Kalimat 'Mantan Adalah Maut' rasanya tepat jika disematkan pada rumah tangga Reya Albert dan suaminya Reyhan Syahputra
Reyhan merasa jika dirinya yang hanya seorang staff keuangan tidaklah sebanding dengan Reya yang seorang designer ternama, setidaknya kata-kata itu yang kerap ia dengar dari orang-orang disekitarnya
Hingga pertemuannya dengan Rani yang merupakan mantan kekasihnya saat sekolah menengah menjadi awal dari kehancuran bahtera rumah tangga yang telah dibangun selama tujuh tahun itu
Apa yang akan terjadi pada pernikahan ini pada akhirnya? Dapatkah Reya mempertahankan rumah tangga yang ia bina walaupun tanpa restu dari orang tuanya? Atau pada akhirnya semua akan berakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CTPS 17
"Terima kasih dok!"
"Setelah ini pasien akan dipindahkan keruang rawat, harap segera mengurus administrasi nya ya Bu!"
Dokter wanita itu pergi, Reya kembali duduk dikursi stainless didepan ruang IGD. Seolah ia baru saja kembali dari jurang kematian
"Aku urus administrasi nya dulu!" Revan berlalu tanpa menunggu jawaban dari sahabatnya itu
Setelah kepergian Revan, Reya hendak masuk, namun suara bariton seorang pria mengejutkan nya
"Reya?" Wanita cantik itu berbalik begitu mendengar namanya dipanggil
"Darren? Kamu disini?"
Pria tampan itu mendekat, berdiri tepat dihadapan wanita pujaannya sementara Riska telah masuk untuk melihat kondisi Arlo
"Aku lagi jengukin temen! Kamu sendiri sedang apa disini? Dan..." Darren memindai penampilan wanita itu, Reya terlihat kacau dengan pakaian basahnya, serta tubuh yang menggigil
"Arlo tiba-tiba mengalami step, makanya aku bawa kerumah sakit" Jawab Reya
"Dan pakaian kamu?"
"Tadi mobil aku mogok, awalnya mau coba benerin, untungnya ada Revan" Reya mengulas senyumanya
Darren benar-benar salut, Reya adalah ibu yang sempurna. Keinginan untuk menjadikannya sebagai pendamping kian bertambah besar
"Lalu dimana suamimu?"
"Tadi dia pamit katanya dia lagi lembur dikantornya!"
Darren mengepalkan tangannya, ia terlihat begitu marah mendengar penuturan Reya, ia tahu jika bajin___ itu tengah berbohong
"Kamu gak tau kalau dikantor kamu ada karyawan yang lembur?" Tanya Reya, ia bingung, sebagai pemilik perusahaan harusnya Darren tau jika dikantornya ada lembur
"Perusahaan aku gak pernah ada karyawan yang lembur, mereka akan kembali saat jam pulang kantor!" Ujar Darren
Reya mengerutkan keningnya, bagaimana bisa Darren tak tahu, atau mungkin suaminya yang berbohong
"Atau mungkin yang lembur itu dari divisi Reyhan aja?" Wanita cantik itu masih berusaha untuk berpikir positif
"Gak mungkin Reya, kalaupun ada aku pasti tau!" Darren berharap jika dirinya dapat segera menemukan buktinya dan menyingkirkan Reyhan dari hidup wanita incarannya
"Reyhan gak mungkin bohong!" Lirihnya, hingga kedatangan Revan mengejutkan keduanya
"Loh Ren? Ngapain disini?" Tanya Revan pada rekan bisnisnya itu
"Tadi saya sedang ada urusan dan gak sengaja ketemu Reya disini!"
Revan hanya mengangguk sambil membulatkan mulutnya, ia tak peduli apa yang dilakukan kanebo kering itu disini
"Baju kamu! Kamu sebaiknya ganti baju deh! Nanti masuk angin!" Revan menyerahkan sebuah paperbag pada wanita yang tengah kedinginan itu
Reya menerimanya, jujur saja ia memang membutuhkannya "Makasih ya Van! Makasih juga buat bantuan lo tadi, gue gak tau kalau tadi lo gak ada!"
"Sama-sama princess Reya!" Revan mengusap lengan sahabatnya itu membuatnya mendapat pelototan dari pria disampingnya
"Ya udah aku masuk dulu!" Reya masuk, melihat keadaan putranya karena sebentar lagi Arlo akan dipindahkan keruang rawat
"Kalau gitu gue pulang dulu deh! Gak pa-pa kan kalau gue tinggal?" Pamit Revan
Reya mengangguk "Gak pa-pa kok, sekali lagi makasih ya Van"
"Santai!"
