Kisah seorang gadis muda bernama hazel lyra raven, anak konglomerat dari seorang kepala rumah sakit ternama. Rumah sakit swasta raven medika. pada awalnya dia di jodoh kan oleh seorang dokter bedah terkenal.
Pharma Andrian, justru perjodohan itu malah membawa petaka??, seorang wanita asing yang mengaku dirinya adalah istri sang dokter pharma pada pernikahan mereka??
kedatangan wanita misterius itu membawa petaka. konflik di mulai, tapi sayangnya wanita itu memiliki ide busuk!!..ia mendorong lyra dari lantai 20??. tapi saat terbangun. lyra malah bangun di di 3 tahun sebelum kejadian??, Dan malah bertemu laki laki lain yang dapat membantu nya!!
Tapi terbangun nya lyra ke 3 tahun sebelumnya bukan hanya untuk mengubah takdir nya, tanpa ia sadari..masalah ternyata yang datang lebih besar
Organisasi misterius yang melakukan perdagangan barang gelap mengintai rumah sakit megah, mereka telah menanam bom besar yang terpasang tepat di bawah rumah sakit itu..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 15
[Lokasi: Rumah Sakit Bedah DELFI – Ruang bawah, 23.41]
Udara di sana dingin banget, bau antiseptik bercampur besi berkarat dan darah lama.
Lampu neon di langit-langit ngedip kayak lagi mikir hidup.
Pharma berdiri bersandar di meja stainless, jas putihnya udah lepas, ganti kemeja hitam yang lengannya dilipet sampai siku.
Di seberang ruangan, Kaon duduk di atas meja operasi, kakinya ayun pelan, masih pakai hoodie gelap.
Wajahnya setengah ketutup bayangan tapi mata merahnya nyala kayak bara.
> Pharma: “Jadi… semua laporan udah sampai ke mereka.”
Kaon: (ketawa kecil) “Kau bicara seolah-olah itu hal buruk.”
Pharma: “Karena memang buruk, Kaon. Mereka curiga padaku.”
Kaon: “Dan itu bagus. Artinya mereka gak curiga padaku.”
(senyum bengkok) “Lagi pula, bukankah itu tujuanmu juga? Menyembunyikan sesuatu yang lebih busuk di balik wajah dokter sempurna?”
Pharma diam. Tangannya mencengkram meja kuat-kuat.
> Pharma: “Aku gak mau ini keluar jalur. Kita punya kesepakatan tidak ada yang dibunuh tanpa izinku.”
> Kaon: (ketawa tipis) “Lucu. Kau bicara seolah masih punya moral.”
Pharma: “Aku punya sistem.”
Kaon: “Sistem yang sama yang kau pakai buat menutup-nutupi tubuh ke-17 itu?”
Pharma ngerem ekspresinya.
Suara jarum jam tua di dinding berasa nyentak setiap detik.
> Pharma: “Kau lupa siapa yang bikin kau bisa hidup lagi, Kaon.”
Kaon: “Hidup? Hah. Ini bukan hidup.”
(ngambil scalpel dari meja dan nyodorin ke Pharma)
“Ini reinkarnasi paksa.”
Pharma ngelirik benda itu tanpa reaksi.
> Pharma: “Dan kau tetep nurut padaku, karena kau utang nyawa.”
Kaon: “Jangan salah, aku nurut karena ini masih menarik. Begitu gak lagi… aku balik jadi dokter Kael dan kau”
(senyum bengis) “kudisseksi balik.”
Tiba-tiba… klik
Suara pintu kecil di pojok ruangan.
Lampu sensor nyala pelan.
Veronica berdiri di ambang pintu, bawa map, wajahnya pucat tapi tetap berusaha tenang.
Dia nunduk cepat, kayak baru nyadar udah masuk ke tempat yang salah banget.
> Veronica: “Maaf, Dok. Saya cuma… nyari berkas pasien saya gak tau ruangan ini masih dipakai…”
Pharma langsung pasang senyum lembutnya lagi senyum “dokter baik” versi publik.
> Pharma: “Oh, Nika. Kau kerja terlalu keras. Ini cuma… ruang penyimpanan lama. Kau gak apa-apa?”
> Veronica: (nangis ketakutan setengah) “I-iya, Dok… tapi barusan saya dengar…”
Kaon berdiri pelan.
