NovelToon NovelToon
ALVEGAR

ALVEGAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Cintapertama
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: yunie Afifa ayu anggareni

Di balik tembok gedhe SMA Dirgantara, ada lima cowok paling kece dan berkuasa yang jadi most wanted sekaligus badboy paling disegani: ALVEGAR. Geng ini dipimpin Arazka Alditya Bhaskara, si Ketua yang mukanya ganteng parah, dingin, dan punya rahang tegas. Pokoknya dia sempurna abis! Di sebelahnya, ada Rangga Ananta Bumi, si Wakil Ketua yang sama-sama dingin dan irit ngomong, tapi pesonanya gak main-main. Terus ada Danis Putra Algifary, si ganteng yang ramah, baik hati, dan senyumnya manis banget. Jangan lupa Asean Mahardika, si playboy jago berantem yang hobinya tebar pesona. Dan yang terakhir, Miko Ardiyanto, lumayan ganteng, paling humoris, super absurd, dan kelakuannya selalu bikin pusing kepala tapi tetep jago tebar pesona.

AlVEGAR adalah cerita tentang cinta yang datang dari benci, persahabatan yang solid, dan mencari jati diri di masa SMA yang penuh gaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yunie Afifa ayu anggareni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 :Bisikan sang arsitek konflik

Pasca keributan di pesta, suasana sekolah benar-benar terbelah. Rangga tahu bahwa emosi Arazka dan Danis sedang berada di puncak ketidakstabilan. Inilah saatnya dia menanamkan "racun" di pikiran mereka masing-masing secara terpisah.

🐍 Bisikan Pertama: Untuk Danis

Pagi hari di gimnasium, Danis sedang berlatih lemparan bebas sendirian untuk membuang stres. Rangga masuk, membawakan handuk bersih dan sebotol air, bersikap seperti sahabat yang paling peduli.

"Loe oke, Dan? Gue liat luka di sudut bibir loe masih biru," ujar Rangga dengan nada prihatin yang dibuat-buat.

"Gue oke, Rang. Gue cuma nggak nyangka Arazka bisa sekasar itu," sahut Danis lesu.

Rangga duduk di bangku pemain. "Jujur ya, Dan. Sebagai wakilnya, gue udah sering ingetin dia. Tapi sejak dia sama Maura, dia merasa dia itu 'Raja'. Dia pikir siapa pun yang deket sama Maura—bahkan sahabat sendiri—adalah ancaman yang harus dimusnahkan."

Danis berhenti mendribel bola. "Gue nggak ada niat rebut Maura, Rang."

"Gue tahu itu. Tapi Arazka nggak percaya sama loe. Malah gue denger... dia bilang di depan anak-anak inti lain kalau loe itu 'beban' buat ALVEGAR karena terlalu lembek," Rangga membuang muka, pura-pura merasa tidak enak mengatakannya.

Rahang Danis mengeras. "Dia bilang gitu?"

"Ya. Menurut dia, ALVEGAR butuh orang yang tegas, bukan orang yang sibuk pacaran sama Kinara atau curhat sama Maura. Hati-hati, Dan. Gue denger dia punya rencana buat 'ngistirahatin' loe dari inti."

🕸️ Bisikan Kedua: Untuk Arazka

Sore harinya, Rangga mendatangi Arazka di markas yang sepi. Arazka sedang menatap foto angkatan pertama ALVEGAR dengan tatapan kosong.

"Zka, gue baru aja dapet kabar kurang enak dari anak-anak," ujar Rangga sambil meletakkan dokumen di meja.

"Apa lagi?" tanya Arazka ketus.

"Danis. Dia mulai ngumpulin massa di belakang loe. Tadi di gimnasium, gue liat dia ngobrol serius sama beberapa anggota divisi lapangan. Katanya, kepemimpinan loe udah terlalu 'berbahaya' karena masalah personal sama Maura," Rangga menghela napas panjang.

Arazka menoleh cepat. "Danis? Dia berani ngelakuin itu?"

"Mungkin dia ngerasa punya dukungan, Zka. Loe tau sendiri kan, Maura selalu bela dia. Di mata anggota, Maura itu pintar. Kalau Maura bilang loe salah dan Danis bener, mereka bakal percaya. Gue cuma takut... Danis mau ambil posisi loe lewat jalur belakang."

Arazka memukul meja dengan keras. "Gue yang bangun organisasi ini! Danis nggak ada apa-apanya tanpa gue!"

"Gue tau itu. Tapi hati-hati, Zka. Orang yang paling deket sama kita biasanya yang tau di mana letak kelemahan kita," tutup Rangga sambil tersenyum tipis saat berbalik.

🌪️ Pertemuan yang Tak Disengaja

Rangga mengatur skenario terakhir untuk hari itu. Dia mengirim pesan singkat kepada Maura menggunakan nomor anonim yang mengatasnamakan Danis, meminta Maura bertemu di taman belakang untuk "bicara penting". Di saat yang sama, dia mengajak Arazka lewat sana dengan alasan "cek fasilitas sekolah yang rusak".

Saat Arazka dan Rangga berjalan melewati taman, mereka melihat Danis sedang memegang tangan Maura (sebenarnya Danis hanya mencoba menenangkan Maura yang sedang menangis karena bingung dengan situasi mereka).

Dari kejauhan, Rangga berbisik pelan, "Liat itu, Zka. Masih mau bilang Danis itu sahabat setia?"

Mata Arazka berkilat penuh kemarahan. Dia tidak menghampiri mereka, tapi dia langsung berbalik arah dengan napas memburu.

"Rangga, panggil semua tim logistik dan intelijen. Mulai besok, awasi setiap gerak-gerik Danis dan Maura. Kalau perlu, sadap ponsel mereka," perintah Arazka dengan suara yang sudah kehilangan kewarasan.

"Siap, Ketua," jawab Rangga dengan patuh, namun di dalam hatinya dia tertawa. Permainan dimulai.

TO BE CONTINUED

1
Anggi Anggara
semanagtt💪
Anggi Anggara
masih baru dan blum banyak yang baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!