Teressa Adrian adalah gadis 19 tahun cantik dan cerdas..Di balik senyum ceria dan sikap nakalnya,Teressa menyimpan luka lama: sejak usia 10 tahun, ia harus menerima kenyataan pahit bahwa kedua kakinya lumpuh akibat kecelakaan tragis yang hampir merenggut nyawanya.
Namun Teressa bukan gadis rapuh. Dengan dukungan keluarga dan tekad yang tak pernah padam, ia tumbuh menjadi sosok yang bersinar… hingga sebuah perjalanan studi lapangan mengubah segalanya.
Ledakan ban bus di tikungan pegunungan membawa Teressa ke ambang kematian. Di antara jeritan, darah, dan kegelapan, ia menukar satu harapan terbesarnya “keinginan untuk bisa berjalan kembali” tanpa sadar bahwa takdir benar-benar mendengarnya.
Saat ia terbangun, Teressa tidak lagi berada di dunia yang dikenalnya..Ia terlempar ke masa puluhan tahun silam, terbangun di tubuh seorang nona muda bangsawan angkuh, berkuasa, dan… memiliki kaki yang sempurna.
Namun hidup baru ini tidak semudah yang ia bayangkan..takdir barunya menuntut bayaran atas keajaiban yang ia dapatkan..dan mungkin takdir cinta yang tidak dia sangka-sangka.
Penasaran dengan kelanjutan cerita teressa..yuk kepoin…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon simnuna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan siang bersama
Ruang makan siang keluarga Duke sunyi dan megah.
Meja panjang dari kayu mahal terbentang..dihiasi peralatan perak yang berkilau dan hidangan tersaji rapi…Di ujung meja duduk seorang pria paruh baya berwibawa..Duke rowan velmont..ayah Teressa..pria baruh baya berwibawa yang masih sangat tampan..tapi masih tampanan daddynya..Di sisi kanannya duduk sang selir dengan senyum lembut yang terlalu terlatih..sementara di sampingnya seorang gadis muda berparas cantik dengan wajah polos dan tatapan lembut menatap teressa..dia caroline..anak selir itu.
Pintu terbuka..Teressa melangkah masuk dengan santai..Semua mata tertuju pada gadis itu..Menurut tata krama bangsawan..ia seharusnya berhenti..menunduk anggun lalu memberi salam dengan sikap sempurna..Namun Teressa tersenyum ringan dan melambaikan tangan.
“Hai..”sapa teressa riang.
“Selamat siang..”sambung gadis itu..perkataan gadis itu membuat tiga orang itu menatapnya aneh..sang duke mengeryit tipis..sedangkan sang selir dan anaknya menatap teressa dengan perasaan bercampur aduk..ada terkejut dan kesal bersamaan.
“Kenapa dia menghapus topeng menjijikan itu..”batin caroline kesal.
Teressa berjalan mendekat dan duduk di kursinya sendiri dengan tenang seolah barusan tidak melakukan dosa sosial.
“Semoga makanannya enak..”tambah teressa ramah..dia memang belum mengetahui kelakuan dua wanita di depanya itu.
Saat teressa akan menyuapkan makanannya..sebuah suara lembut menghentikan aktifitasnya.
“Kakak…”panggilnya.
“Apa kakak lupa memberi salam pada ayah..”sambung gadis itu..gadis itu mengangkat wajahnya seolah benar-benar khawatir.
“Oh..memang harus?..”tanya teressa tidak terlalu tau tata krama jaman kerajaan.
“Biasanya lady bangsawan berpendidikan akan menunduk terlebih dahulu..tapi mungkin kakak sedang lelah..”ucap gadis itu dengan suara manis yang terdengar menjijikan.
“Ayah maafkan kakak..kakak pasti tidak bermaksud untuk tidak menghormati ayah..maafkan kelakuan buruk kakak ayah..”sambung gadis itu mentap sang ayah dengan wajah polos sok perhatian.
Teressa yang mendengar ucapan sang gadis di depanya terdiam tidak percaya..dia menatap gadis yang terlihat mengkhawatirkanya sekaligus menyindirnya itu dengan cengo.
“Gadis polos polos bangsat ternyata..kukiran beneran baik seperti parasnya..hampir saja aku keliru..”batin teressa menatap caroline lekat.
“Jadi itu yang kau khawatirkan?..”tanya teressa.
“Tenang..Aku memang tidak menunduk..Tapi itu bukan karena aku tidak menghormati Ayah..”ucap teressa menatap duke rowan.
“Melainkan karena aku yakin..wibawa Ayah tidak runtuh hanya karena leherku tetap lurus..Lagipula..kalau soal sikap… melambaikan tangan itu tanda salam..Bukan tanda pemberontakan…”ucap teressa panjang membuat anak selir itu terdiam.
“Tapi kakak… bangsawan lain bisa salah paham…”ucap caroline tak mau kalah.
“Apa urusan ku dengan mereka..Dan sejauh ini Ayah masih duduk dengan tenang.”ucap teressa sambil melirik Duke singkat.
“Artinya dunia belum kiamat.” Sambung teressa.
“Tapi kakak..”ucap caroline masih mau menyangah.
