Dia pangeran yang selamat dari eksekusi bertemu arwah artis figuran yang mati di rel kereta. Wajah mereka sama. Arwahnya minta tolong pada Pangeran. Pangeran itu mau—karena dia ingin hidup abadi. Tapi kemudian dia bertemu gadis yang tak ingin hidup sama sekali. Namun Sang Takdir membiarkan Pangeran membentur fakta: gadis ini belahan jiwamu.
Hng Sih Kian Li — bertemu dirimu di masa yang jauh.
oleh The Bwee Lan (Anggrek cantik dari Marga The)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Bwee Lan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MINYAK ORANG-ARING KESAYANGAN
Syuting hari itu melelahkan. Tapi juga mengejutkan.
Eng Sok berdiri di belakang kamera, menunggu giliran. Di depannya, Ah Bwee sedang take ketiga — adegan dia sebagai pangeran tampan yang dikejar-kejar wanita istana.
Ah Bwee tampak beda. Wajahnya lebih kencang. Kulitnya lebih halus. Matanya lebih segar — padahal tadi malam syuting sampai jam 11 malam. Karena ke beberapa studio lain.
"Ah Bwee, istirahat dulu!" teriak Toian.
Ah Bwee menghampiri Eng Sok. Tangannya merapikan rambut palsu pendeknya — panjang, hitam, berkilat dengan semburat garis-garis emas .
"Lu lihat gue, Sioh Bu? Gue baru face lift minggu lalu." Ah Bwee menyeringai. "Terus kemarin, gua suntik zat awet muda. Mahal, sumpah. Tapi hasilnya? Mantap."
Eng Sok tidak menjawab. Hanya tersenyum tipis.
Ah Bwee mengerjap. "Lu gak tertarik, Sioh Bu? Muka lu memang udah ganteng, tapi gak ada salahnya upgrade dikit."
"Enggak," kata Eng Sok datar. "Terima kasih."
Ah Bwee mengangkat bahu. Lalu pergi ke ruang rias.
---
Siangnya, Eng Sok mendengar kabar dari kru: Ah Bwee dipuji-puji. "Wajahnya kencang banget!" "Kayak umur 20!" "Rahangnya lebih tegas!"
Eng Sok tidak peduli.
Ia duduk di sudut ruangan, membuka wig kuning garis ungu — lelah, rambut aslinya berkeringat.
Dulu, pas jadi pangeran... pikirnya. Selir-selir di istana banyak yang nyoba ramuan gak jelas. Pagi cantik. Besok dikubur. Atau beberapa tahun kemudian, sakit aneh — muka bengkak, kulit mengelupas, gigi copot.
Ia menghela napas.
"Dahlah! Yang penting kalo mati jangan perkara goblok. Ga ada elixir panjang umur. Yang penting sehat walaupun umur pendek. Atau kalo sakit jangan karena ceroboh.", bisiknya pada diri sendiri.
Ia menyisir rambut panjangnya. Pelan. Satu per satu.
---
Tanpa sengaja, jarinya menekan tombol di HP.
Live Instagram via aplikasi StreamMe, jadi bisa sekalian merekam live dan dapat saweran online lewat QR Code yang tayang di Instagram. Nanti saweran dipotong 2% sampai 5% untuk StreamMe saat tarik dana.
Layar menyala. Kamera depan menyala. Wajah Eng Sok muncul — rambut terurai, ia blow sebentar dengan hair dryer dan bersihkan pakai tisu rambut natural, lalu ia sisir dari paling bawah sampai pangkal.
Ia tidak sadar menyalakan StreamMe. Dia mempraktikkan perawatan mandiri Pangeran istana sambil terus menyisir rambut.
Mengoleskan minyak orang-aring Sam Hok Liong — hijau, wangi khas, dingin di kulit kepala.
Pelan-pelan.
Dari ujung ke pangkal.
Lalu menguncirnya ekor kuda — tidak terlalu kencang, tidak terlalu longgar.
Komentar mulai membanjiri layar. Tapi HP-nya jauh. Eng Sok tidak melihat.
"@dianayusaputri: GILA, RAMBUTNYA! ITU DUTA SHAMPO LAIN"
"@budi_budianto: Ini live apa rekaman?"
"@liana_lim: Kok gak bales komen sih?"
"@catherine_tan: GUA NANGIS LIAT RAMBUT INI"
"@hendra_kurniawan: Bang, bang, LIVE, BANG!"
Eng Sok mengambil liptint dan bedak padat Gin Choe — dari Tauke Gincu. Bahan herbal, bunga-bunga alami, selaras Yin Yang.
Ia oleskan tipis-tipis. Bibirnya menjadi merah alami — tidak menor, tidak pucat.
