NovelToon NovelToon
LOTUS YANG TERASING

LOTUS YANG TERASING

Status: sedang berlangsung
Genre:Ruang Ajaib / Wanita perkasa / Reinkarnasi / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora79

Seorang Dokter Jenius dari masa depan bereinkarnasi kembali ke dalam raga seorang putri bangsawan, yang menikah dengan pria yang sangat membenci dirinya. Hingga pada suatu hari yang nahas, dia pun diasingkan ke sebuah wilayah terkutuk bersama pelayannya, karena tuduhan.yang keji.

*
"Aku tidak akan menyerah! Sudah diberi kehidupan dan kesempatan kedua, masa harus aku sia-siakan?"

*
Jadilah saksinya, wahai langit! Jika aku, akan mengguncang dunia kuno ini dengan semua keahlianku!"

*
"Nona, tapi Anda tidak bisa apa-apa, loh!"

*
"Tenang saja ... Dewa memberkatiku dalam komaku kemarin, dan aku akan menunjukkan keahlianku!"

*
Bagaimana kisah si Dokter Jenius ini di dunia kuno yang tidak terdapat di dalam sejarah Kekaisaran?

*
Apakah dia mampu membangun kekuatannya sendiri di sana?

*
Ikuti kisah si Dokter Bar-bar hanya di sini ...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora79, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 14: Selir Bai!

***

Setelah Keluarga Hua musnah, Anlian duduk santai di dalam ruang ajaibnya sambil membuat berbagai macam ramuan ajaib untuk dilelang.

"Nona, apa rencana selanjutnya?" tanya Yaoyao.

"Lelang lima botol ramuan ajaib itu di Pelelangan 'Baiguo'. Itu adalah ramuan penyembuh instan, ramuan pembuka meridian, ramuan penguat tulang dan sumsum, ramuan awet muda, dan ramuan penghalus kulit tubuh. Perintahkan Shen Luo dan tiga orang yang kesana, langsung ambil bayarannya setelah lelang selesai," perintah Anlian kepada Yaoyao.

"Baik, Nona! Setelah itu, apa rencana kita?" tanya Yaoyao kembali.

"Masuk ke dalam Kediaman Pangeran Rui. Membalas Selir Bai, dan mengambil bukti-bukti pengkhianatan dia. Kita akan serahkan ke Kaisar Agung, agar dia tahu jika anak yang dia banggakan akan memberontak!" jawab Anlian dengan wajah datar.

"Rencana yang bagus, Nona. Aku akan atur semuanya untuk besok malam ..." ujar Yaoyao.

"Bagus! Aku mengandalkanmu, Yaoyao ..."

Malam ketiga, Ibukota Kekaisaran diselimuti oleh udara yang jauh lebih dingin daripada biasanya.

Suasana masih terlihat mencekam, akibat pembantaian yang diterima oleh Keluarga Hua.

Bau daging dan bangunan yang terbakar, masih membekas di udara ... membuat napas beberapa orang yang dekat dengan Keluarga Hua merinding.

Sementara itu, di dalam Kediaman Pangeran Rui, lentera-lentera yang ada di sana menari pelan karena tertiup angin, memantulkan bayangan aneh di setiap dinding koridor

Di Kediaman Pangeran Rui, lentera-lentera istana bergoyang pelan tertiup angin, memantulkan bayangan aneh di dinding koridor panjang.

Di Paviliun Anggrek Putih, Selir Bai terbangun dengan dada berdebar.

"Aneh sekali … kenapa malam ini hatiku terasa sesak sejak tadi?" gumamnya lirih.

Pelayan pribadinya yang bernama Lianyu, segera mendekatinya.

"Nyonya Selir, apakah Anda bermimpi buruk lagi?" tanya Lianyu dengan suara pelan.

"Mimpi yang terasa nyata, Lianyu. Saya seperti mendengar suara jeritan ...." sahut Selir Bai sambil memegang bagian dadanya.

