Suatu hari sikap Maya mendadak berubah seratus delapan puluh derajat. Dia yang tadinya gadis pendiam dan lemah, kini memiliki tatapan tajam mematikan. Semua itu terjadi setelah pingsan yang dia alami. Semua orang terkejut dengan perubahan Maya. Julukan psiko mulai tersemat pada dirinya.
Abang tirinya yang mesum dan geng yang sering membully Maya di sekolah sekarang hanya bisa tercengang. Jika dahulu Maya hanya pasrah hingga bahkan tak berani menatap, maka kini dia malah berkata, "Aku akan sobek mulutmu jika berani menyentuhku!"
Apa yang terjadi pada Maya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11 - Berbeda
Motor butut Bobby akhirnya berhenti tepat di depan gerbang sekolah.
BREKKK.
Asap tipis keluar dari knalpotnya.
Maya langsung turun sambil batuk kecil. “Gila... paru-paru gue serasa diasap sate.”
Bobby menepuk-nepuk bodi motornya bangga. “Jangan hina si Bleki.”
“Bleki?”
“Nama motor gue.”
Maya menatap motor reyot itu lama sekali. “Itu motor apa veteran perang?”
“Minimal dia setia.”
“Karena nggak laku dijual.”
“Sialan lu!”
Maya terkekeh kecil lalu menoleh ke arah sekolahnya. Gedung SMA itu berdiri megah dengan halaman yang sudah ramai murid. Suara obrolan, tawa, dan langkah kaki bercampur jadi satu.
Namun begitu Maya melangkah masuk, beberapa murid langsung menoleh. Suasana perlahan berubah aneh.
“Itu... Maya?”
“Serius?”
“Kok beda ya?”
Bisik-bisik mulai terdengar dari berbagai arah. Penampilannya Maya tidak serapi dulu. Dia juga tak mengenakan kacamatanya lagi.
Wajar saja. Selama ini Maya dikenal sebagai gadis pendiam yang selalu berjalan menunduk. Jarang bicara. Bahkan nyaris tak pernah menatap mata orang lain.
Tapi Maya yang sekarang? Dia berjalan santai dengan tangan masuk saku rok. Tatapannya lurus ke depan. Wajahnya tenang tanpa sedikit pun rasa takut. Auranya benar-benar berbeda.
Beberapa cowok bahkan sampai bengong melihat perubahan itu.
“Anjir... ternyata Maya cantik juga ya.”
“Dari dulu juga cantik, cuma kayak hantu takut matahari.”
“Sekarang serem malah.”
Maya mendengar semua itu, tapi tak peduli. Di dunia lamanya, dia sudah terbiasa jadi pusat perhatian saat memasuki ruangan.
Bobby yang masih berdiri dekat gerbang malah mulai cemas sendiri. “Gue jadi takut lu bacok orang di sekolah.”
Maya melirik malas. “Pulang sana.”
“Yakin nggak perlu ditemenin?”
“Lu mau ikut belajar Biologi?”
“Ogah!”
“Nah.”
Bobby akhirnya menghela napas pasrah. “Kalau ada apa-apa telepon gue.”
Maya sedikit terdiam mendengarnya. Kalimat sederhana itu terasa aneh. Namun tentu saja dia tak menunjukkannya.
“Cih,” dengusnya kecil. “Sok peduli. Berantem lawan gue aja lu nggak berani!"
Bobby nyengir. “Takut paman gagal jaga keponakan.”
“Pergi sebelum gue tendang.”
“Siap, Nona Psikopat!”
BRENGGG!
Motor butut itu akhirnya pergi meninggalkan sekolah. Sementara Maya mulai berjalan menuju gedung kelas.
Seperti virus, kabar kembalinya Maya langsung menyebar cepat.
Di kantin sekolah. Sekelompok siswi modis sedang duduk sambil bermain ponsel dan tertawa keras. Mereka dikenal sebagai Geng Violet. Kelompok cewek paling menyebalkan sekaligus populer di sekolah. Di antara mereka duduk Ziva. Rambutnya yang dicat cokelat diikat tinggi sambil kukunya mengetuk meja malas.
“Tunggu,” ujar salah satu anggota geng. “Katanya Maya masuk hari ini?”
Ziva langsung mengangkat kepala. “Hah?”
“Serius. Gue lihat sendiri tadi.”
Beberapa anggota geng langsung tertawa sinis.
“Kok berani dia balik?"
“Mungkin uang jajannya habis.”
“Kasihan juga ya hidupnya.”
Ziva tersenyum tipis penuh ejekan. Namun jauh di dalam hatinya, dia sebenarnya kesal. Karena sejak semalam Maya terasa berbeda. Telepon itu masih terngiang di kepalanya.
“Siap-siap masuk penjara.”
