NovelToon NovelToon
Menjemput Takdir Yang Sempat Terpisah

Menjemput Takdir Yang Sempat Terpisah

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Selamat, Ibu Alana. Bayinya laki-laki, sehat, dan tampan sekali," ucap sang dokter tersenyum hangat.

​Alana mencium kening putranya dengan air mata yang terus mengalir. "Hai, sayang... Ini Ibu. Mulai hari ini, cuma ada kita berdua. Ibu berjanji akan menjagamu dengan seluruh hidup Ibu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KECUPAN HANGAT SEBELUM PERGI

​Begitu pintu terbuka, mereka mendapati Arkana sudah berdiri tegak di tengah ruangan dengan ransel dinosaurusnya yang menggembung di punggung. Di tangan kanannya, ia memeluk erat robot besar kesayangannya, sementara tangan kirinya menjinjing sebuah kantong plastik berisi beberapa balok lego yang tidak muat masuk ke dalam tas. Wajahnya tampak begitu semringah dan penuh antisipasi.

​"Lihat, Ibu! Arka sudah bawa robot petarung dan lego istana. Hebat, kan?" pamer Arka dengan bangga, mendongak menatap Alana lalu beralih pada Samudera yang berjalan di belakang ibunya.

​Samudera tidak bisa menahan senyumnya melihat tingkah menggemaskan sang putra. Rasa cemas dan berat hati yang sempat ia rasakan di dalam kamar tadi seketika menguap, digantikan oleh kehangatan yang membuncah. Ia melangkah maju, lalu berlutut di hadapan Arkana.

​"Wah, hebat sekali anak Papa. Sudah pintar berkemas sendiri," puji Samudera tulus sembari mengacak rambut Arka dengan sayang. Ia kemudian mengambil alih kantong plastik lego dari tangan mungil Arka agar putranya tidak kelelahan membawa barang bawaan.

​Samudera berdiri kembali, lalu beralih menatap Alana yang kini berdiri di ambang pintu ruang tamu. Tatapan pria itu kembali berubah dalam, menyiratkan pesan tersirat bahwa perpisahan sementara ini adalah awal dari rencana besar yang sedang ia siapkan untuk membawa Alana pulang ke pelukannya.

​"Kami berangkat sekarang, Alana," pamit Samudera dengan suara baritonnya yang lembut namun mantap.

Alana berlutut di hadapan Arkana tepat di samping pintu mobil mewah milik Samudera yang sudah terbuka. Ia merapikan kerah seragam olahraga kuning yang dikenakan putranya, mencoba menahan sebisa mungkin rasa haru yang mendadak membuncah di dadanya. Ini adalah kali pertama Arkana akan pergi jauh dan menginap tanpa dirinya.

​"Arka sayang," bisik Alana, suaranya sedikit bergetar namun tetap diusahakan terdengar ceria. "Di rumah Kakek dan Nenek nanti, Arka harus jadi anak yang baik, ya? Tidak boleh rewel, harus penurut sama Papa, dan jangan lupa makan yang banyak."

​"Ibu tidak ikut sekarang?" tanya Arkana, tangan mungilnya menyentuh pipi Alana dengan sorot mata polos yang mendadak agak redup.

​Alana tersenyum manis, menggenggam tangan kecil itu. "Ibu ada urusan sebentar di rumah, Sayang. Nanti Ibu pasti menyusul. Arka berangkat duluan bersama Papa, ya?"

​Arkana mengangguk patuh. Melihat kepatuhan putranya, Alana langsung menarik tubuh mungil itu ke dalam pelukannya. Ia mendekap Arkana dengan sangat erat, lalu menghujani kedua pipi gembil sang putra dengan ciuman bertubi-tubi, menghirup dalam-dalam aroma bedak bayi yang khas dari tubuh Arkana seolah ingin menyimpannya sebagai penawar rindu selama beberapa hari ke depan.

​"Ibu sayang sekali sama Arka," bisik Alana di telinga putranya.

​"Arka juga sayang sekali sama Ibu!" balas Arka riang, kembali bersemangat setelah mendapat kecupan hangat dari ibunya.

​Samudera yang berdiri di dekat pintu mobil menyaksikan momen perpisahan itu dengan tatapan yang sangat dalam. Ada rasa takjub sekaligus haru melihat betapa besarnya cinta Alana dalam membesarkan putra mereka. Di dalam hati, Samudera bersumpah tidak akan membiarkan air mata kesedihan jatuh lagi di pipi wanita itu.

​Setelah Alana melepaskan pelukannya, Samudera membantu Arkana naik ke kursi belakang mobil yang sudah dilengkapi dengan car seat nyaman. Pria itu kemudian berbalik sejenak menghadap Alana sebelum ia sendiri masuk ke kursi kemudi.

​"Aku pergi dulu, Alana. Aku akan mengabari setiap perkembangan Arka kepadamu," pamit Samudera dengan nada rendah yang menenangkan.

​Alana hanya mengangguk pelan, memberikan lambaian tangan terakhir saat kaca mobil perlahan tertutup dan kendaraan roda empat itu mulai bergerak membelah jalanan pagi.

1
Lubna Aulia
Ceritanya bagus. Menarik alurnya
Lubna Aulia
Alur ceritanya bagus👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!