Lianyu mencoba untuk menenangkannya, sambil merapikan selimut majikannya.

"Jangan khawatir, Nyonya Selir ... itu hanyalah suara hembusan angin malam. Malam ini, hembusan anginnya terasa sangat kencang dan dingin, berbeda dari hari-hari kemarin ..." ujar Lianyu.

Selir Bai menggelengkan kepalanya dengan cepat, wajahnya terlihat sangat pucat.

"Tidak, Lianyu ... tidak! Saya sangat mengenal perasaan ini. Ini seperti sebuah firasat ... buruk!" sahut Selir Bai.

Sebelum Lianyu sempat menjawab kembali, tiba-tiba ...

Klang!

Terdengar sebuah suara seperti logam jatuh, dari arah luar Paviliun Anggrek Putih.

Selir Bai tercekat sesaat, lalu dia bangkit dari ranjang dengan tubuh gemetar.

"Suara apa itu, Lianyu?" tanya Selir Bai.

"Sebentar Nyonya Selir, saya akan memeriksanya ..." ujar Lianyu.

Sebelum Lianyu sempat berjalan kearah pintu kamar, sebuah senjata terbang sudah mendarat dileher jenjangnya.

Slash!

Lianyu tidak sempat berteriak, da-rah segar menyembur ke atas tirai sutra ranjang Selir Bai, membuat udara penuh dengan bau amis yang sangat pekat.

"Aaaakhhhh!!! Lianyu!!!" jerit Selir Bai, histeris.

Pintu paviliun itu terbuka perlahan ...

Krieet!

Tap … tap … tap …

Seorang wanita bertopeng emas melangkah masuk dengan santai.

"Hello, Selir Bai ... Sudah lama kita tidak bertemu ..."

Suara itu terdengar lembut … Bahkan terlalu lembut ditelinga Selir Bai, sehingga membuat tubuhnya bergetar dengan sangat hebat.

"S-siapa kamu?!! Penjaga!!! ... Penjaga! Ada penyusup!!" teriak Selir Bai, panik.

Namun teriakannya sia-sia ...

Suasana hening ... tidak ada yang menjawabnya.

"Percuma saja teriak-teriak begitu, tidak akan ada yang bisa menjawab teriakanmu ... hehehehe!" ujar suara itu sambil terkekeh.

Tidak lama kemudian, tubuh-tubuh tanpa nyawa itu diseret masuk oleh beberapa orang ke dalam kamar Selir Bai.

"Inikah yang kamu panggil 'penjaga' itu? Tsk! Sangat lemah!" ujar suara itu sambil melemparkan tubuh-tubuh ke dekat ranjang Selir Bai.

Brugh!

"Aakh! Tidak mungkin! Tidak mungkin! Ini adalah Kediaman Pangeran Rui!" ujar Selir Bai dengan mata terbeliak lebar.

"Aku tahu ... Itulah sebabnya aku datang kesini untuk berkunjung ..." ujar suara itu sambil melepaskan topengnya.

Wajah cantik Anlian tersingkap di bawah cahaya lentera.

Selir Bai menatapnya dengan tatapan mata kosong, namun tidak lama kemudian ... matanya terbeliak lebar.

"K … kamu …" tunjuk Selir Bai dengan suara bergetar.

"Benar, itu aku ... hehehehe. Hua Zhen sudah mati, sekarang namaku adalah Duxi Anlian ..." ujar Anlian sambil menyeringai.

"Mustahil!! Kamu sudah mati! Aku sendiri yang ..." seru Selir Bai dengan wajah bodoh.

"Yang apa, Selir Bai?" tanya Anlian sambil memiringkan kepalanya.

"Yang telah meracuniku? Menyuap Tabib untuk memalsukan kematianku? Atau ... yang telah meracuni Ibuku?" lanjut Anlian dengan nada rendah menakutkan.

