NovelToon NovelToon
Qalbu Yang Terlupa

Qalbu Yang Terlupa

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Percintaan Konglomerat / Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Reinkarnasi
Popularitas:26
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Dalam kehidupan keduanya, Mahira Qalendra terbangun dengan ingatan masa lalu yang tak pernah ia miliki—sebuah kehidupan 300 tahun silam sebagai putri kesultanan yang dikhianati. Kini, ia terlahir kembali di keluarga konglomerat Qalendra Group, namun fragmen mimpi terus menghantuinya. Di tengah intrik bisnis keluarga dan pertarungan harta warisan, ia bertemu Zarvan Mikhael, pewaris dinasti Al-Hakim yang membawa aura familiar. Sebuah pusaka kuno membuka pintu misteri: mereka adalah belahan jiwa yang terpisah oleh pengkhianatan berabad lalu. Untuk menemukan cinta sejati dan mengungkap konspirasi yang mengancam kedua keluarga, Mahira harus menyatukan kepingan masa lalu dengan kenyataan yang keras—sebelum sejarah kelam terulang kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

# BAB 12: Ustadz Hariz Memberikan Petunjuk

"Assalamualaikum, Ustadz."

Mahira berdiri di ambang pintu rumah Ustadz Hariz—untuk kedua kalinya dalam seminggu. Kali ini bukan Kiara yang menemaninya, tapi ayahnya sendiri.

"Waalaikumsalam." Ustadz Hariz membukakan pintu lebih lebar. "Silakan masuk. Sudah saya tunggu."

Mereka masuk ke ruangan yang sama seperti kunjungan pertama. Aroma kemenyan dan bunga melati masih sama. Tapi kali ini ada tambahan—beberapa kitab tebal tergeletak di meja baca, seperti sudah disiapkan sebelumnya.

"Duduk, silakan." Ustadz Hariz mengisyaratkan bantal-bantal di lantai. "Pak Irfash sudah cerita sedikit di telepon. Tapi saya ingin dengar langsung dari Mahira."

Mahira duduk dengan gugup. Tangannya meremas tasbih pemberian Ustadz—tasbih yang sudah ia bawa kemana-mana sejak pertemuan terakhir.

"Ustadz... saya... saya adalah reinkarnasi dari Putri Mahira Kencana. Putri dari kesultanan yang runtuh 300 tahun lalu." Suaranya gemetar. "Saya punya ingatan tentang kehidupan itu. Tentang cinta yang tidak selesai. Tentang kutukan yang mengikat jiwa saya dengan dua orang lain."

Ustadz Hariz mengangguk perlahan. "Dan dua orang itu adalah?"

"Zarvan Mikhael Al-Hakim. CEO yang akan merger dengan perusahaan kami. Dan... dan Khaerul Danesh. Sepupu saya."

"Zarvan adalah belahan jiwa yang seharusnya kamu nikahi di masa lalu. Khaerul adalah pembunuh kalian berdua." Ustadz Hariz melanjutkan—bukan sebagai pertanyaan tapi pernyataan.

Mahira terkejut. "Ustadz... tahu?"

"Pak Irfash sudah cerita detailnya tadi malam." Ustadz Hariz meraih salah satu kitab di mejanya. "Dan setelah mendengar ceritamu, saya melakukan riset. Membaca kitab-kitab lama. Berkonsultasi dengan beberapa ulama senior. Dan... saya menemukan sesuatu."

Ia membuka kitab itu—halaman dengan tulisan Arab dan terjemahan Indonesia di sampingnya.

"Dalam Islam, kita tidak mengenal konsep reinkarnasi seperti kepercayaan Hindu atau Buddha. Kita percaya bahwa setiap jiwa hanya hidup sekali di dunia, lalu akan dibangkitkan di hari kiamat untuk dihisab." Ustadz Hariz menatap Mahira. "Tapi... ada fenomena lain yang kadang terjadi."

"Fenomena apa, Ustadz?"

"Jiwa yang terikat kutukan." Ia menunjuk paragraf di kitab. "Ketika seseorang meninggal dengan dendam yang sangat kuat—dendam yang mencapai level spiritual—maka dendamnya bisa menciptakan ikatan. Ikatan yang tidak bisa putus bahkan setelah kematian."

Mahira menelan ludah. "Tapi... tapi bagaimana bisa saya punya ingatan masa lalu kalau ini bukan reinkarnasi?"

"Karena yang bereinkarnasi bukan jiwa utamamu." Ustadz Hariz menutup kitabnya. "Tapi... fragmen. Potongan energi spiritual dari jiwa Putri Mahira Kencana yang masih terikat dengan urusan duniawi. Fragmen itu menempel pada jiwa barumu—jiwamu yang asli—dan membawa serta ingatan masa lalu."

