Menjadi editor sebatang kara itu membosankan, tapi dirampok sampai pingsan dan pindah ke dunia novel? Itu diluar nalar!
Lin Xia Yi bertransmigrasi menjadi Lin Xia Mei, wanita yang akan tewas karena cinta buta suaminya, Wei Zhu Chen. Untuk bertahan hidup, ia harus menurunkan tingkat rasa suka Wei Zhu Chen dari 99% ke 20%.
Bersama sistem berwujud kucing imut bersayap bernama Bao, Lin Xia Yi akan memulai misi demi kembali ke dunianya serta membawa pulang hadiah yang menggiurkan.
Hadiah menggiurkan menanti, tapi nyawa taruhannya. Siapkan camilan favoritmu dan temanilah Lin Xia Yi sampai akhir!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Digital, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
011- Mulai Turun Banyak
Bagai disambar petir di pagi yang cerah, Wei Ji Xiang menatap Lin Xia Mei dengan mata merah dan air mata yang tidak berhenti mengalir.
"Lin Xia Mei!!!!"
"Lanjutkan, Wei Zhu Chen. Hihi, akhirnya."
Bao menampilkan layar transparan, disana tertera angka tingkat rasa suka Wei Zhu Chen menurun.
"75% . Yesss!" batin Lin Xia Mei.
Lin Xia Mei kelepasan, ia tersenyum sekilas, hal itu membuat Wei Zhu Chen semakin murka.
Layar menunjukkan angka turun lagi menjadi 70%.
"Inang, pertahankan angka 70% selama 3 jam. Jangan sampai naik lagi, setelah 3 jam berlalu toko sistem akan terbuka untukmu." ucap Bao penuh semangat.
"Yeay! Akhirnyaaa!."
Lin Xia Mei menghela napas dan berdiri dengan santai.
"Kenapa marah? Ini fakta." ucap Lin Xia Mei dengan tenang.
"Wei Ji Xiang sudah bukan bayi lagi, bukan?"
"Wei Ji Xiang sudah tahu kau bukan ibunya, tapi Wei Ji Xiang menganggapmu sebagai ibunya. Kenapa kau tega melukai hatinya, Lin Xia Mei?!"
Wei Ji Xiang bangun dari kursi dan langsung berlutut di samping kaki Lin Xia Mei. Hal ini mengejutkan Lin Xia Mei dan Wei Zhu Chen.
"Ibu, Ji Xiang minta maaf. Ji xiang berjanji tidak akan nakal lagi. Ji Xiang mohon... Jangan buang Ji Xiang."
Jantung Lin Xia Mei berdegup kencang saat kedua tangan mungil itu memegangi kakinya.
"Jangan buang Ji Xiang."
"Ji Xiang akan menerima hukuman apapun, asalkan Ibu tidak membuang Ji Xiang."
Hati Lin Xia Mei berdesir, napasnya tercekat, tubuhnya sedikit bergetar melihat anak kecil itu berlutut dan menangis di kakinya.
Suasana berubah canggung, hanya ada isak tangis Wei Ji Xiang, Bibi Yu Si dan Wei Zhu Chen diam membisu.
Wei Zhu Chen menatap Lin Xia Mei dengan penuh harap.
Menyadari raut wajah Lin Xia Mei yang tersentuh, amarah Wei Zhu Chen menurun.
"Wei Ji Xiang, jangan menghalangiku, Nak." batin Lin Xia Mei.
"Maaf," lanjutnya.
Bukannya menunjukkan sikap luluh, Lin Xia Mei menutup matanya sebentar lalu membukanya lagi.
"Jangan mengotori kakiku, Wei Ji Xiang." ucap Lin Xia Mei dengan nada yang menyiratkan kebencian.
Wei Zhu Chen terkesiap, baru saja ia melihat ekspresi Lin Xia Mei yang mulai luluh, namun dari mulutnya justru kekuar kalimat yang menyakitkan.
"Ibu..." Wei Ji Xiang mendongak, menunjukkan wajah basah air mata.
Hatinya terasa sakit, namun jika ia luluh maka angka rasa suka Wei Zhu Chen akan naik lagi.
"Lin Xia Yi, ini hanya dunia novel, bukan duniamu." ucapnya dalam hati meyakinkan dirinya.
"Maaf, Wei Ji Xiang."
Lin Xia Mei mendorong Wei Ji Xiang ke belakang dengan kakinya, Wei Zhu Chen terbelalak begitupun Bibi Yu Si. Wei Zhu Chen segera menggendong Wei Ji Xiang.
"Lin Xia Mei, kau benar-benar keterlaluan!!" bentak Wei Zhu Chen.
Lin Xia Mei hanya diam dan menatap Wei Zhu Chen dengan wajah datar, ia tidak takut sedikitpun mendengar Wei Zhu Chen membentaknya.
Wei Zhu Chen langsung menyambar tas sekolah Wei Ji Xiang, ia membawa Wei Ji Xiang pergi, meninggalkan Lin Xia Mei yang masih berdiri angkuh didekat meja.
Lin Xia Mei kembali duduk, ia mengambil nasi dan meletakkannya di piring. Selain nasi, ia juga mengambil sayur dan menu lainnya.
Bibi Yu Si menatap Lin Xia Mei dengan tatapan sendu.
"Bibi Yu Si, kenapa masih disini? Apakah kau ingin berlutut juga?"
Bibi Yu Si menggeleng.
"Maaf Nyonya, saya permisi dulu."
Bibi Yu Si buru-buru pergi dari ruang makan, ia kembali ke dapur dan menatap deretan panci yang digantung. Panci anti lengket yang baru saja ia bersihkan.
