NovelToon NovelToon
DHAHAR : Jangan Mati Di Rantau Naya

DHAHAR : Jangan Mati Di Rantau Naya

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:806
Nilai: 5
Nama Author: Mia AR-F

Ini cerita tentang rumah makan yang menu spesialnya, tumbal manusia.
Kabur enggak bisa. Resign taruhannya nyawa.

" Selamat bekerja dirumah makan Dermawan." Seru Pak Dermawan selaku pemilik usaha yang suaranya masih terngiang-ngiang layaknya mimpi buruk yang terus berulang.

Namaku Naya. Umur 21. Anak rantau. Dan inilah kisahku.

_

Tayang : 16 mei 2026
Tamat : 06 juni 2026

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mia AR-F, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15 : Kembali pulang

Kipas angin mutar pelan. Bunyi krek… krek… tiap putaran. Di kasur, Naya terbaring masih dengan posisi yang sama saat dia pingsan.

Matanya kebuka dikit. Nafasnya berat. Panas. Tapi badannya dingin.

_

Lampu mess dimatikan semua. Hanya satu sumber cahaya. Lilin kecil. Ditaruh di lantai, tepat di tengah kamar Naya. Bayangannya goyang pelan di dinding. Nafas ruangan kamar tersebut terasa sangat berat. Tak ada angin yang lewat bahkan dari sela sekali pun.

_

Naya berkedip pelan.

Langit-langit biru muda. Catnya ngelupas.

Normal.

Harusnya normal.

_

Teh Intan duduk bersila di depan lilin. Rambutnya tergerai acak. Matanya tajam… Penuh dengan dendam teringat akan kematian Abel. Di depannya ada pakaian sehari-hari Naya yang dia ambil dari lemari. Di bawah kasur, mangkok itu… Sekarang sudah ditarik keluar. Isinya bukan lagi kosong namun ada air keruh. Dan di permukaannya, enggak tenang. Kayak ada sesuatu yang napas di dalam.

"Sing wis dipundamel bali… ojo kesasar. Sing wis kesuwun jenenge… ojo lali dalane." Teh Intan mulai bernyanyi membacakan mantra dengan sangat amat halus sembari tangannya mengambil baju Naya, dilap perlahan di tepi mangkok.

_

Naya langsung meringis. Tangannya memukul dadanya. Rasanya dadanya sangat dingin seah ada yang menusuk.

"Ah…"

Kepalanya mendadak pusing. Sakitnya bukan kayak pusing biasa. Dia duduk pelan. Rambutnya jatuh nutup muka.

Nafasnya makin cepet.

_

Asap kemenyan mulai tebal.Masuk ke hidung. Berat. Teh Intan langsung berhenti.

"Sing ora kuat… metu."

_

TENG!

Suara lonceng keras.

"Ahh…!"

Naya nunduk. Giginya gemeretak nahan sakit. Tangannya nyakar pelipis sendiri.

_

Teh Intan menunduk. Suara dia berubah. Lebih berat. Lebih dalam.

"Naya…"

Sunyi. Enggak ada reaksi.

Dia ulang. Lebih dalam.

"Naya…" Panggilnya lagu.

Lilin… goyang.

Api merunduk sebentar.

"Balik."

Suara pelan.Hampir nggak kedengeran.

_

"Balik…"

Naya langsung nengok ke arah sumber suara. Namun kosong.

"Balik ke sini…"

"Siapa…?!" Teriak Naya.

Nggak ada jawaban.

Cuma kipas angin.

Naya berdiri. Kakinya goyah. Dia hampir jatuh, tapi nahan ke tembok. Langkahnya pelan ke pintu.Tanpa sendal. Tanpa mikir.

'BRAK!'

Pandangan Naya tertuju kepada pintu kontrakan yang tiba-tiba terbuka dengan sangat keras seolah ada yang menghantamnya.

Cahaya sore masuk. Silau.

Naya menyipit. Tanpa sadar dia terus… Berjalan... Berjalan keluar.

_

Rosa berhenti tepat di depan laci. Tangannya menyentuh meja. Pelan. Seolah lagi nyapa sesuatu. Dia menunduk sedikit. Bibirnya gerak. Pelan banget.Hampir nggak kedengeran.