Suara sepatunya beradu dengan lantai logam klik… klik… klik…
> Kaon: “Kau dengar apa, Nona manis?”
Pharma langsung berdiri di antara mereka, matanya nancep ke Kaon.
> Pharma: “Jangan.”
Kaon: “Tenang, aku gak akan bunuh dia. Belum.”
Pharma berbalik ke Veronica, nadanya pelan tapi tajam kayak pisau dingin:
> Pharma: “Lupakan semua yang kau dengar, Nika. Kau paham maksudku, kan?”
> Veronica: “T-tentu, Dok… saya gak bakal”
Pharma: “Bagus.” (senyum tipis)
“Sekarang keluar dari sini. Dan jangan pernah buka pintu ini lagi.”
Veronica buru-buru pergi, tapi sebelum nutup pintu, dia sempet liat sekilas ada meja operasi di pojokan yang tertutup kain hitam.
Dan di bawah kain itu, ada tangan manusia yang jatuh keluar.
Pharma masih duduk di kursi kerjanya, menatap grafik pasien yang terpantul di layar holo. Matanya sayu, tapi fokus kayak seseorang yang berusaha mempertahankan sisa-sisa logika di tengah badai kebohongan. Di sebelahnya, Kaon atau yang di “catatan resmi” dikenal sebagai Dr. Kael menyandarkan tubuh ke dinding, tangan bersilang santai. Senyum kecil menyeringai di bawah naungan cahaya biru layar.
“Dia tahu terlalu banyak,” suara Kaon rendah, serak, bergetar halus seperti arus listrik.
Pharma tidak menoleh. “Dia cuma perawat. Dia cuma lewat.”
“Dia mendengar, Pharma,” Kaon melangkah mendekat, tiap langkahnya berat dan berirama, seperti detak jantung yang dipaksa tenang. “Kau pikir aku gak liat gimana ekspresinya tadi? Dia bukan cuma lewat dia paham.”
Pharma menghela napas pelan, tangannya berhenti di atas tablet medis. “Biarkan saja. Aku yang urus.”
Suara itu tenang, tapi di baliknya ada nada halus… takut? Cemas? Sesuatu yang bahkan Kaon bisa cium.
Kaon mendecak. “Kau makin lembek.” Ia mengangkat kepala sedikit, menatap ke arah pintu keluar yang baru saja berayun perlahan Veronica baru meninggalkan ruangan. “Aku bisa tangani dia sekarang. Gak akan ada yang sadar.”
“Kaon!” Suara Pharma meninggi—sekali ini terdengar manusiawi, bukan tenang seperti biasanya. “Jangan sentuh dia. Aku gak mau ada lagi darah di tempat ini.”
Keheningan menggantung.
Kaon menatapnya lama.
Tatapan itu tajam, seperti pisau yang siap menusuk tapi menunggu izin. Lalu, pelan-pelan, dia tersenyum miring. “Kau selalu bilang gitu, tapi tiap kali, selalu berakhir sama.”
Pharma berdiri dari kursinya, menatap balik, lebih dekat dari yang seharusnya. “Kali ini enggak.”
Suara itu mantap. Tapi Kaon cuma terkekeh kecil, lalu jalan melewati Pharma, berhenti sebentar di depan pintu yang baru saja dilewati Veronica. Ia menoleh setengah, matanya menyala samar di balik cahaya redup ruangan.
“Kalau dia buka mulut, konsekuensinya di tanganmu, bukan di tanganku.”
Dan pintu menutup pelan, meninggalkan Pharma berdiri sendirian di tengah ruangan sunyi yang tiba-tiba terasa terlalu sempit.
Di luar, Veronica berjalan cepat di koridor gelap rumah sakit, napasnya berat. Apa yang barusan ia dengar… tidak masuk akal. Kael? Kaon? Siapa mereka sebenarnya?
Dan kenapa Pharma—dokter yang dikenal paling jujur dan baik di Delphi—tiba-tiba tampak begitu… takut?
---
Malam itu, di depan rumah sakit Delphi Medika, suasananya basah jalan masih licin sisa hujan, lampu-lampu putih memantul di genangan air. Veronica berdiri di dekat trotoar, tangan gemetar sambil nyari sinyal buat nelpon Paul. Tapi sebelum sempat pencet tombol, suara langkah berat berhenti di belakangnya.