"Jadi... jadi saya bukan sepenuhnya Putri Mahira?"

"Kamu adalah Mahira Qalendra. Jiwa yang baru. Tapi kamu membawa beban spiritual dari Putri Mahira Kencana. Beban yang harus kamu selesaikan agar fragmen itu bisa bebas dan tenang di alam barzakh."

Irfash yang dari tadi diam akhirnya angkat bicara. "Ustadz, bagaimana cara membebaskan fragmen itu? Bagaimana cara memutuskan kutukan?"

"Ada tiga hal yang harus diselesaikan." Ustadz Hariz mengangkat tiga jari. "Pertama, kebenaran harus terungkap. Siapa pembunuh sebenarnya, apa motifnya, dan kenapa tragedi itu terjadi. Kedua, pengampunan harus diberikan. Baik dari korban ke pembunuh, maupun sebaliknya. Dan ketiga..." ia berhenti sejenak, "...cinta yang tertunda harus dipenuhi. Dengan cara yang diridhai Allah."

"Cinta yang tertunda... maksudnya saya harus... menikah dengan Zarvan?" Mahira hampir berbisik.

"Kalau memang itu jodohmu, kenapa tidak?" Ustadz Hariz tersenyum lembut. "Tapi bukan karena kamu dipaksa oleh kutukan. Bukan karena kamu merasa berkewajiban. Tapi karena kamu—Mahira Qalendra yang sekarang—memilih untuk mencintainya. Dengan hati yang ikhlas."

"Tapi... tapi bagaimana saya tahu kalau perasaan saya asli? Kalau bukan cuma pengaruh ingatan masa lalu?"

"Itulah ujian terbesar dalam situasi ini." Ustadz Hariz menatapnya dengan serius. "Kamu harus membedakan antara perasaan yang datang dari fragmen spiritual dengan perasaan yang datang dari hatimu sendiri. Dan cara satu-satunya untuk tahu adalah dengan istikharah. Dengan berdoa pada Allah. Dengan meminta petunjuk-Nya."

Mahira merasakan air mata mengalir. "Ustadz, saya takut. Saya takut saya salah pilih. Saya takut semuanya terulang lagi seperti 300 tahun lalu."

"Maka jangan biarkan masa lalu mengendalikan masa depanmu." Ustadz Hariz mengulurkan tangannya—bukan untuk dijabat, tapi membawa sesuatu. Sebuah tasbih. Tasbih yang berbeda dari yang sudah ia berikan sebelumnya. Ini lebih besar, dengan batu-batu berwarna hijau gelap.

"Ini Tasbih Cahaya," jelasnya. "Tasbih yang sudah dibacakan doa khusus oleh para ulama selama 40 hari. Fungsinya... untuk melihat hakikat jiwa seseorang. Kalau kamu menggunakan ini sambil berdzikir dengan khusyuk, kamu akan bisa melihat apakah seseorang tulus atau tidak. Apakah dia datang dengan niat baik atau buruk."

Mahira menerima tasbih itu dengan hati-hati. "Saya... saya bisa lihat jiwa orang?"

"Bukan sepenuhnya melihat. Lebih ke... merasakan. Kamu akan tahu kalau seseorang berbohong. Kamu akan tahu kalau seseorang punya niat jahat. Dan..." ia menatap Mahira dengan pandangan penuh arti, "...kamu akan tahu siapa yang benar-benar membawa kutukan dari masa lalu."

"Maksud Ustadz... Khaerul?"

"Atau mungkin ada orang lain yang belum kamu sadari." Ustadz Hariz berdiri. "Kutukan yang sudah berusia ratusan tahun biasanya tidak sesederhana yang terlihat di permukaan. Ada lapisan-lapisan. Ada pemain-pemain yang tersembunyi. Dan kamu harus hati-hati dengan siapa pun yang mencoba menghalangimu."

Irfash ikut berdiri. "Ustadz, apa ada doa khusus yang bisa kami baca untuk melindungi Mahira?"

"Ada." Ustadz Hariz mengambil selembar kertas dari mejanya—kertas dengan tulisan Arab rapi. "Ini doa perlindungan. Bacalah setiap habis sholat. Dan kalau merasa dalam bahaya, baca Ayat Kursi tiga kali sambil memegang tasbih yang saya berikan."

Mahira menerima kertas itu. Tangannya masih gemetar. "Ustadz... apa saya akan bisa melewati ini?"

"Dengan izin Allah, ya. Tapi kamu harus ingat satu hal, nak." Ustadz Hariz meletakkan tangannya di bahu Mahira—gesture ayah yang penuh kasih sayang. "Ujian ini bukan hukuman. Ini kesempatan. Kesempatan untuk memperbaiki kesalahan masa lalu. Untuk membebaskan jiwa-jiwa yang terikat. Dan untuk membuktikan bahwa cinta yang tulus bisa mengalahkan dendam yang paling kelam sekalipun."

