Di tengah kota mewah Seoul berdiri sebuah komplek elite bernama Royal Family Residence tempat tinggal empat keluarga sultan paling berpengaruh di Asia. Rumah mereka berdampingan, bisnis mereka mendunia, dan anak-anak mereka terkenal di sekolah elit Aexdrem High School serta Universitas Aexdrem.
Walaupun terlihat sempurna dari luar, isi rumah mereka justru penuh keributan, lawakan receh, drama keluarga, dan perang mulut tiap hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viana18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Setelah berlari meninggalkan lapangan dan Haechan tadi, Mark terus memacu langkah kakinya dengan napas memburu. Bukan karena capek fisik, tapi karena hatinya yang sedang kacau balau. Pertanyaan Haechan tadi, tatapan curiga cewek itu, dan kenyataan bahwa dia hampir ketahuan semuanya, bikin isi kepala Mark penuh sesak. Tapi ada satu hal lain yang lebih berat lagi yang berputar terus di pikirannya: wajah Nana, senyumnya, suaranya, dan cara cewek itu menatapnya tadi pagi.
Sepanjang jalan pulang, Mark bergumam sendiri dalam hati, bertarung dengan egonya dan rasa cintanya yang sudah bertahun-tahun terpendam.
"Kenapa sih aku harus ngalah terus? Kenapa aku harus mundur terus cuma karena dia adikku? Apa salah aku kalau aku juga sayang sama Nana? Apa salah aku kalau aku juga mau bahagia sama dia? Nana belum jadi milik siapa-siapa kan? Nana belum nikah sama Jeno kan? Masih ada kesempatan kan buat aku?"
Pikiran-pikiran itu datang bagai bisikan setan yang terdengar begitu menggiurkan, manis, dan bikin dia lupa segalanya. Dulu dia selalu bilang dia akan mengalah, dia akan mundur, dia akan bahagia melihat mereka bahagia. Tapi ternyata... semuanya itu cuma omongan mulut doang. Di lubuk hati terdalam, rasa cintanya ternyata jauh lebih besar dari rasa sayangnya sebagai seorang kakak. Keinginan buat memiliki Nana ternyata jauh lebih kuat daripada prinsip dia selama ini.
Mark sampai di depan pagar rumahnya, dia melambatkan langkah, mengusap keringat di dahinya, lalu menarik napas panjang sebelum masuk ke dalam. Begitu dia melangkah masuk ke ruang makan, pemandangan di sana langsung menusuk tepat di ulu hatinya.
Keluarganya udah lengkap duduk menunggu dia. Daddy Jaehyun sedang membaca koran sambil menyesap teh hangat, Mommy Taeyeong sibuk mengatur piring dan mangkuk di meja makan dengan senyum cerah. Tapi yang paling bikin dada Mark sesak bukan itu... melainkan sosok adiknya, Jeno.
Jeno udah duduk rapi banget. Bukan pake baju tidur atau baju santai kayak biasanya. Cowok itu udah mandi, udah sisiran rapi, pake baju yang bersih dan wangi, mukanya cerah berseri-seri, senyumnya gak pernah lepas dari bibir. Kelihatan banget dia udah siap banget buat pergi ke mana aja. Bahkan sesekali dia melirik jam tangannya dengan semangat, seolah-olah gak sabar nunggu sarapan selesai buat langsung kabur ke sebelah.
"Nah itu dia anak Mommy udah pulang. Sini cepetan duduk, sarapan udah siap semua. Jeno aja udah nungguin dari tadi lho, tumben banget dia bangun pagi terus udah rapi banget gitu," kata Mommy Taeyeong riang banget.
Mark berjalan pelan ke kursinya, duduk dengan wajah berusaha datar, padahal matanya gak lepas dari sosok adiknya itu. "Iya, Mom"
Jeno menoleh ke arah Mark, senyumnya mekar makin lebar, matanya berbinar penuh rencana indah. "Bang, abang tau gak? Hari ini kan libur, rencananya abis sarapan gue mau nyamperin Nana. Mau minta redtu ke ayah Yuta"
Suara Jeno terdengar begitu bahagia, begitu bangga, begitu yakin kalau Nana itu miliknya dan dia punya hak penuh atas cewek itu.
Rasa iri yang besar, panas, dan tajam langsung menyergap hati Mark seketika. Dia menatap adiknya itu lekat-lekat. Di dalam hati kecilnya, rasa cinta yang dulu dia coba kubur, rasa sayang yang dia coba simpan diam-diam, sekarang berubah menjadi sesuatu yang lain. Ada rasa benci kecil, ada rasa cemburu yang meledak-ledak, dan ada keinginan besar yang mendesak keluar.
