, muncul Wawan—siswa berandalan yang secara mengejutkan hadir sebagai pelindung. Tanpa Ella ketahui, Wawan membawa amanah rahasia dari masa lalu untuk menjaganya, meski akhirnya ia sendiri jatuh hati pada gadis itu.

DISCLAIMER :
Karya ini adalah fiksi. Nama, karakter, tempat, dan kejadian adalah produk imajinasi penulis atau digunakan secara fiktif. Kesamaan apa pun dengan orang sungguhan, hidup atau mati, atau peristiwa nyata adalah murni kebetulan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Layla Camellia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19: Pengakuan yang Membungkam Dunia

Ruang kelas XII-IPA 1 biasanya dipenuhi oleh deru kipas angin yang tua dan suara celoteh siswa yang tak kunjung usai. Namun sore itu, ruangan tersebut terasa sangat hampa, seolah-olah seluruh oksigen telah tersedot keluar. Sinar matahari senja yang berwarna jingga pekat menerobos masuk melalui celah jendela kaca yang sedikit berdebu, menciptakan garis-garis cahaya yang menyinari partikel debu yang beterbangan dengan tenang. Di tengah cahaya itu, Ella berdiri dengan punggung tegak, berhadapan langsung dengan Rizki yang tampak seperti patung marmer yang kokoh namun mulai retak.

"Maaf, Rizki. Tapi jawabanku tetap tidak. Aku tidak bisa menerima ajakanmu untuk memulai semuanya di kampus nanti," suara Ella mengalun tenang, namun setiap katanya memiliki ketegasan yang tak terbantahkan. Tidak ada lagi keraguan di matanya; ia sudah menanggalkan kacamata hitamnya, membiarkan dunianya terlihat jelas dan membiarkan orang lain melihat kejujuran di matanya.

Rizki terbelalak. Seluruh tubuhnya menegang. Wajahnya yang biasanya selalu terlihat tenang dan berwibawa seketika berubah menjadi merah padam. Matanya menyiratkan kemarahan yang bercampur dengan rasa tidak percaya. Ia merasa sudah memberikan segalanya: ia memberikan nilai yang bagus, ia memberikan perubahan karakter, dan ia memberikan pengorbanan dengan memutuskan hubungannya dengan Lia secara total.

"Kenapa, La?! Kurang apa lagi aku?" suara Rizki meninggi, suaranya menggema di sudut-sudut kelas yang kosong, membentur papan tulis dan lemari buku. "Aku sudah berubah menjadi orang yang kamu inginkan! Aku sudah membuktikan nilaiku bisa setara denganmu! Aku sudah membuang gengsiku dan memutuskan Lia di depan semua orang! Kenapa kamu malah tetap memilih dia... si berandalan yang bahkan tidak pernah terlihat serius dalam hidupnya?!"

Ella tetap diam, tidak bergeming sedikit pun meski Rizki melangkah maju dengan aura yang mengancam. Ella tidak takut lagi. Ia tahu bahwa cinta tidak bisa dipaksakan lewat daftar prestasi atau perubahan yang dilakukan karena tuntutan.

Namun, di tengah ketegangan yang nyaris meledak itu, tiba-tiba terdengar suara decitan kursi yang bergeser secara kasar di pojokan kelas—tempat yang biasanya tersembunyi oleh tumpukan kursi rusak. Seseorang bangun dari tidurnya sambil menguap sangat lebar, seolah baru saja terbangun dari tidur musim dingin yang panjang.

"Hoamm... Aduh, jam berapa ini? Kok sekolah udah sepi banget?" Wawan bergumam sendiri sambil mengucek matanya yang merah. Rambutnya berantakan seperti sarang burung, dan wajahnya tampak linglung. Ia mengerjapkan mata beberapa kali sampai akhirnya menyadari kehadiran Ella dan Rizki yang berdiri seperti sedang bersiap untuk duel maut di tengah kelas. "Eh, sori! Gue... gue benar-benar nggak ada maksud nguping obrolan kalian. Sumpah, gue tadi cuma mau tidur bentar karena ngantuk habis nunggu jam pulang. Gue benar-benar ketiduran. Jadi, silakan lanjutin aja dramanya—"

Kata-kata Wawan terpotong. Ella tiba-tiba melangkah cepat, hampir berlari ke arah pojok kelas itu. Sebelum Wawan sempat memproses apa yang sedang terjadi atau bahkan sekadar berdiri dengan benar, Ella sudah berada di depannya. Tangan mungil Ella meraih kerah seragam Wawan yang berantakan, menariknya dengan kekuatan yang mengejutkan hingga wajah Wawan merunduk tepat di depan wajahnya.

CUP.

Bibir Ella mendarat tepat di bibir Wawan. Sebuah ciuman singkat yang tegas, penuh penekanan, dan sarat akan pesan tersembunyi.

Wawan membeku seketika. Rasanya seperti seluruh sirkuit di otaknya mengalami short circuit atau error massal. Matanya membelalak, pupilnya mengecil menatap wajah Ella yang begitu dekat hingga ia bisa melihat helai bulu mata gadis itu yang bergetar. Udara di sekitarnya seolah berhenti berputar. Ella melepaskan tautan bibir mereka, jemarinya masih meremas kain seragam Wawan dengan gemetar yang tak bisa ia sembunyikan. Tanpa sanggup menatap mata Wawan lagi, Ella segera menyembunyikan wajahnya di dada bidang cowok itu, menghirup aroma parfum maskulin yang bercampur dengan bau sinar matahari yang khas dari tubuh Wawan.

