NovelToon NovelToon
Milikku Di Atas Net

Milikku Di Atas Net

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Karir / Diam-Diam Cinta / Dijodohkan Orang Tua / Cinta setelah menikah / Nikah Kontrak
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Martha Wulan

Demi menyelamatkan citra, PBSI dan keluarganya memaksa Livia bertunangan dengan Rangga Adiwinata—rival bebuyutan yang dikenal sebagai "Pangeran Suci" badminton. Rangga yang dingin dan santun tampak seperti penyelamat di depan kamera.

Namun, di balik pintu tertutup, Rangga melepaskan topengnya.

"Aku tidak akan tidur denganmu sebelum kita menikah," bisik Rangga posesif sambil meremas pinggang Livia. "Karena kalau aku menyentuhmu lebih dari ini, aku tidak akan tahu caranya untuk berhenti."

Kini Livia terjebak: Mateo mengancam menyebarkan video panas mereka dan mengklaim Livia mengandung anaknya, sementara gairah gelap Rangga jauh lebih mematikan dari yang ia bayangkan.

Di lapangan Livia adalah ratu, tapi dalam permainan cinta ini, siapa yang sebenarnya memegang kendali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Martha Wulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13 : IDENTITAS ATLET DI UJUNG TANDUK

Livia melongo. Menodai? Vulgar? Dia hanya duduk di sofa, belum ngapa-ngapain!

"Ibu, ini nggak seperti yang Ibu pikir," bela Rangga panik.

"Cukup. Ibu tidak mau dengar alasan," potong Mama Ratna sambil memperbaiki letak bros berliannya. "Ibu datang ke sini karena keadaan sudah darurat. Kamu, Rangga, dan kamu, Livia... ikut Ibu sekarang. Kalian sudah ditunggu."

"Ke mana, Bu?" tanya Rangga.

Mama Ratna berdiri, menatap mereka berdua dengan tatapan "kalian-dalam-masalah-besar".

"Kantor Kementerian Pemuda dan Olahraga. Bapak Menteri sendiri yang ingin bicara soal 'pernikahan' kalian yang bikin server media sosial negara ini jebol."

Livia lemas. Urusannya bukan lagi soal saham atau mantan pacar yang gila. Sekarang, dia harus berhadapan dengan penguasa olahraga negara ini.

Saat mereka di dalam lift, Mama Ratna berbisik di telinga Livia, "Jangan senang dulu, Nduk. Kalau bukan karena instruksi dari 'atas', Ibu sudah pasti mengirimmu kembali ke asrama dengan tangan kosong. Tapi sekarang... kamu punya waktu lima menit untuk meyakinkan Menteri bahwa kamu tidak sedang hamil anak pria tatoan tadi."

***

Kementerian Pemuda dan Olahraga, Jakarta — 15:30 WIB

Ruangan itu dingin, bukan karena AC yang diset maksimal, tapi karena tatapan puluhan pasang mata yang menilai Livia Liang seolah dia bukan lagi manusia, melainkan masalah nasional yang harus segera diatasi.

Di meja panjang kayu jati mengkilap, Menteri Olahraga Pak Nasution duduk di ujung, wajahnya serius seperti saat membuka SEA Games. Di sebelah kanannya, Sekjen PBSI dan Ketua KONI.

Di sebelah kiri, Mama Ratna—GKR Ratna Adiwinata—duduk dengan punggung tegak sempurna, seperti ratu keraton yang sedang menghadiri sidang adat. Rangga di samping Livia, tangannya diam-diam meraih tangan gadis itu di bawah meja, jari-jarinya menaut erat, hangat, dan tak terbantahkan.

Livia menahan napas. Ia tahu ini bukan lagi soal medali atau smash terakhir. Ini soal identitasnya sebagai pebulutangkis Indonesia—seorang atlet wanita yang selalu harus membuktikan dua kali lipat bahwa ia pantas mengibarkan bendera Merah Putih.