“Pergi ke mana buru-buru, Nika?”
Suara itu datar, tapi ada nada keakraban yang bikin jantung Veronica langsung merosot.
Dia perlahan menoleh.
Dr. Kael. Tapi—entah kenapa—ada sesuatu yang beda malam ini. Tatapan mata pria itu dingin, hampir… hidup dalam cara yang salah.
“D-Dokter Kael? Saya cuma”
Kaon mencondongkan tubuh sedikit. “Kau denger banyak tadi.”
Nada suaranya tenang. Terlalu tenang.
Veronica mundur satu langkah. “Saya gak”
Tapi tiba-tiba suara mesin mobil berhenti di sisi jalan, membelah ketegangan itu. Pintu mobil terbuka cepat, dan Lyra keluar, rambutnya sedikit berantakan karena angin.
“Dokter Pharma ada di dalam?” katanya tanpa sadar situasi. Lalu matanya baru nyadar ke dua sosok itu. “Veronica? Kael?”
Kaon menatap Lyra. Wajahnya berubah tipisbsenyum kecil, samar, tapi penuh pengakuan. “Lyra… ternyata kita ketemu lagi.”
Lyra membeku sejenak. Nada itu…
Dia tahu. Suara yang sama dari Lavender dulu waktu dia hampir dibunuh seseorang di gang, dan pria berjaket hitam itu menolongnya dengan ekspresi dingin yang sama.
“…Kau,” bisik Lyra, nada suaranya rendah. “Jadi itu kau waktu itu.”
Kaon hanya menaikkan alis, seolah mengakui tanpa kata.
“Seharusnya kau gak balik ke sini, Lyra,” katanya pelan. “Kau suka muncul di waktu yang salah.”
Veronica makin panik, tapi Lyra tetap berdiri tegak, walau jantungnya udah berdegup kacau.
“Kalau kau mau dia,” Lyra menatap tajam, “kau harus lewatin aku dulu.”
Kaon menatap dua perempuan di depannya. Satu gemetar ketakutan. Satu berdiri dengan kepala tegak, mata menyala oleh keberanian yang bukan tanpa rasa takut.
Ia tersenyum tipis. “Menarik.”
Lalu langkah-langkah kakinya bergema di aspal.
Tapi sebelum ia sempat mendekat lebih jauh suara pintu otomatis rumah sakit terbuka.
Pharma muncul di sana, masih dengan jas putihnya, wajahnya tegang.
“Kaon!”
Nada suaranya kali ini bukan sekadar teguran, tapi perintah.
Semua berhenti.
Kaon menatapnya, lalu tertawa kecil. “Kau datang juga.”
Pharma berjalan cepat mendekat, berdiri di antara Kaon dan dua perempuan itu. “Kau udah janji gak akan"
Kaon menyela pelan. “Kau yang selalu percaya janji, bukan aku.”
Suasana seolah membeku.
Hujan mulai turun lagi rintik-rintik kecil memantul di jas putih Pharma, yang kini berdiri di tengah jalan antara cahaya rumah sakit dan bayangan Kaon yang gelap.
---
Hujan turun lebih deras.
Lampu depan Delphi memantulkan genangan air jadi seperti kaca berwarna perak. Veronica terseret ke belakang, napasnya memburu Kaon sudah menempel di belakangnya, jarinya hampir menyentuh lehernya. Sekilas kilat memantul di bilah kecil di tangannya.
Pharma muncul tepat saat itu.
“Kaon, jangan.”
Suara itu tajam, dan untuk sesaat bahkan Kaon berhenti.
Tapi cuma sesaat.
Ia mendongak, senyum miring di wajahnya. “Kau terlalu lembut, Pharma. Kalau dia tahu terlalu banyak, dia harus"
“Cukup.”
Nada Pharma dingin, dan kali ini dia yang melangkah maju.
Ia memegang lengan Kaon, keras. “Aku bilang berhenti.”
Veronica langsung terseret mundur, hampir jatuh, disambut oleh Lyra yang baru sadar penuh dengan apa yang dia lihat. Tapi sebelum Lyra sempat bicara, tatapan Pharma menembus langsung ke matanya.
Tatapan dokter itu berubah. Bukan lagi lembut dan rasional seperti biasanya melainkan dingin, klinis, nyaris tak bernyawa.