"Bisa gak sih gue egois sama adek sendiri?" batin Mark bertanya, matanya menatap nanar ke piring di depannya. "Bisa gak sih buat sekali ini aja, gue mikirin kebahagiaan gue sendiri? Jeno punya segalanya, Jeno dapet segalanya, Jeno selalu jadi yang paling disayang, paling diperhatiin... masa iya gue harus ngasih Nana juga ke dia? Nana itu semuanya buat gue. Nana satu-satunya hal yang gue pengenin lebih dari apa aja di dunia ini. Kalau gue ngalah lagi sekarang, gue bakal nyesel seumur hidup."
Di kepalanya, bisikan-bisikan itu makin keras, makin meyakinkan dirinya sendiri. "Godaan setan emang lebih menggiurkan daripada segala kewajiban sebagai kakak. Biarin aja Jeno. Dia gak tau apa-apa. Dia gak tau seberapa besar rasa gue ke Nana. Dia gak tau kalau Nana itu juga idaman gue. Kalau dia berani ngejar, kenapa gue gak boleh? Kenapa cuma dia yang berhak bahagia sama Nana?!"
Satu ide gila, berani, dan penuh risiko tiba-tiba muncul jelas di benak Mark. Matanya yang tadinya redup kini berubah tajam dan dingin.
"Gue gak bakal ngalah lagi. Cukup sampai di sini aja rasa mengalah gue. Mulai sekarang, gue bakal berjuang juga. Bukan di depan mata Jeno, bukan terang-terangan kayak dia... tapi diam-diam. Gue bakal deketin Nana secara diam-diam. Gue bakal masuk ke hati Nana lewat celah-celah yang Jeno gak tau. Gue bakal nunjukin kalau gue jauh lebih baik, jauh lebih ngerti dia, jauh lebih pantas buat dia daripada Jeno yang cuma bisa bercanda dan manja. Biar Jeno seneng-seneng dulu ngira dia yang menang. Tapi di belakang, pelan-pelan tapi pasti... gue bakal ambil hati Nana itu buat gue sendiri."
Mark mengangkat wajahnya, menatap Jeno yang masih asyik cerita rencana kencannya, lalu menatap kedua orang tuanya yang asyik mengobrol. Senyum tipis, senyum yang beda dari biasanya, senyum yang penuh ambisi dan tekad baru, terbit di sudut bibir Mark.
Dia sadar, ini salah. Ini jahat. Ini pengkhianatan buat adik sendiri. Tapi rasa cintanya yang udah terpendam bertahun-tahun itu ternyata jauh lebih besar daripada rasa bersalahnya. Dia rela ngelakuin apa aja, sekalipun jadi orang jahat di mata keluarga, asalkan dia bisa dapet Nana.
"Eh Bang? Kok diem aja? Iri ya liat gue bakal Jadian sama Nana? Hahaha santai aja nanti abang juga bakal dapet jodoh bagus kok, itu echan ada bang,, Ya kan Mom Dad" ledek Jeno dengan santai dan polosnya, sama sekali gak sadar bahaya apa yang lagi mengancam hubungan dia sama Nana, dan sama sekali gak sadar betapa jauh berubahnya hati abangnya di detik itu.
Mark tertawa kecil, tawa yang terdengar dingin dan penuh makna tersembunyi. Dia menyuap nasi ke mulutnya pelan, matanya menatap tajam ke arah rumah di seberang jalan sana, tempat tinggal wanita yang dia cintai mati-matian.
"Iya... iri tau," jawab Mark pelan tapi tegas, nadanya berubah jadi aneh banget. "Iri banget malah. Tapi inget ya Jeno... dunia itu muter. Belum tentu apa yang lo kira milik lo, bakal tetep jadi milik lo selamanya. Kadang... hal yang paling berharga itu, hilang gitu aja kalau lo gak jagain bener-bener."
Jeno mengerutkan keningnya bingung denger jawaban aneh itu. "Maksud lo apaan sih Bang? Kok ngomongnya serem gitu?"
"Gak apa-apa. Cuma ngomong aja," jawab Mark cepat, lalu kembali ke wajah tenang dan kalemnya yang biasa. Tapi di dalam hatinya, tekad itu udah membara kuat banget.
"Tunggu aja Jeno. Mulai hari ini, perang beneran dimulai. Dan kali ini... gue gak bakal ngalah lagi. Nana bakal jadi milik gue, dengan cara apa pun itu. Bahkan kalau harus nyuri dia dari lo pelan-pelan di belakang punggung lo."
Mark menelan makanannya, rasanya pahit tapi sekaligus manis karena ada harapan baru yang tumbuh subur di hatinya yang tadinya mati rasa. Dia udah punya rencana. Dia udah punya tujuan. Dan dia bakal ngelakuin semuanya diam-diam, pelan-pelan, sampai saat yang tepat tiba buat dia ngambil apa yang selama ini dia anggap milik adiknya, tapi sebenernya milik hatinya sendiri.