"Tapi bagaimana kalau saya gagal? Bagaimana kalau Zarvan mati lagi? Bagaimana kalau—"

"Jangan berpikir tentang kegagalan sebelum kamu mencoba." Ustadz Hariz memotong dengan lembut. "Takdir Allah sudah tertulis. Tapi usaha manusia juga dihitung. Kamu lakukan yang terbaik. Kamu berdoa yang terbaik. Dan kamu serahkan hasilnya pada Allah. Itulah iman."

Mahira mengangguk pelan. Air matanya sudah mengering—digantikan oleh tekad yang mulai tumbuh.

"Terima kasih, Ustadz."

"Sama-sama, nak." Ustadz Hariz tersenyum. "Dan satu lagi. Besok kamu ada janji dengan Zarvan, kan?"

Mahira tersentak. "Ustadz tahu dari mana?"

"Ayahmu tadi cerita." Ia melirik Irfash yang tersenyum tipis. "Saat bertemu dengannya, bawa tasbih ini. Pegang saat kalian berbicara. Dan rasakan. Rasakan energinya. Apakah dia tulus? Apakah dia benar-benar pasangan yang ditakdirkan untukmu? Atau hanya ilusi dari kutukan?"

"Kalau... kalau dia bukan pasangan saya?"

"Maka kamu harus berani melepaskan." Ustadz Hariz menatapnya serius. "Bahkan kalau itu artinya kutukan akan terus berlanjut. Karena menikah dengan orang yang salah hanya akan menciptakan penderitaan yang lebih besar. Untuk kalian berdua."

***

Perjalanan pulang terasa berat.

Mahira duduk di kursi penumpang mobil ayahnya, menatap tasbih hijau di tangannya. Tasbih Cahaya. Tasbih yang konon bisa melihat hakikat jiwa seseorang.

"Papa," ucapnya pelan, "Papa percaya sama semua yang Ustadz Hariz bilang?"

Irfash melajukan mobil dengan tenang. "Aku percaya bahwa ada hal-hal di dunia ini yang tidak bisa dijelaskan dengan logika. Dan aku percaya bahwa kamu—putri kesayanganku—punya kekuatan untuk melewati ujian ini."

"Tapi Papa nggak takut? Takut aku akan... akan kayak Putri Mahira? Mati muda?"

"Sangat takut." Suara Irfash bergetar. "Tapi aku juga percaya pada takdir Allah. Dan aku akan melakukan apapun untuk melindungimu. Bahkan kalau itu artinya aku harus berhadapan dengan kutukan berusia 300 tahun."

Mahira tersenyum tipis—senyum yang campur air mata. "Makasih, Pa."

"Untuk apa?"

"Untuk... untuk nggak bilang aku gila. Untuk percaya sama aku."

"Kamu putri aku, Mahira. Aku akan selalu percaya sama kamu." Irfash meraih tangan putrinya dan menggenggamnya erat. "Apapun yang terjadi, kamu nggak sendirian. Kamu punya aku, Mama, Raesha, dan keluarga besarmu. Kami semua akan lindungi kamu."

Tapi Mahira tahu, pada akhirnya ada ujian yang harus ia hadapi sendiri.

Ada pilihan yang harus ia buat sendiri.

Dan besok—saat ia bertemu Zarvan di musholla yayasan—ia harus menggunakan Tasbih Cahaya itu untuk melihat kebenaran.

Apakah Zarvan benar-benar belahan jiwanya?

Atau hanya ilusi dari kutukan yang ingin menjeratnya kembali ke tragedi yang sama?

***

Malam itu, Mahira tidak bisa tidur lagi.

Ia duduk di kamarnya, memegang Tasbih Cahaya sambil membaca doa perlindungan yang diberikan Ustadz Hariz. Berulang kali. Hingga hapal di luar kepala.

*"Ya Allah, lindungilah aku dari tipu daya syaitan dan jin. Lindungilah aku dari orang-orang yang berniat jahat. Tunjukkanlah jalan yang benar kepadaku. Dan berikanlah aku kekuatan untuk menghadapi ujian yang Engkau berikan. Amin."*

Ponselnya berbunyi. Pesan dari nomor tidak dikenal:

*"Besok jam 4 sore. Musholla yayasan. Jangan terlambat. Ada yang penting yang harus kita bicarakan. - Zarvan"*

Jantung Mahira berdegup kencang.

Besok.

Besok ia akan tahu kebenarannya.

Dan apapun yang terjadi, ia harus siap.

---

**BERSAMBUNG KE BAB 13**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!