Yitno... Ya namanya adalah Suyitno, seorang laki-laki berusia 36 tahun yang tak kunjung menikah. Ia adalah pemuda baik, tetapi hidupnya sangat miskin dan serba kekurangan.
Baik itu kekurangan ekonomi, pendidikan, wajah dan masih banyak hal lainnya yang membuatnya merasa sedikit putus asa dan berkecil hati. Ia tinggal bersama ibunya yang seorang janda.
Ia pemuda yang rajin dan tak malu bekerja apapun. Iman dan mentalnya berubah semenjak ia menghitung usianya, dan melihat teman-teman sekampungnya yang semuanya sudah berkeluarga. Ia malu, ia pun ingin menikah tetapi tak ada seorang gadis pun yang mau dengannya.
Semua gadis seperti menghindarinya, entah karena Ia miskin, atau karena ia tak rupawan, atau mungkin karena keduanya. Hingga suatu hari ia bertemu dengan seorang kakek yang akan merubah hidupnya.
apakah yang akan dilakukannya? ikuti terus kisahnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celoteh Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tersenyum Puas
Sore sebelum mandi, Yitno duduk termenung di cincin sumur dengan handuk lusuh terselampir di pundak kanannya. Ia melamun sembari memangku dagunya dengan satu punggung lengan terbalik yang ia tekuk sambil menatap dengan pandangan kosong ke arah dalam sumur.
Ia sedikit lega, karena Mbah dukun itu tak buka mulut saat di datangi pak RT dan sesepuh desa, tetapi ia masih gelisah dan belum bisa tenang, dimana Pak RT dan Pak RW berniat melaporkan Mbah dukun itu ke pihak yang berwajib.
Tak di pungkiri saat ini jantung Yitno begitu berdebar oleh rasa takut. Jika sudah sampai ke ranah kepolisian, Yitno yakin Mbah dukun itu pasti akan buka mulut dan mengakui bahwa dirinya lah yang mengambil kain kafan mayat Lastri. Yitno begitu gusar, seharian ia terus termenung hingga magrib tiba.
Sehabis magrib, terdengar siaran dari mushola bahwa seluruh warga di harapkan kedatangannya ke mushola. seluruh warga pun berkumpul di teras mushola, khusus laki-laki semuanya hadir.
Pak RT memberitahu bahwa besok ia akan membongkar makam Lastri, ia sudah meminta izin kepada perangkat desa dan sesepuh kampung. Yitno yang mendengar itu begitu lemas, keadaan mayat Lastri yang tanpa kain kafan pasti akan membuat gempar seisi kampung.
Sepulang dari mushola Yitno berencana melarikan diri dari kampung itu, tapi lagi-lagi ia tak tega meninggalkan ibunya seorang diri.
"Nanti dulu? walau keadaan mayat Lastri seperti itu, tapi mereka belum tau jika aku pelakunya..." Batin Yitno
Rasa kekhawatiran Yitno begitu besar, ia mencoba berfikir setenang mungkin dalam menghadapi situasi yang mengancam dirinya itu. Entah sudah berapa bungkus rokok dan berapa gelas kopi yang sudah ia habiskan. Semalaman ia tak bisa tidur memikirkan hal tersebut dan begitu tegang tentang hari esok dimana makam Lastri akan di bongkar.
___
Pagi hari, tepat pukul sepuluh pagi seluruh warga berkumpul di rumah pak RT. Mereka hendak bersama-sama pergi ke makam. Yitno pun ikut hadir di prosesi pembongkaran makam tersebut. Tarman dan istrinya beserta familinya pun hadir di situ.
Tepat pukul sebelas siang mereka sudah berkumpul di makam Lastri, setelah memanjatkan doa yang di pimpin sesepuh desa mereka bergotong royong menggali makam tersebut. Para warga begitu ramai menyaksikan prosesi pembongkaran makam tersebut.
Dak...!!!
Terdengar suara cangkul yang membentur papan di dalam makam, baru satu papan di angkat, para warga yang menyaksikan melangkah mundur satu persatu. Ya! bau bangkai Mayat yang sangat menyengat membuat rasa mual yang teramat sangat.
Dua papan di angkat...
"Astaghfirullah....!!!" Ucap penggali kubur sembari melompat naik ke atas..
Terlihat jasad Lastri tanpa kafan, bagian dadanya tampak jelas walau terendam lumpur..
