Brian Aditama tidak pernah percaya pada komitmen, apalagi pernikahan. Baginya, janji suci di depan penghulu hanyalah omong kosong yang membuang waktu. Sebagai aktor papan atas sekaligus pewaris kedua Imperium Aditama Group, dunia ada di bawah genggamannya sampai sebuah serangan jantung merenggut nyawa kakaknya secara mendadak.
Kini, Brian terjebak dalam wasiat yang gila. Ia dipaksa menikahi Arumi Safa, janda kakaknya sendiri. Wanita itu adalah satu-satunya orang yang tidak pernah gemetar melihat tatapan tajam Brian, dan kenyataan bahwa yang ia benci adalah kutukan terbesar dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissKay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membutuhkanmu
Kini, hanya ada mereka berdua di antara aroma cokelat dan vanila.
Brian mengangkat tubuh Arumi, mendudukkannya di atas meja dapur yang dingin. Tangannya yang kuat menarik kemeja Arumi hingga kancing-kancingnya terlepas dan berhamburan ke lantai. Nafas Brian memburu. Ia mengambil wadah es krim yang baru saja jadi, lalu dengan gerakan provokatif, ia mengoleskan krim cokelat yang dingin itu ke tempat favoritnya.
Kontras antara es krim yang dingin dan kulit Arumi yang panas membuat wanita itu tersentak. Brian tidak menunggu lama, ia segera menjilat dan menghisap titik sensitif Arumi yang sudah mencuat kencang. Lenguhan Arumi kini berubah menjadi desahan tertahan yang memenuhi ruangan.
Tanpa kesabaran lagi, Brian membuka kancing celananya, membebaskan kebanggaannya yang sudah menegang sempurna. Ia mengangkat kaki Arumi, menuntun dirinya sendiri untuk masuk. Arumi memekik pelan, merasakan sensasi ngilu sekaligus nikmat saat ketegangan Brian yang perkasa memenuhinya dalam satu gerakan mantap.
Setelah beberapa saat menikmati penyatuan itu, Brian menurunkan Arumi. Ia membalikkan tubuh wanita itu hingga menghadap meja, lalu memasukinya kembali dari belakang. Tangannya bergerak ke bawah, mengusap inti Arumi yang sudah membengkak dan basah, membuat Arumi bergerak tak karuan mengikuti ritme yang Brian ciptakan.
Sambil terus bergerak dalam irama yang mematikan, Brian menelusuri punggung Arumi yang sudah ia lumuri sisa es krim. Sensasi manis, dingin, dan panas menyatu, menciptakan gairah luar biasa yang membuat Brian pun tak mampu lagi menahan diri menuju puncak kenikmatan.
...***...
Di ruang kerja keamanan yang terletak di sayap kiri mansion, suasana sangat kontras dengan dapur tadi. Ruangan itu hanya diterangi cahaya biru dari deretan monitor yang menampilkan denah kota dan data transaksi gelap kartel Black Scorpio. Frans duduk tegak, matanya yang tajam tidak berkedip menatap layar, mencari pola pelarian si pembunuh bertato kalajengking.
Tiba-tiba, pintu kayu jati yang berat itu terbuka sedikit. Sebuah kepala dengan rambut di kuncir kuda menyembul dari balik pintu.
"Frans...?" bisik Dona pelan.
Frans tidak menoleh. "Nona Dona, ini sudah malam. Ruangan ini tidak aman untuk Anda yang sedang tidak berkepentingan."
Dona tidak memedulikan penolakan itu. Ia melangkah masuk dengan riang, membawa sebuah piring porselen kecil dengan sesuatu yang berwarna merah muda di atasnya. "Aku punya kepentingan sangat besar. Kepentingan menaklukkan hati asisten kesayanganku."
Dona meletakkan piring itu tepat di samping mouse milik Frans. Sebuah puding stroberi berbentuk hati yang sedikit miring, lengkap dengan hiasan irisan coklat warna-warni yang tampak terlalu meriah untuk ruangan seserius itu.
Frans melirik benda merah muda itu dengan dahi berkerut. "Apa ini?"
"Puding cinta. Aku membuatnya sendiri sampai jariku pegal," ucap Dona bangga sambil berkacak pinggang. "Ayo makan, lalu katakan aku hebat."
"Saya sedang bekerja, Nona. Dan saya tidak suka makanan manis," jawab Frans dingin, kembali menatap layar monitor.
Dona mengerucutkan bibirnya. Ia berjalan memutari kursi Frans, lalu dengan berani menyandarkan tangannya di bahu pria itu. "Kau lupa? Kita sudah pacaran. Dan dalam kontrak pacaran tidak tertulis, kau harus memakan apa pun yang dibuatkan pacarmu, meskipun itu racun sekalipun."
Frans menghela napas panjang. Ia meletakkan headset-nya dan menoleh menatap Dona. "Nona, saya sedang melacak orang yang membunuh Siska. Ini bukan waktu yang tepat untuk bermain rumah-rumahan. Dan kapan saya menjadikan anda kekasih?"