Bahu Selir Bai terkulai lemas ...

Ternyata wanita ini telah tahu semua perbuatannya.

"Kamu ... Kamu sudah tahu semuanya?" gumam Selir Bai.

"Tentu saja aku tahu! Jika tidak, aku tidak akan disini untuk menagih semua hutang ini!" sahut Anlian dengan aura menekan.

"Kamu tahu tidak? Aku mendengar suara jeritan Ibuku setiap malam dari Neraka. Jeritan penuh dendam, yang isinya hanya ada namamu ..." lanjut Anlian dengan mata yang sudah berubah menjadi merah.

Anlian berjalan mendekati ranjang Selir Bai, Aura membunuh pekat menguar dari dalam tubuhnya.

"Berhenti disana, Hua Zhen! Jangan mendekat! Aku adalah Selir kesayangan Pangeran Rui!!" teriak Selir Bai, sambil mendorong tubuhnya perlahan ke sisi dalam ranjangnya.

Anlian menyeringai ...

"Lucu sekali ... Kamu pikir, gelar si-alan itu bisa menyelamatkan kamu dari kematian, hm?" ujar Anlian.

Dari dalam kegelapan, Yaoyao muncul dan berjalan ke samping Anlian.

"Apakah Anda tahu, Selir Bai?" ujar Yaoyao dengan wajah dingin.

"Disaat Nona kami Anda kirim ke wilayah Terkutuk Utara, Anda malah bersuka-cita di sini dengan menikmati semua harta Nona kami! Apakah Anda waras, hah?! Membiarkan Nona kami menderita disana, dengan tuduhan keji yang Anda lemparkan kepada dirinya! Anda benar-benar kejam dan licik!" lanjut Yaoyao dengan nada penuh kebencian.

Selir Bai menutup telinganya dengan erat sambil berteriak histeris.

"Diam! Diam! Hentikan! Aku tidak ingin mendengarnya!"

Anlian mengangkat tangannya, dia sudah muak dengan drama didepannya ini.

Dua anggota Ashura Neraka datang, sambil menyeret tubuh seseorang.

"Akkkh! Yang Mulia Pangeran Rui?!" jerit Selir Bai histeris.

Pangeran Rui diseret seperti sebuah kantong sampah, tubuhnya penuh luka memar dan sayatan, sehingga wajahnya terlihat pucat.

Keanggunan itu hilang, saat Ashura Neraka bertindak.

"Bai’er …? Sebenarnya, apa yang terjadi disini?" tanya Pangeran Rui dengan suara parau.

Dia sedang asik terlelap, setelah menikmati 'musim semi' dengan Selir lainnya di dalam kamar.

Tiba-tiba dia langsung dihajar habis-habisan, tanpa menyadari apa yang telah terjadi.

"Yang Mulia ... tolong selamatkan aku ..." ratap Selir Bai sambil menangis.

"Sebenarnya, apa yang terjadi?" tanya Pangeran Rui kembali.

Dia mengalihkan pandangannya ke arah Anlian, matanya bergetar saat mengenali sosok cantik yang berdiri dihadapannya itu.

"H--Hua Zhen?? ... Kamu Hua Zhen?" tanya Pangeran Rui dengan nada bergetar.

Anlian menyeringai, saat mendengar suara pria murahan itu memanggil namanya.

"Wah, hebat sekali! Ternyata kamu masih ingat siapa aku ... Suamiku!" sahut Anlian dengan nada sarkas.

"Namun sayang ... semuanya sudah terlambat!" lanjut Anlian dengan suara dingin.

"Maafkan aku, Hua Zhen ... Semua itu adalah permintaan Keluarga Hua melalui Selir Bai. Mereka mengancam akan membuka semua rahasiaku, jika aku tidak membuangmu ke wilayah Utara ..." ujar Pangeran Rui.

