"Sepuluh tahun lalu, Victor menyebut cinta Achell sebagai 'lelucon'. Sekarang, Achell kembali untuk memastikan Victor merasakan betapa pahitnya akhir dari lelucon itu. Sebuah kisah tentang penyesalan yang terlambat, cinta yang mati rasa, dan harga mahal dari sebuah keangkuhan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Darah di Atas Aspal London
Suasana restoran mewah itu mendadak sunyi senyap setelah dentingan pena yang hancur berkeping-keping di lantai. Achell tidak menunggu pembelaan lebih lanjut dari Jake, tidak pula menunggu permintaan maaf dari Victor yang membeku. Rasa malu yang begitu hebat, rasa terhina yang membakar dada, dan rasa sakit karena cintanya diinjak-injak membuatnya kehilangan akal sehat.
Achell berlari. Ia mengabaikan panggilan Jake yang menggema di dalam restoran. Ia mengabaikan tatapan mata para tamu elit yang mengikutinya. Ia hanya ingin pergi sejauh mungkin dari pria yang baru saja membunuh jiwanya tepat di hari ulang tahun pria itu sendiri.
"Achell! Gabriella, berhenti!" teriak Jake sambil berusaha mengejar.
Achell keluar dari gedung The Shard dengan isak tangis yang menyesakkan dada. Penglihatannya kabur oleh air mata. Dinginnya malam London menusuk kulitnya yang hanya terbalut gaun tipis, namun itu tidak sebanding dengan dinginnya hati Victor. Ia berlari menyeberang jalanan sibuk di pusat kota tanpa memperhatikan lampu lalu lintas.
"ACHELL, AWAS!" Suara Jake menggelegar dari kejauhan.
Di saat yang sama, sebuah mobil sedan hitam melaju kencang dari sisi kanan. Pengemudinya terlambat menginjak rem. Suara decitan ban yang beradu dengan aspal membelah malam, diikuti dengan suara benturan logam dan tubuh yang sangat keras.
Bruk!
Tubuh mungil Achell terlempar ke udara, meluncur beberapa meter sebelum akhirnya menghantam aspal dengan posisi yang mengerikan. Gaun biru pucatnya dalam sekejap ternoda oleh cairan merah pekat yang mengalir dari kepalanya. Sepatu hak tingginya terlepas, tergeletak jauh di tengah jalan.
"TIDAK! GABRIELLA!" Jake menjerit, suaranya pecah oleh ketakutan yang luar biasa. Ia berlari secepat kilat dan langsung berlutut di samping tubuh keponakannya yang sudah tidak bergerak. "Achell... sayang, bangun! Buka matamu! Uncle Jake di sini!"
Victor, yang baru saja sampai di trotoar setelah tersentak dari kekakuannya, mendadak berhenti bernapas. Seluruh dunianya seakan runtuh dalam satu detik. Ia melihat Achell—gadis yang tadi pagi masih tersenyum padanya, gadis yang ia tuduh dengan keji—kini tergeletak bersimbah darah di bawah lampu jalan yang temaram.
Victor melangkah maju dengan kaki yang terasa seperti lumpuh. "Achell..." bisiknya dengan suara yang hilang.
Jake mendongak, matanya yang biasa tenang kini penuh dengan kilatan kebencian dan air mata. "Jangan mendekat, Victor!" bentak Jake dengan suara yang bergetar hebat. "Jangan berani-berani kau menyentuhnya dengan tangan kotor yang baru saja menghancurkan hidupnya!"
Victor terpaku. Ia melihat darah Achell yang mulai membasahi aspal, warna merah yang sama dengan warna pita yang tadi melingkari hadiahnya. Ia melihat luka-luka lecet di kulit putih Achell yang biasanya ia jaga dengan fasilitas terbaik.
"Jake, aku... aku harus membawanya ke rumah sakit," ucap Victor, suaranya gemetar, sangat jauh dari citra pria berkuasa yang biasanya ia tunjukkan.
"Kau?" Jake tertawa pahit di tengah isak tangisnya. "Kau adalah alasan dia berlari ke jalan ini! Kau adalah sanksi baginya, Victor! Selama sepuluh tahun dia memujamu, dan kau membalasnya dengan darah ini!"
Jake segera meraih ponselnya, memanggil ambulans dengan tangan gemetar. Ia membungkus tubuh Achell yang mendingin dengan mantel cokelatnya, mengabaikan Victor yang berdiri seperti patung di belakangnya.
Victor menatap tangannya sendiri. Ia menyadari sebuah kenyataan yang mengerikan: dia tidak bisa menyalahkan siapa pun. Dia tidak bisa menyalahkan pengemudi mobil yang menabraknya, karena Achell-lah yang berlari tanpa arah. Dan Achell berlari karena dia.
Gengsinya yang setinggi langit baru saja menabrak kenyataan yang paling pahit. Di atas aspal dingin London, di hari kelahirannya, Victor justru menyaksikan "kematian" dari satu-satunya orang yang mencintainya tanpa syarat.
"Achell... maafkan aku," bisik Victor dalam keheningan yang mematikan, namun kata-kata itu terbang tertiup angin, tak sampai pada telinga gadis yang kini sedang berjuang antara hidup dan mati.