Mendengar nama Siska, binar di mata Dona sedikit meredup, namun ia tidak menyerah. Ia tahu Frans sedang menyalahkan diri sendiri. Dona mengambil sendok, memotong bagian pinggir puding itu, dan menyodorkannya ke depan mulut Frans.
"Siska pasti sedih melihatmu kelaparan dan berubah jadi mayat hidup seperti ini," ujar Dona lembut namun memaksa. "Buka mulutmu, Frans. Atau aku akan mengadukan pada Kak Brian kalau kau menolak perintah Adik sepupu kesayangannya."
Frans menatap sendok itu, lalu menatap mata cokelat Dona yang bulat dan penuh harap. Dengan sangat terpaksa dan sedikit rona tipis yang muncul di telinganya, Frans membuka mulut dan menerima suapan itu.
"Bagaimana?" tanya Dona antusias.
Frans mengunyah pelan. Rasanya terlalu manis, teksturnya sedikit terlalu kenyal, dan ada sisa rasa tepung yang belum matang sempurna di ujung lidah. Namun, melihat wajah Dona yang berseri, Frans menelan semua kritiknya.
"Bisa dimakan," jawab Frans singkat.
"Hanya bisa dimakan?! Aku bertaruh ini adalah hal termanis yang pernah aku lakukan seumur hidupku!" Dona tertawa, lalu tanpa diduga ia mengecup bibir Frans dengan cepat sebelum pria itu sempat bereaksi.
Frans terpaku. Tangannya yang biasanya kokoh saat memegang senjata, tiba-tiba terasa kaku saat memegang sendok. Dona langsung berlari menuju pintu sambil melambaikan tangan.
"Habiskan, ya! Kalau tidak habis, besok aku buatkan sepuluh piring lagi!" seru Dona sebelum menghilang di balik pintu.
Frans menatap pintu yang tertutup, lalu beralih ke puding berbentuk hati di atas mejanya. Sebuah senyum yang sangat
hampir tak terlihat muncul di sudut bibirnya. Ia menyendok lagi puding itu, sejenak melupakan kalajengking hitam yang sedang ia buru.
...***...
Brian dan Arumi kini sudah berada di tempat tidur yang luas. Arumi memeluk erat tubuh kekar Brian, sementara suaminya itu masih sibuk memberikan kecupan-kecupan yang membangkitkan gairah di seluruh tubuhnya.
Di sela desahannya, Arumi merasa sangat malu jika membayangkan besok pagi harus bertemu para pelayan. Ulah Brian sungguh gila, pria itu seolah tidak puas dan ingin terus bercinta mulai dari dapur, menaiki tangga, hingga akhirnya sampai ke kamar ini. Ia juga khawatir Dona sempat melihat tingkah liar mereka tadi.
Mengingat Dona, Arumi tiba-tiba teringat akan Frans.
"Brian, aku ingin bertanya," ucap Arumi pelan sembari menatap suaminya yang sibuk sendiri dengan kesukaannya seperti bayi besar.
"Apa?" sahut Brian tanpa menghentikan aktifitasnya.
"Apa Frans sudah punya kekasih?"
Mata Brian yang tadinya terpejam langsung terbuka lebar. Sebagai jawaban, ia memberikan gigitan kecil pada puncak keindahan Arumi hingga wanita itu merintih tertahan.
"Kenapa kau menanyakan Frans di saat seperti ini?" nada suara Brian berubah sedikit posesif.
"Jangan salah paham, ini soal Dona. Sepertinya adikmu itu menyukai Frans," jelas Arumi cepat agar suaminya tidak cemburu.
Brian tidak tampak terkejut. Ia justru bangun, menindih Arumi dengan tatapan yang sulit diartikan, lalu kembali menuntun ketegangannya masuk ke dalam kehangatan Arumi.
"Frans itu duda," jawab Brian singkat. Suaranya berat, beradu dengan suara nikmat yang dirasakan Arumi saat Brian kembali menyatu dengannya. "Dia menikah di usia dua puluh tahun, tapi istrinya meninggal."
"Aaahh... lalu, bagaimana dengan Dona?" tanya Arumi terbata-bata, berusaha tetap fokus meski tubuhnya sedang diguncang nikmat.
"Aku tidak setuju jika mereka bersama. Frans sudah bertunangan," jawab Brian dingin.
"Apa?!" Arumi tersentak kaget. "Lalu bagaimana jika Dona patah hati? Kau tidak kasihan padanya?"
Brian menatap mata Arumi dengan tajam, sebuah senyum tipis yang arogan muncul di bibirnya. "Biarkan saja. Biar dia kapok dan belajar bahwa tidak semua hal di dunia ini bisa ia miliki hanya dengan merengek."
Brian menghentikan pembicaraan itu dengan sebuah ciuman kasar. "Sudah, jangan bicara lagi. Kalau kau masih bertanya tentang pria lain, aku akan membuatmu tidak bisa berjalan besok pagi," ancam Brian pelan namun mematikan.
l
Tanpa menunggu balasan, Brian mulai bergerak dengan ritme yang jauh lebih cepat dan kuat. Ranjang kayu mewah itu berderit ritmis, menjadi saksi bisu gairah panas yang membakar mereka hingga puncak kenikmatan kembali tercapai.