“Terimakasih telah mengkhawatirkan sikap ku…tapi lain kali kalau ingin mengajar etika..pastikan niatnya bersih sebersih ekspresinya..”ucap teressa menatap sang anak selir yang terdiam dengan tatapan mengejek.
“Adik mu hanya ingin mengingatkan nak..”timpal sebuah suara lembut di depanya..teressa menatap wanita itu lekat.
“Apa pun itu..”ucap teressa malas..dia sudah lapar.
“Sudah..mari makan..”ucap sang ayah akhirnya angkat suara setelah hanya menjadi penonton perdebatan kedua putrinya.
“Liora nanti temui ayah di ruang kerja ayah..”ucap duke rowan menatap sang putri..merasa di tatap teressa hanya mengangguk kecil..dia belum terbiasa dengan nama barunya.
Sepanjang mereka menikmati makan siang..tatapan duke rowan tak pernah lepas dari sang putri sulung..dia heran dengan sang putri yang belum membuat keonaran hari ini..apalagi penampilan gadis itu yang lebih segar..terlihat tenang sakaligus tajam..jauh berbeda dari biasanya..dan penampilan sang putri membuat duke rowan teringat sang mendiang istri.
dan akhinya makan siang yang berawal sengit itu berjalan dengan lancar.
.
.
.
“Besok kita akan ke istana untuk memenuhi panggilan kaisar..”ucap sang ayah to the poin.
“To the poin banget..nanya kabar dulu kali om..”jawab teressa sambil menatap duke rowan.
“Om?..apa yang kau maksud?..berbicaralah yang sopan pada ayah..”ucap pria paruh baya itu menatap teressa tajam.
Ayah..sebuah kata yang terdengar sangat asing di telinga teressa.
“Apa pelajaran tata krama countess reny tak kau pelajari dengan baik?..”tanya pria paruh baya itu menatap sang anak yang duduk dengan kaki di silangkan santai.
“Bukan gue kali yang belajar..”gumam teressa.
“Kau berbicara apa?..”tanya duke rowan.
“Tidak ada..”ucap teressa sekenannya..duke rowan mengeryit heran melihat sikap anaknya ini.
“Apa ingatanmu benar-benar hilang?..”tanya duke rowan.
“Hmm sepertinya begitu..”jawab teressa singkat.
“Apa yang terjadi?..bisakah kau ceritakan pada ayah..”ucap duke rowan.
“Mana ku tau..bukanya aku hilang ingatan..”jawab teressa yang membuat sang duke menghela nafas kesal..putrinya itu memancing emosinya saja.
“Jangan jadikan hilang ingatan sebagai alasan untuk mu lepas dari hukuman..apa yang kau perbuat harus kau pertanggung jawabkan..”ucap duke rowan.
“Seperti anak gadis yang di perkaos saja..”cibir teressa.
“Apa kau mendengar ayah?..”tanya duke rowan yang kesal melihat sang anak malah berbicara sendiri dan mengabaikanya.
“Iya-iya aku dengar..cerewet sekali..”ucap teressa malas.
“Kau!!..sepetinya ayah terlalu longgar padamu sampai kau jadi sekurang ajar ini dalam berbicara dengan orang tua..”marah duke rowan..padahal dulu teressa adalah gadis yang cukup manja pada sang ayah.
“Mulutku memang begini..a.ayah pikir aku sama seperti putri selir yang bebicara sok polos tapi menusuk itu..”ucap teressa yang mengabaikan kemarahan sang ayah.
“Huh..jangan samakan aku dengan kuman itu..”entah kenapa walau baru bertemu teressa sudah merasakan api kebencian pada cewek ppb itu.
“Kau!!..”marah sang ayah.
“Sudahlah a.ayah..kau akan sakit jantung bila sering marah..”ucap teressa asal..dia masih sangat asing dengan sebutan ayah..walau terbata nada nya masih tetap nyolot.
“Memang sejak kapan kau pernah membuat ayah tenang..kalau saja ini jantung buatan sudah sering ayah berganti jantung karna ulah mu..”ucap duke rowan kesal..teressa hanya memutar matanya mendengar ucapan sang ayah baru.
“Kau..berbeda..”gumam duke rowan menatap sang anak yang sangat berani mengomelinya.
“Versi lama tertinggal di kolam berenang..”jawab teressa asal.
“Oiya..ngomong-ngomong apa hukuman yang akan ku dapat nanti?..”tanya teressa.
“Paling ringan 20 kali pukulan papan..”ucap sang sayah santai.
“20 pukulan papan!!..”kaget teressa.
“Yang benar saja..itu bukan hukuman tapi pembunuhan..”seru teressa lagi.
“Kalau yang paling berat?..”tanya teressa.
“Hukum penggal..”ucap sang ayah singkat yang membuat teressa tersedak ludahnya sendiri.
“Gila..orang zaman kuno ini sungguh gila..”ucap teressa frustrasi..dia menjambak rambutnya sendiri..duke rowan yang melihat kelakuan sang anah hanya bisa terdiam heran,
“Sialan wanita jahanam ini..”batin teressa kesal pada pemilik tubuh asli.
.
.
.
TO BE CONTINUE….
tapi bajunya Cina
mungkin bisa diperjelas dia masuk ke dunia kerajaan mana ya kak biar bisa lebih dibayangkan?