“Dan kau,” Pharma mendesis, “terlalu pintar untuk diam.”
Lyra langsung tahu arah pembicaraan itu.
“Pharma…”
“Diam.”
Tangannya bergerak pelan ke saku jasnya bukan senjata, tapi jarum anestesi kecil yang biasa dia bawa untuk operasi darurat.
Lyra mundur satu langkah, tubuhnya tegang. “Kau mau apa?”
Pharma menatapnya tanpa ekspresi. “Aku harus pastikan kau gak pernah cerita ke siapa pun. Tentang aku. Tentang dia.”
Kaon mengangkat wajahnya, menatap Pharma dengan sorot tajam. “Kau serius?” katanya, nyaris tertawa. “Kau mau bungkam Lyra? Orang yang dulu kau bilang ‘dokter paling jujur yang pernah kau temui’?”
Pharma menatapnya datar. “Kalau dia bicara, aku selesai. Kita berdua selesai.”
Hening.
Rintik hujan berubah jadi deras, jatuh seperti peluru di atap logam rumah sakit.
Dan di saat dunia seolah berhenti Kaon menoleh ke Lyra.
Sekilas, hanya sepersekian detik, tapi cukup buat menunjukkan sesuatu yang aneh di wajahnya.
Ada keraguan. Ada sesuatu di balik dinginnya ekspresi itu mungkin ingatan lama, tentang gang Lavender yang basah dan mata Lyra yang waktu itu gemetar, tapi tetap mencoba bicara padanya.
“Pharma,” katanya akhirnya, suaranya datar tapi tajam seperti pisau bedah,
“Kalau ada satu orang di dunia ini yang gak akan aku biarin kau sentuh, itu dia.”
Pharma menegang. “Kau gila.”
“Dari awal,” Kaon membalas ringan.
Lalu dengan kecepatan yang hampir tak terlihat, dia menggeser posisi menarik Veronica ke belakangnya, lalu berdiri di depan Lyra.
Tubuhnya setengah basah, tapi matanya benar-benar hidup.
“Pergi, Lyra,” katanya pelan tanpa menoleh. “Sebelum aku berubah pikiran.”
Pharma berdiri diam. Tatapannya menusuk, tapi ada sesuatu di dalamnya antara frustrasi, takut, dan... kecew
“Aku sudah berusaha menyelamatkan reputasimu, Kaon.”
Kaon hanya menatap balik, setengah tersenyum. “Kau selalu salah paham tentang ‘penyelamatan’.”
Dan di detik berikutnya sirene patroli polisi terdengar dari kejauhan.
Lampu biru-merah mulai memantul di genangan air.
Pharma melangkah mundur. Kaon memutar tubuhnya, menatap Lyra dan Veronica yang udah nyaris terseret panik ke arah mobil Lyra.
“Pergi.”
Nada itu bukan ancaman. Tapi… seperti peringatan lembut yang dibungkus baja.
---
Lyra nyeret Veronica masuk ke mobil, kuncinya jatuh dua kali sebelum akhirnya bisa diputar.
Tangannya gemetar. Suara hujan di atap mobil kayak ribuan jarum kecil yang ngetok-ngetok kepala, gak berhenti. Veronica masih shock total, bajunya kotor kena lumpur waktu tadi sempat jatuh.
Mobilnya mundur pelan, lalu ngebut keluar dari area rumah sakit Delphi.
Di spion, Lyra sempat liat sekilas siluet dua sosok di bawah lampu redup halaman rumah sakit.
Pharma dan Kaon.
Saling berdiri diam, gak ngomong, cuma menatap. Seolah ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar “salah satu jahat, salah satu baik”.
Lyra gak tahu kenapa dadanya sesak banget.
Dia gak ngerti kenapa Kaon orang yang dulu hampir ngebunuh dia di Lavender justru kali ini nyelamatin dia.
Dan Pharma orang yang dulu dia percaya sepenuhnya malah mau ngebungkam dia sendiri.
“Ini… semua apa sih,” gumam Lyra pelan, matanya mulai berair.
Veronica di kursi sebelah nahan napas, masih pucat.
“Dia… Kaon itu siapa, Lyra?”
Lyra gak bisa jawab.
