cerita kehidupan sehari-hari (slice of life) yang menyentuh hati, tentang bagaimana tiga sahabat dengan karakter berbeda saling mendukung satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anang Bws2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pertemuan
Angin sedikit menerpa wajah Rohita saat dia berjalan dengan langkah cepat, wajahnya penuh kesal karena baru saja bertengkar dengan teman kostnya tentang pembagian tagihan listrik. Hanya berusia 20 tahun, dia memang dikenal mudah marah—kadang-kadang emosinya keluar tanpa dia bisa kendalikan, namun di balik itu tersembunyi hati yang peduli. Tiba-tiba, dia melihat seorang gadis muda dengan rambut panjang yang jatuh rapi di pundaknya, sedang duduk di tepi jalan dengan badan menggigil dan tangisan yang tersendat-sendat mengganggu ketenangan sore hari. Gadis itu memejamkan mata, sambil menyeka air mata dengan bagian lengan bajunya yang sudah sedikit kusut.
Rohita berhenti sejenak, hati yang tadinya panas karena kemarahan tiba-tiba terasa sesak melihat kondisi gadis itu. “Hei! Apa salahmu? Kenapa menangis sendirian di sini?” ujar Rohita dengan nada yang masih sedikit kasar, namun ada nuansa perhatian di dalamnya. Gadis itu terkejut, tubuhnya sedikit bergerak mundur dan wajahnya yang muda tampak semakin cemas. Dia adalah Dewi, berusia 18 tahun, dan sifat pemalu membuatnya sulit berbicara dengan orang asing. “S-saya… tidak apa-apa,” ucapnya dengan suara pelan, sambil masih menahan tangisan.
Rohita mendekat lebih jauh, melihat tatapan Dewi yang penuh ketakutan dan kesusahan. “Jangan bohong! Kamu pasti punya masalah. Kalau kamu terus diam di sini, bisa saja ada yang tidak baik terjadi padamu,” kata Rohita dengan nada yang lebih lembut kali ini. Dewi akhirnya mengangguk perlahan, air mata kembali mengalir deras. “Saya… saya tidak punya tempat untuk tinggal lagi. pemilik tempat saya sempat tidak mau menerima saya lagi karena saya tidak bisa membayar uang sewa,” ujar Dewi dengan suara gemetar. Rohita menghela napas panjang, pikirannya berputar cepat. Dia tahu rasanya tidak punya tempat untuk kembali, dan meskipun sering marah, dia tidak bisa tinggal diam melihat orang lain kesusahan.
“Baiklah, kamu tidak boleh tinggal di sini. Ayo, ikut aku ke kost ku. Meskipun kamar saya tidak terlalu luas, tapi masih ada tempat untukmu beristirahat,” ajak Rohita sambil menawarkan tangan untuk membantu Dewi berdiri. Dewi melihat tangan yang ditawarkan itu dengan ragu-ragu. Sifat pemalu nya membuatnya enggan mengganggu orang lain, namun kondisi saat ini tidak memberikan pilihan lain. Setelah beberapa saat berpikir, dia akhirnya mengambil tangan Rohita dengan hati-hati. Rohita kemudian membantu Dewi membawa barang-barangnya yang hanya sedikit—hanya sebuah tas ransel yang tampak cukup berat.
Perjalanan menuju kost-an tidak terlalu lama. Saat sampai di depan pintu kamar kost nya, Rohita membukanya dan mengajak Dewi masuk. Ruangan yang sederhana namun rapi itu membuat Dewi merasa sedikit lebih tenang. “Ini kamar saya. Kamu bisa menggunakan kasur tambahan di sudut sana. Saya akan memasak makanan untuk kita berdua. Kamu pasti sudah lapar, kan?” ujar Rohita sambil mulai mengatur beberapa benda di meja kecil yang ada di kamar. Dewi hanya bisa mengangguk dengan wajah yang masih sedikit merah karena tangisan dan rasa malu yang belum hilang. Dia tidak menyangka akan bertemu orang yang mau membantu dirinya dalam kondisi yang paling sulit. Sejak saat itu, hubungan antara Rohita dan Dewi mulai terbentuk—di antara kemarahan yang terkadang meluap dan kepekaan yang tersembunyi, serta kelembutan dan rasa malu yang menjadi ciri Dewi.
