Kalimat 'Mantan Adalah Maut' rasanya tepat jika disematkan pada rumah tangga Reya Albert dan suaminya Reyhan Syahputra
Reyhan merasa jika dirinya yang hanya seorang staff keuangan tidaklah sebanding dengan Reya yang seorang designer ternama, setidaknya kata-kata itu yang kerap ia dengar dari orang-orang disekitarnya
Hingga pertemuannya dengan Rani yang merupakan mantan kekasihnya saat sekolah menengah menjadi awal dari kehancuran bahtera rumah tangga yang telah dibangun selama tujuh tahun itu
Apa yang akan terjadi pada pernikahan ini pada akhirnya? Dapatkah Reya mempertahankan rumah tangga yang ia bina walaupun tanpa restu dari orang tuanya? Atau pada akhirnya semua akan berakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CTPS 12
"Entahlah Re, gue ngerasa kalau Rani mulai nyembunyiin sesuatu dari gue" ujar Revan pada akhirnya, dirinya memang selalu merasa nyaman jika bercerita pada sahabatnya itu
"Rani boong? yang gue liat dia bukan cewek yang suka boong" Reya memang baru bertemu Rani beberapa kali, tapi ia dapat melihat jika tunangan dari sahabatnya itu bukan tipe orang yang suka berbohong
"Itu dia Re, dia emang gak bisa boong. Dan kemarin dia boong!" Revan mengenal baik calon istrinya itu, kemarin saat ia bertanya Rani benar-benar berbohong
"Lo harus selidikin lagi Van, atau Rani memang punya alasan buat gak ngasih tau elo!" Reya masih berusaha berpikir positif, dirinya sebenarnya curiga pada Rani serta Reyhan, entah kenapa Reya merasa jika keduanya memiliki kedekatan
Tapi Reya tak akan mengatakannya pada Revan selagi dirinya tidak memiliki bukti. Ia akan selidiki lagi
***
Sepanjang hari Reyhan berpikir tentang ucapan Darren, jika pria itu memberi tahu semuanya pada Reya, maka Reyhan benar-benar akan kehilangan segalanya
Tapi meninggalkan Rani juga bukan hal yang ia inginkan, dirinya mencintai wanita itu dan tak berniat untuk berpisah bahkan Reyhan berpikir untuk membuat pernikahan Rani dan Revan gagal
Reyhan kembali kerumah saat hari sudah mulai gelap, hari ini ia tidak menjemput Rani karena tadi wanita cantik itu mengabari jika dia akan bersama dengan calon suaminya
Begitu tiba, seperti biasa, Reya sudah menunggu untuk menjemput suaminya
"Hari ini pulangnya lebih cepet?" Tanya Reya, wanita cantik itu lalu membantu melepas kemeja sang suami
"Iya, kerjaannya lagi gak banyak soalnya"
"Tapi tadi pagi katanya kerjaan kamu banyak?" Reya terdengar seperti tengah menyelidiki suaminya
"Ya karena dikerjain cepet makanya cepet selesai!" Reyhan berusaha mempertahankan wajah datarnya, Reya terlihat menaruh curiga padanya
Reya hanya mengangguk saja "Ya udah kamu bersih-bersih sana! Setelah itu kita makan malam"
Sementara Reyhan membersihkan diri, Reya turun kelantai bawah untuk menyiapkan makan malam bersama suami serta putranya
Setelah makan malam, kini pasangan suami istri itu telah bersantai didalam kamar tidur mereka, Reyhan bersandar pada headboard sementara Reya bersandar didada bidang pria itu, tangan lebar Reyhan juga sibuk mengelus rambut panjang istrinya itu
"Yang"
"Hmm" Reyhan tengah berpikir tentang bagaimana agar dirinya dan Rani lebih hati-hati setelah ini, Darren tak mungkin bertindak selagi dirinya tidak memiliki bukti
"Arlo kan udah cukup besar"
"Terus?"
"Aku pengen deh kita program untuk anak kedua!" Reyhan terkejut dengan ucapan istrinya
Jika Reya meminta saat dirinya belum bertemu Rani mungkin Reyhan akan langsung setuju, tapi sekarang ia tak berpikir untuk memiliki bayi lagi bersama istrinya itu
"Ngurus anak itu gak gampang Reya, kamu mungkin akan jauh lebih sibuk setelahnya" Reyhan berusaha menolak permintaan istrinya itu
"Tapi kan Arlo udah besar, jadi aku bisa fokus sama bayi kita!" Reya mendongak menatap wajah tampan suaminya
"Jangan dulu yaa! Kalau kita punya bayi, lalu bagaimana dengan mimpi-mimpi kamu? Mungkin setelah Milan fashion week kamu akan dapat tawaran yang lebih bagus?"