Lalu ia menatap layar HP.
Dan membeku.
"LIVE?"
Ia membaca komentar yang bergulir cepat.
"Bang, akhirnya sadar!"
"LOL"
"Gua rekam ini. Bukti Sioh Bu gaptek."
"tapi ganteng, gapapa"
Eng Sok menepuk jidat.
"Maaf... maaf. Saya tidak sengaja."
Tapi sudah telat. Live sudah berlangsung 15 menit. 12.000 penonton.
Ia mematikan live.
Lalu masuk set.
---
Set syuting sore itu: Mikrodrama "Pangeran Musim Gugur Merindukan Cinta" .
Eng Sok tidak tahu jalan ceritanya. Dia hanya diberi naskah lima halaman — adegan dia berdiri di bawah pohon maple, memegang surat, menatap ke kejauhan dengan mata sayu.
"Action!"
Ia berdiri. Surat di tangan. Angin dari kipas industri meniup rambut palsunya.
Matanya sayu.
Tidak perlu akting. Cuma ingat Ah Chio.
"Cut! Bagus!"
---
Malamnya, Eng Sok naik ojol. Tujuan: pulang.
Tapi di tengah jalan, ia ingat: minyak Sam Hok Liong habis.
"Bang, mampir ke toko kelontong dulu," katanya ke driver ojol.
Toko kelontong pertama — habis.
Toko kelontong kedua — habis.
"Lah, pada habis?" tanya Eng Sok ke penjaga toko.
"Iya, Bang. Lagi viral di TikTok. Cari minyak Sam Hok Liong, pada habis."
Eng Sok mengerjap. Viral.
Ia melanjutkan perjalanan. Mampir ke supermarket.
Dan di depan supermarket, ia melihat kerumunan.
Emak-emak. Gadis-gadis muda. Beberapa pria. Mereka berdesak-desakan di depan pintu — sambil berteriak ke petugas keamanan.
"MINYAK SAM HOK LIONG HABIS?"
"KAPAN DATANG LAGI?"
"INI KALIAN GA SERIUS!"
"GUE UDAH NANYA TIGA TOKO NIH!"
Eng Sok mundur selangkah.
Ia tidak jadi masuk. Lebih baik cari tempat lain.
---
Di pertigaan, ia melihat toko obat kecil — papan kayu, lampu kuning, agak tua.
Ia masuk. "Ada minyak orang-aring?"
Tauke tua di balik meja mendongak. "Merk apa, Bang?"
"Sam Hok Liong. Tapi sepertinya habis di mana-mana."
Tauke itu menggeleng. "Habis. Tapi ada 3 lainnya: Hong Lian, Eng Hoe, dan Gin Kiam. Merk lokal juga, resep kuno. Baunya mirip. Ini teaternya. Kata Tauke.
Eng Sok melihat bahannya, mencium aromanya dan menerawang. Setelah mikir sambil minum air di tumblernya.
Eng Sok memutuskan mengambil 3 botol besar merk Hong Lian lalu membayar. Nyaris tanpa dialog. Dia lelah.
---
Ia bayar ojol — plus tip karena sudah sabar diajak muter.
Sampai di depan rumah kontrakan, ia turun. Merogoh tas — cari kunci.
Pintu dibukain Ah Ti, adiknya memeluk dia kayak nyambut pahlawan.
Begitu mendongak, Eng Sok melongo.
Sampai kaos oblongnya berkibar tertiup angin malam. Celana panjangnya rasanya mau melorot.
Di ruang tamu, Ah Chio duduk di sofa. Rambutnya sudah rapi. Wajahnya tidak pucat lagi. Matanya — masih sayu, tapi tidak kosong.
Dan di tengah ruangan, sebuah kotak besar.
Kardus coklat tebal. Ditempeli stiker merah: "SAM HOK LIONG — 100 BOTOL".
Di sampingnya, Tauke Hok — tersenyum lebar. Ia berdiri, berjalan menyalami Eng Sok, “Kita dari Minyak orang-aring Sam Hok Liong. Gua Owner, Ah Chio ini CEO. Hari ini dia agak sehat jadi ke sini. Tapi nanti malem di RS lagi”
Eng Sok cuma melongo, kaosnya berkibar-kibar bersama rambutnya kena angin kipas angin di dalam rumah.
“Paket… Sioh Bu!”, kata Kurir sambil melempar paket dan mulai mendekati kepala Eng Sok.
BERSAMBUNG
---
Ah Bwee suntik awet muda.
Eng Sok live tanpa sengaja.
Minyak Sam Hok Liong habis di mana-mana.
Dan Ah Chio — pulang dari RS, membawa 100 botol.
Malam yang aneh.
Tapi... menghangatkan.
🪷👩❤️👨💐