NovelToon NovelToon
CINTA DI UJUNG DOA

CINTA DI UJUNG DOA

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen Angst / CEO / Cinta Terlarang / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa / Cintapertama
Popularitas:811
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Zahra, gadis miskin yang bekerja sebagai buruh cuci, jatuh cinta pada Arkan, pemuda kaya, tampan, dan taat beragama. Cinta mereka tumbuh sederhana di warung kopi, masjid, dan lorong kampung. Namun hubungan itu terhalang perbedaan status sosial dan agama: Zahra muslim, Arkan Kristen. Kedua keluarga menentang keras, ibu Arkan menolak, ayah Zahra memohon agar iman dijaga. Zahra berjuang lewat doa, Arkan lewat pengorbanan. Cobaan datang bertubi-tubi: penyakit, pengkhianatan, dan konflik keluarga. Saat harapan muncul, tragedi menghancurkan segalanya. Kisah ini tentang cinta tulus, doa yang perih, dan perjuangan yang berakhir dengan air mata, takdir pilu memisahkan mereka selamanya dalam keheningan abadi sunyi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: HUJAN DAN TAKDIR

# BAB 1: Hujan dan Takdir

Air hujan lebat nggak peduli sama orang miskin atau kaya. Sama-sama basah. Tapi bedanya, orang kaya bisa ngebut pulang naik mobil, sementara aku? Aku cuma bisa pelototin langit item sambil ngerasain berat ember plastik biru di tangan kanan—penuh baju kotor yang belum sempet aku cuci.

"Ya Allah... kenapa sih harus sekarang?"

Aku nggak ngomong sama siapa-siapa. Cuma ke langit. Ke Tuhan yang mungkin lagi sibuk ngatur hidup orang lain yang lebih penting dari aku, Zahra Amanda Putri. Buruh cuci keliling yang gajinya cuma cukup buat makan sehari-hari, bayar kontrakan yang atapnya bocor di mana-mana, sama beli obat Bapak yang makin hari makin banyak.

Hijab kumal kesayangan ku udah basah kuyup. Warnanya—aku lupa, tadinya biru muda atau abu-abu ya?—sekarang item semua kena lumpur jalanan. Kaki ku sakit. Sendal jepit yang solnya udah tipis kayak kerupuk nggak cukup kuat buat nahan dinginnya aspal becek.

"Mbak, mundur! Mobilnya lewat!"

Aku nyaris kepleset. Ember nyungsang dikit, tapi Alhamdulillah nggak tumpah. Mobil hitam gede—sedan mewah yang aku nggak tau merknya—ngebut lewat, cipratan air got nyembur kenceng. Kena. Dari ujung kaki sampe perut.

"Astagh—"

Nggak sempet marah. Nggak sempet teriak. Karena tiba-tiba aku ngerasain sesuatu aneh di telapak kaki. Lendir. Sabun cair dari baju-baju di ember tadi tumpah dikit. Sendal ku licin. Badan ku nggak seimbang. Dan...

BRAK!

Pantat ku nyium aspal basah. Sakit. Banget. Tapi yang lebih sakit itu hati. Karena baju-baju langganan—baju mahal punya Bu Ratna, Pak Dodi, dan keluarga Tan—sekarang berceceran di got item penuh sampah.

"Nggak... nggak..."

Air mata keluar. Campur sama air hujan. Rasanya pengen teriak tapi suara ku ilang. Tanganku gemetar ngeraih satu-satu baju yang ngambang di got. Kemeja putih Pak Dodi—bercak kuning dimana-mana. Mukena Bu Ratna—item pekat. Boneka kesayangan Keke, anak Bu Tan—robek di bagian perut, isinya keluar.

"Gimana aku ganti ini... gimana..."

Aku nggak tau harus gimana. Uang kontrakan aja belum kebayar. Obat Bapak masih numpuk di warung Bu Sari yang baik hati nungguin aku bayar kapan-kapan. Dan sekarang... sekarang aku harus ganti barang-barang mahal ini pake apa?

"Mbak... mbak, nggak apa-apa?"

Suara. Suara laki-laki. Berat tapi nggak galak. Aku nggak ngangkat muka. Malu. Malu banget. Orang lewat pada ngeliatin. Ada yang ketawa. Ada yang geleng-geleng kepala. Tapi nggak ada yang bantuin.

"Mbak, tangannya... berdarah..."

