Follow IG @Lala_Syalala13
Adrian Arkadia, seorang CEO jenius dan penguasa bisnis yang dingin, menyamar sebagai pria miskin demi memenuhi wasiat kakeknya untuk mencari cinta sejati.
Ia kemudian menikahi Arumi, gadis sederhana berhati emas yang dijadikan "pelayan" dan pemuas ambisi oleh ibu serta adiknya yang materialistis.
Di tengah hinaan keluarga mertua dan ancaman rentenir, Adrian menjalani kehidupan ganda yaitu menjadi kuli panggul yang direndahkan di malam hari, namun tetap menjadi raja bisnis yang menghancurkan musuh-musuhnya secara rahasia di siang hari.
Perlahan tapi pasti, Adrian menggunakan kekuasaannya untuk membalas setiap tetes air mata Arumi dan mengangkat derajat istrinya hingga para penindasnya berlutut memohon ampun.
Bagaimana kelanjutannya???
Jangan lupa mampir baca yaaaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BSB BAB 11_Syarat Sang Penyelamat
Arumi hanya tersenyum lelah, menyandarkan kepalanya di bahu Adrian.
"Aku tidak butuh jadi bintang Mas, aku hanya ingin kita selalu bersama seperti ini." tuturnya dengan tulus.
Adrian mengecup dahi istrinya, sementara pikirannya sudah melayang ke langkah selanjutnya.
Esok adalah hari di mana cicilan hutang kedua harus dibayar dan ia akan memberikan kejutan kecil yang akan membuat Pak Broto dan Bu Ratna gemetar.
Pagi itu, suasana di kediaman keluarga Arumi terasa lebih mencekam daripada biasanya.
Hari ini adalah tenggat waktu pembayaran sisa hutang kepada Pak Broto, Bu Ratna sudah mondar-mandir di ruang tamu dengan wajah pucat, sementara Siska terus menggerutu karena agensi modelnya mendadak membatalkan sesi pemotretan pagi ini tanpa alasan yang jelas.
"Mana suamimu Arumi?! Mana janji sepuluh jutanya? Ini sudah jam sembilan pagi!" teriak Bu Ratna ke arah dapur.
Arumi yang sedang menyiapkan teh hanya bisa diam, ia sendiri merasa cemas.
Meskipun Adrian selalu meyakinkannya, namun angka empat puluh juta rupiah bukanlah uang yang sedikit bagi seorang yang mengaku sebagai kuli panggul.
Tepat saat matahari mulai meninggi, sebuah motor matic tua yang suaranya batuk-batuk berhenti di depan rumah.
Adrian turun dengan pakaian kerjanya yang lusuh, namun langkah kakinya begitu tenang.
Di tangan kanannya, ia menjinjing sebuah kantong plastik hitam yang tampak berat.
Tak lama kemudian, mobil mewah Pak Broto berhenti di belakang motor Adrian.
Pria tambun itu turun dengan senyum kemenangan, yakin bahwa hari ini ia akan bisa menyeret Arumi menjadi istri keempatnya karena Adrian pasti gagal memenuhi janji.
"Bagaimana, Gembel?" sapa Pak Broto sambil melangkah masuk ke rumah tanpa permisi.
"Sudah siap menyerahkan istrimu padaku? Atau kau mau aku seret ke polisi karena berbohong soal hutang?"
Adrian tidak menjawab, ia berjalan ke meja makan dan meletakkan kantong plastik hitam itu, dan membukanya.
Di hadapan semua orang, tumpukan uang tunai pecahan seratus ribu dan lima puluh ribu rupiah tumpah ruah.
"Empat puluh juta rupiah. Lunas." ucap Adrian datar.
Semua orang di ruangan itu seolah membeku, Bu Ratna melotot, Siska menutup mulutnya dengan tangan, dan Pak Broto kehilangan senyumnya seketika.
"D-dari mana kau dapat uang sebanyak ini?!" tanya Bu Ratna dengan suaranya bergetar antara senang dan curiga.
"Aku menjual satu-satunya aset berharga yang aku punya dari kampung," bohong Adrian dengan lancar.
Sebenarnya itu adalah uang saku bulanan salah satu staff junior di kantor pusatnya yang ia minta Hendra cairkan dalam bentuk uang lama agar tidak terlihat mencolok.
Pak Broto menghitung uang itu dengan tangan gemetar, ia tidak bisa berbuat apa-apa secara hukum karena uangnya pas.
Dengan wajah merah padam karena malu dan kecewa, ia pergi meninggalkan rumah tanpa berkata sepatah kata pun.
Setelah Pak Broto pergi, Bu Ratna langsung hendak menyambar sisa uang yang ada di meja.
Namun tangan Adrian lebih cepat, ia menahan uang itu di bawah telapak tangannya.
"Tunggu Bu." kata Adrian.
Suaranya tidak lagi rendah hati seperti biasanya tapi ada otoritas yang tak terbantahkan di sana.