Beberapa hari setelah Dewi tinggal di kosannya, Rohita merasa lebih tenang. Meskipun terkadang dia masih marah karena hal-hal kecil—seperti ketika Dewi tidak sengaja mencuci baju nya dengan salah sabun dan warnanya sedikit luntur—namun dia senang punya teman yang bisa dia rawat. Suatu pagi, Rohita mengusulkan untuk pergi ke tempat yang bisa membuat mereka rileks. “Kita harus keluar sebentar saja. Kamu sudah terlalu banyak tinggal di kamar kos dan tidak pernah bergerak. Ayo kita pergi ke pantai, mungkin udara segarnya akan membuatmu lebih baik,” kata Rohita dengan nada yang tegas, namun wajahnya menunjukkan bahwa dia benar-benar ingin membantu Dewi yang masih sering terlihat murung.
Dewi mengangguk perlahan. Dia merasa bersalah karena selalu mengganggu Rohita, jadi ketika ada ajakan untuk keluar, dia tidak berani menolak. Mereka berdua berangkat dengan menggunakan transportasi umum, dan setelah beberapa saat, mereka tiba di tepi pantai yang luas. Ombak laut berdebur dengan suara yang menenangkan, dan pasir putih yang bersih menyambut mereka. Dewi sedikit rileks, melihat pemandangan laut yang indah itu membuatnya melupakan sebagian kesusahan yang ada di benaknya.
Tiba-tiba, suara teriakan yang keras menyita perhatian mereka berdua. Mereka melihat seorang gadis berusia sekitar 17 tahun dengan rambut pendek yang tampak ceria biasanya, namun saat ini wajahnya penuh kemarahan sedang bertengkar dengan seorang pria yang berdiri di depannya. “Kenapa kamu selalu seperti ini?! Kamu janjikan akan ada untukku, tapi setiap kali aku membutuhkanmu, kamu selalu tidak ada di sini!” ujar gadis itu dengan suara yang keras dan penuh emosi. Pria itu hanya berdiri diam dengan wajah yang tidak bersalah, seolah-olah tidak mengerti mengapa gadis itu marah.
Rohita langsung berjalan cepat ke arah mereka, wajahnya mulai memerah karena emosi yang mulai muncul. “Hei! Apa ini? Kamu tega membuat gadis ini menangis dan marah seperti ini?” seru Rohita dengan nada yang tinggi. Gadis itu yang bernama Devi—sangat berbeda dengan Dewi, karena sifatnya yang biasanya ceria dan penuh semangat—terkejut melihat orang asing yang ikut campur dalam masalahnya. Pria itu yang merupakan pacarnya, Rio, hanya menghela napas dan berkata, “Ini masalah kita saja. Jangan campur tangan!”
Dewi yang mengikuti di belakang Rohita merasa cemas. Dia tidak suka melihat situasi yang penuh ketegangan seperti ini. Namun, ketika dia melihat wajah Devi yang mulai berkaca-kaca karena tangisan yang ingin ditahan, hati nya terasa peduli. “Tidak apa-apa, kan? Semua masalah pasti bisa diselesaikan dengan baik,” ujar Dewi dengan suara pelan, mencoba menghibur Devi. Devi melihat Dewi dengan tatapan yang penuh rasa syukur. Meskipun baru bertemu, dia merasa ada kehangatan dari kedua gadis yang datang padanya itu.
Rio akhirnya mengangkat bahu dan berkata, “Aku sudah capek dengan omelanmu, Devi. Mungkin kita lebih baik putus saja!” Setelah itu, dia berbalik dan pergi meninggalkan Devi sendirian di tepi pantai. Devi yang tadi masih bisa menahan emosinya, akhirnya menangis deras. Rohita mendekat dan menepuk pundak Devi dengan lembut, sementara Dewi berdiri di sampingnya dengan wajah yang penuh perhatian. “Jangan menangis karena orang seperti itu. Dia tidak pantas mendapatkan perhatianmu,” ujar Rohita dengan nada yang lebih lembut dari biasanya. Devi mengangkat kepalanya, melihat kedua gadis yang sudah menjadi teman baru dalam sekejap itu, dan merasakan bahwa dia tidak sendirian lagi.
