NovelToon NovelToon
Pemberontak Para Dewa Season 2

Pemberontak Para Dewa Season 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Keluarga / Action / Persahabatan / Mengubah sejarah / Mengubah Takdir
Popularitas:47.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Setelah menyelamatkan Alam Dewa dan mencapai ranah Dewa Sejati, Shi Hao terpaksa meninggalkan rumah dan orang-orang yang dicintainya demi mencegah kehancuran dimensi akibat kekuatannya yang terlalu besar.

Namun, saat melangkah keluar ke Alam Semesta Luar, Shi Hao menyadari kenyataan yang kejam. Di lautan bintang yang tak bertepi ini, Ranah "Dewa" hanyalah titik awal, dan planet tempat tinggalnya hanyalah butiran debu. Tanpa sekte pelindung, tanpa kekayaan, dan diburu oleh Hukum Langit yang menganggap keberadaannya sebagai "Ancaman", Shi Hao harus bertahan hidup sebagai seorang pengembara tak bernama.

Menggunakan identitas baru sebagai "Feng", Shi Hao memulai perjalanan dari planet sampah. Bersama Nana gadis budak Ras Kucing yang menyimpan rahasia navigasi kuno ia mengikat kontrak dengan Nyonya Zhu, Ratu Dunia Bawah Tanah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 221

Medan Perang Final – Benua Terapung.

BOOM! BOOM! BOOM!

Tanah berguncang hebat. Di tengah padang rumput yang kini berubah menjadi lautan api dan lumpur darah, Shi Hao bertarung seperti singa yang terpojok.

Di sekelilingnya, ratusan prajurit Klan Titan dan Sekte Pedang membentuk dinding manusia yang tebal. Mereka tidak berniat membunuh Shi Hao satu lawan satu; mereka hanya menumpuk tubuh mereka untuk menahannya di tempat.

"Tahan dia! Tumpuk terus!" teriak seorang Komandan Titan. "Tekan dia dengan Berat Gunung!"

Setiap kali Shi Hao menebas satu musuh, dua musuh lain maju mengisi celah.

Sementara itu, di langit yang tinggi jauh di luar jangkauan lompatan Shi Hao Pangeran Jin melayang dengan sayap api Gagak Emasnya. Dia tertawa melihat pemandangan di bawah.

"Menyedihkan, Feng! Kau seperti tikus dalam ember!"

Jin mengangkat tongkat mataharinya.

"Seni Matahari: Hujan Meteor Gagak Emas!"

Ribuan bola api raksasa jatuh dari langit, menghujani posisi Shi Hao.

Shi Hao terpaksa berhenti menyerang untuk bertahan.

"Perisai Asura!"

Shi Hao menyilangkan pedangnya. Aura Qi meledak menangkis bola-bola api itu. Tapi dampaknya membuat kakinya tenggelam ke dalam tanah. Tekanan gravitasi dari Formasi 500 Orang membuat Shi Hao tidak bisa terbang. Dia dipaku ke tanah, menjadi target latihan tembak bagi Jin.

"Sialan..." geram Shi Hao, menyeka darah di dahinya. "Aku tidak bisa naik. Dia terlalu tinggi."

Di sisi lain medan perang, Tie Shan dan Shu Ling juga kewalahan. Tie Shan sudah retak di mana-mana karena menahan serangan puluhan Titan sekaligus, sementara Shu Ling sibuk menghindari jaring pedang.

Hanya ada satu orang yang bebas dari kekacauan itu.

Puncak Gunung Melayang.

Luo Tian (Si Mata Tiga) berlutut di tebing batu, napasnya memburu. Dia berada jauh di belakang garis musuh, tersembunyi oleh teknik ilusinya sendiri.

Dia melihat situasi di bawah. Kaptennya terdesak. Musuh bermain curang dengan jarak.

"Satu kesempatan..." bisik Luo Tian, tangannya gemetar.

Dia merogoh peti di punggungnya.

Aura dingin kematian langsung menyebar saat dia mengeluarkan Panah Pembunuh Dewa.

Anak panah tulang naga hitam itu begitu berat hingga batu di bawah lutut Luo Tian retak. Tidak ada busur fisik. Luo Tian harus menggunakan jiwanya sebagai busur.

"Manifestasi Jiwa: Busur Mata Ketiga."

Di tangan Luo Tian, Qi ungu memadat membentuk busur energi raksasa.

Dia memasang anak panah itu pada tali busur jiwanya.