Tatapan Ziva sedikit berubah dingin. Namun dia buru-buru menepis rasa tidak nyaman itu.
“Maya tetep Maya,” ujarnya akhirnya sambil menyilangkan tangan. “Dia nggak akan berani lawan kita.”
Sementara itu di kelas XI IPA 2. Maya masuk tanpa ekspresi lalu langsung duduk di kursinya dekat jendela.
Beberapa murid diam-diam memperhatikannya. Maya sendiri malah santai membuka tas lalu memeriksa buku-buku barunya.
“Fisika... Kimia... Biologi...” gumamnya. Kepalanya langsung terasa penuh. Sial, Maya asli ternyata monster akademik. Bahkan catatan sekolahnya rapi seperti buku cetakan.
Saat Maya sedang membolak-balik buku Biologi, suara langkah cepat mendadak terdengar.
“MAYAAAA!”
BRAK!
Seorang gadis langsung memeluk Maya super erat dari belakang. Maya refleks kaku total.
“ASTAGA LO KE MANA AJA?!” teriak gadis itu histeris.
Maya hampir reflek membanting orang itu. Untung dia masih menahan diri. Perlahan Maya menoleh dengan wajah datar.
Seorang gadis manis berponi sedang memeluknya sambil hampir menangis. Ingatan Maya asli langsung muncul. Marsya, teman sebangku Maya.
“Kita semua khawatir tau!” oceh Marsya cepat. “Lo nggak masuk hampir seminggu! Gue chat nggak dibales! Gue kira lo diculik!”
Maya masih kaku seperti patung. Physical touch benar-benar bukan gaya hidup Priska. Di dunia mafia dulu, dipeluk tiba-tiba biasanya berakhir dengan penusukan.
“Ehm...” Maya mencoba melepas pelukan itu perlahan. “Gue masih hidup.”
Marsya malah makin manyun. “Itu bukan jawaban!”
Maya akhirnya berhasil melepaskan diri lalu merapikan bajunya dengan canggung.
“Jangan peluk-peluk mendadak,” protesnya.
Marsya langsung membeku. “Hah?”
Seisi kelas ikut melongo. Karena Maya yang dulu mana mungkin ngomel seperti itu. Biasanya dia cuma diam sambil minta maaf.
Maya sadar suasana jadi aneh. Dia langsung berdeham kecil. “Maksud gue...” katanya santai. “Gue nggak biasa.”
Marsya menatapnya lama. “Lo berubah ya.”
Maya mengangkat bahu. “Mungkin, versi upgrade.”
Beberapa anak di kelas langsung terkekeh mendengar jawaban itu. Tak lama kemudian beberapa teman lain ikut mendekat.
“Maya, lo serius nggak apa-apa?”
“Kata orang tua lo nyariin lo.”
“Lo sakit?”
Pertanyaan datang bertubi-tubi. Kalau Maya asli mungkin sudah panik sekarang. Tapi Priska? Dia malah santai menyandarkan tubuh ke kursi.
“Gue baik-baik aja,” jawabnya tenang.
“Tapi lo ilang lama banget,” ujar seorang cowok.
Maya menatap mereka satu per satu lalu tersenyum kecil. “Tenang aja,” katanya santai. “Gue bakal terus baik-baik aja.”
Jawaban itu terdengar sederhana. Tapi entah kenapa membuat beberapa orang terdiam. Karena untuk pertama kalinya mereka melihat Maya bicara dengan penuh keyakinan. Bukan Maya yang takut. Bukan Maya yang selalu gemetar. Namun seseorang yang terlihat seolah sudah terbiasa menghadapi dunia sendirian.
Marsya bahkan sampai memandangnya tanpa berkedip. “Serius deh...” tukasnya pelan. “Lo keren sekarang.”
Maya hampir tersedak mendengarnya. “Keren?”
“Iya!” Marsya mengangguk semangat. “Aura lo beda banget!”
Maya memutar mata malas. “Aura apaan. Gue cuma kurang tidur.”
Beberapa teman tertawa kecil.
Sementara di luar kelas, seseorang sedang memperhatikan Maya dengan tatapan tajam. Ziva, tangannya mengepal pelan di balik pintu. Dia merasa tak bisa lagi mengendalikan Maya seperti dulu.
Atw ramuan bwt orang lain?
Mau nunggu diperkosa sama Jomie lagikah baru bertindak Priska?
Atw nunggu dibully rame² baru dibales Priska?
Enak banget tuh yang nge bully & merkosa dikasih waktu pengampunan terus sama Priska
🤨
Karena gak disinggung sama sekali keamanan sekolah baik penjaga sekolah, CCTV atw harus divideokan oleh orang lain baru viral semua kelakuan minus anggota sekolah disitu? 🤔