Setelah kejadian di pantai, Rohita dan Dewi sering menemani Devi untuk menghilangkan kesedihan akibat perpisahan dengan Rio. Meskipun Devi biasanya sangat ceria, beberapa hari terakhir dia tampak lesu dan sering menangis diam-diam. Suatu malam, mereka berdua mengantar Devi pulang ke tempat tinggalnya yang dulunya bersama beberapa teman sekantor. Namun, ketika mereka sampai di depan pintu, Devi menemukan bahwa pintu rumah itu terkunci rapat dan ada sebuah surat yang ditempel di pintunya.
Devi mengambil surat itu dengan tangan gemetar dan membacanya dengan cepat. Wajahnya langsung menjadi pucat dan air mata mulai mengalir lagi. “Apa ada masalah, Devi?” tanya Dewi dengan suara khawatir. Devi menggoyangkan kepalanya dan menunjukkan surat itu kepada Rohita dan Dewi. Isinya menyatakan bahwa teman sekantornya tidak bisa lagi menerima dia tinggal di sana karena mereka merasa terganggu dengan kondisi emosional Devi yang sering berubah-ubah. “Mereka bilang aku sudah menjadi beban bagi mereka. Aku tidak punya tempat tinggal lagi… aku tidak tahu harus kemana,” ujar Devi dengan suara tersendat-sendat, tangisan nya semakin deras.
Rohita menghela napas, wajahnya menunjukkan kemarahan terhadap orang-orang yang tega mengusir Devi dalam kondisi seperti ini. Namun dia segera menenangkan diri dan melihat Devi dengan pandangan penuh perhatian. “Kamu tidak perlu khawatir. Kamu bisa tinggal bersama kita di kost ku. Meskipun kamar nya tidak terlalu besar, tapi kita bisa berbagi ruangan dan saling membantu,” ajak Rohita dengan nada yang hangat. Dewi juga mengangguk dengan cepat, “Ya, benar! Kamu akan merasa lebih baik bersama kita. Kita bisa saling mendukung satu sama lain.”
Devi melihat kedua teman nya itu dengan mata yang penuh rasa syukur. Dia tidak menyangka bahwa setelah kehilangan pacar dan tempat tinggal, ada orang-orang yang masih mau menerima dirinya dengan tangan terbuka. “Tapi… apakah tidak akan mengganggu kalian berdua? Kamar kostan kalian sudah cukup kecil, bukan?” tanya Devi dengan rasa ragu yang masih ada di dalam dirinya. Rohita menggelengkan kepalanya dan berkata, “Tidak ada masalah sama sekali. Yang penting kita bisa saling membantu dan tidak ada yang sendirian lagi. Ayo, sekarang kita pergi ke kost ku saja. Kita akan menyiapkan tempat tidur untukmu.”
Perjalanan menuju kost-an terjadi dalam keheningan yang nyaman. Ketika mereka sampai di kamar kos, Rohita langsung mulai mengatur beberapa barang agar ada tempat yang cukup untuk Devi. Dewi membantu menyapu lantai dan menyiapkan kasur tambahan di sudut kamar yang tadinya hanya digunakan untuk menyimpan barang-barang kecil. Devi hanya bisa berdiri di sana, melihat kedua teman nya yang sibuk membantu dirinya, dan merasakan bahwa dia akhirnya menemukan tempat di mana dia bisa merasa aman dan diterima. Sejak saat itu, tiga gadis dengan karakter yang berbeda—Rohita yang pemarah namun peduli, Dewi yang pemalu namun lembut, dan Devi yang ceria namun rentan emosional—mulai hidup bersama dalam satu kamar kecil yang penuh dengan kehangatan dan persahabatan.