KRRR...

Suara tali busur ditarik terdengar menyakitkan, seperti suara jiwa yang ditarik paksa.

Darah mulai mengucur dari hidung dan mata ketiga Luo Tian. Beban menggunakan Artefak Raja Dewa terlalu berat bagi kultivator ranah Penyatuan Kehampaan sepertinya.

"Kunci Target..."

Mata ketiga Luo Tian berputar liar, memperbesar pandangan hingga wajah Pangeran Jin di langit terlihat jelas.

Dia melihat senyum sombong Jin. Dia melihat detak jantung di leher Jin.

"Demi Tim Asura..."

"MATI KAU!"

TWANG!

Anak panah itu dilepaskan.

Dunia seolah berhenti berputar sesaat.

Panah hitam itu tidak terbang lurus. Dia menghilang ke dalam celah dimensi, mengabaikan jarak, mengabaikan angin, mengabaikan waktu.

Hanya ada satu tujuan: Jiwa Pangeran Jin.

Langit – Posisi Pangeran Jin.

Pangeran Jin sedang bersiap meluncurkan bola api berikutnya ketika tiba-tiba bulu kuduk di seluruh tubuhnya berdiri tegak.

Sensasi dingin yang belum pernah dia rasakan seumur hidupnya mencengkeram jantungnya.

KEMATIAN.

Insting Gagak Emas-nya menjerit: LARI!

Tapi dia tidak bisa lari. Panah itu sudah mengunci keberadaannya. Dia bisa merasakan jarum kematian menusuk jiwanya.

Di depan matanya, ruang angkasa robek. Ujung panah hitam berdarah muncul hanya berjarak sepuluh tombak dari wajahnya.

"TIDAK! AKU TIDAK BISA MATI!" Jin berteriak panik.

Waktunya terlalu singkat untuk mengaktifkan artefak pelindung.

Di sebelahnya, melayang Jenderal Atlas, pemimpin tertinggi Klan Titan yang menjadi tangan kanan Jin di aliansi ini.

Mata Jin berkilat gila.

"LINDUNGI RAJAMU!"

Jin mengulurkan tangannya, mencengkeram leher Jenderal Atlas.

Dengan kekuatan putus asa, Jin menarik tubuh raksasa Jenderal Titan itu ke depan, menjadikannya tameng daging tepat di jalur lintasan panah.

"Pangeran?! Apa yang—" Jenderal Atlas kaget.

BLASSS!

Panah Pembunuh Dewa itu menghantam dada Jenderal Atlas.

Panah itu dirancang untuk membunuh Dewa Sejati. Jenderal Atlas yang hanya di ranah Setengah Langkah Dewa Sejati tidak memiliki kesempatan.

Tidak ada ledakan darah.

Tubuh Jenderal Atlas—yang memiliki pertahanan fisik terkuat di antara ras Titan—langsung menguap.

Daging, tulang, dan jiwanya terbakar habis oleh kutukan kematian di panah itu. Panah itu menembus tubuh Atlas, menghabiskan 90% energinya untuk menghancurkan pertahanan Titan itu.

Sisa 10% energi panah itu terus melaju dan menghantam bahu kiri Pangeran Jin.

CROT!

Zirah Matahari Jin pecah. Bahu kirinya berlubang. Darah emas menyembur.

Jin terpental mundur ratusan meter di udara, berputar-putar tak terkendali sebelum berhasil menyeimbangkan diri.

Hening.

Medan perang di bawah berhenti total.

Semua orang termasuk pasukan Titan—mendongak ke langit.

Mereka melihat serpihan abu yang dulunya adalah Jenderal Atlas melayang turun seperti salju hitam. Mereka melihat Pangeran Jin yang memegangi bahunya yang bolong, wajahnya pucat tapi hidup.

Di puncak gunung, Luo Tian memuntahkan darah segar dan jatuh pingsan. "Gagal..." bisiknya sebelum gelap menyelimuti pandangannya. "Maafkan aku, Kapten..."

Di langit, Pangeran Jin tertawa. Tawa yang terdengar histeris dan gemetar.

"HAHAHA! MELESET! KALIAN MELESET!"

Jin menunjuk ke arah mayat (abu) Jenderal Atlas.

"Pengorbanan yang bagus, Atlas! Kau mati demi kemuliaan masa depanku!"

Pasukan Titan di bawah terdiam. Mereka melihat pemimpin mereka sendiri dijadikan tameng hidup oleh orang yang mereka sumpah untuk lindungi.

