NovelToon NovelToon
JANDA-JANDA UNDERCOVER

JANDA-JANDA UNDERCOVER

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan
Popularitas:953
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Arsila

siapa sangka tiga janda dari latar belakang berbeda seorang Bella damayanti 28(mantan polwan) ,Siska Paramita 30(mantan koki) , dan Maya Adinda 29(mantan guru TK) tanpa sengaja membentuk tim detektif amatir. Mereka awalnya hanya ingin menyelidiki siapa yang sering mencuri jemuran di lingkungan apartemen mereka.

​Namun, penyelidikan itu malah membawa mereka ke jaringan mafia kelas teri yang dipimpin oleh seorang bos yang takut dengan istrinya. Dengan senjata sutil, semprotan merica, dan omelan maut, ketiga wanita ini membuktikan bahwa status janda bukanlah halangan untuk menjadi pahlawan (yang sangat berisik).

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Arsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Daster Macan

​Pukul lima sore di Jakarta Selatan biasanya berarti satu hal: polusi suara. Namun, di Apartemen Puri Kencana sebuah hunian kelas menengah yang dindingnya cukup tipis untuk mendengar tetangga bersin suara knalpot motor kalah telak oleh lengkingan Maya Adinda.

​"Hilang! Hilang lagi! Ya Tuhan, cobaan apa lagi ini?!"

​Maya Adinda (29 tahun) berdiri di balkon unit 302 miliknya dengan dramatis. Rambutnya yang di-treatment mahal di salon akhir pekan lalu kini berantakan. Ia menunjuk jemuran aluminium lipatnya seolah-olah itu adalah tempat kejadian perkara pembunuhan berantai. Wajahnya yang cantik, sisa-sisa kejayaan sebagai primadona saat masih mengajar di TK elite, kini memerah padam.

​"Maya, demi cicilan apartemen yang belum lunas, bisa kecilin dikit volumenya?" suara berat muncul dari unit 303.

​Bella Damayanti (28 tahun) melangkah keluar. Penampilannya adalah antitesis dari Maya. Jika Maya adalah personifikasi dari iklan sampo, Bella adalah personifikasi dari kamp pelatihan militer yang gagal. Ia mengenakan kaus oblong hitam pudar bertuliskan "POLRI" yang sudah retak-retak sablonannya, dipadu dengan celana pendek cargo penuh kantong. Matanya yang tajam khas detektif meski kini ia hanya detektif pencari diskon makanan di aplikasi menatap Maya dengan bosan.

​"Bella! Kamu nggak ngerti! Daster macan pink-ku hilang! Itu daster keberuntungan!"

Maya menghampiri pembatas balkon, matanya berkaca-kaca. "Setiap aku pakai daster itu, engagement Instagram-ku naik. Dan yang paling penting, itu satu-satunya baju yang bikin aku merasa... ah, sudahlah. Pokoknya itu dicuri!"

​Bella menyandarkan punggungnya di pagar besi yang sedikit berkarat. Sebagai mantan anggota Satuan Reserse Kriminal yang dipensiunkan dini karena "masalah manajemen amarah" alias memborgol tangan komandannya sendiri ke setir mobil saat rapat ia memiliki insting yang tidak bisa mati.

​"Ini sudah daster kelima dalam dua minggu di lantai ini, May," ujar Bella sambil mengeluarkan tusuk gigi. "Kemarin tanktop merahnya Jeng Sri, lusa kemarin daster batik Bu RT. Kalau ini maling jemuran biasa, seleranya aneh banget. Kenapa nggak nyuri jemuran merk mahal sekalian?"

​Sebelum Maya sempat menjawab, pintu unit 301 terbuka. Aroma menyengat bawang putih goreng, cabai yang disangrai, dan terasi udang premium langsung menyeruak ke koridor balkon. Siska Paramita (30 tahun) keluar dengan tangan memegang sutil besi yang ukurannya cukup besar untuk dijadikan senjata tawuran.

​Siska adalah mantan koki kepala di sebuah restoran fine dining di Bali sebelum skandal "Kuah Sup Beracun untuk Mantan Suami" (yang sebenarnya hanya kelebihan garam karena dia menangis saat memasak) membuatnya memutuskan untuk pindah ke Jakarta dan memulai hidup baru sebagai pengusaha katering rumahan.

​"Jangankan cuma daster, May," sahut Siska dengan nada dingin namun bertenaga. "Serbet linen Prancis-ku yang harganya setara biaya sekolah anak TK juga hilang tadi pagi. Aku baru menjemurnya sepuluh menit untuk menghilangkan aroma asap, dan poof! Hilang. Dicuri tepat di bawah hidungku."

​Tiga wanita itu kini berdiri sejajar di balkon masing-masing, membentuk barisan yang kalau dilihat dari bawah mungkin tampak seperti trio maut, tapi sebenarnya hanya tiga janda muda yang sedang meratapi nasib jemuran mereka.

