Menerima laki-laki yang di kenalkan oleh sosok yang bernama Ayah itu seperti membuka pintu derita bagi Maura. Apakah Maura menderita karena perlakuan sang laki-laki atau perasaan bersalah pada keluarganya....
Yuk lanjut episode baru cerita aku....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Meitania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Serangan Balik
Happy New Year....
Berbagai macam petasan saling bersaut- sautan di udara. Kemeriahan malam pergantian tahun di sambut dengan suka cita dari seluruh penghuni bumi. Termasuk Maura dan Tasya. Kegembiraan yang mereka berdua rasakan begitu memuncak di malam itu.
Gerak gerik keduanya segala macam tingkah Maura tak lepas dari sorot mata seseorang. Entah mengapa sejak pertama melihat Maura pandangannya tak bisa beralih. Namun, semua itu tanpa Maura sadari.
"Hah! Semoga tahun depan menjadi awal kebahagiaan kita ya La." Tasya.
"Aamiin.."
"Yuk kita balik ke hotel." Ajak Maura.
"Lets go..."
Mereka berdua berjalan saling bergandengan tangan dengan senyuman yang tak pudar. Sampai di kamar hotel mereka berdua bergantian membersihkan diri sebelum keduanya bergelung di tempat tidur masing-masing. Ya, walaupun satu kamar mereka memilih double bed.
Keesokan harinya Maura dan Tasya tetap bangun di pagi hari walau mereka baru saja memejamkan mata mereka lepas tengah malam. Namun, karena kebiasaan membuat mereka tak bisa bermalas-malasan apalagi ada kewajiban yang harus di penuhi di pagi hari. Karena terlalu lelah mereka memutuskan untuk sarapan di restoran hotel saja.
Mereka berencana akan cek out siang nanti karena besok mereka harus sudah kembali bekerja. Oleh-oleh pesanan Maulida pun telah mereka beli kemarin sore. Maura dan Tasya benar-benar memanfaatkan waktu dengan seksama.
Di saat keduanya tengah asik menikmati sarapan paginya. Entah dari mana munculnya dua pasang sejoli yang tak pernah di harapkan kehadirannya berada di restoran yang sama. Seperti biasa Maura bersikap biasa seolah tak mengenal mereka.
"Aduh, kayanya sial banget deh gw Cla dari kemarin ketemu orang susah yang sok sok an liburan gitu. Pulang dari sini nyari mangsa om om tuh pasti buat modalnya hidup dia." Stela.
"Sayang,, kenapa kita nginep di hotel ini?" Tanya Clara manja.
"Abang yang booking sayang." Aska.
"Kemarin cuma hotel ini yang masih ada kamar sesuai pesanan kalian." Bayu.
"Ih, tapi jadi sekelas sama dia. Ga level deh sayang." Rengek Clara.
"Tau dari kemarin aku batalin juga Mas." Stela.
"Sudahlah. Biar saja." Bayu.
"Iya Cla. Kalo kita kan emang mampu bayar. Kalo mereka mungkin pake pinjaman biar bisa jalan-jalan kaya kita." Stela.
Mereka berempat terus-terusan membahas mengenai Maura. Walaupun Maura hanya diam. Dan ada seseorang juga yang memperhatikan. Awalnya dia tak mengerti mengapa dua pasang manusia itu berbicara cukup keras setelah di perhatikan perhatian mereka tertuju pada Maura. Walau tak mengenal Maura dirinya merasa geram. Namun, melihat ketenangan Maura dirinya pun semakin salut dan jatuh hati.
"La," Tanya Tasya cemas.
"Biar aja." Maura.
Namun saat keduanya akan pergi dengan sengaja Stela menjulurkan kakinya menghalangi langkah Maura. Tak di sangka Maura menyadarinya dan menghentikan langkahnya.
"Apa maksud anda menjulurkan kaki anda?" Maura.
"Apa maksud lo? Ih,,, kegeeran banget sih jadi cewek. Mau godain suami kita ya." Cibir Stela.
Maura tak menanggapi. Saat Maura akan melanjutkan langkahnya dengan sengaja Stela menendang kaki Maura.
Plak....
"Aw.. Kurang ajar...." Umpat Stela setelah mendapatkan tamparan dari Maura.
"Saya rasa ucapan itu pantas untuk anda sendiri. Anda merasa kenal dengan saya? Apa anda di rugikan oleh saya?" Maura.
"Cih... Sok banget lu." Stela.
"Maaf ya nyonya. Saya tidak mengenal anda jadi anda jangan sok berlagak mengenal saya." Maura.
"Heh tukang tipu cewek mandul."
Plak...
"Sayang..."
"Mas, dia mukul aku."
"Saya harap anda bisa menjaga sikap istri anda tuan. Jika dia terus berlaku seperti itu saya yakin kehormatan anda akan hancur. Dan saya bersumpah demi Tuhan bagi orang yang telah memalsukan surat keterangan rumah sakit hasil pemeriksaan saya hidup nya tidak akan pernah bahagia seumur hidupnya. Rejekinya tak akan sederas kemarin karena segala sesuatu yang di awali dengan kebohongan maka akan berakhir hancur." Ucap Maura panjang lebar dengan pandangan mata tertuju pada Bayu dan Aska.
"Kamu..."
Sabar... Sabar... Lanjut ya...