Sinopsis.
David Lorenzo CEO perusahaan Switch Company. Dia mempunyai banyak kepribadian yang berbeda akibat trauma masa lalu.
Dia bertemu dengan Michelle, yang berkerja di perusahaannya, pertemuan mereka tidak di sengaja dan banyak kesalahpahaman.
Lambat Laun mereka semakin dekat, dan perlahan saling menyembuhkan luka.
Banyak tingkah lucu dan kocak di antara mereka.
penasaran jangan lupa baca, like dan komen.
Update setiap hari Senin.
Follow Ig: @Hans_Sejin13.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heryy Heryy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
Paginya, Michelle datang ke kantor. Dia terus melihat ke arah pintu masuk ruangan CEO yang terletak di lantai atas, berharap bahwa David tidak akan datang ke perusahaan hari ini.
Sampai memasuki jam makan siang, tidak ada satu pun jejak David yang terlihat di kantor, membuatnya sedikit merasa lega dan bisa bernapas dengan lebih lega.
"Untung saja... sepertinya si gila itu tidak datang ke kantor hari ini. Akhirnya aku bisa bekerja dengan lebih tenang tanpa harus selalu khawatir akan bertemu dengannya!" ucap Michelle.
Dengan suara yang penuh rasa lega, meminum secangkir kopi hangat yang dia beli dari kantin perusahaan. Dia melihat sekeliling ruangan kerja bagian administrasi yang cukup ramai dengan karyawan yang sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
Seluruh karyawan perusahaan telah memberikan julukan "si gila" pada CEO baru mereka yaitu David Lorenzo, karena tingkah lakunya yang sering tidak menentu dan terkadang sangat sulit dipahami oleh banyak orang.
Bahkan beberapa karyawan lama yang sudah bekerja di perusahaan selama bertahun-tahun juga merasa heran dengan perubahan yang terjadi setelah David mengambil alih posisi CEO dari kakeknya.
"Kamu benar banget Michelle! Untung aja si gila tidak datang hari ini. Kalau tidak, kita pasti tidak akan bisa bekerja dengan tenang! Setiap kali dia datang, pasti ada saja masalah atau perintah yang tidak masuk akal yang diberikan," ucap Cindy yang duduk di sebelah Michelle dengan suara yang penuh kesal.
Michelle menggelengkan kepalanya saat mengingat berbagai kejadian yang pernah terjadi saat David berada di kantor.
"Omong-omong Cindy... tidak apa-apa ya kita menyebutnya dengan julukan seperti itu? Kalau sampai dia tahu, pasti kita akan mendapat masalah besar kan?" tanya Michelle.
"Ah tidak apa-apa lah Mich! Itu kan julukan yang sudah digunakan oleh semua orang di perusahaan ! Kamu belum melihat chat di grup perusahaan bagian kita ya? Semua orang menyebutnya dengan nama itu kok!" jawab Cindy dengan suara yang santai, bahkan sedikit tertawa saat berbicara tentang hal itu.
Dia kemudian menunjukkan ponselnya yang menampilkan grup chat bagian administrasi yang penuh dengan pesan-pesan yang menyebut David dengan julukan tersebut.
"Maaf ya Cindy... Aku memang belum sempat melihat obrolan di grup itu karena kemarin pulangnya aku sudah sangat lelah dan langsung tidur aja," ucap Michelle dengan suara yang sedikit malu, merasa bahwa dia memang kurang mengikuti informasi yang terjadi di sekitar kantor karena terlalu fokus pada pekerjaannya sendiri.
Saat mereka masih sedang berbincang santai seperti itu, tiba-tiba atasan mereka yang Bu Sri datang mendekat dengan wajah yang tampak sangat serius. Dia langsung menghampiri Michelle tanpa berkata-kata apa pun kepada orang lain.
"Michelle! Tolong kamu antarkan dokumen penting ini ke ruangan CEO sekarang juga!" ucap Bu Sri dengan suara yang tegas dan tidak bisa ditolak, memberikan tumpukan berkas dokumen yang cukup tebal ke tangan Michelle.
"Maaf Bu... Tapi bukannya si gila itu ,maksudnya Bos David tidak ada di ruangannya kan? Saya tidak melihatnya sejak pagi sampai sekarang," ucap Michelle dengan suara yang sedikit ragu.