Rosa menarik napas kecil. Merasakan sesuatu yang terasa membuatnya berdebar merasa sangat senang.

"Dia kembali." Bisik Rosa.

Cuma sepersekian detik.

"klik…" Kunci muter sendiri.

Rosa ketawa kecil.

Dia miringin kepala. Berbisik lagi. Lebih dingin. Lebih tajam, "Kau kalah, Sari."

Tiba-tiba.. Di kaca etalase kasir… Sebuah bayangan muncul. Bukan cuma Rosa. Tepat di belakangnya, Sari menampakkan dirinya.

Pucat. Leher masih ada bekas cekikan. Matanya… Menatap marah Rosa.

Rosa enggak noleh. Dia udah tau.

"Dari awal…" bisiknya pelan, "Kamu cuma arwah yang gak terima akan kematian kamu."

BUG!

Pukulan didalam laci sekali.Lebih berat dari biasanya.

Sari di pantulan kaca… Maju satu langkah.

Rosa senyum lagi. Kali ini… lebih lebar, "Sekarang… Aku punya tumbal baru tanpa harus nyari tumbal lagi."

"Kau.. Pantas... Mati.. Sa.." Sari berucap terdengar oleh Rosa.

"Bunuh aku jika kamu bisa." Tegas Rosa menatap ke belakang.

Namun Sari sudah hilang bahkan di kaca etalase sekali pun.

Laci kasir sudah diam. Tak ada pergerakan aneh karna ulah lancang Sari.

_

Ranti jalan agak cepet. Tangan bawa plastik makanan.

"Kayaknya dia udah bangun…"

Dia sampai depan kontrakan namun anehnya pintu sudah terbuka padahal Ranti sudah jelas-jelas membawa kunci kontrakan. Ranti kaget bukan main melihat pintu kontrakannya yang nampak rusak seolah ada yang menerobos paksa untuk masuk.

Ranti berlari ke kamar namun kosong, Naya tak ada di sana.

"Gak mungkin banget kalo Naya yang rusak pintu kontrakan gue." Ranti sangat terkejut.

Selimut berantakan. Cangkir teh masih di meja. Uapnya udah nggak ada.

Ranti diem.

"...Naya?"

Di kamar mandi.

"Nay?!"

Kosong.

Dapur.

Kosong.

Nafas Ranti mulai nggak beraturan.

"Naya… jangan bercanda…"

Dia buka pintu belakang. Kosong juga.

"NAYA?!"

Suaranya mulai naik. Panik.

"Kalo Salsa tau, gue bisa dalam bahaya. Gimana kalo Salsa dateng ke sini?!" Ranti benar-benar merasa takut sekarang, Ranti tahu betul seperti apa Salsa.

_

Naya berjalan tanpa arah. Rambutnya berantakan. Matanya kosong. Tangannya masih megang kepala.

TENG!

Dia langsung berhenti. Badannya goyang. Hampir jatuh. Dia pegangan ke tembok. Orang lewat mulai liatin.

Naya menggeleng. Kakinya seolah melangkah sendiri.

"Enggak…"

Air matanya jatuh.

TENG!

Lebih keras.

"Kau sudah terlalu lama diluar, Naya!! SEKARANG KEMBALI PULANG!!" teriakan seorang wanita yang begitu marah di dalam kepala Naya.

Tiba-tiba Naya lari. Kekuatannya seolah full.

_

Ranti berlari keluar dari kontrakan.

"NAYA!!"

Dia lihat kiri kanan. Nggak ada. Dia langsung ambil HP. Tangannya gemetar.

Ingin menghubungi Salsa namun dia panik, dan ragu.

"Gue harus nyari Naya!" Tekannya.

_

Naya berlari. Enggak tau kemana. Nafasnya hampir habis. Dia berhenti.

Pelan.

Kayak ditarik sesuatu. Dia angkat kepala. Seolah nyawanya hampir di tarik namun lagi-lagi Naya kembali menatap lurus ke depan dan berlari kencang kembali.

_

Ranti menyalakan motor beatnya dengan tangan gemetar. Kunci diputar kasar. Mesin langsung nyala.

"Naya… lu dimana sih…?" Ranti menggas. Keluar gang. Langsung ke jalan agak besar.

