NovelToon NovelToon
COLD HANDS, WARM EYES

COLD HANDS, WARM EYES

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Idola sekolah
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Alia Chans

Empat tahun lalu, Aelira S. Valenzia gadis unik, misterius terjerat oleh Ravian Kael Davino veyron, pewaris tunggal keluarga veyron , yang mengidap penyakit haphephobia. Suatu hari, Davino pergi ke sekolah karena suatu hal penting, dimana Aelira tidak sengaja terjatuh, dan menangkap tangan Davino, atau yang orang sebut Ravian. Ia tidak menyangka hal tersebut menjadi awal mula hidup tidak sebebas dulu lagi. Penasaran? yuk baca!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tanpa judul

Flashback Empat Tahun Lalu...

TATAPAN Ravian menggelap.

Dari balik bayangan tribun, Ravian memperhatikan Aelira—gadis kelas 7B itu—sedang menyoraki salah satu pemain basket. Wajahnya berseri, matanya bersinar. Rambut sebahu itu terurai indah terkena sinar matahari sore.

Tapi bukan itu yang membuat dadanya sesak.

Gadis itu tertawa. Tertawa lepas bersama Alpha—teman dekatnya satu-satunya. Alpha mengusap rambut Aelira dengan penuh keakraban, dan Aelira tidak menghindar. Bahkan dia tersenyum lebih lebar.

Darah Ravian mendidih.

Obsesi selama ini. Gadis yang sudah ia klaim sebagai miliknya. Berani-beraninya dia tertawa dengan pria lain. Berani-beraninya dia menunjukkan wajah cerah itu untuk orang lain, bukan untuk dirinya.

Ravian bangkit dari bayang-bayang. Urat di lehernya menegang. Tangannya mengepal kuat-kuat—sampai kuku terasa menusuk telapak tangan.

"Sialan." Ravian menyeringai sinis.

Ia meraih ponsel dari saku jaket. Satu nomor yang langsung dihubungi. Nada sambung berbunyi dua kali sebelum diangkat.

"Halo, Daddy! Aku butuh bantuan," Suaranya pelan tapi penuh tekanan. "Aku punya obsesi baru. Dia harus jadi milik aku. Aku enggak mau ada yang nyentuh dia. Cuma aku."

Suara dari seberang terdengar berat. "Siapa dia?"

"Aelira. Anak panti. Keluarganya abu-abu—tak jelas asal-usulnya. Sempurna."

"Urus saja, Nak. Aku kirim ajudan."

Ravian tersenyum puas lalu mematikan sambungan.

---

Seketika setelah pertandingan selesai, Ravian sudah menunggu di depan gerbang sekolah. Mobil hitam mengilapnya terparkir mencolok—dengan para ajudan berbaris rapi.

Dia melihat Aelira berjalan sendirian. Gadis itu melambaikan tangan pada Alpha yang berjalan ke arah berlawanan. Sekali lagi—senyum itu. Untuk orang lain.

Ravian turun dari mobil.

Senyum Aelira seketika memudar. Tubuhnya mulai gemetaran saat melihat tatapan tajam Ravian. Ia mencoba mundur, tapi terlambat.

Tanpa sepatah kata pun, Ravian menarik tangan kecil itu dengan kasar.

"Lama banget sih lo. Ikut gue!"

Aelira tersentak. "Mau kemana? Tangan aku sakit. Pelan-pelan, please!" Tangannya meronta kecil, tapi Ravian hanya mencekal lebih erat.

"Masuk!" Suaranya datar namun nada itu mengancam. "Gue bilang masuk." Bentaknya sambil membuka pintu mobil.

Aelira mencoba menahan, tubuhnya mundur ke belakang. "Enggak. Aku enggak mau ikut. Aku pulang ke panti sendiri."

Wajah Ravian berubah dingin. Ia melengos ke arah ajudan yang mengangguk paham. Dua pria besar langsung mendekat.

Aelira gemetar hebat. "Apa-apaan ini? Ravian—"

"Masuk, atau gue suruh mereka dorong lo masuk pake tangan." Potong Ravian datar.