“Skandal ini sudah merusak citra olahraga nasional,” kata Pak Nasution dengan suara berat, membuka map tebal di depannya. Layar besar di dinding memutar kompilasi headline: #LiviaHyper, #MateoDrama, #RanggaPangeranTercoreng. “Badminton adalah kebanggaan bangsa. Kalian berdua adalah aset. Tapi sekarang, kalian jadi liabilitas.”

Livia merasakan jantungnya berdegup kencang, seperti saat match point lawan China. Ia ingin bicara, tapi Mama Ratna meliriknya sekilas—tatapan yang artinya jelas: diam, biar orang Jawa yang urus.

Rangga angkat bicara lebih dulu, suaranya tenang tapi tegas. “Pak, ini semua salah paham yang dibesar-besarkan media. Livia adalah juara dunia. Citranya harus dilindungi, bukan dihancurkan.”

Pak Nasution menghela napas panjang. “Justru karena itu, kami butuh solusi konkret. BWF sudah kirim surat resmi—mereka monitor kasus ini. Kalau nggak clear, ranking kalian bisa turun, sponsor cabut, dan yang paling parah... kalian bisa dicoret dari pelatnas permanen.”

Livia akhirnya buka suara, suaranya dingin tapi terukur seperti saat wawancara pasca-menang. “Pak, saya atlet. Saya kerja keras sejak umur delapan tahun buat nama Indonesia. Saya punya track record yang nyaris flawless. Kenapa setiap kali ada isu pribadi, yang disalahin selalu perempuan. Gimana dengan Mateo?"

Ruangan hening sejenak.

Mama Ratna menegakkan bahu, tapi Pak Nasution mengangguk pelan. “Saya paham, Nak. Tekanan buat atlet perempuan, apalagi minoritas, memang lebih berat. Tapi publik butuh narasi yang aman. Narasi yang menunjukkan stabilitas.”

Rangga menaut jari Livia lebih erat. “Maka dari itu, Pak,” katanya mantap, “saya dan Livia siap menikah. Resmi. Dalam satu bulan. Dengan upacara adat Jawa lengkap biar publik lihat kami serius.”

Livia menoleh tajam ke Rangga. Apa-apaan ini? Mereka belum pernah bahas detail adat! Tapi Rangga membalas tatapan dengan mata gelap yang penuh makna: percaya sama gue.

Mama Ratna akhirnya tersenyum tipis—senyum kemenangan. “Benar sekali. Pernikahan adat Jawa akan membersihkan semua noda. Simbol harmoni, kesucian, dan penghormatan pada leluhur. Saya sendiri yang akan atur semuanya.”

Pak Nasution mengangguk puas. “Baik. Nikah dalam waktu dekat. Live di TV nasional. Kalau ini berhasil, citra kalian pulih. Kalau ada drama lagi... kalian tahu konsekuensinya.”

***

Sidang selesai. Saat mereka keluar ruangan, wartawan sudah menyerbu seperti shuttlecock di rally panjang.

Di mobil Mercedes hitam keluarga Adiwinata, suasana tegang.

Mama Ratna duduk di depan, bicara tanpa menoleh. “Besok mulai nontoni. Keluarga Liang harus datang ke rumah Solo. Adat Jawa nggak main-main, Livia. Kamu harus belajar tata cara—duduk jongkok, sungkem, bahasa krama. Chindo atau bukan, kalau sudah masuk keluarga Adiwinata, harus nurut aturan keluarga kami.”

Livia menatap keluar jendela, Jakarta macet seperti biasa. “Bu, saya hormat sama adat. Tapi saya juga punya identitas sendiri. Bukankah ini harusnya dibicarakan dengan keluarga saya bu?"

"Keluarga kamu pasti setuju karena kamu akan menjadi bagian keluarga Adiwinata. Kamu pikir keluarga kami tidak bicara dengan keluarga Liang?"