Yang keluar cuma desahan kecil, hampir seperti orang nyesek. “Monster… tapi… bukan cuma itu.”
---
Sementara itu, di balik lorong belakang Delphi Pharma duduk di bangku besi, tangannya masih bergetar. Kaon berdiri di depan jendela, lampu kota Paris memantul di wajahnya yang penuh luka dan air hujan.
“Kenapa tadi lo tahan gue?” tanya Kaon akhirnya, tanpa menoleh.
Pharma gak langsung jawab. Cuma suara napas berat.
“Sebelum semuanya hancur, gue pengen percaya kalau kita masih bisa berdua,” katanya pelan.
Kaon nyengir sinis. “Berdua? Lo udah jual jiwa lo ke sistem sejak lama, Pharma.”
“Dan lo jual nurani lo ke darah.”
Hening.
Cuma bunyi petir yang mecah udara.
“Lyra bakal cerita,” ujar Kaon datar. “Dan waktu itu terjadi, semuanya bakal tau siapa kita.”
Pharma berdiri, mendekat. “Kalau dia cerita… lo pikir mereka bakal percaya?”
Kaon nyengir. “Gue gak peduli siapa yang percaya. Gue cuma gak mau dia mati.”
Ada jeda.
Pharma menatap Kaon lama banget, matanya nyala tipis kayak ada sesuatu di balik tatapan itu antara marah dan... kecewa banget.
“Lo jatuh cinta, Kaon?”
Suara itu tenang, tapi nadanya nyayat.
Kaon menoleh, senyumnya tajam. “Kalau iya?”
Pharma menatapnya, mata dingin seperti kaca. “Berarti lo udah lemah.”
Kaon mendengus pelan, lalu balik badan menuju pintu belakang.
“Kalau cinta itu kelemahan,” katanya pelan sambil melangkah ke luar, “maka lo gak pernah jadi manusia, Pharma.”
Pintu besi nutup dengan bunyi berat.
Pharma berdiri di sana sendirian, basah kuyup, wajahnya tenggelam dalam cahaya putih kebiruan dari lampu ruang operasi.
Dia nyengir pelan tapi ada air mata yang ikut jatuh, bercampur dengan hujan.
---
Malam di halaman belakang Delphi terasa seperti ruang tunggu maut. Hujan masih ketus, memantulkan lampu-lampu jalan jadi pecahan kaca. Dari lorong gelap muncul suara mesin, lalu bayangan SUV hitam berhenti, pintunya terbuka dan turunlah sosok yang bikin udara di sekitar langsung berubah dingin: Terra.
Dia bukan tipe yang datang buat nego kopi. Jaketnya rapih, mata tajam, senyumannya dingin seperti pisau yang baru dias.
Di sampingnya berdiri beberapa anak buahnya, lengkap dengan perangkat kecil yang kelihatan seperti remote benda yang bikin perut semua orang kedutan: detonator.
Kaon, yang baru aja balik dari lorong, langsung menegang. Wajahnya tak banyak berubah, tapi bahunya ikut kaku. Terra melangkah ke tengah, menatap Pharma seperti menilai sebuah benda pecah belah mahal.
> Terra (suara lembut tapi mematikan): “Pharma. Kita kasih kesempatan terakhir, ya? Kita butuh kiriman organ lagi. Sesuai jadwal. Sesuai kebutuhan.
Kalau kau nolak… rumah sakit ini meledak. Gampang.”
Pharma menelan ludah. Tangannya gemetar bukan karena kedinginan. Mata dokter itu menatap Kaon, lalu menatap Terra. Ada api kecil di sana; bukan pada Pharma, tapi pada sesuatu yang belum sempat padam.
> Pharma (suara serak, menahan amarah): “Kau tau aku gak terima begitu aja. Ini bukan transaksi bisnis. Ini manusia.”
Terra ketawa kecil tanpa humor. “Manusia yang abis diskon, ya? Kita punya pasar. Kau juga tau itu. Jangan pura-pura terkejut.” Ia nunjuk remote kecil. “Siapa pun yang bertanya kenapa? Ini jawabannya.”
Dia menekan tombol kecil sekilas terdengar klik mekanis, lampu indikator berkedip.
> Terra: “Waktu hampir habis, Dok. Pilih: ikuti permintaan kita, atau semua orang di sini ikut tidur panjang.”