"Tsk! Seorang Pangeran berstatus tinggi, masa takut dengan ancaman rakyat rendahan seperti keluarga Hua itu? Tidak masuk akal!" ujar Anlian dengan nada sinis.

"Sekali pengecut, akan selalu menjadi seorang pengecut! Berlindung dibalik kekuatan rakyat dan harta, demi merencanakan ... pemberontakan! Dasar pria murahan serakah! Penuh ambisi berbahaya!" lanjut Anlian dengan nada jijik.

"Bunuh dia! Yang Mulia, bunuh dia sekarang! Perintahkan mereka untuk membunuhnya!" teriak Selir Bai seperti orang gila.

Pangeran Rui hanya bisa pasrah, karena semua itu memang direncanakan olehnya dan orang-orang kepercayaannya.

Dia sebenarnya sangat menyukai Hua Zhen, namun dulu wanita itu lemah dan hanya bisa menangis.

Dia hanya memerlukan 'Harta' yang dibawa oleh Hua Zhen dari mendiang ibunya, demi membangun kekuatan pasukannya sendiri.

Hua Zhen sekarang terlihat sangat tangguh, dan dia ingin mengikat kembali wanita ini disisinya.

"Yang Mulia? Kenapa Anda diam saja?" tanya Selir Bai yang memandangnya dengan wajah putus asa.

"Maafkan aku, Bai'er ... Aku tidak bisa ..." jawab Pangeran Rui dengan suara lirih.

"Apa katamu?!" seru Selir Bai, histeris.

"Semua ini memang salah kita ... Aku ... aku pantas mati ..." ujar Pangeran Rui.

"Aaaaa!! Dasar pria tidak berguna!!!" raung Selir Bai, murka.

Anlian melangkah mendekati Selir Bai.

"Tenanglah ... Aku tidak akan membunuh kalian secepat itu. Aku akan membuat kalian merasakan, apa itu Neraka Dunia ..." ujar Anlian dengan suara lembut.

"Huhuhu ... Lalu, apa maumu?! Harta? Kekuasaan?" tanya Selir Bai sambil tersedu.

"Mudah saja ... Aku hanya ingin kamu merasakan, apa yang Ibuku rasakan sebelum ajal menjemputnya ..." jawab Anlian sambil tersenyum.

"Aku tidak perlu harta, apalagi kekuasaan ... Semua itu akan aku dapatkan, dengan usahaku sendiri!" lanjut Anlian.

Anlian memberi sebuah isyarat kepada anggotanya, agar membawa Selir Bai dan Pangeran Rui ke halaman belakang.

Disepanjang jalan, mereka hanya bisa melihat mayat-mayat pelayan dan penjaga yang bergelimpangan dengan leher tersayat.

Di halaman belakang, sebuah altar sederhana sudah disiapkan.

"Seret dan tahan Selir Bai di atas altar itu!" perintah Anlian kepada anggotanya.

"Aakh! Tidaaak! Apa ini?! Kalian mau apa?!!" teriak histeris Selir Bai, saat tubuhnya diseret ke atas altar tersebut.

"Ini adalah altar hukuman. Altar yang aku dirikan, agar arwah ibuku bisa melihatnya dari Neraka ..." jawab Anlian dengan nada santai.

Tiba-tiba Pangeran Rui berlutut di depan Anlian.

Brugh!

"Jika harus mati ... biarkan aku dulu yang mati ..." ujar Pangeran Rui.

Anlian menatap Pangeran Rui dengan tajam.

"Hukumanmu, berbeda ... Tunggu dan nikmati saja semuanya ..." jawab Anlian dengan nada dingin.

Anlian menoleh kembali ke arah Selir Bai.

Dua orang anggota Ashura menekan tubuhnya dengan kuat ke atas altar, sehingga dia tidak dapat bergerak.

"Tolong, lepaskan aku! Aku salah! Aku mengaku salah!" teriak Selir Bai ketakutan.

