NovelToon NovelToon
Misi Terlarang Sang Mayor

Misi Terlarang Sang Mayor

Status: tamat
Genre:Kehidupan Tentara / Tamat
Popularitas:263
Nilai: 5
Nama Author: Rhiy Navya

Mayor Elara Vanya, seorang agen elit yang terpaksa menggunakan daya tarik dan kecerdasannya sebagai aset, dikirim dalam misi penyusupan ke Unit Komando Khusus yang dipimpin oleh Kolonel Zian Arkana, pria dingin yang dicurigai terlibat dalam jaringan pengkhianatan tingkat tinggi. Elara harus memilih antara menyelesaikan misi dan mengikuti kata hatinya, yang semakin terjerat oleh Kolonel Zian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Arus Maut Di Sungai Siene

Saat mereka bersembunyi di balik cerobong asap yang besar, Zian menarik Elara ke dalam pelukannya. Keduanya basah kuyup, terluka, dan lelah, namun adrenalin masih memompa jantung mereka.

​"Kau membiarkannya hidup," bisik Zian.

​"Dia lebih berguna sebagai saksi daripada sebagai mayat," jawab Elara. "Dan selain itu... aku tidak ingin menjadi monster seperti mereka."

​Zian mencium dahi Elara. "Itulah sebabnya aku mencintaimu, Mayor."

​Elara tertegun. Itu adalah pertama kalinya Zian mengucapkan kata itu secara langsung. Di tengah perburuan mematikan ini, di atas atap kota yang romantis, kata-kata itu terasa lebih kuat daripada ledakan mana pun yang pernah mereka picu.

​"Zian..." Elara baru saja akan membalas saat Kael berteriak di telinga mereka.

​"Zian! Elara! Cepat ke pelabuhan sungai! Aku sudah menyiapkan speedboat! Mereka sudah menutup semua jalan raya! Ini satu-satunya jalan keluar!"

​Elara menatap Zian, sebuah senyuman penuh tekad muncul di wajahnya. "Simpan kata-kata itu untuk nanti, Kolonel. Kita punya sungai untuk diarungi."

​Mereka melompat dari atap menuju tumpukan sampah di gang bawah, terus berlari menuju masa depan yang masih penuh dengan peluru dan rahasia.

***

​Lampu sorot dari helikopter Iron Sight menyapu permukaan sungai Seine seperti mata raksasa yang lapar. Elara dan Zian berlari menuruni tangga batu yang licin menuju dermaga darurat di bawah jembatan Pont Neuf. Napas mereka tersengal, uap putih keluar dari mulut mereka di tengah udara malam Paris yang dingin.

​"Kael, kami sudah di dermaga! Mana jemputannya?" Zian berteriak ke komunikator sambil melepaskan tembakan balasan ke arah pengawal yang muncul di atas jembatan.

​"Sepuluh detik! Lihat ke arah hulu!" suara Kael terdengar di tengah deru mesin.

​Sebuah speedboat militer ramping berwarna hitam legam membelah air dengan kecepatan tinggi, menciptakan gelombang besar yang menghantam dinding dermaga. Kael melakukan manuver power slide yang presisi, menghentikan kapal tepat di depan mereka.

​"Lompat!" teriak Kael.

​Elara dan Zian melompat ke atas geladak kapal tepat saat rentetan peluru menghujani tempat mereka berdiri sedetik yang lalu. Kael langsung memacu gas hingga maksimal. Mesin ganda 500 tenaga kuda itu menggeram, melemparkan mereka ke belakang akibat percepatan yang luar biasa.

​"Kita punya masalah besar!" Kael menunjuk ke layar radar di dasbor. "Tiga kapal patroli cepat Iron Sight mengejar dari belakang, dan mereka punya barikade air di bawah jembatan Pont de la Concorde!"

​"Elara, ambil alih senapan mesin di belakang!" perintah Zian. "Kael, fokus pada kemudi. Aku akan mengurus helikopter itu!"

​Elara melompat ke bagian belakang kapal, di mana sebuah senapan mesin kaliber .50 terpasang pada dudukan baja. Dia mengokang senjata itu dengan gerakan mantap. Sosoknya yang masih mengenakan gaun malam yang robek, kini memegang senjata berat, menciptakan pemandangan yang kontras namun mematikan—definisi sejati dari 'Tentara Seksi'.

​TRATATATATATA!

​Peluru-peluru besar keluar dari laras senapan Elara, menghantam air dan memecahkan kaca depan kapal pengejar pertama. Kapal itu melintir dan menghantam tiang jembatan, meledak dalam bola api yang menerangi sungai.

​Sementara itu, Zian mengeluarkan peluncur roket kompak dari tas taktis yang dibawa Kael. Dia berdiri tegak di atas geladak yang bergoyang hebat, mengunci target pada helikopter yang terus menghujani mereka dengan peluru.

​"Kunci target... sekarang!"

​Wuuush!

​Roda api meluncur dari bahu Zian, menghantam baling-baling belakang helikopter. Helikopter itu berputar tak terkendali sebelum jatuh menghantam permukaan air dengan ledakan dahsyat.