Angin kena muka Ranti. Matanya fokus ke depan. Dia celingak-celinguk. Nyari.

Tiba-tiba di depan ada seorang kakek yang sedang menyeberang jalan. Bungkuk sedikit.

Ranti melotot bukan main. Dia langsung banting setir. Refleks. Motor oleng namun na'asnya sebuah mobil melintas kencang.

BRAAAAK!!

Suara benturan keras. Motor mental. Tubuh Ranti kelempar. Nabrak aspal. Sunyi.

Beberapa detik kemudian..

Enggak ada suara di telinga Ranti. Cuma denging.

'ngiiiiing…'

Motor tergeletak di tengah jalan. Masih nyala.

Ban muter pelan. Orang-orang mulai teriak.

"YA ALLAH!"

"TABRAKAN!"

Mobil berhenti mendadak. Sopir keluar panik. Ranti terbaring. Tubuhnya sudah tidak bernyawa, darah mengalir deras membanjiri aspal, bahkan anggota tubuhnya sudah tidak lagi utuh namun yang pasti kedua matanya terbelalak ke satu titik seolah melihat sesuatu yang juga berdiri melihatnya mati namun tidak ada yang menyadari sosok itu.

Orang-orang sibuk di sekitarnya.Teriak. Panik.

Ada yang menutup tubuhnya dengan kain seadanya. Ada yang memfoto, bahkan merekam video, dan ada yang memalingkan wajah merasa takut, dan jijik.

Tapi tidak ada yang mengikuti arah pandangan mata Ranti sebelum kematian menjemputnya.

Karena yang berdiri di sana… Memang tidak untuk mereka lihat.

_

Naya berhenti berlari tepat di depan mess.

Gelap. Tidak ada lampu yang menyala. Padahal… harusnya ada apalagi hari mulai gelap. Napasnya berat. Matanya kosong… tapi tidak sepenuhnya kosong. Seperti ada yang melihat… Dari dalam dirinya.

Dia membuka gerbang. Langkahnya maju.

Satu.

Pelan.

Pintu mess terbuka dengan sendirinya tepat di depan Naya. Seolah sudah menyambutnya.

KREEEKK…

Bunyi itu panjang. Seret. Seperti sudah lama… tidak disentuh. Naya tidak berhenti. Tidak ragu. Dia masuk ke dalam mess.

Gelap langsung menelan.

Udara di dalam… beda. Lebih dingin. Lebih berat. Seperti setiap tarikan napas… bukan udara. Aroma kemenyan.

Pintu mess tertutup sendiri.

Sunyi.

Naya berdiri di tengah ruangan. Tidak bergerak. Matanya pelan naik.

Menatap ke arah kamarnya. Ada yang memanggilnya disana.

Pintu kamar itu… Terbuka sendiri.

Ada cahaya. Kecil. Goyang.

Api lilin.

Naya jalan. Langkahnya pelan. Tanpa suara. Setiap langkah… Seperti diikuti.

"Balik…"

Suara itu lagi. Lebih dekat. Lebih jelas. Naya lanjut jalan. Sampai depan kamar.

Naya yang berkeringat masuk melihat Teh Intan duduk disana membelakanginya.

Duduk. Diam. Menunduk.

Pandangan Naya tertuju kepada lilin yang hampir habis api kecilnya bergoyang. Bajunya tergeletak di dekat mangkok yang berisi air… Airnya terlihat tidak tenang sama sekali bergerak seperti mendidih.

"Kamu akhirnya pulang."

Naya tidak menjawab.

Lilin tiba-tiba, PADAM.