Anlian melihatnya seperti seorang badut diatas pentas, tidak lucu ... hanya bisa buat orang kesal.

"Dulu ... aku juga pernah memohon kepadamu, namun kamu malah tertawa sangat kencang. Sikapmu sangat angkuh, seolah-olah dirimulah penguasa dunia ini ..."ujar Anlian dengan nada dingin.

"Sekarang, nikmatilah 'Karma' yang sudah kamu tanam ..."

Anlian mengeluarkan sebuah tabung kecil berwarna hitam dari dalam saku jaketnya.

"Ini adalah racun yang kamu berikan kepada Ibuku selama dia hidup, namun racun ini telah aku sempurnakan. Tidak ada penawarnya, hanya kematianlah jalan akhirnya ..." ujar Anlian sambil menyeringai.

Wajah Selir Bai langsung memucat, saat Anlian berbicara.

Dia tahu racun itu, namun racun yang dia berikan saat itu ada penawarnya.

Jika racun ini tidak ada penawarnya, bagaimana dia bisa menghadapi hari-harinya nanti?

"Kamu tidak akan mati dengan mudah, Selir Bai ... Setiap hari, organ dalammu akan membusuk dengan perlahan dan rasanya akan sangat ... menyakitkan. Itu adalah harga yang pantas kamu terima, daripada sebuah kematian yang cepat!" ujar Anlian.

"Tidaaak!! Jangan lakukan itu! Bunuh saja aku! Jangan siksa aku seperti itu!" teriak Selir Bai, histeris.

Namun Anlian mengacuhkannya, dia langsung menuang seluruh racun itu ke dalam mulut Selir Bai, lalu menahan mulutnya sampai racun itu tertelan habis.

"Arrrgh!! Si-alan! Yang Mulia, tolong aku!!"

"Ikat dia di kamarnya, dan minta dua orang anggota kita untuk menjaganya sampai dia menemui ajalnya!" perintah Anlian kepada Yaoyao.

"Baik, Nona!"

Mereka menyeret tubuh Selir Bai yang mulai kejang-kejang kembali ke dalam Paviliunnya, tanpa perduli keadaannya.

Selir Bai menoleh kearah Pangeran Rui sambil bergumam pelan.

"Yang Mulia ... Tolong selamatkan aku ..."

Pangeran Rui hanya melihatnya sekilas, lalu dia memalingkan wajahnya ke arah lain.

"Maafkan aku, Bai'er ..."

"Apakah sekarang giliranku?" tanya Pangeran Rui kepada Anlian.

"Hukumanmu bukan seperti ini ..." jawab Anlian.

"Lalu seperti apa?" tanya Pangeran Rui dengan wajah pucat.

Anlian meliriknya sebentar, lalu dia menyeringai.

"Kamu akan merasakan, rasanya kehilangan semua yang kamu banggakan itu. Mulai dari gelarmu, kekuasaanmu, bahkan namamu ..." sahut Anlian.

"Aku akan mengirimkan semua bukti-bukti kolusimu dengan pihak luar, dan rencanamu untuk melakukan makar, langsung kepada Kaisar Agung ..." lanjut Anlian.

Pangeran Rui menatap Anlian penuh dengan kebencian.

"Jika begitu, bunuh aku langsung! Tidak perlu sampai mempermalukan aku begitu!" raung Pangeran Rui.

Anlian berjalan menjauh dari Pangeran Rui sambil tertawa.

"Hahahahahahaha!"

"Selamat menikmati hukumanmu, Pangeran Rui! Berdoalah pada Tuhan, agar Yang Mulia Kaisar masih mempunyai rasa iba kepadamu! Hahahahaha!"