​"Kita tidak bisa diam saja," Bella akhirnya bicara, suaranya kini berubah serius, nada yang biasanya ia gunakan saat akan menggerebek bandar judi kelas teri.

"Apartemen ini punya sekuriti, tapi Pak Bambang di bawah itu kerjanya cuma tidur sambil dengerin radio. CCTV di koridor? Mati sejak zaman gubernur sebelumnya. Kita dikepung in kompetensi."

​"Jadi kita harus apa?" tanya Maya, mulai terbawa suasana detektif-detektifan. "Lapor polisi?"

​Bella tertawa sinis. "Polisi? May, buat laporan kehilangan daster saja mereka bakal ngetawain kita sambil makan gorengan. Kita harus bergerak sendiri."

​Siska mengacungkan sutil besinya ke arah matahari yang mulai tenggelam. "Aku setuju. Tidak ada yang boleh menyentuh barang-barangku tanpa izin. Besok mungkin daster, lusa mungkin tabung gas, minggu depan bisa jadi nyawa kita yang terancam!"

​"Lebay, Sis. Tapi masuk akal," Bella mengangguk. "Malam ini, jam sepuluh. Kumpul di unit Siska. Kita rapatkan barisan. Bawa apa pun yang bisa dipakai untuk mencatat dan... mungkin senjata tumpul kalau perlu."

​Rapat di Markas Rahasia (Dapur Siska)

​Pukul 22.00 WIB. Unit 301 berubah menjadi pusat komando. Di atas meja makan jati yang dipenuhi bercak tepung, sebuah peta denah Apartemen Puri Kencana dibentangkan. Bella yang menggambarnya dengan spidol permanen hitam.

​"Oke, perhatikan," Bella memulai presentasi.

"Puri Kencana ini punya tiga akses masuk ilegal. Satu di pagar belakang yang bolong dekat tempat sampah, satu di gerbang samping yang gemboknya bisa dibuka pakai peniti, dan satu lagi lewat pipa pembuangan di sisi timur."

​Maya mencatat di buku agenda warna pink-nya yang penuh stiker bunga. "Pipa pembuangan? Apa malingnya ninja?"

​"Bisa jadi," jawab Bella singkat. "Maling jemuran biasanya bekerja cepat. Mereka nggak butuh waktu lama. Tapi yang aneh adalah polanya. Kenapa hanya jemuran janda yang diambil?"

​Siska yang sedang menyeduh kopi pahit tertegun. "Tunggu... maksudmu?"

​Bella melingkari nomor unit 301, 302, dan 303 dengan spidol merah. "Jeng Sri di lantai dua? Janda. Bu RT? Janda. Kita bertiga? Janda semua. Ada seseorang di gedung ini yang memetakan status sipil penghuninya dan menargetkan jemuran kita secara spesifik."

​Ruangan itu mendadak sunyi. Suara kulkas yang mendengung terdengar seperti musik latar film horor. Maya memeluk buku agendanya erat-erat.

​"Maksudmu... ini serangan seksual?" tanya Maya dengan suara bergetar.

​"Atau penghinaan," timpal Siska. "Ada orang yang merasa kita ini sasaran empuk karena nggak ada 'laki-laki' di rumah untuk membela."

​Bella menggebrak meja, membuat cangkir kopi Siska bergetar. "Dan itulah kesalahan terbesar mereka. Mereka pikir kita lemah. Mereka nggak tahu kalau di ruangan ini ada mantan aparat yang bisa mematahkan leher dalam tiga detik, mantan koki yang bisa menyayat daging dengan presisi milimeter, dan..." Bella menatap Maya.

​"Dan mantan guru TK yang bisa bikin orang tobat lewat nyanyian?" tanya Maya polos.

​"Bukan," Bella mengoreksi. "Dan mantan guru TK yang punya koneksi ke ibu-ibu gosip satu kecamatan. Kita punya kekuatan informasi, kekuatan taktis, dan kekuatan logistik."

​Siska berdiri, memberikan masing-masing dari mereka sebuah "alat komunikasi" walkie-talkie mainan milik anak Maya yang sudah dimodifikasi dengan baterai baru.

​"Malam ini kita mulai Operasi Daster Macan," cetus Bella. "Target kita menangkap basah siapa pun yang berani menyentuh jemuran di lantai tiga. Strateginya sederhana. Kita pasang umpan."

​Pukul 01.30 dini hari. Suasana koridor lantai tiga sangat mencekam. Lampu neon yang berkedip-kedip menambah kesan horor. Di tengah koridor, sebuah jemuran plastik berdiri tegak. Di atasnya, tergantung sebuah daster sutra warna merah menyala milik Maya umpan paling menggoda yang mereka miliki.

​Bella bersembunyi di balik tempat sampah besar di ujung koridor, tubuhnya dibalut pakaian hitam-hitam. Siska berada di unitnya, memantau lewat lubang kecil di pintu sambil memegang botol semprotan merica buatan sendiri (campuran air cabai rawit, cuka, dan sedikit wasabi). Sementara Maya... Maya bertugas sebagai pengawas dari balkon atas menggunakan teropong mainan.

