🌶️ WARNING!!🌶️
Mengandungi ***** ****** yang mungkin tidak sesuai untuk semua pembaca.
.
.
.
Dalam dunia gelap yang dipenuhi darah, senjata, dan pengkhianatan, Seravina dikenal sebagai wanita sempurna yang tidak pernah gagal.
Cantik. Elegan. Mematikan.
Tidak ada yang tahu bahwa di balik wajah anggunnya, tersembunyi monster dingin yang tidak ragu membunuh siapa pun yang membuatnya jijik.
Hingga suatu malam, pencarian anjing baru membawanya ke arena pertarungan underground.
Dan di sanalah dia bertemu Viktor—pria yang bertarung bukan demi uang atau kemenangan, tetapi demi merasakan sesuatu yang bahkan tidak dia pahami.
Satu kehilangan diri karena trauma.
Satu lagi hidup tanpa pernah benar-benar memilikinya.
Ketika dua manusia yang sama-sama rusak dipertemukan, siapa yang akan hancur lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hrarou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perkenalan
Mikhail berdiri di tengah aula, menatap dingin ke arah Seravina dan sosok raksasa di belakangnya. "Tiga mayat pengawal yang kukirimkan padamu ditemukan di tempat sampah."
Mikhail berjalan mendekat dengan aura yang sangat mengintimidasi. "Beberapa malam kau tidak pulang ke sini. Kau lebih memilih mengurung diri di mansion pribadimu hanya untuk bermain dengan makhluk ini rupanya."
Seravina tersenyum tipis, melirik Viktor sejenak. "Bukan aku yang membunuh mereka. Dan mereka memang tidak berguna dibandingkan dia."
Mikhail mengerutkan kening, matanya menatap Viktor dengan penuh ketidaksukaan. "Aku yang biasanya mencarikan anjing untukmu dari arena bawah tanah. Aku tidak memberimu izin untuk mengambil yang satu ini. Dia terlalu liar untukmu."
"Kali ini aku tidak butuh pilihanmu," sahut Seravina tenang sambil mengusap pundak Viktor yang kaku. "Aku sudah menemukan peliharaan yang benar-benar bisa menggigit."
"Aku punya urusan laboratorium yang tidak bisa diganggu, Mikhail," lanjut Seravina dingin, langkahnya mulai menaiki tangga. "Aku ke sini hanya untuk mengambil barang-barang di kamarku, bukan untuk sesi interogasi."
Ivan mendengus jijik sambil menjauh, sementara Nikolai yang masih duduk di sofa menatap Viktor dengan tangan mengepal, merasakan ancaman murni dari pengawal baru adiknya itu.
Nikolai bangkit dari duduknya, melangkah perlahan hingga berdiri tepat di depan Viktor. Keduanya berdiri berhadapan seperti dua monster yang saling mengunci wilayah. Tinggi mereka hampir setara, menciptakan tekanan udara yang berat dan menyesakkan di tengah ruangan.
Nikolai menatap Viktor dengan mata penuh kebencian dan rasa posesif yang gelap, sementara Viktor hanya menatap balik dengan pandangan kosong yang mematikan.
"Jadi, ini mainan barumu, Sera?" desis Nikolai tanpa mengalihkan pandangan dari Viktor. "Dia terlihat seperti binatang yang butuh segera dikandangkan."
Viktor tidak bergeming, otot rahangnya mengeras, siap menerjang jika pria di depannya ini melakukan satu gerakan salah.
Seravina berhenti di tengah tangga, menoleh sedikit dengan wajah sedingin es. Ia tidak menunjukkan minat sedikit pun pada konfrontasi maskulin di depannya.
"Dia bukan mainan. Dia jauh lebih berguna daripada anjing-anjing kiriman Mikhail yang mati itu," ucap Seravina datar. Matanya menatap Nikolai seolah pria itu hanyalah gangguan kecil. "Berhenti bersikap berlebihan dan menyingkirlah dari jalannya. Aku sedang buru-buru."
Tanpa menunggu balasan, Seravina kembali melangkah ke kamarnya, mengisyaratkan Viktor untuk tetap mengikutinya dan mengabaikan Nikolai yang kini gemetar menahan amarah.
Nikolai mendengus kasar, tawa pahit keluar dari sela bibirnya yang bergetar karena emosi. Ia tidak mundur, justru selangkah lebih dekat ke arah Viktor, seolah ingin membuktikan bahwa ia tidak gentar sedikit pun pada raksasa itu.
"Alat?" Nikolai mengalihkan pandangannya ke punggung Seravina dengan tatapan yang sangat intens, penuh obsesi yang tidak sehat. "Kenapa kau harus mencari sampah dari arena bawah tanah kalau kau punya aku, Sera?"
Seravina menghentikan langkahnya lagi, jemarinya mencengkeram pegangan tangga kayu ek dengan kuat, namun ia tetap tidak berbalik sepenuhnya.
"Aku bisa menjadi anjing yang jauh lebih hebat daripada dia," lanjut Nikolai, suaranya merendah, penuh dengan nada posesif yang gelap. "Aku jauh lebih berguna. Aku mengenalmu lebih baik dari siapa pun di ruangan ini. Aku bisa merobek tenggorokan siapa pun yang kau mau tanpa perlu kau beri perintah."
