Setelah patah hati dimanfaatkan teman sendiri, Alana Aisyah Kartika dikejutkan dengan tawaran yang datang dari presdir tempatnya bekerja, Hawari. Pria itu menawari Lana menikah dengan anak satu-satunya, Alfian Abdul Razman yang lumpuh akibat kecelakaan. Masalahnya, Fian yang tampan itu sudah menikah dengan Lynda La Lune yang lebih memilih sibuk berkarier sebagai model internasional ketimbang mengurus suaminya.
Hawari menawari Lana nikah kontrak selama 1 tahun dengan imbalan uang 1 milyar agar bisa mengurus Fian. Fian awalnya menolak, tapi ketika mengetahui istrinya selingkuh, pria itu menjadikan Lana sebagai alat balas dendam. Lana pun terpaksa menikah karena selain takut kehilangan pekerjaan, adiknya butuh biaya untuk kuliah.
Namun, kenyataan lain datang menghadang. Fian ternyata bukan anak kandung Hawari melainkan anak seorang mafia Itali yang menghilang sejak bayi.
Mampukah Lana bertahan dengan pria galak, angkuh, dan selalu otoriter ini? Lalu, bagaimana nasib mereka ketika kelu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingflora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Cemburu
"Ya sudah, nona sekarang pulang saja. Karena kami sedang mengejar ninja itu. Musium akan kami kunci." Pria itu mendorong sang wanita ke arah lift.
"Eh iya-iya."
"Jangan sampai nona ketemu dengan ninja itu di luar ya. Beri tahu kami."
"Iya, Pak." Pintu lift pun tertutup.
Setelah keluar dari gedung, sang wanita berbelok ke arah samping. Ia sempat mendatangi sebuah tempat sampah besar dan mengambil sesuatu di dalamnya. Sebuah gulungan kertas panjang yang ia bawa ke salah satu mobil yang terparkir di sana. Ia membuka pintu dan melempar gulungan kertas itu ke belakang, lalu duduk di kursi pengemudi sambil meletakkan tasnya di kursi samping.
Setelah membawa mobil keluar area musium, tak lama ia menepi. Wanita itu membuka kacamata dan menarik sesuatu dari dagunya. Ternyata wajahnya terkelupas dan wajah lain muncul. Wajah seorang wanita cantik. Ia tersenyum miring dan kembali menjalankan mobilnya.
***
Di sebuah kafe, wanita muda itu tengah meminum kopi sambil melihat ponselnya. Ia mengetik sesuatu. "Aku sudah mendapatkan lukisannya. Lihat gambar ini. Silakan transfer sisa uang sesuai kesepakatan, biar aku bisa mengirimkan lukisan yang Anda minta ke alamat Anda. Jangan lupa kirim alamat Anda sekalian." Ia tak lupa mengirimkan gambar lukisan yang ia dapat. Tak lama ponselnya berbunyi. Ia membukanya. Sejumlah uang telah masuk ke rekeningnya dengan angka fantastis. Wanita itu tersenyum senang.
"Sophie, kenapa kamu bengong aja? Itu di depan ada yang mau beli," sahut seorang pria, berbicara dengan logat Inggris, membuat wanita itu kaget.
"Oh, iya." Sophie bergegas ke arah kasir dan merapikan celemeknya. "Ada yang bisa dibantu?"
***
Karena usaha keras Fian, kakinya mulai menunjukkan kemajuan. Pria itu mulai bisa mengangkat dan menggerakkan kakinya walau dengan susah payah. Ia mulai berlatih berjalan di rumah sakit ditemani Lana.
Langkahnya sangat lamban melewati dua palang besi yang terpasang di kiri kanannya. Fian pun berjalan berpegangan pada palang dan dipapah Hadi dari belakang. Lana berdiri di ujung besi itu memberi semangat.
Tiba-tiba Fian berhenti melangkah. Napasnya sedikit terengah-engah.
Lana yang melihatnya jadi iba. "Mas, kalo capek berhenti dulu."
"Tidak. Aku cukup istirahat sebentar saja." Tekat pria itu.
Lana terpaksa diam walau khawatir. Tak lama Fian kembali menggerakkan kakinya. Selangkah demi selangkah sedikit diseret dan itu tidak mudah. Palang itu terasa panjang dan kakinya yang lemas kadang berayun saat ingin tegak melangkah. Ia tetap teguh berpegangan pada besi kuat-kuat, sambil dipantau Hadi berjaga-jaga di belakangnya. Akhirnya pria itu sampai juga dihadapan istrinya hingga Lana tersenyum dengan perasaan haru.
"Mas harusnya gak perlu sampai sini. Besok kan bisa diulang lagi." Mata Lana berkaca-kaca saat suaminya dipindah Hadi ke kursi roda.
"Besok targetnya bolak-balik. Kalo gak gitu aku gak puas!" Fian menyodorkan tangannya.
Lana meraih tangan pria itu dan sang suami menggenggamnya. Pria itu tampak bahagia.
***
Terdengar ketukan di pintu. Seorang wanita masuk. "Pak, anak Bapak datang."
Hawari terkejut dengan ucapan sekretarisnya. Ia berdiri ketika Lana mendorong kursi roda ke dalam ruangan. Fian duduk di kursi itu menatap ayahnya. Sang sekretaris pun keluar sambil menutup pintu.
