Sejak kecil, Shen Yuhan, sang putri mahkota, telah ditinggalkan orang tuanya. Ketiadaan kasih sayang dan pendidikan yang layak membuatnya tumbuh menjadi gadis yang polos, naif, dan mudah dibodohi. Ia hanya tahu bersenang-senang dan menghabiskan waktunya dengan para pria. Alhasil, saat ia diangkat menjadi Maharani, ia tak lebih dari boneka yang dikendalikan oleh para menteri dan pejabat licik yang haus kekuasaan.
Satu-satunya orang yang tulus mencintainya adalah suaminya, Mu Liu. Namun, sang pangeran kelima ini harus hidup dalam bayang-bayang luka perang besar yang membuat tubuhnya cacat dan lumpuh. Penampilannya yang buruk membuat Yuhan tak pernah meliriknya, apalagi membalas cintanya.
Semua berubah ketika seorang pembunuh bayaran dari abad ke-21, yang dikenal kejam dan tak kenal ampun, tiba-tiba terbangun di dalam tubuh Shen Yuhan. Roh aslinya telah tiada, digantikan oleh jiwa yang dingin dan mematikan.
Kini, dengan kecerdasan dan kekuatan barunya, sang Maharani boneka itu bangkit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MAHARANI 13
"Dengar baik-baik," ujar Yuhan sambil mengiris daging ubi tersebut. "Ubi kayu ini tidak boleh dimakan mentah. Pertama, ia harus dikupas bersih karena racunnya mengendap di balik kulit coklat ini. Kedua, ia harus direndam dalam air atau dicuci berulang kali untuk membuang getirnya. Dan yang terpenting, ia harus dimasak, direbus atau dibakar hingga empuk. Panas api akan mematikan racun yang tersisa."
Shue Wang dan Mu Lian memperhatikan dengan mata tak berkedip. Yuhan memasukkan potongan ubi itu ke dalam air, lalu menunjukkan bagaimana getah putih yang keluar adalah sumber masalahnya.
"Ubi ini mengandung karbohidrat yang jauh lebih tinggi dari ubi jalar. Jika dimasak dengan benar, ia akan terasa pulen dan sangat mengenyangkan. Satu batang ubi ini bisa memberikan tenaga bagi seorang prajurit untuk berjalan seharian penuh tanpa merasa lapar lagi," jelas Yuhan dengan penuh keyakinan.
Mu Lian menatap ubi di tangan Yuhan, lalu menatap wajah istrinya. "Jadi, Yang Mulia Maharani mengatakan bahwa ribuan prajurit mati hanya karena mereka tidak tahu cara mengupas dan memasaknya?"
"Seringkali, hal paling mematikan di dunia ini bukanlah senjata musuh, melainkan ketidaktahuan kita sendiri, Pangeran," jawab Yuhan tajam.
Shue Wang tampak bimbang. Antara rasa trauma masa lalu dan penjelasan logis Maharani yang kini tampak sangat berwibawa. "Jika apa yang Yang Mulia katakan benar... maka selama ini kami telah menyia-nyiakan harta karun yang tumbuh di bawah kaki kami."
Yuhan meletakkan kembali ubi itu. Ia beralih ke peta istana yang ada di sudut meja. "Masalah pangan tidak bisa hanya mengandalkan stok yang ada. Kita harus mandiri. Pangeran Lian, aku ingin kau memerintahkan penebangan sebagian hutan di sisi Timur istana, tepat di samping gerbang Chiangnang."
Mu Lian mengernyit. "Hutan itu? Itu adalah lahan yang dikeramatkan dan tanahnya sudah lama pecah-pecah karena kekeringan. Untuk apa Yang Mulia?"
"Aku akan mengubahnya menjadi lahan pertanian percontohan," ujar Yuhan tegas. "Aku akan menanam bibit-bibit ini di sana. Tanaman pangan, tanaman obat, dan beberapa jenis sayuran baru."
Jenderal Shue menggelengkan kepala, rasa pesimis kembali menyelimuti wajahnya. "Yang Mulia... hamba tidak ingin mengecilkan semangat Anda. Tapi negeri ini sudah dilanda kemarau panjang selama dua tahun. Tanah di sana sudah mati. Jangankan padi yang membutuhkan genangan air, rumput pun susah tumbuh. Jika kita memaksakan menanam padi sekarang, masa tanamnya akan rusak. Belum lagi serangan hama jangkrik dan belalang yang selalu muncul saat musim kering."
Yuhan tidak membantah. Ia tahu kekhawatiran Shue Wang sangat beralasan untuk teknologi zaman ini. Namun, Shue Wang tidak tahu bahwa Yuhan memiliki Air Dewa yang bisa memicu pertumbuhan instan dan menolak segala jenis parasit.
Yuhan mengambil satu butir kentang dari meja. Umbi bundar berwarna kuning kecoklatan itu tampak asing di mata Shue Wang.
"Jenderal, ini adalah Kentang," ujar Yuhan. "Tanaman ini adalah keajaiban. Ia memiliki nilai gizi yang sama seperti beras, sangat mengenyangkan, tapi memiliki keunggulan yang tidak dimiliki padi."
"Keunggulan apa, Yang Mulia?" tanya Mu Lian, kini ia mulai tertarik pada diskusi ini.