Nikolai melirik Viktor dengan jijik. "Binatang ini hanya tahu cara memukul. Aku tahu cara memuaskanmu, menjagamu, dan menghancurkan duniamu sekaligus. Jadi kenapa kau malah memelihara ini?"
Seravina menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang penuh dengan rasa muak yang mendalam. Ia berbalik perlahan, menatap Nikolai dengan wajah datar tanpa ekspresi.
"Aku tidak suka anjing mesum yang menyetubuhi semua wanita yang ia lihat. Itu menjijikkan." Seravina berkata dengan suara yang sangat tenang tapi menusuk.
Nikolai membeku. Wajahnya yang tadi memerah karena amarah, kini berubah sedikit pucat karena serangan langsung dari Seravina yang membongkar tabiat buruknya.
Seravina berbalik sepenuhnya dan melanjutkan langkahnya menuju lantai atas dengan langkah yang berirama, seolah-olah baru saja membuang sampah yang menghalangi jalannya.
"Viktor, ayo."
Viktor menatap Nikolai untuk terakhir kalinya sebelum ia berbalik dan mengikuti Seravina. Ia sengaja berjalan dengan bahu yang tegap, membiarkan kehadirannya yang dominan meninggalkan rasa terhina yang mendalam bagi Nikolai.
Di ruang tengah, Mikhail hanya mengamati dalam diam. Ivan pura-pura sibuk dengan ponselnya, tidak ingin ikut campur dalam ketegangan yang bisa meledak kapan saja itu.
......................
Seravina melangkah menuju lemari penyimpanan rahasia di sudut ruangan, mengambil beberapa botol sampel kimia dan dokumen penting yang tertinggal untuk dibawa kembali ke mansion pribadinya.
Viktor berdiri di tengah kamar, matanya tidak lepas dari setiap gerak-gerik Seravina.
Saat Seravina berbalik untuk mengambil tasnya, ia hampir menabrak dada bidang Viktor yang tiba-tiba sudah berada di belakangnya.
"Minggir, Viktor," perintah Seravina tanpa nada.
Viktor tidak bergerak satu inci pun. Ia menunduk, menatap Seravina dengan wajah datarnya yang keras seperti pahatan batu. Tatapan itu sangat jelas menuntut sesuatu.
"Mau bibir," ucap Viktor singkat.
Suaranya yang berat bergema di ruangan yang sunyi itu. Ia tidak memohon, ia hanya menyatakan keinginannya dengan wajah tanpa ekspresi yang bisa membuat siapa pun merasa gemas sekaligus kesal di saat bersamaan.
Seravina menghela napas, menatap Viktor dengan pandangan jengah. "Tidak."
"Kenapa?" tanya Viktor langsung. Alisnya tidak bergerak, emosinya tidak terlihat, nada suaranya menuntut penjelasan seolah-olah dia baru saja ditipu dari haknya.
Seravina menyilangkan tangan di depan dada, menatap "anjingnya" itu dengan saksama. "Tadi di bawah aku bilang kau setia, bukan berarti aku memberimu hadiah. Kau masih dalam masa hukuman karena hampir membuatku celaka di mobil tadi pagi. Mengerti?"
Viktor terdiam sejenak, memproses kata-kata Seravina. Matanya beralih ke bibir merah Seravina, lalu kembali ke matanya.
"Tadi... aku jaga kau dari pria berisik itu," gumam Viktor, merujuk pada Nikolai. "Itu bukan tugas gratis."
Seravina spontan mendengus, tawa sarkastik keluar dari bibirnya mendengar klaim Viktor. Ia menatap Viktor dari atas ke bawah, seolah tidak percaya dengan keberanian pria itu.
"Jaga apaan?" Seravina memajukan wajahnya, menatap langsung ke mata kosong Viktor dengan kilat kemarahan yang cantik. "Tadi di bawah itu aku yang menjagamu, Viktor!"
Ia mengetukkan jarinya ke dada Viktor dengan keras. "Kalau aku tidak buka suara, Nikolai sudah pasti akan memancingmu untuk menyerang, dan Mikhail tidak akan ragu menembak kepalamu di tempat karena kau dianggap anjing yang tidak terkendali. Aku yang menyelamatkan nyawamu dari kebodohanmu sendiri, dan sekarang kau berani menagih hadiah?"
Viktor terdiam, matanya mengerjap pelan mendengar omelan Seravina. Wajahnya tetap datar tanpa dosa, seolah semua logika Seravina baru saja lewat begitu saja di atas kepalanya.
"Tapi aku... tidak bergerak," gumam Viktor pelan, mencoba membela diri dengan logika simpelnya. "Aku cuma berdiri. Dia yang berisik."
Seravina memutar matanya, benar-benar gemas dengan ketidaktahuan Viktor. "Jangan harap ada bibir malam ini. Sekarang ambil tas itu dan jalan di belakangku. Jangan katakan satu kata pun sampai kita sampai di mobil."
Viktor menatap tas besar di sudut ruangan, lalu kembali menatap Seravina. Di matanya, Seravina yang sedang marah terlihat jauh lebih hidup.
"Kenapa diam saja? Cepat!" bentak Seravina.
Viktor menghela napas pendek—satu-satunya tanda bahwa dia sedikit kecewa—lalu berjalan mengambil tas itu dengan satu tangan seolah tas berat itu tidak ada bobotnya.
"Ya, Nona," jawabnya rendah.