Deanada Kharisma, hampir 3 tahun menjalani kehidupan remaja diantara toxic circle. Memiliki teman yang toxic, menindas, bertindak sesukanya, dan melakukan diskriminasi.
Namun siapa sangka di balik itu, sebenarnya ia menyimpan rahasia bahkan dari teman-temannya sendiri, hingga Tuhan mempertemukannya dengan Rifaldi yang merupakan pemuda broken home sekaligus begundal sekolah dan naasnya adalah musuh bebuyutannya di sekolah.
Bagaimana Tuhan membolak-balikan perasaan keduanya disaat faktanya Dea adalah seorang korban victim blaming?
Conquer me ~》Taklukan aku....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13🩷 Ditodong
Rifal mencolek seorang anak dari kelas MIPA 2 saat kembali mendapati Inggrid hanya berjalan dengan 3 orang pemuda, lalu bertemu dengan siswi dari kelas lain yang mungkin satu circle dengan mereka.
"Lo kelas MIPA 2 kan? Deanada ngga masuk?" tanya nya, caranya bicara itu membuat gadis itu langsung mengangguk, "sakit katanya." Ia langsung pergi.
"Sakit..." alisnya mengernyit. Lah, kemaren.. Apa gara-gara kemaren?
Rifal langsung saja mencemplungkan pulpen dan bukunya ke dalam tas kala guru di depan sudah menutup pelajaran, tanpa repot-repot memakai tempat pensil dan sebagainya. Padahal, biasanya ia tak akan terlalu peduli dengan itu dan lebih memilih untuk langsung menaikan kaki ke meja atau menenggelamkan kembali kepalanya di lipatan tangan, berdiam sejenak di kelas untuk kemudian baru beranjak.
Tak peduli jika alat-alat tulisnya itu jatuh sampai hilang, sering sekali....pulpennya hilang mulai dari tutup lalu sepulpen-pulpen berujung pinjam pada Tasya, atau Rika.
Mulai dari Muti sampai Mery sudah bosan meminjami salah satu anak pebisnis ini pulpen sebab sering hilang, *anak orang kaya berasa gembel*...
"Tumben, mau kemana? Udah diberesin. Awas pulpen Muti tuh!" tuduh Vian menunjuk pulpen pink hello kitty yang tadi ia masukan ke dalam tas. Jangan sampai karakter hello kitty berubah jadi joker setelah keluar dari tas Rifal.
"Tau. Makanya...gue masukin tas dulu, biar ngga ilang."
"Abis ini ke warung, apa ke basecamp?" tanya Vian lagi menyampirkan tas di pundak.
"Gue ada urusan dulu. Balik duluan lah..." jawabnya.
"Urusan apa?" tanya Vian.
"Emhhh, besuk Bu RT di komplek gue, sakit." Jawabnya.
Vian melongo, "an jing, mustahal."
Benar, sikap Rifal yang tak biasa ini membuat mereka notice bahkan Tasya sudah mendongakan kepalanya ke atas langit, "ini ngga akan hujan kan, ya? Tumben ada yang udah rapi-rapi terus langsung keluar bangku, biasanya langsung merem. Ngga lagi ambeien kan, om Fal?"
Mereka tertawa, namun Rifal tak mempedulikan cibiran mereka yang terdengar biasa saja itu, "kalo gitu Lo siap-siap mandi. Kan Lo mandinya kalo hujan, Sya?!" timpal Andi.
"Heiii! Yang piket ihhh, lupa deh lupa, so so lupa!" teriak Dian menunjuk ke arah Vian dan Rio yang sudah siap beranjak.
"Om Fal, ini anak-anak yang piket urusin ihhh! Seksi kebersihan gimana sih!"
Dan kembali mereka tertawa, yang benar saja....bagaimana sih cara kerja mereka memilih keorganisasian kelas, Rifal dipilih sebagai seksi kebersihan sementara kerjanya saja tidur, bahkan pernah kedapatan datang ke sekolah tak mandi. Lalu ada Rama di seksi keamanan sementara dia saja terkenal sebagai provokator kabur dari sekolah untuk main PS di warung babeh.
Lalu ada Yusuf, di seksi kerohanian, sementara doyannya gombal sana sini sambil ngomong me sum.
Gilang tertawa menarik beberapa anak yang piket untuk kembali ke kelas, "Yo...ngga usah ngalesan, Yan...elah."
Nara terkekeh, sementara Rifal...ia berbalik kembali dan hanya----
"Semangat regu piket!" ucapnya mengundang gelak tawa.
"Saravvv an jing, begitu doang pidatonya?" Ridwan mengumpat.
Meninggalkan kericuhan kelas, Rifal berjalan menuju ke arah motornya, melirik sekilas mobil Willy yang masih terparkir tanpa pengemudinya.
Ia langsung memakai helm dan melaju keluar gerbang sekolah. Entah angin apa yang membawanya melajukan motor ke toko buah, membungkus beberapa jenis buah dalam parsel cantik sebagai buah tangan.