Mencoba untuk menolak tugas tersebut karena takut harus masuk ke ruangan CEO yang mungkin akan membuatnya bertemu dengan David.
"Jangan banyak bicara dong Michelle! Cukup taruh saja dokumen itu di atas mejanya dan kemudian kamu bisa langsung kembali ke ruangan kerja! Kok repot amat sih cuma mengantar dokumen aja!" ucap Bu Sri dengan suara yang semakin keras dan tidak sabar, sebelum akhirnya berbalik dan kembali ke ruangannya sendiri tanpa menunggu jawaban dari Michelle.
"Heh... Rasanya aku ingin ngebejeg-bejeg mukanya ! Cantik kagak tapi galaknya luar biasa!" umpat Michelle dalam hati dengan penuh kesal.
Michelle menggelengkan kepalanya sambil melihat arah ruangan atasan mereka yang baru saja pergi.
Namun karena tidak punya pilihan lain, dia hanya bisa mengambil dokumen tersebut dan mulai berjalan menuju arah lift yang akan membawanya ke lantai atas tempat ruangan CEO berada.
Setelah sampai di depan pintu ruangan CEO yang besar dan megah tersebut, Michelle mengambil napas dalam-dalam sebelum membuka pintunya dengan hati-hati.
Dia melihat sekeliling ruangan yang luas dan ternyata benar-benar kosong seperti yang dia duga sebelumnya.
Tanpa berlama-lama lagi, dia langsung mendekati meja kerja David yang sangat besar dan mulai menaruh dokumen yang dia bawa di atasnya dengan hati-hati.
Namun saat dia sedang akan meletakkan dokumen tersebut, tangan nya secara tidak sengaja menyentuh tumpukan dokumen penting lain yang sudah ada di atas meja tersebut.
Beberapa lembar kertas langsung terjatuh ke lantai dengan suara yang cukup jelas terdengar di ruangan yang sepi tersebut.
"Aduhh... Bagaimana ini ?" bisik Michelle.
Dia segera membungkuk untuk mengambil dan merapikan dokumen-dokumen tersebut agar tidak membuat kekacauan di ruangan CEO.
Dia mengambil satu per satu lembar kertas yang terjatuh dan mulai menyusunnya kembali dengan rapi seperti semula.
Saat sedang merapikan dokumen tersebut, salah satu lembar kertas yang berwarna putih dengan tulisan hitam yang cukup jelas menarik perhatiannya.
Dia melihat dengan lebih jelas dan menyadari bahwa itu adalah sebuah kertas medis resmi dengan nama David Lorenzo yang tercantum di sana.
Tanpa sengaja dan tanpa bisa mengontrol dirinya sendiri, Michelle mulai membaca isi dari kertas medis tersebut dengan mata yang semakin membesar dengan kejutan.
"Apa ini...?" ucapnya dengan suara yang sangat rendah dan penuh kejutan, tidak bisa mempercayai apa yang dia baca di sana.
"Apa ? si gila itu ? punya gangguan mental? Kepribadian ganda?" gumamnya pelan, masih terus membaca setiap kata yang tertulis di kertas medis tersebut dengan sangat seksama.
Namun saat dia masih sedang fokus membaca kertas tersebut, tiba-tiba dia mendengar suara percakapan antara dua orang yang sedang mendekati pintu ruangan CEO dari luar koridor.
Dia segera mengenali bahwa itu adalah suara David dan Yuda yang sedang berbicara dengan sangat intens.
"Bagaimana ini ? Kapan aku bisa keluar dari sini tanpa mereka menyadari ku?" bisik Michelle dengan suara yang penuh kegalauan.
Tubuhnya mulai gemetar karena ketakutan akan ketahuan sedang berada di ruangan tersebut dan bahkan membaca dokumen pribadi sang CEO.
Dalam kondisi panik yang luar biasa, dia segera merapikan semua dokumen yang telah dia bongkar tadi dan kemudian dengan cepat bersembunyi di bawah meja kerja David yang sangat besar dan cukup tinggi untuk menyembunyikan tubuhnya dengan sempurna.
Tak lama kemudian, pintu ruangan CEO terbuka dan David masuk bersama Yuda yang sedang mengikuti di belakangnya. Kedua mereka langsung berjalan ke arah sofa yang terletak di sudut ruangan dengan wajah yang tampak sangat serius dan sedikit khawatir.
