Rose baru sadar, ternyata selama ini dia hanya dijadikan Aurora sebagai alat untuk menghancurkan kehidupan keluarga Marcus.
Dan Sophia, anak yang selama ini dia rawat dengan cinta ternyata bukan anak kandungnya, melainkan anak kakak iparnya, wanita itu sengaja menukar anak mereka agar anaknya mendapatkan warisan keluarga Vale karena Aurora sendiri tidak memiliki hak di keluarga Vale. Sementara anak kandungnya Noah, di buang di panti asuhan oleh wanita itu, dan sialnya dia suka menyiksa anak itu karena anaknya yang diadopsi oleh keluarga kakak kandungnya.
Di ambang kematiannya dia baru tahu semua kebenaran itu, dia berdoa kepada Tuhan, meminta kesempatan kedua agar dia bisa memperbaiki semua kesalahan yang dia lakukan dan juga mencari Noah anak kandungnya dan dia berjanji untuk meninggalkan Marcus dan merawat anaknya sendiri.
Apakah Rose berhasil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waya520, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hilangnya Mia
Melihat keberadaan wanita itu, dengan cepat Rose menutup kembali pintu itu tapi sayang, gerakan Mia lebih cepat darinya.
"Tunggu Rose, jangan di tutup." wanita itu menahan pintu dengan susah payah. Berhubung Rose lelah karena seharian bekerja tenaganya kalah dan sekarang dia pasrah membiarkan pintu itu terbuka.
"Mau apa kau kesini dan dari mana kau tahu keberadaan ku?" tanyanya sambil melipat tangannya kedepan.
Bukannya menjawab, Mia malah salah fokus pada dua anak yang ada di dalam. Kebetulan meja yang mereka gunakan untuk makan berada tidak jauh dari pintu depan.
"Kalau tidak ada keperluan penting lebih baik kau pergi." Rose berniat kembali menutup pintu itu, tapi Mia kembali menahannya.
"Ayo pulang bersamaku, Marcus membutuhkan mu." ucap wanita itu yang membuat Rose terperangah. Marcus membutuhkannya?. selama tiga belas tahun pernikahan mereka, tidak pernah dia melihat Marcus yang memperdulikan nya.
"Yang ada Marcus membutuhkan mu, sana pulang, jangan sampai keberadaan mu di sini membuat ku mendapatkan masalah baru."
Mia tercengang, dia tidak berniat seperti itu. Dia hanya ingin membawa Rose pulang karena demi apapun Marcus terlihat mengerikan akhir-akhir ini.
"Ma, itu siapa?" tanya Noah yang tiba-tiba muncul di belakang Rose. Yang membuat mata Mia membola adalah wajah anak itu terlihat tidak asing.
Rose menoleh kebelakang, lalu mengelus rambut anak itu dengan sayang. "Bukan siapa-siapa, sana habiskan makananmu nanti mama menyusul." ucapnya lirih.
Anak itu mengangguk, melirik Mia sekilas lalu kembali menghampiri Vira.
Kembali pada Mia, wanita itu memandang Rose penasaran. "Kenapa anak itu memanggilmu mama?"
"Bukan urusanmu, sana pergi." usirnya lagi, tapi saat dia ingin menutup pintu, lagi-lagi Mia menahannya.
"Izinkan aku menginap disini."
"KAU GILA."
...
Vira menatap Mia dengan tatapan menyelidik. Pasalnya wanita itu terlihat seperti bukan orang biasa.
Srak...
"Pakailah selimut ini." Rose melemparkan sebuah selimut yang sedikit usang pada Mia yang duduk di meja makan. Wanita itu terlihat menelan ludahnya paksa. Matanya melirik ke segala arah di panti ini.
"Kau tidurlah di kamar itu, biar aku tidur dengan anak-anak dan besok segera lah pergi. muak sekali aku melihatmu." ingin sekali dia mengusir Mia tapi wanita itu tetap kekeuh meminta untuk menginap.
"Jadi selama ini kau tidur disini?" tanya Mia yang menghentikan langkah Rose. Wanita itu kembali menoleh.
"Iya, dan aku masih penasaran, darimana kau tahu aku disini?"
"Kakekku." jawab wanita itu santai. Rose diam, yang dia tahu kakeknya Mia bukanlah sembarang orang.
Tapi Rose tidak ambil pusing dia pergi meninggalkan Mia yang memandang ranjang panti didepannya dengan raut wajah jijik.
Seumur hidupnya dia tidak pernah mau tidur di tempat yang tidak higienis seperti ini.
Tapi apa boleh buat, demi membawa Rose kembali dia harus tahan.
.....
Keesokan harinya
Mia membuka matanya perlahan dan atap usang menjadi pemandangan pertama yang dia lihat.