Bibi Yu Si memandangi panci-panci mahal di depannya, ia merabanya satu persatu. Pikirannya mengulang kenangan masa lalu.
Saat itu usaha Wei Zhu Chen akhirnya membuahkan hasil untuk yang pertama kalinya, meraup kentungan besar, dengan begitu Wei Zhu Chen mempekerjakan Bibi Yu Si di rumahnya sebagai asisten rumah tangga karena Wei Zhu Chen sudah bisa menggaji orang. Wei Zhu Chen juga bisa membeli rumah besar dan pindah dari rumah lamanya.
Bibi Yu Si yang baru masuk ke rumah Wei Zhu Chen, yang membukakan pintu adalah Lin Xia Mei.
"Bibi Yu Si ya?" tanya Lin Xia Mei dengan ramah.
"Iya, nyonya. Saya Yu Si, maaf saya terlambat."
Wajah teduh, senyum manis dan keramahan yang dimiliki Lin Xia Mei benar-benar menghipnotis Bibi Yu Si.
"Tidak apa-apa, memang sekarang jalanan sedang macet. Ayo, masuk dulu."
Lin Xia Mei menyuruh Bibi Yu Si untuk istirahat dulu namun Bibi Yu Si menolak karena ingin cepat beradaptasi.
"Ya sudah, ayo saya tunjukkan tempat-tempat di rumah ini."
Lin Xia Mei membawa Bibi Yu Si berkeliling dan terakhir mereka ke dapur.
"Ini pertama kalinya saya memiliki ART, saya juga baru pindah kesini. Dan ini..."
Lin Xia Mei membuka pintu kabinet bawah dan mengeluarkan kardus-kardus perkakas.
"Bi, saya baru beli kemarin. Saya dengar dari suami saya, tangan Bibi Yu Si pernah melepuh karena wajan yang panas. Jadi saya beli wajan dan panci yang pegangannya anti panas. Tapi tetap saya sediakan lap."
"Nyonya... Ini..." Bibi Yu Si merasa terharu. Saat interview, ia mengatakan kekurangannya pada Wei Zhu Chen. Ia takut orang kaya akan jijik pada fisik ART-nya yang cacat.
"Semoga Bibi Yu Si suka ya, jadi nanti memasaknya dengan nyaman." ucap Lin Xia Mei.
Ingatan berakhir, Bibi Yu Si menitikkan air mata. Tidak ingin ketahuan menangis, Bibi Yu Si langsung menyeka air mata dan mengatur pernapasan.
Setelah nasi dan lauk sudah di piring, Lin Xia Mei bangkit dan membawa piringnya ke taman belakang rumah. Lin Xia Mei membuang napas lalu duduk di kursi yang tersedia.
"Bao,"
"Bao disini, inang."
"Temani aku makan."
"Baiklah. Inang, apakah inang menyesal telah menerima misi ini?"
Lin Xia Mei terdiam, bibirnya bergetar.
"Tidak, aku tidak menyesal."
Lin Xia Mei menyendok makanan dan memasukkannya ke dalam mulut.
"Rasanya sakit sekali menelan makanan ini, Bao."
Bao mendekat dan melayang di hadapan Lin Xia Mei.
"Inang, Bao tahu inang sedih. Jika kau sudah tidak mampu melanjutkan misi, Bao bisa memutuskan sinkronisasi."
"Berhenti ditengah jalan. Apa hukumannya, Bao?"
"Pemutusan sinkronisasi secara paksa memiliki dampak buruk, inang. Jiwamu tidak akan bisa kembali ke ragamu, jiwamu akan melayang dalam kurun waktu tertentu sampai masa hukuman berhenti." jawab Bao dengan serius.
"itu artinya, hukumannya cukup sakit. Huft, sudahlah. Aku lanjutkan misi ini saja, Bao."
"Semangat Inang, sudah 70%. Tinggal 50% lagi dan kamu akan menyelesaikan misi."
"Terima kasih, Bao."
Diam-diam Bibi Yu Si ternyata mengintip dibalik gorden pintu, ia terkejut melihat Lin Xia Mei makan dengan raut wajah sedih sampai susah menelan makanannya.
"Nyonya... Merasa sedih. Apa maksud semua ini?" gumam Bibi Yu Si.
"Inang, ada yang mengintip."
Lin Xia Mei langsung mengubah ekspresi wajahnya dan menoleh ke belakang. Menyadari raut wajah Lin Xia Mei berubah, Bibi Yu Si buru-buru pergi, beruntung Lin Xia Mei tidak menangkap basah dirinya.
"Bi?" panggil Lin Xia Mei.
"..."
Tidak ada sahutan.
"Bao, kau yakin ada yang mengintip?" tanya Lin Xia Mei dengan suara nyaris berbisik.
"Tentu inang, tapi bisa saja Bao salah. Mungkin karakter sampingan tadi hanya kebetulan lewat."
Lin Xia Mei menatap Bao dengan tatapan malas.
"Ck, dasar."
Tidak mau ambil pusing, Lin Xia Mei melanjutkan makannya. Ia butuh tenaga untuk bisa berpikir untuk melanjutkan misinya.
"Baiklah, setelah ini aku harus melanjutkan pekerjaanku. Heheh, pekerjaan membuat Wei Zhu Chen marah dan muak padaku." Lin Xia Mei bermonolog.
"My Money, i'm coming."
...****************...
Sebelum mengantar Wei Ji Xiang ke sekolah, Wei Zhu Chen berhenti di rumah makan terlebih dulu, sebab Wei Ji Xiang belum sarapan.
"Wei Ji Xiang, kita sarapan."
Wei Ji Xiang mengangguk lemas.