Kata orang, dia manipulatif. Jahat. Perusak.
Katanya, dia menghancurkan cinta dan kepercayaan dari dua lelaki yang tulus padanya.
Dia dituduh memecah tiga bersaudara.
Dibilang merusak hubungan orang lain tanpa rasa bersalah.
Tapi hanya dia yang tahu bagaimana rasanya menjadi Bianca.
Tak seorang pun benar-benar paham bagaimana luka, keadaan, dan dunia yang kejam perlahan membentuknya menjadi seorang antagonis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sunflower_Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14
Malam itu, suasana di dalam apartemen terasa jauh lebih tenang jika dibandingkan hiruk-pikuk kantin sekolah atau ketegangan yang sempat terasa di kafe tadi sore. Aroma minyak esensial berbau lavender menyebar memenuhi ruangan, berpadu dengan bau khas tanah liat yang cukup menyengat dari masker yang sedang dioleskan Rebecca ke wajahnya. Isabella sudah pulang lebih dulu, menyisakan dua saudara kandung itu dalam keheningan yang tak berlangsung lama.
Bianca duduk bersandar di sofa, menatap kosong ke arah layar televisi yang mati total. Pikirannya sepenuhnya masih tertinggal pada sorot mata Kiyo yang begitu lekat dan serius saat menyampaikan perasaannya tadi.
"Bec," panggil Bianca pelan, suaranya hampir hilang tertelan keheningan.
"Hm?" sahut Rebecca tanpa menoleh sedikit pun, tangannya sibuk meratakan tekstur masker di bagian dahi dan sisi wajah.
"Tadi... Kiyo nembak gue."
Gerakan tangan Rebecca langsung terhenti seketika. Ia menoleh cepat dengan mata terbelalak kaget, membuat lapisan masker di wajahnya sedikit retak di dekat sudut bibir. "Serius lo?! Gila, gercep banget tuh anak es. Terus? Lo jawab iya, kan?"
Bianca menggeleng pelan. "Enggak. Gue bilang belum bisa kasih jawaban sekarang."
"Loh? Kenapa?" Suara Rebecca naik satu nada, ia benar-benar tak habis pikir dengan keputusan adiknya. "Bukankah itu justru perfect buat kita? Kalau lo jadian sama dia, lo punya akses 24 jam buat masuk ke hidupnya, ke rumahnya, bahkan ke rahasia bokapnya. Hubungan status itu kunci paling gampang, Bi!"
Bianca menghela napas panjang lalu menyandarkan punggungnya sepenuhnya ke sandaran sofa, terlihat sangat lelah namun tetap berpikir jernih. "Bec, coba lo pikir pake logika. Kalau gue nerima Kiyo sekarang, gimana sama Gwen? Rencana awal kita itu apa? Membuat mereka berdua pecah, kan? Membuat dua bersaudara itu saling cakar-cakaran gara-gara satu cewek."
Rebecca terdiam diam, mulai mencerna baik-baik maksud ucapan adiknya itu.
"Kalau gue resmi jadi pacar Kiyo, Gwen mungkin bakal mundur atau malah makin benci gue secara terang-terangan. Itu nggak bagus," lanjut Bianca dengan nada bicara yang tenang namun penuh pertimbangan. "Gue pengen mereka berdua ngerasa punya harapan, tapi nggak ada yang bener-bener dapet. Gue mau mereka berebutan, emosi, dan saling hancurin ego masing-masing tanpa gue perlu terikat status 'pacar' sama salah satu dari mereka. Status itu cuma bakal ngebatesin gerak gue."
Rebecca menatap Bianca cukup lama, lalu ia mendengus pelan sambil kembali merapikan masker di wajahnya. "Oke, gue akuin otak lo emang lebih licin dari gue. Gue sempet kepancing emosi karena pengen cepet-cepet liat Maxwell menderita. Tapi lo bener, playing hard to get buat keduanya bakal bikin mereka makin gila."
"Besok," Bianca menggantung kalimatnya sejenak, matanya berkilat tajam oleh rencana yang sudah tersusun rapi di kepalanya. "Besok giliran Gwen yang bakal gue kasih umpan. Gue bakal bikin dia ngerasa dia punya peluang lebih besar daripada Kiyo. Dan kalau bisa, gue bakal bikin salah satu dari mereka ngamuk hebat besok."
"Sip. Gue bakal back-up apa pun yang lo butuhin," sahut Rebecca setuju dengan keyakinan penuh.
Setelah percakapan yang cukup berat itu selesai, Rebecca masuk ke kamarnya untuk membersihkan wajah, sementara Bianca masih diam duduk di ruang tengah. Ia lalu meraih ponselnya dari meja, berniat menghapus beberapa foto lama agar ruang penyimpanannya tidak penuh—sebuah alibi yang biasa ia pakai sekadar untuk mengusir rasa bosan.
Jari-jemarinya bergerak lincah menggeser layar, menghapus foto tugas sekolah, pemandangan, atau hal-hal tak penting lain, hingga ia sampai pada satu folder tersembunyi yang sudah sangat lama tidak pernah ia buka. Folder itu terkunci dan tersimpan di bagian paling bawah galeri.