"Jenderal Atlas..." bisik seorang prajurit Titan, tangannya gemetar memegang palu. "Dia... Dia mengorbankannya begitu saja?"

Shi Hao, yang masih berdiri di tengah kepungan, melihat semuanya.

Dia melihat Luo Tian yang pingsan di kejauhan. Dia melihat kekejaman Pangeran Jin. Dan dia melihat keraguan di mata pasukan musuh.

Shi Hao tidak berteriak marah. Dia justru tersenyum dingin.

"Hei, Kalian," kata Shi Hao pelan kepada para Titan yang mengepungnya.

"Kalian dengar itu? Itu 'Raja' kalian."

"Hari ini Atlas. Besok mungkin giliranmu."

Para prajurit Titan saling pandang. Formasi mereka yang solid mulai goyah. Niat bertarung mereka merosot drastis.

Shi Hao memanfaatkan celah psikologis itu.

"Tie Shan!" teriak Shi Hao.

"Ya, Tuan!" Tie Shan menjawab dari kejauhan, suaranya penuh amarah melihat saudaranya (Luo Tian) pingsan.

Shi Hao menancapkan pedangnya ke tanah. Dia merendahkan tubuhnya, menekuk lututnya dalam-dalam.

"Musuh sedang ragu! Formasi udara mereka bocor!"

"Lempar aku!"

Shi Hao berlari ke arah Tie Shan. Tie Shan mengerti. Raksasa batu itu menyatukan kedua tangannya membentuk pijakan.

Shi Hao melompat ke tangan Tie Shan.

"TEKNIK GABUNGAN: PELUNCURAN NAGA BUMI!"

Tie Shan mengaum, mengerahkan seluruh tenaga otot batunya, dan melemparkan Shi Hao ke udara sekuat tenaga.

WUSH!

Shi Hao melesat ke langit seperti peluru kendali hidup. Kecepatannya memecahkan dinding suara, menembus formasi udara yang sedang kacau karena kematian Jenderal Atlas.

Pangeran Jin, yang sedang sibuk menyembuhkan bahunya, melotot horor melihat Shi Hao melesat naik ke arahnya dengan kecepatan gila.

"KAU!!!" Jin panik. "Tembak dia! Jatuhkan dia!"

Tapi pasukannya ragu sesaat. Dan satu detik keraguan itu sudah cukup.

Shi Hao sudah berada di depan wajah Jin di udara.

Tanpa pedang (karena tertancap di tanah). Hanya kepalan tangan yang dilapisi sisik naga.

"Kau suka memakai tameng, Jin?"

Shi Hao menarik tinjunya ke belakang.

"Coba pakai wajahmu sendiri sebagai tameng kali ini!"

BUK!

Tinju Shi Hao menghantam wajah tampan Pangeran Jin dengan telak.

1
Rinaldi Sigar
2 cangkir kopi dn vote buat author
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Seru
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Yeaaah 🐉⚔️🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Semangat juang ⚔️🌟
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Muantebz 🐉🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Jlebz ⚔️🌟🐉🔥
Eka suci
kalau SDH punya tempat sendiri saat keluarga mu dari alam bawah naik punya tempat shi kamu punya beberapa kehidupan dan beberapa keluarga di setiap reinkarnasi mu
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Selamat anda mendapat julukan " Silver Fans ".
Sang_Imajinasi: 😍😍😍 🙏🙏
total 1 replies
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Meluncur 2 gift ☕ dan 2 gift 🌹 lanjut Up Thor
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Tetap semangat Thor 💪💪
Eka suci
lanjuuut
Eko Lana
hahahaha...mulai melanjutkan petualangan baru mantap👍
Eka suci
asender dari bumi langsung ke dunia langit
Rhaka Kelana
cerita bagus, bahasa yang lugas...seru, tegang...romansa dalam bahasa yang halus , lanjutkan karya mu thor .....👍👍
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Hajar semua iblis🌟🐉🔥🔛
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Kepruk jadikan bothok🔝🌟🐉🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Tak ada wkt tnp pertarungan..
Muantebz 🔝🐉🔥🌟🔛
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Sarapan 🔝🐉🔥🌟
Harman Loke
bunuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuhhhhh semuaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaanyaaaaa jangan beri ampun bantaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaiiiiiiiiiiii
Harman Loke
bantaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaiiiiiiiiiiii rataaaaaaaaaaaaakaaaann dengaaaaaaaaaaaaaaannn tanaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!