"Debit bisa?" tanya nya pada kasir yang langsung diangguki oleh karyawan toko.
Sempat menatap pantulan diri di pintu kacanya, Rifal menyugar rambut yang mulai gondrong itu lalu sadar dengan pakaian berantakannya kemudian merapikannya sebentar sembari menunggu karyawan toko mengemas buah.
*Demi permintaan maaf, oke*...angguknya namun jauh di otaknya---Mungkin jika dibelah, maka wajah Dea akan terpampang besar bak baligho caleg.
"Makasih." ucapnya, kenapa jadi manis begini. Ia mencantelkan keresek besar itu di depan motor dan melaju kembali setelah memakai helm.
Dea, masih setia dengan kaos yang menutup hampir sepanjang celana pendek, dan hari ini, tak ada softlens yang membuat matanya perih. Ia memutuskan untuk menonton televisi dengan kacamata yang membuatnya nyaman, setelah sempat membaca novel favoritnya tadi.
Ada lirikan khawatir darinya sebab tadi pagi, Inggrid dan yang lain berencana ke rumahnya siang ini...namun setelah mereka nongkrong sebentar di luar.
Ia masih enggan bergerak, bahkan suara motor yang datang di luar rumah masih tak ia hiraukan, Dea masih asik menonton.
"Assalamualaikum..."
Suara itu berulang sampai 3 kali, namun tak jua membuat Dea notice dengan itu, yang kebetulan sekali ada Bu Etin yang membantu mama menggosok baju melintas setelah selesai mengerjakan tugasnya.
"Neng, ibu pulang ya...udah selesai kok. Kalo ibu Sarah tanya..."
Dea mengangguk, "makasih Bu. Hati-hati..." jawabnya.
Hanya berselang beberapa detik, Bu Etin kembali, "neng Dea, di depan ada tamu."
"Siapa Bu?"
"Anak SMA laki-laki, pacarnya neng Dea mungkin." kekehnya membuat Dea mengernyit dan cukup penasaran, "ah ngaco! Dea ngga punya pacar..."
Apa Jovanka?
Dea melirik kembali jam, tidak mungkin Inggrid dan Gibran, sebab mereka akan tiba-tiba melengos saja masuk, lagipula masih jam segini.
Dea berjalan tanpa melepaskan kacamatanya, saking penasarannya ia terlupa.
"Neng De, ibu pulang ya..."
"Iya."
Dea berjalan tepat di belakang Bu Etin yang sudah melewati carport dan bahkan, "masukin aja atuh a, motornya ke dalem." ucapnya di balik pagar rumah hingga akhirnya saat langkah sepatu itu masuk sepeninggal Bu Etin...
Dea menghentikan langkah yang sudah meninggalkan gawang pintu beberapa langkah dan cukup membeku melihat kedatangannya.
Begitupun Rifal yang melihat Dea, gadis yang sejak pagi tadi oke...ia akui ia mencarinya.
"Sorry ini gue...katanya Lo sakit?" ucapnya mendekat membawa parsel buah dengan pita di atasnya.
"Lo...ssshhh. Ngapain--ya ampun." Lenguh Dea, dalam kurun waktu dua hari ini, dan Rifal sudah benar-benar membongkar bagaimana dirinya yang sebenarnya. Apa ia semacam rampok, begal, maling atau detektif yang---
"Darimana Lo tau. Pasti Nara?" tebaknya kembali mele nguh frustasi. Besok juga kalo perlu, ia bakalan tau ukuran sepatu Dea, by the way....
Rifal menatap Dea tersenyum, entahlah senyumnya itu melebar sendiri tanpa diperintah otak, "get well soon?" tunjuknya pada parsel buah, "pantesnya orang besuk itu diterima dengan baik, kan?"
Dea menatap Rifal gamang, "mau Lo tuh apa sih? Oke ini keadaan gue yang sebenarnya, sekarang Lo tau, gue punya asma, mata gue bermasalah. Gue penyakitan."
Namun kehadiran manusia lain disana justru menjadi malaikat penolong keadaan.
"Eh, ada temen Dea. Siapa ini? Kenapa ngga disuruh masuk, De? Masa di luar?!" mama bahkan menyentuh punggung tas Rifal sekilas dan bersiap melengos masuk, namun malah terhenti disana ...iya diantara mereka, "masuk...sini di dalem...itu di luar motor kamu bukan?"
"Oh iya Tante."
"Masukin aja. Tante sempet ngira itu motor kurir paket..."
Dea mengerjap saat mama berkata seolah-olah sedang mencairkan suasana. Tak tau saja, jika pemuda yang diajak masuk itu adalah pemuda yang mele cehkan anakmu, maaaaa! Jerit Dea.
Dea masuk terlebih dahulu meninggalkan Rifal yang masih diluar lalu menyusul masuk.
Benar, cara Rama cukup ampuh untuk mengajak perempuan bernegosiasi, bagaimana tidak caranya itu menodong langsung ke rumahnya. Mau lari kemana kalau begitu?
.
.
.
dea harus bangga atau sedih ya dapat cinta brutal dr bedboy