Arum, seorang sarjana ekonomi yang cerdas dan taktis, terpaksa menikah dengan Baskara, Kepala Desa muda yang idealis namun terlalu kaku. Di balik ketenangan Desa Makmur Jaya, tersimpan carut-marut birokrasi, manipulasi dana desa oleh perangkat yang culas, hingga jeratan tengkulak yang mencekik petani.
Baskara sering kali terjebak dalam politik "muka dua" bawahannya. Arum tidak tinggal diam. Dengan kecerdikan mengolah data, memanfaatkan jaringan gosip ibu-ibu PKK sebagai intelijen, dan strategi ekonomi yang berani, ia mulai membersihkan desa dari para parasit. Sambil menata desa, Arum juga harus menata hatinya untuk memenangkan cinta Baskara di tengah gangguan mantan kekasih dan tekanan mertua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon habbah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: Loncatan Keyakinan
Tebing batu di depan mereka menjulang seperti dinding raksasa yang tak tertembus. Di belakang, motor trail kedua masih meraung, dan di atas tebing, laras senjata pasukan Kolonel Baskoro berkilau tertimpa cahaya bulan yang pucat. Navasari seolah-olah sedang menutup pintunya untuk mereka selamanya.
"Mas, jangan injak rem!" teriak Arum, matanya tertuju pada sebuah struktur kayu tua yang nyaris roboh di sisi kiri tebing bekas jalur lori pengangkut hasil bumi zaman kolonial.
"Arum, itu jembatan lori! Kayunya sudah lapuk, tidak akan kuat menahan beban Jeep ini!" Baskara berteriak balik, namun kakinya ragu di atas pedal gas.
"Aku sudah menghitung distribusinya, Mas! Jika kita melaju dengan kecepatan konstan 60 km/jam, momentum kita akan membagi beban sebelum serat kayunya patah sepenuhnya. Itu satu-satunya jalan keluar yang tidak dijaga!" Arum membuka laptopnya, menunjukkan skema elevasi yang ia tarik dari data topografi lama.
"Gila! Kamu benar-benar gila, Arum!" Baskara menggeram, namun ia mengoper gigi rendah dan menginjak gas sedalam mungkin. Jeep tua itu meraung, ban paculnya mencengkeram bebatuan sungai sebelum melompat naik ke tanjakan kayu yang miring.
Di atas tebing, Kolonel Baskoro tertegun. "Tembak bannya! Jangan biarkan mereka menyeberang!"
Rentetan peluru menghujani badan Jeep. Trak! Trak! Kaca belakang hancur berkeping-keping. Marno merunduk di jok belakang sambil memeluk ban cadangan sebagai perisai.
KREEEKKK...
Suara kayu jembatan yang patah terdengar mengerikan di bawah roda mereka. Jeep itu bergoyang hebat saat roda belakang kanan sempat terperosok ke dalam celah kayu yang busuk. Namun, momentum yang dihitung Arum bekerja. Sebelum jembatan itu ambruk sepenuhnya ke dasar sungai, Jeep itu berhasil melompat ke sisi seberang hutan kabupaten.
BOOM!
Jembatan lori itu runtuh total di belakang mereka, memutus akses pasukan darat Baskoro.
"Kita lolos..." Marno terengah-engah, wajahnya pucat pasi.
"Belum," Arum menatap layar laptopnya yang menunjukkan titik-titik merah baru yang mendekat dari udara. "Darmono sudah mengirim helikopter pelacak panas. Kita harus menghilang dari radar sekarang juga."
Arum mengarahkan mereka ke sebuah gudang penggilingan padi tua yang terbengkalai. Di sana, ia meminta Marno menutupi seluruh bodi Jeep dengan tumpukan jerami basah dan lembaran aluminium foil yang ia ambil dari tas daruratnya.
"Aluminium foil? Untuk apa, Rum?" tanya Baskara.
"Untuk membiaskan sensor infra merah dari helikopter. Kita akan menciptakan 'lubang hitam' di mata mereka," jawab Arum tenang.
Saat mereka bersembunyi di dalam kegelapan gudang, suara baling-baling helikopter terdengar tepat di atas atap seng. Cahaya lampu sorot menyelinap lewat celah-celah kayu, menyapu setiap jengkal area di luar. Arum menahan napas, tangannya menggenggam erat map merah di dadanya.
Di dalam map itu, selain nama Profesor Darmono, Arum menemukan selembar slip setoran bank yang ditujukan ke sebuah panti asuhan di pinggiran Jakarta. Namun, bukan jumlah uangnya yang menarik perhatiannya, melainkan memo singkat yang tertulis di sana: "Biaya Pemeliharaan Aset No. 04 Operasi Amesia."
"Aset nomor empat?" Arum berbisik pada dirinya sendiri.
Ia mulai menghubungkan titik-titik itu. Jika ia adalah anak dari auditor asli, dan Profesor Darmono mengatakan dia "menjaganya", mungkinkah ada anak-anak lain dari para korban tahun 1995 yang sengaja disebar dan dipantau oleh Darmono sebagai sandera atau cadangan tenaga ahli?