"Boss! Sudah aku bilang berkali-kali kan kalau lebih baik kamu kembali berobat ke luar negeri seperti dulu? Sekarang penyakit kamu sudah mulai kambuh lagi dan ini sangat berbahaya bagi kesehatan kamu!" ucap Yuda. melihat wajah David yang tampak sangat lelah dan tidak nyaman.
"Diam kamu Yuda! Jangan sampai kamu ngomong hal yang tidak perlu lagi seperti itu kalau tidak ingin aku membuatmu membuat surat pengunduran diri dari perusahaan ini!" ucap David dengan suara yang sangat tegas dan penuh kemarahan.
David menatap Yuda dengan tatapan yang cukup menyakitkan. Dia merasa sangat tidak senang dengan kata-kata Yuda yang selalu mengingatkannya tentang masalah kesehatan yang dia miliki tersebut.
"Tapi Boss... Tadi pagi dokter psikiater kamu dari luar negeri menghubungiku . Dia bilang kalau penyakit kepribadian ganda yang kamu derita ini termasuk jenis yang sangat langka dan sampai saat ini para ahli masih belum menemukan cara yang pasti untuk menyembuhkannya dengan total," ucap Yuda lagi dengan suara yang penuh kekhawatiran.
Yuda tidak peduli jika kata-katanya akan membuat David semakin marah padanya. Dia hanya ingin bosnya yang telah dia layani selama bertahun-tahun ini bisa mendapatkan perawatan yang terbaik untuk kesehatan mentalnya.
"Lalu apa yang harus aku bilang pada kakekku kali ini Yuda? Sudah cukup sulit bagiku untuk menjelaskan pada dia mengapa aku harus sering pergi keluar negeri untuk berobat, sekarang ini aku sudah benar-benar pusing dengan semua masalah ini!" ucap David dengan suara yang penuh kesal.
David kemudian duduk di sofa dengan badan yang sedikit membungkuk ke depan. Dia merasa sangat lelah dengan semua tekanan yang dia terima baik dari pekerjaan maupun masalah kesehatan yang dia miliki tersebut.
"Mana obatku yang biasanya kamu bawa setiap hari?" tanya David, melihat ke arah Yuda .
Yuda hanya bisa menghela nafas panjang sebelum mengambil sebuah botol obat kecil dari dalam tas kerja nya. Dia memberikan obat tersebut kepada David dengan hati-hati.
"Ini dia Boss... Silakan diminum sesuai dengan dosis yang sudah ditentukan dokter ya. Jangan sampai kamu melebihinya lagi seperti yang pernah terjadi beberapa bulan yang lalu."
Saat itu, Michelle yang masih bersembunyi di bawah meja kerja merasa tubuhnya semakin gemetar karena ketakutan dan juga karena posisinya yang sangat tidak nyaman.
Tanpa sengaja, kepalanya menyentuh bagian bawah meja dengan cukup kuat hingga terdengar suara benturan yang jelas.
DUGG!!
"Aduh... Gawat!" ucap Michelle dengan suara yang sangat rendah namun tetap bisa terdengar oleh David dan Yuda yang sedang berada di sofa tersebut.
Keduanya langsung berhenti berbicara dan melihat ke arah meja kerja dengan ekspresi wajah yang penuh kejutan dan rasa ingin tahu.
David berdiri dengan cepat dan mulai mendekati meja tersebut bersama Yuda yang mengikuti di belakangnya.
Michelle merasa bahwa dia tidak punya pilihan lain selain keluar dari tempat persembunyiannya yang sudah tidak bisa lagi menyembunyikannya.
Dengan hati yang sangat berdebar dan tangan yang gemetar, dia perlahan keluar dari bawah meja dan berdiri dengan tubuh yang sedikit menggigil karena ketakutan.
David melihat ke arahnya dengan mata yang semakin membesar dengan kejutan, tidak menyangka bahwa ada orang yang bersembunyi di bawah mejanya dan sudah pasti telah mendengar seluruh percakapan mereka tentang masalah kesehatan yang dia miliki tersebut.
"Haii... Boss... Kamu sudah datang ?" ucap Michelle dengan suara yang sangat lembut dan sedikit gemetar, mencoba memberikan senyum yang sangat tidak alami.
" kamu ....?".
Bersambung....