Aelira menggigit bibir. Air matanya mulai menggenang, tapi akhirnya ia terhuyung masuk ke mobil, duduk di kursi penumpang dengan napas memburu.

"Jalan!"

Mobil mulai melaju meninggalkan gerbang sekolah—disusul dua mobil lainnya.

Aelira merintih menyentuh pergelangan tangannya yang mulai membiru. "Aku buat salah apalagi sama kamu? Kita mau kemana?"

Ravian menoleh dingin. "Lo tinggal diem dan nurut. Gampang, kan?"

Aelira hanya bisa mengangguk takut. Matanya tak lepas dari jendela, berharap seseorang—siapa pun—melihat dan menolongnya.

"Good girl." Ravian mengelus kepalanya, gerakan yang terasa possessive. Membuat bulu kuduk Aelira merinding. "Lo nggak usah lihat dia lagi."

"A-apa?" Aelira mengerutkan dahi bingung. "Lihat siapa?"

"Alpha. Cowok basket itu. Jangan lihat dia lagi!! Jangan senyum ke dia. Jangan mikirin dia. Gue nggak suka."

Aelira membelalak. "Kita cuma teman—"

"Gue bilang jangan!" Hardik Ravian membuat gadis itu terdiam. Suasana dalam mobil seketika berubah mencekam.

Deretan mobil hitam itu berhenti di basement sebuah gedung perkantoran tinggi.

Mereka naik lift ke lantai paling atas. Angin kencang langsung menerpa wajah saat pintu menuju rooftop terbuka. Di pinggir rooftop yang dibatasi pagar besi setinggi dada, tampak dua ajudan sudah mencengkeram lengan seorang wanita paruh baya yang berlutut.

Bu Hana. Pengasuh panti asuhan tempat Aelira tinggal.

"Bu Hana!!" Jerit Aelira seketika. Dia langsung berlari, namun lengan Ravian melingkari pinggangnya erat hingga punggungnya menubruk dada Ravian.

Bu Hana menoleh dengan mata sembab dan pipi memar. "Aelira...? Nak, kamu kenapa?"

Air mata Aelira mengalir deras. Ia meronta, mencoba melepaskan diri. "Kamu apain Bu Hana?" Gadis kecil itu menangis keras. "Aku buat salah apalagi ke kamu? Aku udah nurut."

Ravian hanya tersenyum. Senyum yang tidak sampai ke mata.

PLAK!

Salah satu ajudan menampar wajah Bu Hana dengan keras. Wanita paruh baya itu tersungkur, bibirnya berdarah.

"ENGGAK!! BERHENTI!!" Aelira menjerit histeris. Tubuhnya gemetar hebat. Ia meronta dan menangis sambil memukuli tangan Ravian yang masih melingkar di pinggangnya. "Jawab aku! Kali ini aku salah apa?"

Ravian mendekatkan bibirnya ke telinga Aelira. Nafas hangatnya membuat gadis itu bergidik jijik. "Salah karena narik perhatian gue semudah itu." Desisnya tajam, sukses membuat Aelira membeku.

Ravian menunduk sedikit, sejajar dengan wajah gadis itu. Matanya menatap nanar. "Lo mau wanita itu mati?"

"Enggak." Aelira menggeleng cepat. Air matanya mengalir deras membasahi pipi. "Tolong... jangan..."

"Gue kasih lo dua pilihan." Ravian mencengkeram dagunya—memaksa mata mereka bertemu. Nyaris tak ada jarak. "Jadi pacar gue sekarang. Atau gue suruh orang-orang itu—dorong dia dari rooftop."

Aelira membelalak. Matanya yang merah bengkak menatap Ravian tidak percaya. Cowok di depannya ini—satu tahun lebih tua—benar-benar gila.

"Jangan..." suara Aelira hancur. "Ravian, jangan, please! Aku mohon..."

"Gue hitung sampai tiga." Ravian melepas dagunya dan menatap jam tangan. "Satu."

Salah satu ajudan mendekatkan Bu Hana ke tepian. Kaki wanita itu sudah hampir tergantung di udara. Angin kencang membuat tubuhnya bergoyang. Satu dorongan lagi, dan semuanya akan berakhir.