Kaon maju selangkah, tatapannya ngerangsek ke pita suara Terra. “Kau bener-bener mau bunuh ratusan orang demi rencana kau yang apa? ‘Proyek’ sebelah?” suaranya datar, tapi ada tepi emosi yang bikin Terra sedikit ragu.
Terra menatap Kaon, lalu kembali ke Pharma. “Ini bukan soal kau suka atau gak. Ini soal hasil. Kau manusia yang jenius kita butuh itu. Kau menolak, aku tunjukkan ke semua orang bahwa kau bukan pahlawan medis, tapi monster yang pura-pura.”
Pharma mendadak terdorong ke dinding emosi. Ada bunyi napas yang cepat, gigi gemeretak pelan. Tangannya menekan dahi, seperti mau menahan sesuatu yang mau pecah.
> Pharma (berbisik): “Aku… aku tak bisa terus begini. Mereka paksa aku. Mereka… mereka ancam keluarga yang pernah aku selamatkan. Mereka…”
Suaranya putus. Ia tertawa pendek, suara itu bukan tawa yang sehat: “Kalian minta aku nyalakan mesin lagi. Aku sudah bilang tak lagi”
Kaon melangkah lebih dekat ke Pharma, menatapnya lurus. “Lihat aku,” perintahnya lembut. “Kalau kau nekat kirim lagi, aku yang akan lawan kau. Bukan karena aku benci DJD. Karena… karena kau bukan itu.”
Terra mendengus, pura-pura tak peduli. “Sentimental. Jangan bikin aku bosan.”
Di bawah lampu remang, Pharma hampir runtuh. Wajahnya berubah: dari ketenangan “dokter” menjadi manusia yang sudah kelewat batas. Ia menimbang antara moral dan kenyataan tak terhindarkan yang dibuat Terra. Di matanya, ada keputusan yang diseret oleh beban.
> Pharma (berbisik, hampir tidak terdengar): “Kalau aku menyerah… aku bunuh diriku sendiri besok. Karena aku gak bisa lagi lihat wajah manusia tanpa tahu aku bayar dengan nyawanya.”
Kaon menggeram halus, pengertian beradu dengan kemarahan. Terra tersenyum licik mendengar itu adalah kemenangan.
> Terra: “Nah, kita semua punya pilihan tragis, bukan? Pilihannya: atau kau bantu, atau semua musnah. Jangan bikin opsi lain, Dok.”
Pharma menutup mata, napasnya seperti pecah. Semuanya menunggu: Kaon yang menahan, Terra yang mengintimidasi, anak buah yang memegang remote. Veronica yang bersembunyi beberapa meter, gemetar. Lyra di dalam mobil, memegang setir, menatap bayangan itu dari spion dunia seakan memilih saat itu untuk pecah.
Pharma membuka mata. Ada sesuatu berbeda: bukan penyerahan, bukan juga pemberontakan melainkan keputusan licik yang hanya dokter gila di tepi jurang berani lakukan.
> Pharma (lambat): “Baik. Aku… akan kirim. Tapi satu syarat. Setelah itu, kalian harus mundur. Dan kalian gak pernah sentuh satu pasien lagi yang aku rawat. Kau setuju?”
Terra tersenyum tipis, seperti pedang yang menoleh: “Setuju.”
Ia memberi isyarat. Anak buahnya menurunkan remote, tapi detik itu juga Kaon bergerak.
Kaon menyambar lengan Terra dalam gerakan secepat ular. Terra kaget, remote hampir terlepas. Dalam friksi itu, Kaon mendesah: “Kau serakah, Terra. Kau kira semua bisa kau beli dengan ancaman?”
Terra marah, narik remote, tapi Kaon sudah lepas. Mereka beradu cepat dua kekuatan yang sama-sama keras kepala. Saat itu, Pharma berdiri kaku, napas berat.
Kaon memberontak bukan untuk Terra; dia memberontak untuk Lyra.
Dan dalam pergulatan kilat itu, Terra menekan tombol lain lampu kecil di remote berkedip merah: sinyal bom aktif.
Semua freeze. Waktu jadi batu. Pharma menatap Kaon, matanya seperti menuntut jawaban. Kaon, berdarah sedikit dari siku, menatap balik dengan jarak yang dingin.