"Pertama, kentang membutuhkan air yang sangat sedikit dibandingkan padi. Ia bisa tumbuh di tanah yang cenderung kering. Kedua, ia tumbuh di dalam tanah, terlindung dari serangan belalang dan jangkrik. Hama tidak bisa memakan umbinya selama ia terkubur di bawah tanah. Ketiga, masa panennya singkat dan ia bisa disimpan dalam waktu lama tanpa membusuk jika diletakkan di tempat yang sejuk."
Yuhan menatap Shue Wang dengan pandangan yang dalam. "Bayangkan, Jenderal. Prajuritmu tidak perlu lagi membawa karung beras yang berat dan mudah basah. Mereka cukup membawa kentang yang sudah dibakar. Ini adalah makanan perang yang sempurna."
Shue Wang tertegun. Ia mengambil kentang itu dari tangan Yuhan, merasakannya di telapak tangannya. Harapan baru seolah mekar di dadanya yang selama ini sesak oleh keputusasaan.
"Jika tanaman ini benar-benar bisa tumbuh di tanah kering kita... maka Yang Mulia bukan hanya menyelamatkan perbatasan, tapi Anda menyelamatkan seluruh rakyat Tianjing," suara Shue Wang bergetar karena emosi.
Panglima besar itu segera menjatuhkan dirinya, bersujud dengan penuh hormat. "Hamba, Shue Wang, bersumpah untuk mendukung setiap langkah Yang Mulia! Hamba akan mengawal pengiriman emas dan bibit ini ke perbatasan malam ini juga dengan nyawa hamba sebagai jaminannya!"
"HIDUP YANG MULIA MAHARANI SERIBU TAHUN! HIDUP SERIBU TAHUN!" teriak Shue Wang, suaranya menggema di aula kecil itu, membawa semangat yang sudah lama hilang.
Tatapan Sang Pangeran
Setelah Shue Wang pergi dengan harapan penuh untuk memulai misi rahasianya, hanya tersisa Yuhan dan Mu Lian di dalam aula. Suasana menjadi hening, hanya suara angin malam yang berdesir di luar jendela.
Mu Lian memutar kursi rodanya, mendekati Yuhan yang sedang membereskan bahan pangan di atas meja.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Mu Lian tiba-tiba. Suaranya rendah, nyaris seperti bisikan, namun penuh dengan kecurigaan yang tajam.
Yuhan berhenti sejenak, namun ia tidak menoleh. "Aku adalah istrimu, Maharani dari negeri ini. Bukankah kau sendiri yang membuktikannya semalam?"
Wajah Mu Lian memerah teringat kejadian semalam, namun ia segera menepisnya. "Shen Yuhan yang aku kenal tidak tahu bedanya ubi kayu dan kayu bakar. Dia tidak tahu tentang racun sianida, tidak tahu tentang sistem pertanian, dan dia tidak memiliki aura yang bisa membuat Jenderal sekelas Shue Wang berlutut dengan sukarela."
Yuhan berbalik, menatap langsung ke mata Mu Lian. Ia melangkah mendekat, hingga jarak di antara mereka hanya tersisa beberapa inci. Ia bisa mencium aroma kayu cendana dari tubuh Mu Lian.
"Dunia ini berubah, Pangeran. Dan orang-orang di dalamnya pun bisa berubah saat mereka melihat pintu kematian. Aku pernah mati sekali, jika tidak ingin merasakan kematian-kematian yang lain, aku harus berusaha lebih keras," ujar Yuhan sambil menyentuh bahu Mu Lian yang kokoh. "Kau ingin aku menjadi Maharani bodoh yang bisa kau kendalikan, atau Maharani yang bisa memberimu kaki untuk berjalan kembali dan tahta yang stabil?"
Mu Lian terdiam. Detak jantungnya berpacu cepat. "Yang Mulia... kau benar-benar berjanji bisa menyembuhkan kakiku?"
Yuhan tersenyum misterius. "Kultivasi Tian Di yang kau dapatkan semalam adalah awalnya. Ikuti aturanku, dan kau akan melihat keajaiban yang lebih besar lagi dan hal-hal yang tidak pernah kau pikirkan, Suamiku."
Yuhan berbalik dan berjalan keluar dari aula, meninggalkan Mu Lian yang terpaku dalam kebimbangan. Pangeran itu melihat ke arah meja, ke arah potongan ubi kayu yang telah dikupas oleh Yuhan.
"Seringkali, hal paling mematikan bukanlah senjata musuh, melainkan ketidaktahuan kita sendiri..." Mu Lian mengulangi kata-kata Yuhan.
Ia menyentuh kakinya yang kini terasa lebih hangat dari sebelumnya. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Mu Lian merasa bahwa ia bukan lagi pion dalam permainan catur Han Tan, melainkan sedang berdiri di samping sang pemain catur yang baru, yang jauh lebih berbahaya dan tak terduga.
Sebelum kembali ke istana pribadinya, Yuhan berbalik dan menghampiri Mu Lian yang masih terdiam. "Jangan lupa nanti malam datanglah ke istanaku, Suamiku," bisik Yuhan, Mu Lian meremang.
Di luar, guntur kembali menggelegar. Hujan pertama dalam dua tahun akhirnya jatuh ke tanah Tianjing yang gersang, seolah-olah langit pun menyambut janji sang Maharani.
yang bisa nolong si Maharani hanya mu Lian