Baru sadar. Telapak tangan kanan ku perih banget. Lecet parah kena aspal. Darah ngalir campur air hujan. Tapi aku nggak peduli. Yang penting baju-baju ini—

"Udah, biar aku bantuin."

Eh?

Tiba-tiba ada tangan kekar—kulitnya putih bersih—nyamperin ember terbalik di sebelah ku. Laki-laki itu—siapa dia?—nggak jijik. Nggak ngeluh. Dia malah ikutan ngambil baju-baju kotor dari got. Satu-satu. Pelan-pelan. Hati-hati.

"Pak... Pak nggak usah... itu kotor..."

"Nggak apa-apa, Mbak." Dia senyum. Senyum tulus yang nggak pernah aku liat dari orang asing. "Lebih penting Mbak-nya dulu. Tangannya berdarah."

Aku bengong. Otak ku loading. Siapa sih orang ini? Kok baik banget? Kok nggak jijik? Kok... tampan banget?

Astagh. Zahra, fokus!

Tapi beneran deh. Laki-laki di depan ku ini... beda. Tinggi, mungkin 178-an. Rambut hitam basah kuyup kena ujan tapi tetep rapi. Jas abu-abu mahal—aku tau itu mahal soalnya pernah nyuci jas kayak gitu, sekali cuci dikasih lima puluh ribu. Sepatunya... ya Allah, sepatu pantofel kilap gitu pasti harganya di atas satu juta.

"Mbaknya kenal aku?"

"H-hah?" Aku gelagapan. Ketahuan ngeliatin.

Dia ketawa. Suaranya... aneh. Bikin dada ku aneh. Kayak ada kupu-kupu. Ih, apaan sih.

"Soalnya dari tadi ngeliatin terus."

"B-bukan... aku cuma... makasih udah bantuin..." Aku nyolong baju terakhir dari got—gamis anak kecil—terus buru-buru masukin ke ember. "Udah Pak, udahan. Nanti Bapak basah..."

"Udah basah juga dari tadi." Dia natap aku. Tajam. Tapi nggak serem. Malah... hangat? "Mbak mau kemana? Aku anterin."

"NGGAK!" Aku teriak. Kaget sendiri. "M-maksudku... nggak usah Pak. Aku bisa jalan sendiri."

"Tangan Mbak berdarah. Beratnya udah berapa kilo? Belum lagi ujan gini..."

"Aku biasa kok, Pak. Makasih banyak ya..."

Aku maksain senyum—meskipun muka ku pasti ancur berantakan—terus jalan. Atau maksain jalan. Soalnya sendal ku tambah licin. Ember tambah berat. Dan tangan ku tambah perih.

Belum lima langkah, aku denger suara hujan diredam sesuatu.

Payung.

Payung item gede melayang di atas kepala ku. Aku nengok ke belakang. Laki-laki itu—masih di situ. Berdiri sambil nyodorin payung. Dia... dia nggak pake payung. Jadi dia kehujanan demi ngasih payung ke aku?

"Pake ini, Mbak. Ntar sakit."

"P-pak... tapi Bapak..."

"Aku nggak apa-apa. Mobilku deket kok." Dia nunjuk sedan hitam yang parkir nggak jauh. "Mbak yang butuh ini."

Aku mau nolak. Mau bilang nggak perlu. Tapi...

"...makasih."

Aku nerima. Bodoh ya? Tapi aku lelah. Capek. Dan tangan ku beneran sakit. Jadi aku terima aja.

"Mbak tinggal dimana? Aku anter—"

"Nggak usah, Pak. Rumah ku deket kok." Bohong. Masih dua kilometer lagi. "Makasih banyak ya Pak... Pak siapa?"

"Arkan." Dia senyum lagi. Senyum yang bikin jantung ku—astagh, berhenti Zahra. "Arkan Alexander. Kalau Mbak?"

"Zahra... Zahra Amanda."

"Zahra..." Dia ngulang namaku pelan. Suka banget caranya ngomong. Lembut. "Nama yang bagus."

Aku nggak jawab. Cuma keburu nunduk. Muka ku panas. Panas banget padahal ujannya dingin.

"Ya udah, Zahra. Hati-hati ya. Kalau tangannya makin parah, langsung ke klinik."

"Iya Pak... eh, Mas..." Kok jadi Mas? "Maaf... maksudku..."

"Panggil Mas aja. Santai." Dia udah jalan mundur. Basah kuyup. "Payungnya boleh dibawa. Kapan-kapan ketemu lagi, balikin ya."

Ketemu lagi?