> Kaon (datar): “Jika kau sentuh satu helai rambut Lyra aku akan buat kalian menyesal bukan hanya satu rumah sakit.”
Terra tertawa keras, tak takut. “Aduh, romantisme absurd. Tapi aku tak terganggu oleh kata ‘menyesal’ dari seorang samaran.”
Di situ, pilihan menjadi dua: tunduk lagi pada Terra, atau lakukan sesuatu yang gila. Pharma menggenggam tablet di tangannya, lalu mengetik cepat kode telemetri yang tersembunyi, alur rencana yang hanya dia tahu. Matanya menatap Kaon beberapa detik, seolah meminta maaf.
> Pharma (suara mengecil): “Jika kalian paksa aku… aku akan kirim. Tapi aku tak akan menandatangani nota yang benar. Aku akan kirim paket kosong organ palsu. Dan aku akan broadcast semua data ke publik. Kalian akan punya bom, tapi kalian juga punya sorotan dunia.”
Terra menoleh, tertawa. “Kau pikir kau bisa main film gitu, Dok?”
Pharma menatapnya, dingin. “Kau kira aku tidak pernah mempersiapkan cara untuk gencatan api?”
Kaon menahan napas. Terra ragu sekejap—lalu memutuskan untuk mengambil risiko. “Baik jika kau bisa kasih aku apa yang kubutuh sekarang, kita mundur. Tapi ingat kita pegang kata. Jika kau bohong…”
Pharma menelan ludah. Matanya menatap Kaon lagi, dan untuk pertama kali Kaon melihat sesuatu yang resah dalam diri Pharma bukan kejahatan polos, tapi penderitaan yang diinternalisasi.
Kaon menarik napas, lalu menoleh ke arah mobil Lyra. “Jangan pernah dekatin dia lagi,” katanya pelan. “Atau aku yang datang.”
Terra melambaikan tangan, anak buahnya kembali ke SUV. Mereka pergi dalam kabut hujan tapi bukan tanpa pesan: jendela belakang SUV menampilkan nomor kontak DJD, dan sebuah ancaman yang digantung di udara.
Ketika mobil itu hilang, Pharma berdiri di situ tangan gemetar, mata kosong. Kaon menempelkan punggungnya ke dinding, napasnya berat. Veronica menangis, Lyra memarkir jauh di sudut, dan dunia mereka berubah lebih kotor, lebih berbahaya, tapi juga lebih terang karena ada garis pertempuran yang sekarang jelas.
---
Mobil Lyra berhenti di pinggir jalan, tepat di depan apartemen Veronica. Hujan udah berhenti, tapi jalanan masih basah, memantulkan lampu-lampu neon yang pecah jadi warna merah muda dan biru di aspal.
Lyra matiin mesin, tapi nggak langsung buka sabuk pengaman.
“Naik ke atas,” katanya pelan. “Ganti baju, kunci pintu, jangan angkat telepon siapa pun kecuali aku.”
Veronica diem, tangannya masih gemetar di pangkuan. “Kalau mereka datang lagi, Ly aku gak bisa”
Lyra menatap lurus ke depan, suaranya tenang tapi ada tajam halus di ujungnya.
“Mereka gak akan datang malam ini. Aku udah ganti rute tiga kali. Kamera lalu lintas gak akan bisa lacak platku.”
Dia lalu balik ke arah Veronica, matanya gelap tapi jernih.
“Yang perlu kau lakukan cuma satu: bertahan. Sisa biar aku yang urus.”
Veronica angguk pelan, matanya berkaca.
“Lyra… Kaon tadi bilang sesuatu tentang kau. Dia bilang jangan biarin dia"
“Sentuh aku?” Lyra potong dengan senyum tipis yang lebih mirip luka. “Ya, aku dengar. Dan aku belum tahu apakah itu peringatan… atau pengakuan.”
Veronica terdiam, nunduk.
“Kau nggak perlu ngerti semuanya, Nika. Dunia ini kadang lebih aman kalau kau cuma tahu separuhnya.”
Veronica akhirnya buka pintu, tapi sebelum turun, Lyra nyentuh lengan dia. “Satu lagi. Kalau seseorang ngetuk pintumu dan bilang ‘aku dikirim Ratchet’—tanya kode.”
Veronica berkedip. “Kode apa?”
