"Dulu aku berjanji di depan Tuhan untuk menjaganya, namun dunia seolah memaksaku untuk ingkar."
Tian hanyalah seorang pria sederhana yang dianggap 'tidak berguna' oleh keluarga besar istrinya, Mega. Pernikahan mereka yang didasari cinta suci harus berhadapan dengan tembok tinggi bernama kemiskinan dan penghinaan. Saat Mega divonis mengidap penyakit langka yang membutuhkan biaya miliaran, Tian tidak menyerah.
Ia menjadi kuli di siang hari, petarung jalanan di malam hari, hingga terseret ke dalam pusaran dunia gelap demi satu tujuan: Melihat Mega tersenyum kembali. Namun, saat harta mulai tergenggam, ujian sesungguhnya datang. Apakah kesetiaan Tian akan tetap utuh saat godaan wanita lain dan rahasia masa lalu Mega mulai terkuak?
Ini bukan sekadar cerita tentang cinta, tapi tentang pembuktian bahwa bagi seorang suami, istri adalah surga yang layak diperjuangkan meski harus melewati neraka dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: Nafas yang Tercuri
Genggaman tangan Tian di leher Adrian bukan sekadar cengkeraman fisik; itu adalah akumulasi dari setiap tetes air mata Mega, setiap hinaan ibu mertuanya, dan setiap rasa lapar yang ia tahan selama bertahun-tahun. Wajah Adrian yang tadinya perlente kini berubah menjadi merah padam, matanya membelalak ketakutan saat ia menyadari bahwa uang miliaran di banknya tidak bisa membelikan sedetik pun oksigen dari tangan pria yang sedang mengamuk ini.
"Lepaskan... aku..." rintih Adrian, suaranya parau tertahan di tenggorokan.
"Kau ingin tahu rasanya tidak bisa bernapas, Adrian? Kau ingin tahu rasanya melihat maut menjemput sementara orang yang kau cintai hanya bisa menonton?" bisik Tian tepat di telinga Adrian. Suaranya begitu dingin hingga membuat polisi-polisi yang mengepung mereka ragu untuk melepaskan tembakan.
Di dalam kamar itu, suasana berubah menjadi medan perang mental. Paman Hasan, melalui pengeras suara rumah sakit, terus memutar rekaman dosa-dosa Adrian. Suara itu menghujam moral para polisi yang disuap. Mereka yang tadinya yakin sedang menangkap teroris, kini menyadari bahwa mereka sedang melindungi seorang iblis.
"Turunkan senjata kalian!" teriak petugas polisi muda yang memberikan kunci borgol pada Tian tadi, ia tiba-tiba masuk ke ruangan dan menodongkan senjatanya ke arah rekan-rekannya sendiri. "Kalian dengar rekaman itu? Kita dimanfaatkan oleh bajingan ini!"
Kekacauan pecah. Di tengah kebisingan itu, Mega perlahan-lahan berusaha melepas masker oksigennya sendiri. Dengan sisa tenaga yang nyaris habis, ia mengulurkan tangannya ke arah Tian.
"Mas... sudah..." bisik Mega. Matanya memohon agar suaminya tidak menjadi pembunuh. Mega tidak ingin surga yang ia puja berubah menjadi neraka karena darah seorang bajingan.
Mendengar suara lembut itu, kekuatan di tangan Tian sedikit mengendur. Namun, Adrian yang licik memanfaatkan celah itu. Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah alat kejut listrik kecil, dan menghantamkannya ke pinggang Tian yang sedang terluka.
Bzzzzzt!
Tubuh Tian kaku seketika, tersentak oleh ribuan voltase listrik. Ia jatuh tersungkur ke lantai. Adrian terbatuk-batuk, menghirup udara dengan rakus sambil tertawa gila.
"Kau pikir kau menang?!" Adrian berteriak sambil menendang rusuk Tian yang sudah patah. "Aku punya kota ini dalam genggamanku! Rekaman itu bisa kuhapus besok pagi! Polisi-polisi ini akan tetap mengikuti perintahku karena aku yang membayar sekolah anak-anak mereka!"
Adrian berbalik ke arah petugas polisi muda itu. "Tembak dia! Sekarang! Atau aku pastikan keluargamu menghilang malam ini juga!"
Petugas muda itu gemetar. Dilema antara kebenaran dan keselamatan keluarga menghimpitnya. Moncong senjatanya kini terarah tepat ke kepala Tian yang masih berusaha bangkit dari lantai.
Tian menatap ke arah ranjang. Ia melihat Mega sedang menangis tanpa suara, air matanya membasahi bantal rumah sakit yang putih. Di titik terendah ini, Tian menyadari satu hal: Kebenaran tidak cukup untuk melawan kekuasaan. Ia butuh sesuatu yang lebih besar.
Tiba-tiba, suara helikopter menderu tepat di atas atap rumah sakit. Lampu sorot besar menembus jendela kamar VIP, menyilaukan semua orang di dalam ruangan. Dari pengeras suara helikopter, terdengar suara otoritas yang jauh lebih tinggi.
"Ini Komisaris Jenderal Yudha dari Mabes Polri. Seluruh unit di lantai empat, segera letakkan senjata! Area ini diambil alih oleh Satuan Khusus!"