Tiba-tiba, ponsel satelit yang ia gunakan bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
"Jangan ke kantor pusat KPK. Darmono sudah menempatkan orang-orangnya di gerbang depan dan belakang. Temui aku di Perpustakaan Nasional, Lantai 24. Aku punya kunci untuk membuka enkripsi terakhir ibumu. S."
Arum menatap layar itu dengan ragu. "S? Siska? Bukankah dia ditangkap polisi kabupaten?"
"Bisa jadi itu jebakan, Rum," Baskara memperingatkan.
"Atau bisa jadi satu-satunya harapan kita," Arum menatap Baskara dengan keyakinan baru. "Siska tahu dia akan kalah, Mas. Dia tidak mungkin mau masuk penjara sendirian. Dia ingin Darmono ikut tenggelam bersamanya."
Fajar mulai menyingsing di cakrawala. Arum berdiri, merapikan pakaiannya yang penuh debu dan jelaga. "Kita berangkat ke Jakarta sekarang. Tapi kita tidak akan masuk lewat jalur protokol. Kita akan masuk sebagai 'wisatawan' menggunakan kereta api ekonomi dari stasiun kecil di perbatasan."
Suasana di dalam gudang penggilingan padi itu begitu sunyi hingga suara tetesan air dari atap seng terdengar seperti detak bom waktu. Arum masih menatap layar ponsel satelitnya, cahaya biru dari layar memantul di matanya yang lelah namun waspada.
"Mas, kita tidak bisa membawa Jeep ini sampai Jakarta," Arum memecah keheningan. "Plat nomornya sudah pasti masuk dalam sistem Automatic Number Plate Recognition (ANPR) di sepanjang jalan tol."
Baskara mengangguk, ia sedang membersihkan luka gores di lengannya. "Marno sudah mengurusnya. Dia punya saudara yang bekerja di ekspedisi angkutan sayur. Kita akan menyelinap ke dalam truk muatan kol yang berangkat subuh ini."
Arum tersenyum tipis. Audit logistik. "Bagus. Itu cara paling kuno namun efektif untuk menghindari deteksi AI. Mereka mencari mobil mewah atau kendaraan pribadi, bukan truk sayur yang berbau pupuk."
Saat mereka bersiap pindah ke truk, Arum membuka map merah itu sekali lagi. Ia menyadari sesuatu pada lembar memo "Aset No. 04". Di pojok kanan bawah, terdapat sebuah pola perforasi kecil—lubang-lubang halus yang jika diterawang ke arah cahaya membentuk sebuah rasi bintang: Crux (Salib Selatan).
"Bintang penunjuk arah," gumam Arum. "Ibu tidak hanya meninggalkan dokumen, dia meninggalkan peta navigasi di dalam kertas ini."
Ia mengambil pulpen dan mulai menghubungkan lubang-lubang itu di atas kertas kosong. Pola itu bukan sekadar rasi bintang, melainkan koordinat titik-titik brankas penyimpanan di Jakarta yang selama ini disamarkan sebagai aset yayasan pendidikan Profesor Darmono.
"Rum, truknya sudah siap," panggil Baskara.
Mereka naik ke bak truk yang penuh dengan tumpukan karung kol. Udara di dalam lembap dan dingin, namun bagi Arum, ini adalah tempat persembunyian paling aman di dunia. Saat truk mulai bergerak meninggalkan perbatasan kabupaten, Arum menyandarkan kepalanya di bahu Baskara.
"Mas, kalau semua ini selesai... apa kita masih bisa kembali jadi Pak Kades dan Istri Kades biasa?"
Baskara menggenggam tangan Arum erat. "Navasari tidak akan pernah sama lagi, Rum. Dan sejujurnya, aku lebih suka punya istri yang bisa melompati jembatan runtuh daripada istri yang cuma diam di dapur."
Truk itu melaju menembus kabut fajar, menuju jantung kekuasaan di Jakarta. Di belakang mereka, helikopter Darmono masih berputar-putar di atas hutan, mencari "lubang hitam" yang diciptakan Arum dengan lembaran aluminium foil. Mereka tidak sadar bahwa mangsanya kini sedang duduk di atas tumpukan sayur, membawa bom waktu informasi yang siap meledakkan reputasi paling bersih di negeri ini.
Namun, di tengah perjalanan, ponsel Arum bergetar lagi. Bukan pesan dari "S", melainkan sebuah notifikasi dari sistem Audit Bayangan yang ia aktifkan sebelumnya.
"PERINGATAN: Akses Ilegal terdeteksi pada rekening pribadi Ratna Ayundari (Alm). Lokasi Akses: Gedung Perpustakaan Nasional, Jakarta."
Arum terperanjat. "Mas! Seseorang baru saja mencoba mencairkan dana di rekening Ibu yang sudah dibekukan selama tiga puluh tahun. Dan mereka melakukannya dari tempat pertemuan yang dijanjikan 'S'!"
Siapa pun yang menunggu mereka di lantai 24, mereka bukan hanya menginginkan map merah. Mereka sedang mencoba mencuri warisan terakhir yang menjadi hak Arum sebuah aset yang nilainya lebih besar dari sekadar angka di buku bank.
menegangkan ..
lanjut thor..