"Oh, Fian. Tumben. Ada angin apa datang ke kantor?" Hawari mendatangi keduanya.
"Aku ingin bekerja lagi, Ayah. Sebagai CEO," jawab Fian mantap.
"Fian, kamu belum sehat. Akan sulit bergerak kalau kamu masih di kursi roda. Kamu butuh orang untuk melakukan apa pun."
"Kerjaku hanya duduk di kursi saja, kan?"
"Tapi bagaimana kalau kamu harus pindah ke lantai yang berbeda? Kamu butuh orang lain untuk membawa kursi rodamu ke sana, kan?"
"Maksud Ayah, jalan sendiri?" Fian kemudian menurunkan kedua kakinya dan berdiri.
Hawari melongo. "Fian? Kamu ...."
Fian melangkah ke depan.
Sang ayah bahkan tak percaya dengan penglihatannya. Ia memeluk Fian saat sampai dihadapannya. "Fian, kamu sudah sembuh, Nak." Matanya berkaca-kaca.
Lana menatap keduanya haru. Ia pun menitikkan air mata. "Dan saatnya aku pun juga harus pergi," gumamnya.
"Makanya ... Fian sudah bisa ambil pekerjaan Ayah, kan? Ayah bisa sekali-sekali datang melihat. Biar Fian aja yang jalani perusahaan."
Hawari melepas pelukan. Ia mengusap sudut matanya yang mulai berair. "Ibumu pasti senang kamu sudah sehat kembali."
"Nanti aku berkunjung ke sana ya, Yah," ucap Fian lembut.
"Bagaimana kalau nanti malam? Ibumu pasti sudah tidak sabar ingin masak untuk kamu." Hawari menggenggam kedua lengan anaknya dengan bangga.
"Mmh ... ini udah mulai siang, Ayah. Aku gak mau ibu repot-repot sekarang karena waktunya sempit. Nanti ibu kelelahan. Bagaimana kalau kita makan di restoran saja? Aku pesan tempat dulu ya, Ayah. Jadi kalian tinggal datang."
"Oh, boleh juga. Ibu pasti senang."
Setelah mengobrol sebentar, Lana dan Fian pamit. Fian mendorong kursi roda yang telah dilipat pipih hingga mudah mendorongnya.
Di luar, pegawai yang tengah berbisik melihat keduanya keluar dan tampak panik. Lalu mereka segera kembali ke meja masing-masing. Lana sedikit risih tapi Fian tampak tak peduli.
"Lana! Ah, akhirnya kita ketemu."
Lana terkejut, Robby berdiri di hadapan. Ada apa pria ini tiba-tiba datang? Fian pun ikut berhenti saat Lana menghentikan langkahnya.
"Lana ... eh, aku ingin memberikan undangan ini. Untung ketemu." Robby tersenyum sambil menyodorkan kartu undangan. Sesekali ia melirik Fian.
"Bukankah orang ini yang selalu bersama Lana dulu saat jam istirahat? Ngapain lagi dia muncul di sini?" Fian melirik istrinya yang tampak ragu. "Apa mereka ...." Dengan cepat tangannya merebut kartu itu sebelum sampai ke tangan Lana. "Ngapain kamu ngasih istriku kartu ini, hah!?" Dirobeknya kartu itu hingga serpihan kecil dan melemparnya ke udara. Ia kemudian dengan santai memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
Bukan saja Robby dan Lana yang kaget melihat apa yang dilakukan Fian, tapi semua orang yang melihat kejadian itu. Mereka melongo dengan tindakan yang tak terduga itu.
"Ta-tapi itu undangan pernikahan aku dan Tania, Pak." Robby menunjuk robekan kertas yang berjatuhan pelan hingga menyentuh lantai. Ia nampak bingung.
"Tania? Tania bagian accounting!?" Fian tersenyum mengejek. "Berarti kalian pacaran satu kantor. Iya kan? Bukankah kalian tahu peraturan di kantor ini, dilarang pacaran dan suami istri satu kantor. Aku akan menunggu surat pengunduran salah satu dari kalian besok karena besok aku akan mulai masuk kerja," ucapnya tersenyum puas. Kemudian ia melangkah meninggalkan tempat itu sambil mendorong kursi roda. "Lana, ayo!" panggilnya pada sang istri tanpa menoleh.
Lana yang sempat melongo, bergegas mengejar suaminya hingga masuk lift.
Saat lift tertutup Fian melirik istrinya di samping. "Kamu pacaran sama dia, kan?" Ia menatap ke depan dengan wajah dingin.
"Apa? Oh, enggak. Mereka yang pacaran." Lana tampak gugup. Ia tak mengerti suaminya tahu dari mana tentang kedekatannya dengan Robby.
Fian mendengar suara Lana yang gugup lalu kembali menoleh ke samping sejenak. Ia tampak tidak percaya. "Berarti kamu senang mereka menikah?"
"Eh, iya."
"Jangan bohong, Lana. Aku sering melihat kalian berdua di kantin," ucap Fian dengan pandangan curiga.
Lana menatap suaminya. "Ya Tuhan ... Mas kalo gak percaya bisa tanya yang lain deh, apa aku bohong atau tidak," sahutnya kesal.
Fian tampak tidak puas. Entah kenapa, ia merasa istrinya tidak jujur. Di jalan pulang, Fian membelokkan mobilnya ke tempat lain.
Bersambung ....
mau pakai baju terruutp