"Sekarang kamu percaya, kan, Rizki? Bahwa hatiku tidak bisa dihitung dengan rumus matematika?" tanya Ella dengan suara yang teredam oleh dada Wawan.

Rizki mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa kesal dan egonya yang setinggi langit rasanya baru saja dihancurkan berkeping-keping. Ia melihat bagaimana Ella—gadis yang ia kejar mati-matian—justru mencari perlindungan dan rasa aman di pelukan saingan terberatnya yang selama ini ia remehkan. Rizki berdiri mematung selama beberapa menit, menatap pemandangan di depannya dengan napas yang memburu, sampai akhirnya ia menghela napas panjang dan bahunya merosot.

"Oke, aku percaya. Sangat percaya," ucap Rizki dengan suara serak yang penuh dengan kepahitan. "Selamat untukmu, Wan. Kamu menang bukan karena kamu lebih hebat dariku, tapi karena kamu lebih dulu ada di sana saat dia merasa sendirian."

Rizki berbalik dan melangkah pergi. Suara sepatunya yang membentur lantai koridor terdengar sangat berat, sebuah melodi kekalahan dari sang mantan ketua kelas. Pintu kelas tertutup dengan dentuman pelan, meninggalkan keheningan yang luar biasa canggung di dalam ruangan itu.

Setelah yakin Rizki benar-benar pergi, Ella memberanikan diri untuk mendongakkan kepalanya. "Wawan?" panggilnya lirih.

Wawan masih tidak bergerak. Ia berdiri kaku seperti manekin toko baju. Pandangannya lurus ke depan, menembus papan tulis kosong, sementara wajahnya perlahan-lahan berubah warna dari kulit sawo matang menjadi merah padam yang sangat mencolok, persis seperti kepiting yang baru saja direbus.

"Wawan! Kamu denger aku nggak?" Ella memanggil lagi, kali ini sedikit lebih keras.

"HAH?! APA?!" Wawan tersentak kaget, seolah baru saja disiram air es. Ia refleks melompat mundur seketika karena terlalu kaget. Namun malang baginya, gerakannya terlalu liar sampai kakinya tersandung kaki kursi kayu. Tubuhnya limbung ke belakang dan kepalanya terbentur dinding belakang kelas dengan suara DUG yang sangat keras dan memilukan.

"Aduh! Sialan!" Wawan terduduk di lantai sambil meringis kesakitan, kedua tangannya memegangi bagian belakang kepalanya yang pasti akan benjol.

Ella langsung panik. Hilang sudah keberaniannya tadi saat mencium Wawan. Ia langsung berjongkok di hadapan Wawan dengan wajah penuh kekhawatiran. "Wawan, kamu nggak apa-apa? Mana yang sakit? Maaf, aku nggak bermaksud bikin kamu jatuh!"

Wawan menatap Ella dengan pandangan yang liar dan bingung. Ingatan tentang sentuhan lembut bibir Ella tadi mulai meresap sepenuhnya ke dalam kesadarannya, membakar saraf-sarafnya. Tanpa aba-aba dan dengan gerakan yang sangat cepat, Wawan justru mendorong bahu Ella hingga gadis itu jatuh telentang di lantai kelas yang dingin. Dalam sekejap, posisi mereka berbalik; Wawan kini berada di atas Ella, mengunci kedua pergelangan tangan gadis itu ke lantai dengan cengkeraman yang kuat namun tidak menyakitkan.

"Apa maksud ciuman tadi?" tanya Wawan. Suaranya tidak lagi berisi lelucon konyol atau nada malas. Suaranya rendah, dalam, dan penuh dengan intensitas yang membuat bulu kuduk Ella merinding. Wajah Wawan masih sangat merah, dan napasnya memburu tepat di depan wajah Ella.

"Aku... aku tahu kamu tidak bodoh dalam hal cinta, Wawan. Kamu pasti tahu apa artinya," jawab Ella dengan suara kecil, mencoba mengatur napasnya yang mulai tidak beraturan. Wajahnya sendiri sudah terasa sangat panas, menandingi warna wajah Wawan.

"Jawab yang benar, Ella!" paksa Wawan, wajahnya semakin mendekat.

"Aku..." Ella menelan ludah dengan susah payah. Ia bisa merasakan cengkeraman tangan Wawan di pergelangan tangannya semakin erat, seolah pria itu tidak akan membiarkannya lepas sebelum mendapatkan apa yang ia inginkan.

"Aku apa?!" gertak Wawan lagi, matanya mengunci mata Ella dengan tajam.

"AKU MENYUKAIMU, WAWAN—!" teriak Ella akhirnya, melepaskan seluruh beban yang ia pendam.

Belum sempat Ella menyelesaikan gema suaranya, bibirnya sudah tersumpal dengan kasar namun penuh gairah oleh bibir Wawan. Berbeda dengan ciuman Ella tadi yang penuh keraguan dan hanya bersifat pembuktian, ciuman Wawan kali ini terasa menuntut, sangat dalam, dan dipenuhi dengan seluruh perasaan yang selama ini ia pendam rapat-rapat di balik topeng lelucon dan sikap tidak pedulinya. Di ruang kelas yang menjadi saksi bisu penghinaan, air mata, dan perjuangan mereka, Ella akhirnya menyadari sepenuhnya; ia tidak butuh pangeran berkuda putih yang sempurna. Ia hanya butuh seseorang yang membuatnya merasa utuh dan aman, bahkan di atas lantai kelas yang berdebu dan dingin.

1
Siti Nurlelah
ditunggu karya versi lainnnya ❤
Siti Nurlelah
😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!