Sejenak Reya berpikir, tapi dirinya juga ingin memiliki anak lagi setelah putranya sudah semakin besar
"Tapi aku mau bayi perempuan, Yang" suara Reya terdengar merengek
"Aku bukannya gak mau, kemarin aja kita dapat masalah karena kesibukan kamu! Aku cuma gak mau kita sampe berantem lagi hanya karena masalah kesibukkan kita masing-masing sayang"
Reyhan benar juga, rumah tangganya baru saja melewati fase yang rumit, mungkin memang belum waktunya untuk mereka memiliki bayi
"Mungkin kamu bener, kita tunggu sampe Arlo lebih besar" Reya mengeratkan pelukannya pada perut suaminya
"Maafkan aku Reya, kita memang gak seharusnya memiliki bayi, karena setelah kamu mengetahui pengkhianatan yang aku lakukan kamu pasti akan pergi meninggalkan aku" Batin Reyhan, pria itu membalas pelukan istrinya lalu keduanya terlelap
***
Satu bulan telah berlalu, hubungan Antara Reyhan dan Rani benar-benar tertutup rapat. Keduanya akan bertemu secara diam-diam dan Reyhan lebih waspada dengan tidak mengantar jemput Rani pulang kerja
Hari ini Revan mengantarkan calon istrinya untuk melakukan fitting baju pengantin, karena Reya mengabari jika gaun tersebut telah rampung
Kedua calon pengantin itu tiba di butik milik Reya, dan wanita cantik itu menyambut keduanya
"Kita langsung aja yaa!" Reya mengarahkan sepasang kekasih itu menuju ruangan yang telah ia siapkan
Rani tersenyum kala seorang wanita datang dengan membawa gaun yang telah dipesannya. Reya memang tak perlu diragukan lagi, gaun itu terlihat sempurna walaupun tanpa taburan permata
"Gaun yang indah" puji Rani
"Sesuai pesanan kamu kan" Reya tersenyum, ia lalu mengajak calon pengantin itu untuk mencoba gaunnya dikamar ganti
Dengan dibantu oleh karyawan Reya, Rani mengenakan gaun indah tersenyum, namun dirinya merasa jika gaun tersebut lebih sempit, padahal sebelumnya ia pernah mencobanya sekali tapi hasilnya pas, apa dirinya memang bertambah gemuk?
"Maaf bu, tapi gaunnya sempit, resleting gaun nya gak bisa ditarik ke atas!" Ujar wanita yang merupakan karyawan di butik milik Reya
Reya mengerutkan keningnya, dua Minggu lalu Rani telah mencobanya dan hasilnya baik-baik saja, kenapa tiba-tiba jadi tidak muat
"Kok bisa yaa? Apa kamu genduttan Ran?" Tanya Reya, Rani juga terlihat bingung
"Entahlah Re, kayanya emang aku genduttan" Rani melihat pantulan dirinya lewat cermin, sepertinya memang dirinya mengalami kenaikan berat badan
"Kamu gak diet yaa? Biasanya calon pengantin itu diet" Ujar Reya
Rani diam, akhir-akhir ini memang nafsu makannya sedikit meningkat, terlebih dirinya banyak rebahan karena kerap merasa lelah
"Iya sih, mungkin aku harus lebih ekstra lagi dietnya!" Rani lalu melepas gaun indah itu, wajahnya terlihat murung karena gaun indahnya malah tidak bisa dikenakan
"Kamu tenang aja, nanti aku kerjain dulu gaunnya biar pas dibadan kamu, Minggu depan kamu fitting lagi!" Reya melihat raut wajah Rani yang berubah, ia lalu mengusap pundak wanita itu
"Ada apa? Kok mukanya murung gitu? Gaunnya gak bagus?" Tanya Revan sesaat setelah sang kekasih keluar dari fitting room
"Aku genduttan, gaunnya jadi gak muat!" Keluh Rani, Revan mengerti. Sebagai wanita Rani pasti ingin sesuatu yang sempurna dihari bahagianya dan kini gaun pengantinnya malah tak muat
"Kamu tenang yaa! Reya pasti bisa handle kok" Revan mengusap puncak kepala wanitanya itu dengan lembut
"Kamu tenang aja Ran! Semua akan baik-baik aja! Aku ini Reya Albert" Ujar Reya terdengar sombong, membuat Rani tersenyum
"Makasih yaa Re, maaf karena aku, kamu harus ngerjain lagi gaunnya!" Ucap Rani merasa bersalah