Reya masuk, sementara dua pria tampan itu masih berdiri disana
"Santai bro! Gak bakal gue ambil kok Reya nya!" Revan menepuk pundak tegap Darren sambil ia berlalu meninggalkan patung batu itu disana
"Baji__ kamu Reyhan, istri kamu hampir mati dan kamu malah senang-senang dengan selingkuhan kamu diluar sana!"
Darren mengepalkan tangannya, emosinya meluap
Kini Arlo telah dipindahkan keruang rawat inap, Reya menatap sendu sang putra yang terbaring lemah diatas ranjang pesakitan. Hidung nya terpasang selang oksigen serta selang infus ditangan sebelah kiri
Andai Reya bisa, ia ingin menggantikan posisi Arlo, biarlah dirinya yang merasakan sakit itu dan bukan putranya
"Kamu harus kuat sayang! Arlo pasti sembuh!" Reya mengusap kepala putranya yang terbaring lemah, hingga pintu ruangan tersebut terbuka
"Kamu belum pulang?" Reya yang semula duduk dikursi samping ranjang, melihat kedatangan sahabatnya itu ia segera bangkit
"Aku bawain makan malam sama kopi! Kamu makan dulu yaa!" Darren meletakkan beberapa paperbag yang ia bawa diatas meja
"Dimana Riska?"
"Tadi aku minta supir aku untuk nganterin dia pulang, biar besok bisa gantian! Barang-barang Arlo juga belum ada kan?"
Darren tersenyum lembut, wajahnya terlihat begitu teduh
"Makasih yaa!"
"Buat apa?"
"Buat bantuan kamu!" Reya duduk disamping Darren, pria tampan itu tengah menyusun beberapa makanan diatas meja
"Kamu makan dulu gih!" Darren menyerahkan seporsi makanan kepada Reya
"Aku gak laper!"
"Kalau kamu gak makan, gimana mau jagain Arlo? Makan yaa! Sedikit aja!" Darren membujuk wanita itu, Reya tersentuh, bahkan Reyhan saja tak pernah membujuknya seperti ini
"Makasih!"
"Hmm"
Setelah makan, Reya kembali duduk dikursi samping ranjang putranya, Arlo masih setia menutup matanya
Darren yang semula duduk diatas sofa panjang diruang perawatan tersebut mendekat, ia melihat jika wanita cantik itu tengah terlelap
Reya terlelap dengan menjadikan tangannya sendiri sebagai bantal, ia hanya menunduk dan bersandar pada sisi ranjang
Darren mengangkat tubuh bak gitar spanyol itu lalu ia baringkan diatas sofa panjang agar Reya lebih nyaman, tubuh Reya ia selimuti dengan jas mahal miliknya
"Selamat tidur malaikat penolong!" Darren lalu menggantikan posisi Reya dan duduk disamping ranjang Arlo
***
Reyhan baru saja membuka matanya, hal pertama yang ia lihat adalah wajah cantik kekasihnya yang masih terlelap
Reyhan mengusap pipi wanita itu dengan sangat lembut, ia tahu jika Rani sangat kelelahan. Permainan panas mereka baru berakhir ketika jam menunjukkan pukul tiga pagi
"Maafkan aku!" Reyhan mendekatkan wajahnya untuk mengecup kening wanitanya itu
Merasakan ada pergerakan, Rani membuka matanya, wanita cantik itu tersenyum saat melihat wajah tampan kekasihnya yang baru saja bangun
"Selamat pagi!"
"Selamat pagi sayang!"
Rani beringsut bangun, wanita cantik itu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang masih dalam keadaan polos
"Maafin aku yaa!"
"Kamu udah kayak orang kesetanan tau gak!" Reyhan terkekeh, ia usap lembut kepala wanitanya
"Jangan lagi Rey, kita harus pulang! Kamu juga harus kerja kan?" Ujar Rani kala Reyhan kembali menciumi ceruk lehernya
Reyhan terkekeh, ingin rasanya bersama Rani seharian tanpa gangguan
"Ya udah deh, mau ke kamar mandi?" Reyhan turun lebih dulu dan melilit tubuhnya dengan handuk
"Gendong!"
Reyhan tersenyum, ia suka sikap manja wanita ini "sini!"
Reyhan membopong tubuh sang kekasih untuk kekamar mandi, tak peduli jika tubuh Rani masih dalam keadaan polos, seolah keduanya tak lagi saling menyembunyikan
Reyhan kembali kerumah setelah lebih dulu mengantarkan Rani kerumahnya, ia merasa bingung saat melihat rumah dalam keadaan sepi
Pria tampan itu lalu melirik ke arah jam tangan yang melingkar dipergelangan tangannya, sekarang belum saatnya Arlo berangkat sekolah, lalu kemana istri serta putranya itu pergi
"Bi.. Bibi!" Teriak Reyhan
Seorang wanita paruh baya keluar dengan tergopoh "Ya pak?"