​"Satu jatuh, satu lagi datang!" teriak Elara sambil terus menembaki dua kapal pengejar yang tersisa.

​Mereka mendekati jembatan Pont de la Concorde. Di sana, dua kapal tongkang besar telah dipalangkan untuk menutup seluruh lebar sungai. Tentara bayaran Iron Sight berdiri di atas tongkang dengan peluncur granat.

​"Kael, jangan melambat! Kita harus menerobos di sela-sela itu!" seru Zian.

​"Tidak ada sela, Zian! Aku akan menggunakan tanjakan pembersih sampah di sisi kanan!" Kael memutar kemudi dengan nekat.

​Speedboat itu menghantam tanjakan kayu yang mengapung, terbang ke udara setinggi tiga meter, melewati kabel-kabel baja tongkang, dan mendarat kembali di air dengan guncangan yang hampir melemparkan Elara ke luar kapal. Elara segera bangkit, bahunya terasa nyeri, tetapi matanya tetap fokus pada sasaran.

​"Zian! Kapal pengejar terakhir punya torpedo ringan!" Elara memperingatkan.

​Dua jejak putih di bawah air meluncur cepat ke arah mereka.

​"Zian, pegangan!" Kael membanting kemudi ke kiri dan ke kanan dalam gerakan zig-zag yang ekstrem. Torpedo itu lewat hanya beberapa inci dari lambung kapal, meledak di dinding sungai dan menghancurkan beberapa perahu wisata yang terparkir.

​"Giliran kita," desis Elara. Dia membidik tangki bahan bakar kapal pengejar terakhir yang kini berada dalam jarak tembak ideal.

​DUM! DUM! DUM!

​Tiga peluru kaliber .50 menembus tangki tersebut. Kapal pengejar itu seketika menjadi bola api raksasa yang terangkat ke udara sebelum tenggelam ke dasar Seine.

​Keheningan sesaat kembali menguasai sungai, hanya menyisakan deru mesin kapal mereka yang mulai melambat saat mereka mendekati pinggiran kota Paris yang lebih gelap.

​Zian mendekati Elara, membantu wanita itu melepaskan pegangan eratnya pada senapan mesin. Tangan Elara gemetar karena adrenalin dan kelelahan. Zian menariknya ke dalam pelukan, membiarkan kepala Elara bersandar di bahunya yang basah.

​"Kau baik-baik saja?" bisik Zian.

​Elara mendongak, menatap wajah Zian yang dipenuhi jelaga dan percikan air sungai. Dia tersenyum kecil. "Aku baru saja menghancurkan separuh armada mereka dengan gaun seharga sepuluh ribu dollar. Aku rasa aku baik-baik saja."

​Zian terkekeh, lalu mencium kening Elara. "Kael, arahkan ke titik ekstraksi di Rouen. Kita harus segera keluar dari Prancis sebelum fajar menyingsing."

​"Siap, Bos," sahut Kael. "Tapi kalian harus lihat ini. Madame X meninggalkan sesuatu di jaringan sebelum kalian menghancurkan kontrolnya."

​Kael menyalakan layar tablet di depan mereka. Sebuah peta dunia muncul, namun kali ini dipenuhi dengan ribuan titik merah yang berkedip serentak.

​"Itu adalah lokasi aktivasi sel tidur," Elara berkata dengan suara tercekat. "Madame X tidak berbohong. Mereka tidak butuh pemimpin lagi. Protokolnya sudah otomatis."

​"Dan lihat pusat koordinasi barunya," Kael memperbesar peta menuju sebuah pulau terpencil di Samudra Hindia. "Titik-titik ini berkomunikasi dengan satu server pusat yang baru saja aktif. Pulau Shadow Reef."

​Zian mengepalkan tangannya. "Itu adalah pangkalan rahasia yang bahkan tidak ada dalam catatan intelijen mana pun. Jika sel-sel itu aktif, mereka akan melepaskan gas VX di sistem kereta bawah tanah di tiga puluh kota besar secara bersamaan."

​Elara menatap Zian. "Kita tidak punya banyak waktu. Jika kita tidak menghancurkan server pusat di Shadow Reef, dunia yang kita kenal akan berakhir besok."

​Zian menatap cakrawala di mana warna ungu mulai muncul, menandakan fajar. "Kael, hubungi sisa-sisa Phoenix. Kita butuh pesawat angkut jarak jauh dan semua amunisi yang tersisa. Kita akan melakukan penyerjunan ke neraka."

​Elara memegang tangan Zian. "Zian, tentang apa yang kau katakan di atap tadi..."

​Zian menatap mata Elara dalam-dalam. "Aku bersungguh-sungguh, Elara. Dan aku akan mengatakannya lagi setelah kita kembali dari pulau itu."

​Elara mengangguk, sebuah tekad baru membakar matanya. "Kalau begitu, mari kita pastikan kita memiliki hari esok untuk membicarakannya."

​Kapal mereka melesat cepat menuju muara sungai, meninggalkan Paris yang masih terlelap, tidak menyadari bahwa nasib jutaan nyawa kini bergantung pada dua orang buronan yang paling dicari di dunia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!