Rangga, yang duduk di sampingnya, akhirnya bicara pelan. Tangannya masih menggenggam tangan Livia, ibu jarinya mengusap punggung tangan gadis itu dengan gerakan posesif yang halus. “Liv, kita bicarakan ini di rumah ya. Aku melakukan semua ini untuk melindungimu, Liv."

Mama Ratna tak lagi bicara begitu mendengar ucapaan anaknya.

Livia menoleh, matanya tajam. “Lindungin atau kendalikan, Ngga? Kamu possessive banget dari dulu. Kayak takut aku kabur lagi ke...”

Ponsel Livia bergetar keras.

Nomor Mateo.

Liv, gue tahu kamu lagi di mobil sama si pangeran dan ibunya. Buka pesan ini.

Livia buka. Ada foto test pack positif—dua garis merah jelas. Di bawahnya, caption:

Ini anak kita, Liv. Dari malam terakhir sebelum final. Gue udah test DNA diam-diam. Mau nikah sama Rangga? Silakan. Tapi dunia bakal tahu kamu Chindo yang hamil anak bule playboy. Bayangin headline-nya: “Juara Dunia Hamil di Luar Nikah.”

Jantung Livia berhenti berdetak. Ia menatap layar itu lama, tangannya gemetar.

Rangga langsung merebut ponselnya. Matanya membaca pesan itu, lalu menggelap seperti malam tanpa bintang.

“Ngga...” suara Livia serak.

Rangga tidak langsung jawab. Ia hanya menarik Livia lebih dekat, lengan kuatnya melingkar di bahu gadis itu—posesif, protektif, dan sarat ancaman tak terucap. Napasnya hangat di telinga Livia saat ia berbisik, sangat pelan agar Mama Ratna di depan tidak dengar.

“Kalau ini bener, anak itu gue angkat. Kamu tetep nikah sama gue. Tapi Mateo... gue pastiin dia nggak pernah bisa ganggu kamu lagi.”

Livia menatap mata Rangga—mata yang biasanya teduh kini gelap dan lapar, seperti predator yang baru menemukan mangsa abadi.

“Dan kalau ini bohong?” tanya Livia pelan.

Rangga tersenyum tipis—senyum yang seksi sekaligus mengerikan. “Aku akan menunggum, Liv, hingga kamu menjadi milikmu. Tubuh, hati, identitas atlet kamu, semuanya. Mateo cuma obstacle. Dan obstacle gue habisin.”

Mobil melaju meninggalkan Kemang, menuju SCBD yang berkilau lampu neon.

Di grup chat Liang Empire, notifikasi meledak.

Vania: LIV!!! Test pack positif?! Mateo gila?! Kita gerak perang total nggak?!

Sherly: Tenang. Gue udah hubungin lab terbaik di Singapura. Besok pagi test ulang. Jangan panik. Dinasti Chindo nggak boleh kalah sama bule tatoan.

Livia menutup ponsel, bersandar ke bahu Rangga. Benci? Mungkin. Takut? Pasti.

Tapi di saat yang sama, ada panas aneh yang menjalar di perutnya setiap kali Rangga menatapnya seperti itu—seperti dia adalah satu-satunya poin yang ingin dia menangkan seumur hidup.

Satu bulan menuju pernikahan.

Livia menutup mata, membiarkan aroma kayu cendana dari jas Rangga menyelimuti indranya.

“Liv,” bisik Rangga lagi, suaranya rendah dan bergetar oleh sesuatu yang lebih dari sekadar amarah. “Akujanji, apa pun hasil test itu, gue nggak akan biarin identitas kamu sebagai pebulutangkis dirusak. Aku tahu cinta pertamu adalah bulutangkis dan aku tidak akan membiarkan mereka merebutnya dariku."

Livia membuka mata, menatap wajah pria yang dulu ia benci karena terlalu sempurna itu. Kini, sempurna itu terasa menyesakkan sekaligus menggoda.

Tiba-tiba ponsel Mama Ratna berdering. Beliau angkat, wajahnya langsung memucat.

“Apa?! Mateo kabur dari tahanan kota malam ini?” teriak Mama Ratna.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!