​"Elang satu ke Sarang Madu, ada pergerakan?" bisik Bella ke walkie-talkie.

​"Sarang Madu di sini," suara Maya terdengar berisik karena gangguan sinyal. "Belum ada tanda-tanda maling ganteng, Bel. Eh, maksudku maling jemuran. Tapi ada kucing hitam lewat. Apa itu pertanda buruk?"

​"Fokus, Maya!" bentak Siska lewat jalur komunikasi.

​Tiba-tiba, suara langkah kaki pelan terdengar dari arah tangga darurat. Tap... tap... tap...

​Seorang pria mengenakan jaket hoodie hitam dan masker medis muncul. Ia bergerak dengan sangat luwes, hampir tanpa suara. Pria itu mendekati jemuran umpan.

Tangannya yang mengenakan sarung tangan plastik terulur, menyentuh kain sutra merah itu dengan lembut, seolah sedang mengagumi karya seni.

​"Sekarang!" teriak Bella lewat walkie-talkie.

​Bella melesat dari balik tempat sampah seperti macan tutul. Namun, si maling ternyata memiliki refleks yang luar biasa. Ia menghindar dengan gerakan salto ke belakang yang sangat rapi.

​"Woy! Berhenti!" teriak Bella sambil mencoba melakukan sapuan kaki.

​Pria itu kembali menghindar, lalu berlari menuju tangga darurat. Siska keluar dari pintu unitnya tepat saat pria itu lewat. Tanpa ragu, Siska menyemprotkan cairan "Pedas Mampus"-nya.

​PSSSSSTTT!

​"Aaaaakh! Sialan!" pria itu menjerit, tapi tidak berhenti. Ia terus berlari menuruni tangga sambil memegangi matanya.

​Bella mengejar, namun langkahnya terhenti saat ia melihat sesuatu terjatuh dari saku jaket pria itu. Sebuah benda kecil yang berkilau di bawah lampu koridor.

​Siska dan Maya (yang baru saja turun dari lantai atas dengan napas terengah-engah) menghampiri Bella yang sedang memungut benda tersebut.

​"Apa itu?" tanya Maya penasaran.

​Bella mengangkat benda itu tinggi-tinggi. Bukan kunci, bukan dompet. Itu adalah sebuah pin logam berbentuk kepala banteng dengan mata merah dari batu permata imitasi.

​"Ini bukan logo maling jemuran biasa," gumam Bella, wajahnya mengeras. "Ini simbol dari kelompok 'Toro Loco'. Kelompok preman pasar yang katanya sekarang mulai merambah ke bisnis penampungan barang ilegal."

​"Toro Loco?" Siska mengerutkan kening.

"Maksudmu Don Toro? Si bos mafia yang iklan kateringnya sering masuk ke grup WhatsApp warga?"

​"Don Toro?" Maya menutup mulutnya dengan tangan. "Dia kan yang katanya kalau ketemu istrinya langsung sujud syukur? Katanya dia takut banget sama Bu Fatma yang badannya tiga kali lipat ukuran dia?"

​Bella mengangguk. "Tepat. Tapi pertanyaannya, kenapa bos mafia kelas teri seperti Don Toro menyuruh anak buahnya yang jago akrobat untuk mencuri daster janda di apartemen kelas menengah?"

​Bella menatap kearah tangga darurat di mana pria itu menghilang. Ia tahu ini bukan lagi sekadar masalah jemuran. Ada sesuatu yang lebih besar, mungkin sesuatu yang berhubungan dengan alasan kenapa daster-daster itu harus diambil.

​"Ini baru babak pemanasan," kata Bella sambil memasukkan pin kepala banteng itu ke kantong celananya. "Besok, kita nggak cuma nunggu di balkon. Kita bakal cari tahu di mana gudang Don Toro berada."

​"Kita beneran mau jadi detektif?" tanya Maya, antara takut dan bersemangat.

​Siska mengetukkan sutilnya ke telapak tangan. "Bukan detektif, May. Kita adalah tim pembersih. Dan besok, kita akan membersihkan sampah masyarakat yang berani menyentuh harga diri janda."

​Di bawah cahaya lampu apartemen yang remang-remang, tiga wanita muda itu berdiri tegak. Mereka bukan lagi sekadar guru TK, koki, atau mantan polwan yang patah hati. Mereka adalah Janda-Janda Undercover. Dan perang baru saja dimulai.

1
yumin kwan
baru nemu, langsung marathon....
seru kocak... walau ga masuk akal 🤣🤣🤣
yumin kwan
astaga.... kok bisa kepikiran ide begini.... salut....
yumin kwan
astaga.... seru bgt ini 3 janda.... 😄
yumin kwan
kayaknya kocak ini cerita..... save ah...
Marley
🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!