♨♨♨

1
Lala Kusumah
wow kereeeeeennn ternyata si twins juga tranmigrator ya 🙏🙏👍👍👍
༆ᏗᏬRᎧRᏗ79༄: Iya, Kak ... Prajurit elit dari masa depan ...😂
total 1 replies
Murni Dewita
double up thor
༆ᏗᏬRᎧRᏗ79༄: Oke 🤗💖💖💖
total 3 replies
༆ᏗᏬRᎧRᏗ79༄
Hai pembaca setia cerita ini ...🤗

Terima kasih atas dukungan kalian dengan membaca cerita ini. Jika kalian suka tolong bantu Author d4ngan komen, like, Subscribe, dan ratingnya oke? 😊🙏🏻

Terima kasih ...💖💖💖
Lala Kusumah
bukan triplets ya Mak kok twins, tapi tak apa-apa sama aja kok sing penting kembar 😍😍😍👍👍👍
༆ᏗᏬRᎧRᏗ79༄: Ya allah, dia ngakak ...🤣🤣🤣🤣🤣
total 3 replies
Murni Dewita
💪💪💪
༆ᏗᏬRᎧRᏗ79༄: 😊🤗💕💕💕💕
total 1 replies
Murni Dewita
👣
༆ᏗᏬRᎧRᏗ79༄: Hallo, Kak Dewita ... Selamat membaca dan semoga suka dengan ceritanya ...😊🙏🏻🤗💕💕💕💕💕
total 1 replies
Lala Kusumah
good job Anlian 👍👍👍
༆ᏗᏬRᎧRᏗ79༄: 😁😁😁😘😘😘💖💖💖
total 1 replies
Lala Kusumah
wah Anlian dapat rezeki nomplok tuh, mantaaap 👍👍👍
༆ᏗᏬRᎧRᏗ79༄: sok atuh main ke bandung, Kak Lala ... kita ngaliwet bareng ....🤣🤣🤣
total 3 replies
Lala Kusumah
rasain Lo....
༆ᏗᏬRᎧRᏗ79༄: 😁😁😁 ....
total 1 replies
Lala Kusumah
wow
Lala Kusumah: hai....
total 2 replies
aku
mawar thor biar semangat update, sp tau doble up 🙈🙈😁😁
༆ᏗᏬRᎧRᏗ79༄: Alhamdulillah ... Semangat kok, Kak ... hanya lagi berduka hari ini, saudara aku meninggal. Kalau double up, aku nyerah kak ... otaknya gak kuat mikir ...🤣🤣🤣🤣🤣🤣. Terima kasih dukungannya, Kak ...🙏🏻😘🤗💖💖💖💖
total 1 replies
aku
red rose untukmu thorrr ❤️❤️❤️
༆ᏗᏬRᎧRᏗ79༄: Thank you kak ...🙏🏻😊🤗💖💖💖💖💖💖
total 1 replies
aku
lope sakeboooonnnn ❤️❤️❤️
༆ᏗᏬRᎧRᏗ79༄: Lope yuh sekebooon tooo kak ...🤗💖💖💖🙏🏻🙏🏻🙏🏻
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
༆ᏗᏬRᎧRᏗ79༄: Hallo, Kak Dewi ... Terima kasih hadirnya dan happy reading ....😊🙏🏻🤗🫰🏻💖💖💖💖
total 1 replies
Lala Kusumah
gustiiiiii eta Upin dan Ipin 😂😂😂
༆ᏗᏬRᎧRᏗ79༄: 🤣🤣🤣🤣🤣 ....
total 1 replies
Lala Kusumah
jangan terlalu kasar ya 🙏🙏🙏
༆ᏗᏬRᎧRᏗ79༄: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 5 replies
Lala Kusumah
semangat Anlian 💪💪💪
༆ᏗᏬRᎧRᏗ79༄: Terima kasih, Kak Lala ...🙏🏻😊🫰🏻💖💖💖
total 1 replies
Ana Jus
seandainya ruangan itu ada di dunia nyata
༆ᏗᏬRᎧRᏗ79༄: Alhamdulillah ... Aku juga baru nulis lagi di sini, setelah lama vakum 🤭.
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!