Wajah Adrian yang tadi penuh kemenangan seketika pucat pasi. Nama itu Komisaris Jenderal Yudha adalah satu-satunya orang yang tidak pernah bisa ia suap. Dan yang lebih mengejutkan, Yudha adalah pria yang fotonya tersimpan di dalam kartu memori yang diberikan oleh Paman Hasan.
Pintu kamar didobrak dari luar oleh pasukan berseragam hitam taktis lengkap dengan tameng baja. Adrian mencoba berlari menuju jendela, namun ia terpojok. Di saat yang sama, monitor jantung Mega tiba-tiba mengeluarkan suara tit... tit... tit... yang sangat panjang. Garis di layar kembali mendatar. Mega mengalami serangan jantung akibat stres yang berlebihan. Tian merangkak menuju ranjang, mengabaikan luka-lukanya. "Mega! Jangan sekarang! Semuanya sudah berakhir, Mega!" Namun, perawat medis dari tim khusus segera mendorong Tian menjauh untuk melakukan CPR darurat. Akankah keadilan yang baru saja datang harus dibayar dengan nyawa Mega?
Ruangan yang tadinya penuh dengan aroma permusuhan kini berubah menjadi medan pertempuran medis yang mencekam. Tim medis khusus dari Mabes Polri bergerak dengan presisi yang menakutkan, sementara Adrian diseret keluar ruangan dengan kasar oleh pasukan taktis. Adrian masih sempat berteriak tentang kekuasaan dan pengacaranya, namun suaranya segera hilang ditelan riuhnya suara alat medis.
Tian duduk bersimpuh di lantai koridor, tangannya yang bersimbah darah gemetar hebat. Ia melihat ke dalam ruangan melalui celah pintu yang terbuka. Dokter sedang menggunakan alat kejut jantung pada Mega. Tubuh istrinya yang rapuh terlonjak setiap kali aliran listrik itu dialirkan.
Satu kali... Tidak ada respon.
Dua kali... Garis di monitor masih lurus.
"Tuhan, ambil nyawaku saja. Jangan dia," isak Tian. Ia merasa setiap detak jam dinding di koridor itu seperti palu yang memukul kepalanya. Ia telah berjuang melewati neraka, bertaruh nyawa di ring petarung, menjadi buronan, dan menyabung nyawa di gedung-gedung tinggi hanya untuk sampai pada momen ini melihat istrinya berada di ambang kematian yang nyata.
Komisaris Jenderal Yudha berjalan mendekati Tian. Ia adalah pria paruh baya dengan tatapan mata yang bijak namun tajam. Ia menyerahkan sebuah sapu tangan pada Tian.
"Pamanmu, Hasan, adalah teman lamaku di medan perang. Dia memberitahuku segalanya," ucap Yudha rendah. "Maaf kami sedikit terlambat. Adrian telah menutupi jejaknya dengan sangat rapi selama bertahun-tahun."
Tian tidak menoleh. Matanya hanya terpaku pada pintu kamar itu. "Jika dia pergi, keadilan ini tidak ada gunanya bagi saya, Pak."
Yudha terdiam. Ia tahu, bagi pria seperti Tian, dunia ini berputar hanya pada satu poros bernama Mega. Harta, pangkat, dan kemenangan hukum hanyalah debu jika sang "surga" telah tiada.
Tiba-tiba, dari dalam ruangan, terdengar suara tarikan napas yang dalam dan kasar, diikuti oleh bunyi Bip... Bip... yang tidak beraturan namun kembali berdenyut.
"Pasien kembali! Denyut nadi stabil!" teriak salah satu dokter.
Tian seolah mendapatkan kembali jiwanya. Ia mencoba berdiri, namun kakinya yang patah menyerah. Ia merangkak menuju pintu, dan kali ini petugas tidak menghalanginya. Ia melihat Mega membuka matanya sedikit, menoleh ke arahnya, dan memberikan sebuah senyum paling tipis yang pernah Tian lihat senyum yang menandakan bahwa peperangan ini, setidaknya untuk malam ini, telah dimenangkan.
Namun, di tengah kelegaan itu, Yudha menerima sebuah laporan melalui walkie-talkie-nya. Wajahnya mengeras. Ia menatap Tian dengan tatapan penuh simpati yang baru.
"Tian... ada satu hal lagi. Saat pengepungan di kantor logistik Adrian tadi, tim kami menemukan sesuatu. Ibumu di desa..." Yudha menggantung kalimatnya, membuat jantung Tian kembali mencelos.
Yudha menunjukkan sebuah foto di tablet digitalnya. Bukan foto jenazah, melainkan foto sebuah rumah yang hangus terbakar. "Adrian memerintahkan pembakaran rumah ibumu beberapa jam yang lalu untuk menghilangkan bukti. Ibumu selamat, tapi dia dibawa oleh sekelompok orang yang tidak dikenal sebelum tim kami sampai. Mereka meninggalkan pesan untukmu." Yudha menyerahkan secarik kertas yang terbakar di pinggirnya. Isinya singkat namun mengerikan: "Satu nyawa untuk satu nyawa. Jika kau ingin ibumu kembali, lepaskan bukti asuransi itu dan datanglah ke pelabuhan tua sendirian sebelum fajar." Tian mengepalkan tangannya kembali. Ternyata, naga yang ia lawan belum benar-benar mati; ia baru saja menunjukkan taringnya yang paling beracun.
Lanjut bab 9...