1
Sarah
Woahh? Beneran udah merasa siap nihh??
Sarah
Bener gak nihh? Atau dia manfaatin karena dendam doang? Tapi yah... bisa jadi kalaupun punya tujuan sendiri... dia ada benernya. Rossa juga selamat dari mau ditumbalin karena bunuh Dinda kan. Asal Naya jangan mengikuti jejak Si Rosa yang lawaknya malah gantiin Dinda jadi mandor. 😂
Sarah
Bener sihhh. 😂
Masalah mistis emang rumit. 😂
Sarah
Ambillah gift bunga dariku~🌹 (Tenang aja, koin ku masih banyak kok)
Mia AR-F: terima kasih, asik baca komenmu 😭
total 1 replies
Sarah
Yang bener aja Si Rifki mati sekarang...
Ayangnya selamat meski tinggal nunggu waktu buat nyusul (tapi sekarang setidaknya masih hidup) tapi lah dianya masa malah mati?! 😩
Sarah
Sadis.
Sarah
Oalah, gak heran sih. Aku dari awal udah gak suka sama Si Zuan itu. Sejak dia nyindir Si Naya padahal Naya kan jelas-jelas gak tau apa-apa. Dia kesel karena Naya polos terus dan gak cepet nangkep kayak Abel. Dipikir semua orang sama apa? 😕
Sarah
Tau ah. Kerennya. Sejak monolog dia ini... kekesalanku padanya melebihi kekesalanku pada Rosa padahal jelas-jelas kelakuan siapa yang paling parah. Tapi sebel lah, aneh dia mah malah nyalahin kan Naya gak tau. Padahal awalnya dia kelihatan dewasa banget makanya aku suka dan peran “Teteh”-nya kerasa. Tapi rupanya... gak sedewasa itu yah? Si Teh Intan. Enggak, tapi Si T̶e̶h̶ Intan. Si Intan. Lupakan panggilan hormat itu. Karena aku udah no respect sama Si Intan.
Sarah
Aduh, sepanjang guna-guna Si Teh Intan aku teriak “Aduh, aduh! Jangan! jajang! jangan!” tapi end the end balik juga ke tempat kerjanya. 😂😩
Sarah
Ada hubungannya sama rumah makan juga yah?
Aduh, Si Teh Ranti baru aja muncul bab sebelumnya... udah mati lagi aja.
Sarah
Campuran ngakak sama kesel sih. 😂
Ini kalimat mewakilkan aku sebagai pembaca, Yuni, Wulan, Sari, Abel dan juga Naya... cuma bedanya sekarang ditujukan ke Rosa sendiri.

Lagian Rosa nih lawak, dia bilang gitu pas bunuh Dinda... tapi dia sendiri jadi mandor buat gantiin. 😂
Sarah
Arghhh... kenapa ketenangannya tidak bertahan lama sih??😩
Sarah
Kalau gak dilakban pasti itu Abel udah teriak, “NAJIS!”
Karena aku pun sebel baca bagian ini. 😃
Sarah
Nah, kan bener. Dia tuh sebenarnya gituuu.
Sarah
Kalau misalnya mau dibilang iya, Rosa emang cuma kerja meskipun kalau di orang baik dia pasti gak milih jalan itu. Tapi yasudahlah, dia juga survive meskipun ya salah dan bikin kesel. Tapi bagian utama yang paling bikin aku kesel sama Rosa bukan sebagai mandor tumbalnya. Tapi dia tuh, tau yang dia lakuin salah, tapi pas dinyinyirin sama yang lain dia tetep ngebolak-balikin. Ngejawab mulu. 😃

Jujur menurutku yah... karena ngelihat Rosa di bab 7 yang sebenarnya dia benci kelakuan dia sendiri juga, tapi kayaknya dia tuh sengaja ngejawab gini terus tuh biar dia gak kena mental juga meski dia tahu semua yang orang bilang itu jelas-jelas bener gak sih? Makanya dia milih balik manas-manasin biar nguatin diri juga.
Sarah
Ini yang kata Abel “Kakaknya aja gak peduli” yah? 😂
Sarah
Yah... ketangkep-nya kecepetan. Padahal kalau sampai ke Bogor 'kan, bisa aku sambut. 😩
Sarah
Ihhh, Geliiii. Hendri tuh cowok kan?! Kok ngomongnya gitu ke Si Rifki. Astagfirullah geliiii. 😫
Sarah
WOAHH.
Gak expect beneran suka. Kukira pas nyapa Naya di hari pertama kerja tuh cuma alay-alayan sok akrab aja. 🤣
Sarah
Kenapa gak Rif ajasih? Denger panggilannya “Ki” sebagai orang Sunda jadi kayak denger “Aki” di Sunda yang artinya “Kakek” 😭
Dan sama aja kayak “Kakek” di Bahasa Indonesia disingkat jadi “Kek”.
“Aki” di bahasa Sunda disingkat jadi, “Ki” Jadi ngakak. 😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!