Lyra tatap matanya. “Jawabanmu: ‘Kopi dingin, dua gula.’ Kalau dia bener orangku, dia jawab: ‘Tanpa sedotan.’ Kalau bukan lari.”
Veronica mengangguk cepat, suaranya parau. “Oke. Terima kasih, Lyra.”
Lyra hanya menjawab lirih, “Jangan bilang terima kasih dulu. Tunggu sampai kita beneran keluar dari neraka ini.”
Veronica turun, lari kecil menuju lobi apartemen. Lampu sensor otomatis nyala saat dia lewat. Lyra tetap di mobil, ngikutin bayangan itu sampai hilang di balik pintu kaca.
Hening.
Sampai Lyra akhirnya bersandar di jok, matanya kosong sebentar.
Dia tahu, setelah malam ini, garis antara penyelamat dan pelaku bakal makin kabur.
Tangannya meraih ponsel, layar menyala. Nama di daftar panggilan: Kaon.
Dia nggak pencet—cuma lihat. Lama.
Lalu dia bisik ke dirinya sendiri, nyaris tanpa suara:
“Jangan sentuh aku, ya"
Dia nyalain mesin lagi. Mobil melaju pelan menjauh, meninggalkan bayangan apartemen yang makin kecil menuju rumahnya
Beberapa menit kemudian, raven mansion, 23.41 malam
---
Lyra masuk ke rumahnya pelan-pelan. Lampu ruang tamu gelap; cuma cahaya dari jalan yang nyelinap lewat celah tirai.
Sepatunya ngetuk lantai marmer, tok, tok, tok, ritmenya kayak jam yang lagi hitung mundur.
Dia lepas jaket, naruh kunci di meja.
“Ratchet?”
Suara sendiri jadi gema kecil.
Nggak ada jawaban.
Cuma suara pendingin ruangan yang nyaris nggak terdengar.
Lyra ngebuka kulkas masih ada botol air separuh. Dia minum sambil duduk di kursi tinggi dapur, kepalanya berat banget. Pikirannya muter terus tentang Kaon, Veronica, dan ekspresi Pharma sebelum semuanya berantakan.
Tapi makin lama dia duduk, makin jelas rasa aneh di dadanya.
Kayak ada sesuatu yang... ngintip dari sudut ruangan.
Dia bangun, ngambil pistol kecil dari bawah meja makan. Langkahnya ringan, tapi tiap lantai yang berderit bikin jantungnya makin cepat.
Ruangan tamu kosong.
Koridor gelap tapi rapi.
Sampai dia berhenti di depan kaca besar di ruang tengah.
Ada embun tipis di permukaan kaca.
Dari dalam.
Padahal rumahnya tadi dingin banget.
Dia jalan pelan, matanya tajam, dan pas nyorot kaca itu…
Ada bekas sidik jari samar di sana.
Sidik jari kiri.
Lyra berhenti. Napasnya berat.
Dia nggak pernah nyentuh kaca itu pakai tangan kiri.
Hening.
Tiba-tiba klik suara kecil, kayak sesuatu yang jatuh dari atas lemari.
Dia langsung arahkan pistol ke sumber suara. Tapi yang jatuh cuma pot bunga kecil tumbang, tanahnya nyebar.
Namun saat dia jongkok buat ngambil pecahannya, matanya liat sesuatu di antara tanah pot: potongan kecil logam, bentuknya bulat, kayak chip kamera mini.
Lyra angkat benda itu, nyorot pakai ponsel.
Di sisinya ada logo samar yang hampir hilang lambang Deceptis Industries.
Pabrik alat medis. Tapi dia tahu itu juga cabang dari… D.J.D. Tech.
Dia bisik pelan,
“Kaon…”
Ponselnya tiba-tiba getar.
Satu pesan masuk.
Tanpa nama pengirim.
Cuma satu kalimat:
> “Aku janji gak bakal sentuh kau lagi. Tapi aku masih suka ngeliat kau.”
Tangan Lyra langsung gemetar. Dia buang chip itu ke meja, lalu tutup semua tirai dengan cepat.
Matanya merah, napasnya nggak stabil campuran marah dan takut.
Dia pegang ponsel erat, dan dengan suara yang nyaris bergetar, dia rekam pesan ke Jazz:
> “Kalau aku nggak ngabarin dua jam dari sekarang… cari aku di rumah.”