Sontak hal itu membuat Istri Tarman menjerit-jerit sambil menangis meraung-raung tak karuan melihat jasad anaknya yang tanpa busana, ia berguling-guling di tanah hingga pingsan.
Atas instruksi dari sesepuh desa, akhirnya papan kembali di tutup..
"Sungguh bejat...!!! Keterlaluan! Perbuatan siapa ini...!!" Ujar para warga
"Papanya di tutup lagi, tapi jangan di timbun tanah.. saya telefon polisi dulu.." ujar kepala desa
Tarman yang sudah kalap penuh amarah melihat jasad anaknya yang tanpa busana langsung meraih cangkul itu dan berlari.
"Pasti Mbah itu! saya bunuh dia....!!!" Ucap Tarman
Para warga desa dan para sesepuh desa berusaha menghalangi Tarman
"Tunggu pak Tarman!, jangan main hakim sendiri! kita tunggu polisi dateng." ucap pak RT berusaha merangkul, menahan Tarman dan menenangkannya.
Tapi situasi tidak kondusif, disana tidak hanya Tarman saja yang di landa amarah, sanak familinya yang hadir pun geram dan marah. Para warga bingung membendung seluruh emosi keluarga besar Tarman yang emosi berusaha menuju gubuk Mbah dukun itu.
Di makam kegaduhan mulai terjadi, semua warga bingung, sangat wajar jika keluarga besar Tarman begitu marah dan tak terima dengan keadaan yang menimpa jasad Lastri.
Beberapa sanak familly Tarman berhasil lolos dari hadangan warga. Mereka berlari ke arah gubuk membawa sebilah parang kayu dan apapun yang mereka lihat dan bisa di gunakan sebagai senjata. Mereka berusaha menghakimi sang Mbah dukun. Tidak hanya mereka, beberapa warga pun ada yang mendukung aksi mereka.
Dua unit mobil polisi tiba di TPU..
"Pak itu pak..!! mereka mau ke rumah kakek di rawa sana!" ucap pak RT memberitahu keadaan yang sebenarnya.
Polisi panik, mereka membagi tugas. Sebagian berlari mengejar keluarga Tarman yang hendak main hakim sendiri, sedangkan sebagian tetap di TPU melihat keadaan jenazah Lastri yang tanpa kain kafan.
"Saya udah hubungin tim forensik pak, tolong dirikan tenda di sini..anu tenda untuk mandiin jenazah aja gak papa. mau di visum jenazah putri pak Tarman." Ucap salah satu petugas polisi
Beberapa warga pun pergi ke mushola mengambil tenda pemandian jenazah..
Sementara itu, keluarga Tarman sudah sampai di gubuk sang dukun..mereka langsung mendobrak pintu rumah itu..
Darrr....!!! Darrr....!!! Darrrr...!!!
Terdengar letusan tembakan peringatan dari kejauhan, para petugas polisi itu berusaha menghentikan aksi main hakim sendiri dari pihak keluarga Tarman dan beberapa warga yang ikut emosi.
Penganiayaan tak terhindarkan. Paman-paman dari almarhumah Lastri langsung menganiaya sang Mbah dukun di dalam rumahnya itu. Polisi masuk dan menyeret semuanya keluar.
Tampak sang Mbah dukun itu terkulai lemas di lantai rumahnya...
Polisi berusaha mengangkat dan membantu sang Mbah dukun bangkit. Tapi, setelah dukun itu bangkit ia langsung berlari ke belakang dengan cepat dan mengambil sebilah sabit dan membacok siapa saja yang mendekatinya secara random dan membabi buta.
Dua anggota kepolisian terkena sabetan celurit di bagian tangan dan kepala. Polisi tersebut keluar dari rumah itu dan berusaha menghindar. Satu polisi tersungkur yang terkena sabetan di bagian kepala...
Satu polisi yang melihat rekannya terluka dan dalam bahaya mengambil tindakan dengan menembak kakek itu sebanyak tiga kali hingga kakek itu pun jatuh tersungkur dan tewas.
Tak lama warga lain berdatangan, kampung itu penuh tragedi di hari itu. Setelah jenazah sang Mbah dukun di bawa mobil ambulance, warga yang emosi membakar gubuk reyot milik Mbah dukun itu...
Di kejauhan tampak Yitno tersenyum puas...
"Mereka pasti mengira kakek itulah pelaku sesungguhnya....aku aman" Batin Yitno merasa tenang, Mbah dukun sudah di pastikan tewas.