"T-tapi... gimana cara balikin—"

"Kita pasti ketemu lagi, Zahra. Takdir."

Dan dia ngeloyor gitu aja. Masuk ke sedan hitam. Mesinnya nyala. Lampu sen berkedip. Dan mobil itu pergi.

Aku berdiri kayak orang bego. Di tengah ujan. Megang payung mahal yang nggak pantas di genggaman buruh cuci kayak aku. Menatap mobil yang makin menjauh.

"Takdir, katanya..."

Aku senyum. Entah kenapa senyum. Padahal baju cucian hancur semua, tangan berdarah, badan basah kuyup. Tapi...

"...Ya Allah, apaan sih aku ini?"

---

Gerimis masih turun. Nggak deras kayak tadi, tapi cukup buat bikin badan makin dingin. Aku jalan pelan—nyaris nyeret kaki—sambil natap ember plastik biru yang penuh baju basah kuyup. Baunya... ya Allah, baunya udah kayak got campur sabun basi.

Sepanjang jalan, otak ku nggak bisa diem. Terus kepikiran laki-laki tadi.

Arkan Alexander.

Namanya aja udah fancy. Beda banget sama nama-nama orang di kampung ku. Pak Bambang. Bu Ria. Mas Joko tukang sayur. Mbok Tini penjual gorengan. Nama mereka... sederhana. Kayak aku. Zahra Amanda. Nama yang nggak ada istimewanya.

Tapi dia bilang... nama ku bagus.

"Heh, ngapain senyam-senyum sendiri?"

Aku berhenti. Muka ku langsung datar. Di ujung gang, ada Kang Sobirin—preman pasar yang suka nagih uang keamanan—nongkrong sambil ngerokok. Tatapannya... serem. Kayak lagi ngukur harga barang.

"Nggak... nggak apa-apa, Kang." Aku langsung nunduk. Jalan cepet. "Permisi..."

"Eh tunggu."

Tangannya nyamber lengan ku. Keras. Aku kaget sampe ember nyaris jatuh lagi.

"K-Kang... sakit..."

"Uang keamanan bulan ini belum dibayar."

"Iya Kang, minggu depan ya... Zahra janji..."

"Minggu depan mulu. Udah tiga bulan nunggak!" Dia lempar puntung rokok sembarangan. Kenapain jalanan. "Lu pikir gua baik hati?"

"Kang, tolong... Bapak Zahra lagi sakit... Zahra lagi susah..."

"Gua nggak peduli. Lu kerja kan? Pasti ada duit."

"Zahra cuma buruh cuci, Kang... Gajinya dikit..."

"Dikit tapi kan ada!" Dia makin deket. Bau rokoknya nyium sampe ke muka. "Sekarang. Bayar sekarang. Seratus ribu."

Seratus ribu.

Uang yang harusnya buat beli beras. Buat bayar listrik. Buat makan Bapak besok pagi.

"Kang... Zahra... Zahra nggak punya uang sekarang... besok ya Kang... Zahra janji—"

GREP.

Ember ku disaberin. Baju-baju kotor tumpah lagi. Kali ini nggak kena got, tapi kena tanah becek penuh lumpur.

"Kang! Kenapa—"

"Lu mau bayar atau nggak?"

Aku nggak bisa jawab. Kerongkongan ku kayak dicekek. Mata ku mulai panas. Nangis? Atau marah? Aku nggak tau. Yang jelas, aku capek. Capek banget sama hidup kayak gini.

"...nggak punya, Kang."

"Bagus." Dia injek ember plastik ku. Gepeng. Hancur. "Minggu depan lu bayar dua ratus ribu. Telat lagi, gua dateng ke kontrakan lu."

Dan dia pergi. Gitu aja. Ninggalin aku sendirian di tengah jalan becek. Ember ku rusak. Baju-baju cucian—yang udah rusak dari tadi—sekarang makin nggak layak.

Aku duduk. Di pinggir jalan. Nggak peduli celana ku basah. Nggak peduli orang pada lewat sambil ngeliatin. Aku cuma... capek.

"Ya Allah... kenapa hidup ku kayak gini?"

Air mata jatuh. Perlahan. Dicampur gerimis yang nggak kunjung berenti.

Payung item Arkan masih di tangan kanan. Tapi aku nggak buka. Biar aja basah. Toh hidup ku udah cukup basah dari awal.

"Takdir, katanya..."

Aku ketawa. Getir.

Kalau ini takdir, berarti Tuhan lagi ujian aku habis-habisan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!