Tangannya mulai gemetar saat mengetikkan sandi masuk. Begitu terbuka, satu foto muncul memenuhi layar. Gambar yang diambil dua tahun yang lalu.
Di dalam foto itu, Bianca terlihat sangat bahagia. Rambutnya terurai indah, dan ia tertawa lebar ke arah kamera dengan wajah yang berseri. Di sampingnya, ada seorang cowok yang merangkul bahunya dengan sangat erat, menatap Bianca dengan pandangan seolah dunia ini hanya milik mereka berdua saja.
Cowok itu adalah Jonathan.
Setetes air mata jatuh tepat di atas layar ponsel, mengenai bagian wajah Jonathan yang sedang tersenyum lebar. Bianca segera mengusapnya kasar, tapi air mata itu justru mengalir semakin deras tanpa bisa ditahan. Ia menutup mulutnya rapat-rapat supaya isak tangisnya tidak terdengar sampai ke kamar Rebecca.
'Sakit banget... kenapa lo harus khianatin gue, Jo?' batin Bianca yang rasanya ingin menjerit.
Kenangan masa lalu itu menghantam dadanya sekuat ombak besar. Jonathan adalah orang yang selalu mendukungnya saat usaha ayahnya mulai jatuh. Jonathan adalah tempatnya mengadu dan bersandar, sebelum akhirnya cowok itu memilih pergi dan berpaling pada Joy Anderson semata-mata demi posisi dan kekayaan keluarga itu. Jonathan adalah salah satu alasan kenapa Bianca berakhir menjadi sosok yang penuh dendam seperti sekarang. Ia pernah mencintai Jonathan dengan sepenuh jiwanya, namun pengkhianatan itu meninggalkan luka yang dalam dan lubang kosong yang tak pernah bisa tertutup.
Bianca menatap foto itu dengan rasa benci yang amat sangat. Matanya yang tadinya basah dan sedih kini berubah menjadi merah menyala dan tajam.
"Gue bakal hancurin hubungan lo sama Joy, Jo. Gue pastiin itu," bisiknya dengan suara parau yang penuh muatan dendam. "Gue bakal bikin lo ngerasa gimana rasanya kehilangan segalanya, persis kayak apa yang gue rasain dulu."
Mendengar suara langkah kaki Rebecca dari arah kamar mandi, Bianca dengan cepat mematikan layar ponselnya lalu berdiri tegak. Ia sama sekali tidak ingin Rebecca melihat sisi lemah dan rapuhnya ini.
"Gue mandi dulu ya, Bec," pamit Bianca singkat tanpa berani menoleh.
"Ya, jangan kelamaan, air panasnya mau abis," sahut Rebecca dari dalam kamarnya.
Begitu pintu kamar mandi tertutup dan terkunci rapat, Bianca langsung memutar keran wastafel hingga air mengalir deras dan berisik, untuk menyamarkan suara tangisannya. Ia lalu luruh jatuh ke lantai kamar mandi yang dingin, memeluk kedua lututnya sendiri sekuat tenaga.
Bahunya berguncang hebat menahan tangis. Segala rasa sesak, rasa sakit akibat pengkhianatan Jonathan, dan beban berat dendam terhadap keluarga Anderson semuanya tumpah ruah di tempat sempit itu. Di balik semua topeng 'gadis kuat' dan 'orang yang pandai mengatur orang lain' yang ia pakai setiap hari, Bianca sebenarnya hanyalah seorang gadis muda yang hatinya sudah hancur berkeping-keping.
'Ayah... aku capek...' rintihnya dalam hati, rasanya ingin sekali menyerah saja.
Namun, setiap kali rasa lelah itu mendominasi, bayangan wajah ayahnya yang tampak layu dan sedih di balik jeruji besi penjara kembali muncul. Bayangan wajah Maxwell yang tertawa puas di atas penderitaan orang lain kembali membakar semangatnya sampai ke ubun-ubun. Ia mengusap air matanya dengan kasar, membasuh wajahnya berkali-kali dengan air dingin sampai rasa perih di matanya sedikit berkurang.
Ia menatap pantulan dirinya di cermin kamar mandi. Wajahnya yang pucat kini terlihat lebih keras dan tegar. Ia merapikan rambutnya, menarik napas panjang, dan kembali memasang topeng kaku yang biasa ia pakai.
'Nggak ada waktu buat nangis, Bianca. Besok adalah hari di mana lo bakal narik benang kehancuran mereka lebih kencang lagi,' batinnya untuk menguatkan diri sendiri.
Ia keluar dari kamar mandi dengan wajah datar tanpa ekspresi, seolah-olah tidak terjadi apa-apa sama sekali di sana. Rebecca yang sedang berbaring di tempat tidur hanya melirik sekilas ke arahnya.
"Lo oke? Mata lo merah banget," tanya Rebecca dengan nada curiga.
"Kena sabun tadi, perih," jawab Bianca singkat sambil berjalan menuju tempat tidurnya sendiri.