Aelira menjerit. "Tapi aku nggak suka sama kamu!" jawabnya putus asa, berharap itu akan mengubah segalanya.

Tapi Ravian hanya mengeraskan rahang. Tangannya mencengkram pinggang Aelira lebih kuat. Nyaris menyakitkan.

"Tolong lepasin Bu Hana!" Aelira nyaris kehabisan suara. "Aku janji ke kamu, bakalan nurut. Selain itu, please! Kita juga masih kecil buat pacaran." Mohonnya lirih, penuh air mata dan getaran.

"Gue nggak mau." Ravian menggeleng pelan. Suaranya datar tapi terasa seperti belati. "Gue cuma mau lo jadi milik gue sepenuhnya."

Pelukan Ravian pada tubuh Aelira menguat. Gadis itu terperangkap. Tak ada jalan keluar.

Bu Hana menjerit ketakutan di ujung rooftop. Aelira bisa mendengar isak tangis wanita yang selama ini merawatnya.

"Gue kasih waktu tiga detik." Ravian berbisik lagi. "Dua."

Aelira menutup mata. Tubuhnya lemas. Ia tahu ia kalah.

"Aku mau." Suaranya nyaris tak terdengar. "Aku mau jadi pacar kamu. Lepasin Bu Hana. Tolong."

Ravian tersenyum. Untuk pertama kalinya—senyum sungguhan. Tapi senyum yang membuat bulu kuduk Aelira merinding ngeri.

"Panggil gue Vano." Katanya lembut, kontras dengan situasi di sekitar mereka. "Mulai sekarang, lo manggil gue Vano. Jangan pernah panggil Ravian lagi. Itu perintah."

Aelira menggigit bibir sampai hampir berdarah. "Baik... Vano."

Ravian—Vano—mengangguk puas. Ia memberi kode pada ajudannya. Bu Hana ditarik mundur dari tepian rooftop dan dilepaskan. Wanita itu ambruk di lantai beton, terisak-isak.

"Lo akan tinggal di rumah gue mulai sekarang." Ravian mengusap rambut Aelira dengan gerakan yang terasa seperti belaian pemilik pada boneka kesayangannya. "Gue yang pegang hidup lo. Lo enggak butuh panti. Lo enggak butuh Alpha. Lo cuma butuh gue."

Aelira terdiam. Air matanya tak berhenti mengalir.

Di kejauhan, matahari mulai terbenam. Warna jingga dan merah menyala di langit—seperti pertanda bahwa malam yang gelap akan segera tiba.

Dan Aelira tahu, mulai detik ini, hidupnya tidak akan pernah sama lagi.

---

1
SANG
Bunga untukmu thor/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
SANG
Sampai tamat💪👍
SANG
Semangat terus pantang mundur💪👍
SANG
Lanjutkan terus💪👍
mary dice
serem banget😱jantung ikut berdegup lebih kencang😮lanjut thor😍
🌹Widian,🧕🧕🌹
mampir nih
Alia Chans
makasih kak🤭
Salma.Z
semangatttt...
SANG
Like iklan plus komen👍💪
SANG
Asik banget👍💪
SANG
Ceritanya keren👍💪
SANG
Mampir thor👍💪
Dindinn
keren kak lanjut
Alia Chans: thanks, bakal dilanjut kok🤭☝
total 1 replies
T28J
/Rose//Rose//Rose/
Ntaaa___
Jangan lupa mampir juga ya kak😇
Alia Chans: oke kk
total 1 replies
Ntaaa___
Menarik sekali😇😍
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
waduhhhh parahhhh nih kasian Aelira padahal dia pakai jaket kaka kelasnya buat nutupin bajunya yang basah jadinya salah paham ini
Alia Chans: wk" namanya juga cowok mana mau dengerin penjelasan cewek kk🙄
total 1 replies
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
Vergan ini terlalu posesif ihhhh ngerinya😱🤔
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
mampir kesini Thor
anggita
novel baru👌moga lancar.
Avocado Juice 🥑🥑: Semangat nulisnya kak /Smile//Ok/
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!