"Uang ini adalah harga diri Arumi dan saya melunasinya dengan satu syarat." ucap Adrian.
"Syarat apa lagi?! Kau kan menantu di sini, sudah kewajibanmu membantu!" seru Bu Ratna tidak tahu malu.
Adrian menatap mata ibu mertuanya dengan tajam.
"Mulai hari ini Arumi tidak boleh lagi mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang berat, dia bukan pelayan di rumah ini. Semua cucian baju Siska, pembersihan lantai, dan urusan dapur harus dibagi rata, dan yang paling penting... Ibu harus menandatangani surat perjanjian ini." serunya.
Adrian mengeluarkan secarik kertas dari sakunya, isi kertas itu sederhana namun mematikan yaitu,
Jika dalam waktu satu bulan ke depan Arumi menerima kekerasan fisik atau verbal dari Bu Ratna maupun Siska, maka rumah ini akan langsung jatuh ke tangan pihak ketiga (yang sebenarnya adalah perusahaan cangkang Adrian) karena sertifikatnya telah dijadikan jaminan secara diam-diam oleh Pak Broto.
Bu Ratna tertegun. "Apa? Pak Broto menjaminkan sertifikat rumah ini?!"
"Tentu saja, apa Ibu pikir dia memberi pinjaman lima puluh juta hanya dengan modal percaya?" Adrian tersenyum sinis.
"Dan sekarang, saya yang memegang kendali atas hutang itu, tandatangani atau saya biarkan rumah ini disita sekarang juga."
Dengan tangan gemetar karena terpojok Bu Ratna pun menandatangani kertas itu.
Siska hanya bisa merengut di pojok ruangan, merasa kekuasaannya di rumah mulai goyah.
Sementara itu di pusat kota rencana Adrian untuk memberi pelajaran pada Siska mulai bergerak ke tahap berikutnya.
Siska berangkat ke kantor agensi Vogue-Elite dengan perasaan angkuh, merasa bahwa statusnya sebagai "calon bintang" akan melindunginya dari segalanya.
Namun saat ia masuk ke lobi semua orang menatapnya dengan pandangan aneh.
Di layar televisi besar di lobi agensi, diputar sebuah rekaman video yang viral.
Rekaman itu memperlihatkan Siska yang sedang memaki seorang pelayan kafe dan membuang tas kakaknya ke tanah kemarin sore.
Video itu telah disunting sedemikian rupa dengan judul yaitu "Calon Model Vogue-Elite: Cantik di Luar, Busuk di Dalam."
"Apa-apaan ini?!" teriak Siska panik.
Manajer agensi yaitu seorang pria yang telah diinstruksikan oleh Hendra keluar dengan wajah dingin.
"Siska, perilakumu telah mencoreng citra agensi kami. Berdasarkan klausul perilaku moral di kontrakmu, kami terpaksa menunda semua jadwal pemotretan-mu." ucapnya.
"Tapi itu kan masalah pribadi! Kakakku saja tidak keberatan!" bela Siska.
"Citra adalah segalanya di dunia ini dan kau... kau adalah bencana bagi hubungan masyarakat kami. Pulanglah dan jangan kembali sampai masalah ini mereda." ucap sang manajer dengan tegas.
Siska keluar dari gedung dengan air mata bercucuran, ia tidak tahu bahwa fotografer, penyebar video hingga manajer yang memecatnya, semuanya adalah orang-orang yang gajinya dibayar oleh pria yang ia panggil "gembel" di rumahnya.
Di sisi lain Arumi merasa hidupnya sedikit lebih ringan, dengan adanya surat perjanjian dari Adrian, ibunya tidak berani lagi menyuruhnya mencuci tumpukan baju Siska.
Ia memiliki waktu luang untuk pergi ke perpustakaan kota atau sekadar menggambar di taman.
Sore itu saat Arumi sedang duduk di teras belakang, Adrian menghampirinya.
"Arumi ada sesuatu yang ingin ku tunjukkan." ujar Adrian sambil menyerahkan sebuah brosur kompetisi desain yang sudah diisi formulirnya.
Arumi membacanya dan matanya membelalak. "Kompetisi Global Interior Visionary? Mas, ini tingkat internasional! Bagaimana mungkin aku..." serunya terkejut.
"Aku sudah mengirimkan sketsa-mu yang kutemukan di bawah kasur," potong Adrian dengan senyum hangat.
"Dan tebak apa? Kau masuk dalam sepuluh besar finalis dari Indonesia." ucapnya dengan senang.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
...FOLLOW IG @LALA_SYALALA13...
...ULASAN DAN BINTANG LIMA NYA🌟...
...FAVORITKAN CERITA INI ❤️...
...VOTE 💌...
...LIKE 👍🏻...
...KOMENTAR 🗣️...
...HADIAHNYA 🎁🌹☕...
kpn kau sadar, heran seneng amat lihat suami tersiksa, jd sebel Ama Rumi jdnya sok yes 😡😡