"Aku tidak menyangka aku bisa tidur ditempat yang seperti ini." meskipun kasurnya keras dan juga lembab tapi jujur dia mudah sekali terlelap semalam.
Terdengar suara ribut-ribut diluar. Mia segera membereskan tempat tidur itu lalu bergegas keluar.
Suasana seketika canggung, sebenarnya hanya Mia yang merasa canggung, Vira seperti biasa, menata barang jualannya sedangkan Noah duduk di meja makan sembari menatap Rose yang sibuk berkutat didapur.
"Pa... Pagi." sapa Mia yang di sambut Vira dan Noah dengan ramah.
"Pagi Tante."
"Sedang apa Rose?" tanyanya sok ramah, dia melewati anak-anak itu lalu mendekati sosok wanita yang sedang memasak itu.
"Kau buta, aku sedang memasak untuk anak-anak." jawab Rose ketus, Mia mengelus dadanya sabar. Dia menatap lekat tangan Rose yang sangat lincah itu.
Keningnya mengerut. Sejak kapan Rose bisa masak?, seingatnya wanita itu tidak pernah mendekati dapur saat di rumah Marcus.
"Kau bisa masak?" tanyanya hati-hati.
"Kau meremehkan ku?, aku bahkan sudah ahli." terdengar meragukan tapi wajah serius Rose membuatnya diam.
Karena takut mengganggu, Mia kembali ke belakang lalu duduk diantara anak-anak. "Kamu jualan cookies?" tanya Mia basa-basi pada anak perempuan itu.
Vira mengangguk. "Ini ibuku yang membuatnya, aku hanya bantu menjual." jawab anak itu yang membuat Mia melongo kemudian melihat ke arah Rose.
"Kau menculik mereka dari mana?"
Tak....
Dengan pelan Rose memukul kepala Mia dengan sendok yang dia pegang, membuat wanita itu meringis kecil.
"Aku tidak menculik mereka, nah Noah cobalah masakan mama." Rose memberikan semangkuk SOP ayam pada Noah, Vira sendiri sudah mencobanya sedikit dan dia sangat suka. begitupun dengan Mia. Wajah wanita itu terlihat sumringah karena ini pertama kalinya dia mencoba makanan yang sangat pas di lidahnya.
"Wah, kau benar-benar ahli, bagaimana bisa ada makanan seenak ini." ucap Mia yang menurut Rose berlebihan. bahkan dia memandang jijik Mia yang makan seperti orang yang baru pertama kali makan enak.
"Ck, kau makan seperti babi saja." Rose mengulurkan sehelai tissue pada wanita itu. Mulut Mia belepotan dan itu tidak enak di pandang.
Mia menerimanya dengan baik, setelah dia selesai makan. "Apa kau ingin mengadopsinya?" tanyanya sambil menunjuk ke arah Noah.
Rose mendatarkan wajahnya. "Aku tidak mengadopsinya karena dia anak kandungku."
"APA?" wajah Mia terlihat seperti orang bodoh sekarang.
"Bukannya anak kandungmu Sophia."
Rose mengambil nafas dalam-dalam. "Noah anak kandungku, Sophia anak kak Aurora, kak Aurora sengaja menukar Noah demi mendapatkan harta keluarga Vale."
Terdengar tidak meyakinkan tapi wajah serius Rose membuatnya mau tidak mau harus percaya, dia memandang lekat wajah Noah yang memang sangat mirip dengan Marcus.
"Kau benar, wajahnya mirip sekali dengan Marcus."
Sekarang gantian Noah menatap lekat wajah mama nya. "Marcus itu siapa ma?, apa papa ku?"
deg....
....
"KEMANA KAK MIA?" teriak Emma panik. Dia kaget saat bangun tidur tidak mendapati kakaknya, belum lagi kakaknya itu sengaja meninggalkan ponselnya yang membuatnya frustasi karena tidak bisa menghubungi wanita itu.
"Kenapa?" tanya Marcus yang baru saja turun dari kamarnya. dia mendengar sedikit kehebohan di lantai satu yang disebabkan oleh Emma.
Wanita itu segera menghampiri Marcus. "Kak Mia pergi kak, dia meninggalkan ponselnya di kamar."
Marcus terdiam, dia mengingat semalam dia memergoki Mia yang memang akan pergi, wanita itu bilang ingin mencari Rose.
"Dia bilang ingin mencari Rose."
"APA!" teriak Emma tidak percaya, begitupun dengan Jesper.
.....
"Berhenti mengikutiku." kesal Rose yang melirik tajam Mia di sampingnya.
Mia tersenyum canggung . "Aku hanya ingin tahu apa kegiatan mu hari ini.
"Apa kau tidak memiliki pekerjaan lain selain menggangguku, apa kau tidak puas melihatku berpisah dengan Marcus, bukankah itu tujuanmu selama ini?"